
Mobil yang dikendarai Pak Anang melaju meninggalkan rumah sakit. Di tengah perjalanan, mobil mendadak oleng karena ban belakang tiba-tiba kehabisan angin. Untung saja Pak Anang tidak panik dan berhasil menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Astaga Pak Anang, hati-hati!" seru Aina sembari memegangi dadanya yang berdegup kencang. Dia sungguh terkejut saat merasakan guncangan yang cukup keras, begitupun dengan Nayla yang segera memeluk Aina dengan erat.
"Maaf Nyonya, saya tidak sengaja. Sepertinya ban belakang kempes," sahut Pak Anang, lalu turun memeriksa keadaan mobilnya.
Baru saja Pak Anang menginjakkan kakinya di aspal, dia langsung mematung saat merasakan sesuatu menempel di dahinya.
"Diam, atau aku tembak!" Pak Anang meneguk ludahnya dengan susah payah. Jangankan untuk melawan, bergerak saja dia tidak bisa. Dia juga tidak mengenal orang-orang tersebut.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Pak Anang dengan suara bergetar.
Sementara Aina dan Nayla sudah ketakutan di dalam mobil, wajah keduanya memutih dengan tubuh bergetar hebat. Sungguh pemandangan yang menyeramkan bagi keduanya.
"Aina, siapa mereka? Kenapa mereka menodongkan senjata di kening Pak Anang?" tanya Nayla sembari memeluk Aina dengan erat.
"Aku juga tidak tau Nayla, berdoa saja semoga kita tidak diapa-apakan!" Aina sendiri sebenarnya sangat takut, namun berusaha keras menghilangkan rasa itu.
Saat Aina berencana kabur dan membuka pintu sebelahnya, tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi besar berdiri menghalangi. Menarik paksa Aina keluar dan mengalungkan sebelah tangannya di leher Aina, lalu menempelkan ujung senjatanya di dahi Aina.
"Siapa kalian? Tolong, jangan sakiti aku!" pinta Aina sembari menangkup kedua tangannya, dadanya berdegup kencang dengan kaki gemetaran.
"Diam!" hardik pria itu.
Aina terlonjak mendengar suara lantang yang mendengung di telinganya, seketika air matanya menetes begitu saja. Apa yang ingin dilakukan orang-orang itu padanya?
"Tolong lepaskan dia, jangan sakiti dia!" teriak Pak Anang memohon.
"Bug!"
Pukulan keras menghantam tengkuk belakang Pak Anang hingga dia pun terjatuh tak sadarkan diri.
"Aaaaaaaaa...," Nayla yang masih berada di dalam mobil berteriak histeris, seketika keringat dingin mengucur deras di dahinya saking takutnya.
Sementara itu, Aina di tarik paksa memasuki mobil jeep yang terparkir di belakang mobilnya, membungkam mulut Aina agar tidak bersuara.
__ADS_1
"Hm... Hm...," Seberapa keras Aina berusaha berteriak dan memberontak, tak ada iba sedikitpun di hati kedua pria itu untuknya.
"Jangan bawa dia, aku mohon!" teriak Nayla sembari turun dari mobil. Berlari menyusul Aina yang sudah berada di ambang pintu mobil. Nayla bahkan berusaha memukuli pria itu, tapi justru dia lah yang terjatuh saat salah seorang pria itu memukulnya dengan keras.
"Aaaaaaaaaa...," Setetes darah segar mengalir di sudut bibir Nayla.
Hanya dalam hitungan detik, mobil itu menghilang dari hadapan Nayla. Sementara Nayla sendiri memegangi perutnya menahan rasa sakit yang menyiksa. Hingga beberapa detik kemudian, Nayla pun terbaring tak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa jam kemudian, Nayla tersadar dan sudah berada di rumah sakit. Matanya melebar memandangi sekelilingnya.
"Aina?"
Nayla berusaha bangkit dari pembaringannya. Saat hendak mencopot jarum infus di tangannya, seorang suster dengan cepat menghalanginya.
"Maaf Bu, Anda jangan bergerak dulu! Kandungan Anda sangat lemah, ini sangat berisiko untuk janin Anda!"
Mendengar itu, Nayla pun terdiam untuk sesaat. Dia tidak bisa membiarkan Aina disakiti, tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan kandungannya.
"Siapa yang membawa saya ke sini Sus?" tanya Nayla dengan suara bergetar menahan tangisannya.
"Mereka membawa saudara saya Sus, mereka menculiknya dan memukulku." jelas Nayla.
