Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 70.


__ADS_3

Sore hari, Aina terbangun dari tidurnya. Entah kenapa perutnya terasa mual saat hidungnya mengendus aroma tubuh Arhan yang sangat dekat dengan wajahnya.


Aina semakin merasa sesak, dia mendorong dada Arhan dan bergegas bangkit dari tidurnya.


Arhan terbangun saat merasakan dorongan yang cukup kuat di dadanya. Melihat Aina yang tengah berlari ke kamar mandi, Arhan pun mengerutkan keningnya, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


Dari luar sana, Arhan terperanjat saat telinganya sayup-sayup mendengar suara Aina yang tengah memuntahkan semua isi perutnya. Takut sesuatu terjadi kepada istrinya, Arhan segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi.


Mata Arhan membulat melihat wajah Aina yang sangat pucat, dia terus saja mengeluarkan semua isi perutnya hingga tak bersisa.


"Sayang, Aina kenapa?"


Arhan mengusap punggung Aina, lagi-lagi Aina tak bisa menahan mual dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang ada di perutnya.


"Uweeek"


Arhan semakin panik sebab Aina tak hentinya memuntahkan isi perutnya.


"Aina kenapa sayang? Kita ke rumah sakit ya!" ajak Arhan penuh kekhawatiran, lalu membawa Aina ke dalam dekapan dadanya.


Baru beberapa detik di dalam dekapan Arhan, Aina mendorong dada suaminya dengan kasar, lalu memuntahkan kembali isi perutnya. Sepertinya aroma tubuh Arhan membuatnya semakin mual.


"Menjauhlah dari Aina, Aina eneg mencium aroma tubuh Abang!"


"Deg"


Seketika, jantung Arhan seakan berhenti berdetak. Tidak biasanya Aina berkata seperti ini padanya, sejauh yang dia tau Aina suka sekali menetap di dalam dekapannya.


"Sayang, Aina jijik sama Abang?" tanya Arhan sembari menautkan alisnya.


"Entahlah, Aina gak suka mencium aroma tubuh Abang!" keluh Aina dengan tatapan lesu, bibirnya nampak begitu pucat.


Arhan semakin kebingungan, kemudian menghidu ketiaknya sendiri. Tidak ada yang salah dengan aroma tubuhnya, parfum yang dia gunakan juga sama dengan yang biasa dia pakai.


"Apa yang membuat Aina berubah seperti ini?" Arhan benar-benar bingung, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


Arhan masih terpaku di tempatnya berdiri, sementara Aina sudah lebih dulu meninggalkan kamar mandi, lalu menekuk kakinya di sofa.


Sesaat, Aina termenung dalam pemikirannya sendiri. Dia juga bingung memikirkan apa yang terjadi dengannya akhir-akhir ini.


Tidak lama, Arhan datang dan duduk di samping Aina. Aina segera beranjak dan memberi jarak diantara mereka berdua.


"Sayang, Aina kenapa sih?" tanya Arhan dengan kening sedikit mengkerut, dia sama sekali tak mengerti dengan perubahan Aina yang begitu tiba-tiba.


"Aina gak tau Bang, Aina malas berdekatan dengan Abang."


"Seeer"


Darah Arhan berdesir, dadanya seketika berdenyut nyeri. Tak ada angin tak ada hujan, Aina tiba-tiba saja menjauh darinya, sementara kesalahpahaman semalam sudah jelas titik terangnya.

__ADS_1


"Aina masih marah sama Abang?" tanya Arhan penasaran, barangkali Aina masih kesal terhadap dirinya.


"Gak Bang, semua ini tidak ada hubungannya dengan kejadian semalam." sahut Aina datar.


"Lalu kenapa sayang? Aina udah bosan sama Abang?" tanya Arhan menuntut jawaban.


"Gak kok Bang, mana mungkin Aina bosan sama Abang. Aina gak suka aja menghirup aroma tubuh Abang." jelas Aina jujur.


"Kok bisa? Perasaan, aroma tubuh Abang sama aja dengan biasanya." ucap Arhan, kemudian menghidu ketiaknya kembali.


"Entahlah, sebaiknya Abang mandi dulu! Siapa tau setelah ini Aina gak eneg lagi berdekatan dengan Abang." saran Aina.


Mendengar itu, Arhan segera bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selang beberapa menit, Aksa terbangun dari tidurnya. Aina yang melihat itu segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Aksa yang sudah duduk di atas kasur.


"Sayang Mama udah bangun ya?" Aina mengambil Aksa dan menggendongnya. Baru beberapa detik, Aina kembali menaruh Aksa di atas kasur. Perutnya tiba-tiba kram dan membelit hingga pinggang.


Aina meringkuk sembari menekan permukaan perutnya, rasanya sangat sakit hingga keringat jagung bercucuran di keningnya.


"Ahh, Abang...," Teriakan Aina menggelegar hingga kamar mandi, Arhan yang mendengar itu bergegas melingkarkan handuk di pinggangnya, kemudian berlari meninggalkan kamar mandi.


Disaat yang bersamaan, Aksa ikut menangis melihat Aina mengerang menahan sakit. Jagoan kecil itu seakan mengerti kesakitan yang dialami sang mama.


