Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 62.


__ADS_3

Pukul 8 pagi, Aina turun bersama Arhan dan juga Aksa. Ketiganya nampak rapi, terlebih Arhan yang sangat tampan dengan setelan jas yang dikenakannya.


"Pagi Ma, Pa," sapa Arhan dan Aina bersamaan.


"Pagi sayang, duduklah!" sahut Leona, lalu mengambil Aksa dari gendongan Arhan.


Setelah semua makanan terhidang di atas meja, Nayla ikut duduk bersama mereka. Sarapan pun dimulai, hanya Hendru yang tak nampak karena memilih sarapan di paviliun depan sendirian.


Usai sarapan, Arhan berpamitan dengan Aina dan juga Leona, begitupun dengan Airlangga yang berpamitan dengan istrinya. Mereka harus ke kantor segera untuk menyiapkan perjamuan yang akan diadakan nanti malam.


Seperti biasa, Airlangga berangkat bersama Pak Anang. Sementara Arhan berangkat bersama Hendru. Dua mobil mewah milik Airlangga pun melaju meninggalkan kediamannya.


Sepeninggal ketiga pria tampan itu, Leona mengajak Aina dan Nayla duduk di ruang tengah. Ketiganya asik berbincang menceritakan perjalanan di pulau kemaren.


"Ma, sepertinya dalam waktu dekat ini kita akan mengadakan acara besar di rumah ini." ucap Aina menyampaikan niat suaminya.


"Acara apa sayang? Apa yang harus kita rayakan?" tanya Leona sembari menautkan alisnya, dia belum mengerti maksud ucapan menantunya itu.


"Bukankah Mama menginginkan Nayla jadi menantu Mama?" ucap Aina sembari tersenyum kecil.


"Apa? Jangan bercanda sayang! Bukankah kita sudah membicarakan ini sebelumnya, kenapa membahas ini lagi?" tanya Leona dengan mata terbuka lebar, dia sedikit syok mendengar pernyataan Aina barusan.


"Aina, jangan mulai deh! Apa kamu ini sudah tidak waras?" tambah Nayla dengan wajah cemberut nya.


"Hahaha, tunggu dulu! Aina belum selesai bicara," jelas Aina sembari terkekeh, dia tak sanggup menahan tawanya melihat wajah Leona dan Nayla yang berubah seketika.


Melihat Aina yang tertawa begitu lepas, Leona dan Nayla semakin kebingungan. Tak ada yang mengerti isi kepala Aina saat ini.


"Nayla, kamu pasti mengerti maksud ucapan ku. Belajarlah dari kesalahan yang pernah aku lakukan bersama Abang." ucap Aina yang kini nampak lebih serius.


Nayla semakin kebingungan dengan kening sedikit mengkerut.


"Aku tau kamu dan Hendru memiliki perasaan yang sama. Jika niat kalian baik, apa lagi yang kalian tunggu? Lebih baik menikah saja, jangan sampai membuat kesalahan!" jelas Aina.


"Deg"


Nayla memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang, pipinya memerah, perasaannya mulai tak menentu memikirkan ucapan Aina barusan.


"Oh, sekarang Mama mengerti. Kalau seperti ini Mama sangat setuju." ucap Leona yang mulai paham maksud ucapan menantunya.

__ADS_1


"Nah, Mama saja setuju. Itu berarti kalian sudah mendapatkan restu dari Mama. Ayolah Nayla, jangan mengulur waktu!" desak Aina sedikit memaksa.


"Beri aku waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu! Kalau pun aku mau, Hendru belum tentu mau menikahi ku. Biarkan semua berjalan seperti air yang mengalir!" ucap Nayla sembari menekuk wajahnya.


"Mama yakin Hendru pasti mau, secara kamu ini kan cantik, baik, pintar masak pula. Pria mana yang gak tertarik sama kamu?" jelas Leona.


"Mama bisa aja ih, seharusnya kata-kata itu Mama tujukan buat Aina saja!" ucap Nayla tersipu malu.


"Bagi Mama kalian berdua sama saja, keduanya putri Mama yang cantik dan baik. Mama sangat beruntung memiliki kalian meski tidak terlahir dari rahim Mama." jelas Leona, bagaimanapun kasih sayangnya sudah melekat untuk kedua wanita itu.


"Ya sudah, sekarang intinya kamu mau kan menikah sama Hendru? Nanti urusan Hendru biar Abang yang ngurus, kamu tinggal duduk manis saja! Iya kan Ma?" ucap Aina sembari tersenyum menatap Leona.


"Iya benar, jika kalian berdua setuju Mama akan mengatur pesta untuk kalian berdua di rumah ini. Bagaimanapun, Hendru itu sudah Mama anggap seperti putra Mama sendiri." ungkap Leona, dia sangat bahagia jika rumahnya dipenuhi orang-orang baik seperti mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di perusahaan, Arhan kembali fokus dengan pekerjaannya. Selama beberapa hari tak ke kantor membuatnya rindu akan pekerjaan yang sudah menjadi bagian terpenting di hidupnya.


Usai mengadakan rapat dengan beberapa klien bisnis Airlangga Grup, Arhan dan Hendru mendatangi gedung aula yang akan dipakai untuk acara nanti malam. Di sana para dekorator sedang asik menghias aula secantik mungkin.