"Ibu tenang dulu ya, di luar ada polisi yang berjaga. Kalau Ibu sudah tenang, polisi akan menemui Ibu untuk meminta keterangan."
Nayla menghela nafas sebanyak-banyaknya, rasanya seperti mimpi yang tak diinginkan. Tapi bagaimana keadaan Aina saat ini? Apa Aina baik-baik saja?
Di luar, Pak Anang masih saja gelisah dengan ponsel yang ada di tangannya. Sudah sedari tadi dia berusaha menghubungi Arhan dan Hendru, tapi hingga detik ini tak seorang pun yang menjawab panggilannya.
Sementara di Bandung sana, Arhan dan Hendru baru saja selesai rapat di hotel yang sama dengan tempat mereka menginap. Keduanya menghela nafas lega setelah menyelesaikan pekerjaan yang cukup melelahkan. Keduanya akan segera kembali ke ibukota.
"Kemasi barang-barang mu! Kita kembali sekarang!" titah Arhan sembari melangkah menuju pintu kamar.
"Buru-buru banget, udah gak sabar ya ingin bertemu istri tercinta." seloroh Hendru sembari tersenyum miring.
__ADS_1
"Kau juga sama, sok-sokan nyindir." ketus Arhan, kemudian melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di kamar, Arhan mengemasi barangnya. Saat hendak melangkah menuju pintu, matanya membulat ketika membuka layar ponselnya. Banyak sekali panggilan tak terjawab muncul di sana.
"Pak Anang?" Arhan menautkan alisnya.
Tak ingin berburuk sangka, Arhan terus saja melangkah meninggalkan kamar sembari menghubungi Pak Anang kembali.
"Arhan, Pak Anang menghubungiku sebanyak 23 kali. Ada apa ya? Aku hubungi gak bisa," ucap Hendru yang sudah berdiri di depan kamar Arhan.
Arhan mengerutkan keningnya. "Sama, aku bahkan 32 kali." Hendru pun ikut mengerutkan keningnya.
"Sssttt... Tersambung," Arhan meminta Hendru untuk diam saat sambungan teleponnya terhubung.
"Halo Pak Anang, ada apa?" tanya Arhan dengan wajah seriusnya.
Pak Anang mulai bicara dan menceritakan semuanya dengan sangat jelas. Bahkan suaranya terdengar bergetar, mungkin saat ini dia tengah menangis di ujung sana menceritakan kejadian naas itu.
Seketika wajah Arhan berubah panik, mata memerah dengan mulut bergetar. Tatapan matanya sulit sekali ditebak, ada kemarahan yang membara di hatinya, membakar seluruh organ tubuhnya hingga rasa panas pun tak bisa dielakkan.
"Cepat, jangan buang-buang waktu lagi!" Arhan berlari sekencangnya menuju lift. Tak ada kata tak ada penjelasan, yang ada hanya kemarahan yang tengah berapi-api membakar jiwa dan raganya.
Sesampainya di parkiran, Arhan sendiri yang duduk di bangku kemudi. Menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya secepat kilat. Tak peduli bahaya apa yang akan dia hadang, yang penting bisa tiba di ibukota secepatnya.
"Arhan, apa yang terjadi? Kenapa mengendarai mobil secepat ini? Apa kau sudah gila?" cerca Hendru dengan berbagai macam pertanyaan.
"Diam, pegangan saja yang erat!" hardik Arhan dengan sorot matanya yang sangat tajam menatap jalanan.
"Tapi pelan-pelan saja! Aku belum mau mati konyol, aku masih mempunyai istri yang sedang menungguku di rumah, bukan mayat ku!" keluh Hendru.
"Justru karena istrimu sedang menunggu, dia tengah terbaring di rumah sakit." jelas Arhan.
"Rumah sakit? Apa maksudmu?" Hendru membulatkan matanya lebar.
"Aina diculik, Nayla dipukul. Entah siapa dalang dari semua ini?" Arhan benar-benar kehilangan akal setelah mendengar kabar barusan. Ingin sekali dia memajukan waktu agar segera tiba di ibukota.
__ADS_1
"Apa aku harus kembali jadi Arhan yang dulu agar mereka sadar tengah bermain-main dengan siapa? Lihat saja! Jika sesuatu terjadi pada istri dan anakku, tangan inilah yang akan mencabik-cabik mereka semua!"
Tatapan iblis Arhan akhirnya muncul kembali setelah sekian lama menghilang. Jiwa setannya kembali terbangun dari tidur yang cukup panjang. Mungkin sudah waktunya membangkitkan batang terendam agar tak ada lagi yang berani mengusik kehidupannya.