"Aksa, Aina, apa yang terjadi sayang?" tanya Arhan panik, apalagi melihat Aina yang sudah terduduk di dasar lantai.


"Bang, tolong Aina! Perut Aina sakit banget Bang, Aina gak kuat lagi."


"Tunggu sebentar sayang, Abang pakai baju dulu!"


Arhan mulai kehilangan akal melihat kedua orang tersayangnya menangis bersamaan. Setelah mengenakan pakaian, Arhan menggendong Aksa dan membawanya turun ke bawah.


"Ma, Mama," Teriakan Arhan membuat seisi rumah bergemuruh.


Leona yang mendengar itu bergegas keluar dari kamarnya.


"Arhan, kenapa berteriak Nak?" tanya Leona khawatir.


"Ma, tolong pegang Aksa sebentar ya! Aina sakit Ma, Arhan harus membawa Aina ke rumah sakit." Suara Arhan terdengar bergetar, matanya memerah menahan air mata yang hampir saja terjun bebas di pipinya.


Leona membulatkan matanya dengan mulut sedikit menganga, lalu mengambil Aksa dari gendongan Arhan.


"Aina kenapa sayang?" tanya Leona penuh kekhawatiran.


"Tidak tau Ma, saat Arhan keluar dari kamar mandi, Aina sudah terduduk di atas lantai."


Setelah mengatakan itu, Arhan berbalik dan berlari menaiki anak tangga. Pikirannya mulai kalut, takut terjadi sesuatu kepada istrinya.


Sesampainya di kamar, Arhan berlari menghampiri Aina dan menggendongnya, kemudian turun dengan wajah sangat panik.

__ADS_1


"Aina yang kuat ya, Abang di sini. Kita akan ke rumah sakit," gumam Arhan, tak terasa air matanya jatuh begitu saja.


"Sakit Bang, Aina gak kuat lagi." rintih Aina sembari meremas punggung Arhan.


"Jangan bicara seperti itu, Aina pasti kuat!" Arhan berusaha keras menahan tangisannya, sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu. Keadaan Aina lebih penting dari segalanya.


Di depan rumah, Pak Anang sudah standby dengan mobil yang sudah menyala. Saat Arhan kembali ke kamar, Leona dengan sigap memanggil Pak Anang dan meminta bantuannya.


"Ma, tolong jaga Aksa ya!" ucap Arhan, kemudian masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Aina di pangkuannya.


"Pergilah, nanti Mama menyusul!" Leona membantu menutup pintu. Tidak berselang lama, mobil itu menghilang dari pandangannya.


Aksa yang masih berada di gendongan Leona terus saja menangis, sepertinya dia tau kalau keadaan mamanya sedang tidak baik.


"Aksa jangan nangis ya! Ada Oma di sini, Aksa anak pintar kan?" bujuk Leona sembari mengayun tubuh Aksa.


"Ma Ma," rengek Aksa menunjuk ke arah gerbang.


"Iya sayang, Mama pasti baik-baik saja. Nanti kita ke tempat Mama ya, tunggu Opa pulang dulu!" bujuk Leona, hatinya terenyuh melihat sang cucu yang terus saja merengek memanggil mamanya.


Saat hendak melangkah masuk, Leona dikejutkan dengan suara mobil yang datang dari arah luar. Saat berbalik, air mata Leona tiba-tiba jatuh melihat Airlangga yang baru saja turun dari mobil.


"Papa," Leona berlari kecil menyusul Airlangga.


"Ma, kenapa menangis?" tanya Airlangga sembari menautkan alisnya, lalu mengambil Aksa dari gendongan istrinya.


"Jagoan Opa kenapa nangis? Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Airlangga bingung.


"Pa, Aina sakit. Arhan baru saja membawa Aina ke rumah sakit. Kita harus menyusul, Mama takut Aina kenapa-napa."


"Sakit bagaimana?" tanya Airlangga sembari membuka matanya lebar.


"Mama juga tidak tau, Aina hanya menangis saat Arhan menggendongnya tadi." jelas Leona, kemudian menyeka wajahnya dengan kasar.


"Mama tenang dulu ya, jangan panik seperti ini! Kasihan Aksa,"


Airlangga mencoba menenangkan Leona, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.


"Ma, Pa, apa yang terjadi? Kenapa Mama menangis?" tanya Nayla yang baru saja keluar dari kamar.


"Nayla, Aina sakit Nak. Mama sama Papa mau menyusul ke rumah sakit. Kamu bisa kan menjaga Aksa di rumah, Mama tidak mungkin membawa Aksa, dia masih kecil." jelas Leona.


"Deg"


Mata Nayla terbuka lebar dengan mulut sedikit menganga. "Aina sakit apa Ma?"


"Tidak tau sayang, semoga saja tidak ada yang serius. Kamu bisa kan menjaga Aksa?"


"Bisa Ma, Mama pergi saja!"

__ADS_1


"Aksa sama Aunty dulu ya Nak!"


Aksa menganggukkan kepalanya, lalu merentangkan tangannya meraih pundak Nayla. Keduanya memang sangat dekat layaknya ibu dan anak, tidak sulit bagi Nayla menenangkan jagoan kecil itu.


__ADS_2