Arhan tidak ingin ada kesalahan meski sekecil apapun, dia mau acara nanti malam berjalan lancar sesuai keinginan. Acara tersebut sudah dirancang dari jauh-jauh hari dan harus mendapatkan apresiasi dari para klien yang sudah berperan penting dalam kemajuan perusahaan mereka.


"Tidak tau, susah menebak isi hati gadis itu." jawab Hendru dengan datarnya.


"Tidak ada yang susah jika kau mau berjuang, wanita itu ibarat magnet. Jika kau terus memepetnya, dia pasti mendekat." jelas Arhan sembari tersenyum kecil.


"Entahlah, bukankah Tuan dulu juga merasakan hal yang sama denganku?" jawab Hendru mengingatkan kembali perjuangan Arhan mendapatkan hati Aina yang sangat keras kepala.


"Kau benar, tapi nyatanya aku berhasil mendapatkan Aina dan menjadikannya milikku. Sekarang giliran mu, jangan sia-siakan kesempatan emas ini!" tegas Arhan.


"Aku akan berjuang semampuku. Tapi jika dia bersikeras menolak ku, aku tak akan memaksanya lagi. Mungkin kami tidak berjodoh," jelas Hendru.


"Hahaha, kalau begitu temani aku berbelanja dulu!" ajak Arhan sembari bangkit dari duduknya.


"Belanja apaan? Sejak kapan Tuan berani belanja sendirian seperti ini?" tanya Hendru sembari menautkan alisnya.


"Jika kau bertemu dengan wanita yang tepat, maka segalanya akan berubah." jawab Arhan dengan santainya, kemudian berjalan meninggalkan aula.


"Hei, pastikan aula ini dihias secantik mungkin. Aku tidak akan mentolerir jika ada kesalahan meski sekecil apapun!" ucap Arhan kepada pekerja yang tak sengaja berpapasan dengan dirinya.

__ADS_1


"Baik Tuan, kami akan menyelesaikannya sesuai keinginan Tuan." sahut pekerja itu.


"Bagus, ayo Hendru! Nanti keburu sore," ajak Arhan sembari melanjutkan langkahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah pusat perbelanjaan, Arhan mendatangi sebuah toko perlengkapan wanita. Banyak sekali gaun malam yang terpajang di patung, Arhan sampai kesulitan memilihkan gaun yang cocok untuk Aina.


"Aku mau melihat-lihat dulu. Kalau kau ingin membelikan Nayla juga, pilih saja yang cocok dengan selera mu!"


Arhan melanjutkan langkahnya menyisir setiap sudut toko, matanya berguling liar mencari gaun mewah yang cocok untuk istrinya.


"Arhan, apa kabar?" teriak seorang wanita dari arah belakang.


Arhan berbalik dan tertegun melihat Tasya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Huft, dia lagi. Kenapa dunia ini begitu sempit?" batin Arhan dengan wajah kesalnya.


"Maaf, saya sedang sibuk." ketus Arhan, kemudian berbalik sebab tak mau menatap Tasya terlalu lama.


"Arhan, kok jadi kaku gini sih? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tasya sembari menyusul Arhan dan berdiri di hadapannya.


"Apa lagi yang bisa ku lakukan di sini? Tentu saja membeli pakaian untuk istriku," ketus Arhan dengan tatapan sangat tajam.


"Hahaha, tumben sekali. Bukankah kau tidak suka pergi berbelanja seperti ini? Sejak kapan kau jadi pria takut istri?" sindir Tasya sembari tersenyum sinis.


"Siapa yang takut sama istri? Ini bukan masalah takut, tapi masalah hati. Apa salahnya memanjakan istri yang selama ini sudah melayani suaminya dengan sangat baik. Istri seperti Aina patut dimanjakan dan diberi perhatian lebih. Susah mendapatkan istri seperti dia di jaman sekarang ini." sindir Arhan dengan senyuman tak kalah sinisnya.


Mendengar itu, wajah Tasya tiba-tiba memerah, kesal karena Arhan terlalu memuji istrinya yang hanya wanita biasa. Padahal Tasya merasa dirinya lebih sempurna dari Aina.


"Jika tak ada lagi yang ingin kau katakan, maka pergilah!" usir Arhan dengan santainya.


Tasya menghentakkan kakinya, kemudian berlalu dengan penuh kekesalan.


"Kurang ajar, beraninya kau menyindirku hanya karena wanita kampung itu. Lihat saja apa yang bisa ku lakukan pada istrimu itu!" batin Tasya penuh amarah.


Setelah mendapatkan gaun malam untuk istrinya, Arhan menyuruh Hendru membayar tagihan. Tidak hanya membeli beberapa gaun, Arhan juga membelikan clutch dan juga sepatu yang senada. Lengkap dengan aksesorisnya.


Sementara itu, Hendru juga membelikan barang yang hampir sama untuk Nayla. Dia berharap malam ini Nayla mau ikut mendampingi dirinya. Hendru sudah lelah menjadi jomblo di setiap acara yang diadakan perusahaan Airlangga.

__ADS_1


__ADS_2