
Sore hari mereka semua sudah tiba di Amanwana resort. Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Setelah mandi dan mengenakan pakaian, Aksa tertidur di pelukan Arhan saking lelahnya.
Sementara di tempat lain, Nayla duduk di bangku yang ada di depan kamar. Wajahnya nampak gusar meskipun baru saja selesai mandi. Dia kepikiran dengan kejadian di air terjun tadi, membuatnya gelisah memikirkan perasaannya sendiri.
Di kamar sebelah, Hendru sepertinya tengah memikirkan hal yang sama dengan Nayla. Sesekali wajahnya dihiasi dengan senyuman, dadanya terasa berdenyut memikirkan bagaimana Nayla memeluknya di dalam air tadi.
"Hufftt, apa sih mau mu Nayla? Didekati gak mau, tapi saat aku menghindar kamu sendiri yang mendekat padaku." gumam Hendru dengan tatapan aneh memandangi langit-langit kamar.
Tepat pukul 7 malam, Arhan dan Aina keluar dari kamar. Sesuai permintaan Arhan kepada petugas tadi sore, di depan kamarnya sudah disediakan peralatan dan bahan untuk membakar ikan, lengkap dengan bumbu sekalian.
"Tuan Arhan, ini sudah semua. Apa Tuan masih membutuhkan yang lain?" tanya seorang petugas yang masih berdiri di hadapannya.
"Tidak ada, cukup segini dulu! Oh ya, yang saya bilang tadi sore jangan lupa ya!" ucap Arhan mengingatkan petugas itu.
"Tuan tenang saja, nanti semuanya akan berjalan sesuai rencana!" sahut petugas itu.
"Bagus, senang bisa bekerja sama dengan anda. Kalau begitu pergilah!" titah Arhan dengan seulas senyum yang terukir di wajahnya.
Setelah petugas itu menghilang dari pandangan Arhan, dia meminta Aina memanggil Hendru dan Nayla untuk bergabung. Sementara Arhan sendiri mulai membakar tempurung kelapa.
Tidak lama, Aina kembali membawa Hendru dan Nayla bersamanya. Mereka bertiga bergabung dengan Arhan.
Nayla asik menata meja dan menyiapkan nasi beserta lalapan. Sementara Aina nampak tengah membumbui ikan segar yang akan mereka panggang.
"Hendru, kemarilah!" pinta Arhan yang masih berdiri di dekat pemanggangan.
Hendru yang tadinya hanya duduk di sebuah bangku, langsung berdiri dan berjalan menghampiri Arhan.
"Ada apa Tuan?" tanya Hendru yang sudah berdiri di samping Arhan, wajahnya nampak datar bak lantai granit.
"Kenapa memanggil Tuan lagi? Kata itu hanya berlaku saat di kantor," keluh Arhan sembari menautkan alisnya.
"Sorry, aku lupa." sahut Hendru singkat tanpa ekspresi sedikitpun.
"Woi, semangat dong! Masa' wajahnya seperti kelinci begitu." sindir Arhan sembari tersenyum miring. Dia tau sekali Hendru tengah galau memikirkan Nayla.
__ADS_1
"Iya, iya, apa yang bisa aku bantu?" tanya Hendru, kini wajahnya nampak sedikit bercahaya.
"Lanjutkan ini, aku mau melihat Aksa sebentar di dalam!" Arhan bergeser dari posisinya.
"Aina, berikan ikannya pada Hendru! Aina ikut Abang sebentar ya," pinta Arhan sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Iya Bang," Aina pun menghampiri keduanya, lalu memberikan baskom kecil berisi beberapa ikan segar itu ke tangan Hendru.
Arhan menggenggam tangan Aina, lalu membawanya ke dalam kamar. Setelah menutup pintu, Arhan menggendong Aina dan membaringkannya di atas sofa. Arhan pun menindih tubuh istrinya dari atas.
"Bang, apa-apaan ini? Jangan sekarang!" tolak Aina dengan mata melotot tajam.
"Sssttt, jangan banyak bicara sayang! Abang capek, biarkan Abang berbaring di sini sebentar!" Arhan menekan tubuh Aina, lalu merebahkan kepalanya di belahan dada Aina yang menjulang tinggi.
Melihat suaminya yang begitu, Aina pun tersenyum kecil. Dia pikir Arhan mau minta jatah dalam keadaan seperti ini. Aina mengangkat tangannya, lalu mengurut kepala suaminya penuh perasaan.
Perlahan, mata Arhan pun terpejam menikmati sentuhan tangan istrinya yang sangat lembut.
"Huhhh, enak sekali." gumam Arhan dengan bibir yang menempel di dada istrinya. Mendengar itu, Aina pun tersenyum dengan manisnya.
Di luar sana, Nayla dan Hendru nampak begitu canggung. Tidak satupun dari mereka yang mau membuka suara. Terlebih Nayla yang hanya diam bak patung pancoran.
Tanpa bertanya, Hendru dengan cepat mengambil pisau tersebut dari tangan Nayla, lalu menaruhnya di atas meja. Hendru menyentuh tangan gadis itu, lalu menghisap darah yang keluar dari telunjuk Nayla tanpa ragu.
"Hendru, apa yang kamu lakukan? Ini hanya luka kecil," ucap Nayla yang terlihat begitu gugup, dia tak menyangka Hendru akan segercep itu membantu dirinya.
"Diam, jangan membangkang! Kecil atau besar, ini tetaplah luka." ketus Hendru dengan tatapan tak biasa, lalu menghisap kembali darah yang keluar dari telunjuk Nayla.
Nayla tiba-tiba bergeming, jantungnya serasa ingin tumpah, dadanya kian sesak merasakan lembutnya sentuhan bibir Hendru.
"Astaga Hendru, rasanya aku ingin mati saja melihatmu seperti ini." batin Nayla dengan nafas yang terdengar memburu.
"Cukup Hendru, darahnya pasti sudah berhenti!" ucap Nayla dengan kaki yang mulai gemetaran.
Mendengar itu, Hendru dengan cepat melepaskan hisapannya, lalu melepaskan tangan Nayla begitu saja.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati! Kamu tidak kasihan dengan tangan lembut mu itu?" ucap Hendru yang secara tak sengaja mengakui kelembutan tangan Nayla.
"I, iya, lain kali aku akan lebih berhati-hati. Terima kasih," sahut Nayla dengan suara terbata, lalu membelakangi Hendru sembari menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang.
Hendru melanjutkan tugasnya membakar ikan, untung saja ikan yang masih ada di atas panggangan itu tidak hangus. Jika itu terjadi, pasti Arhan akan memakinya sepuas hati.
Beberapa menit berlalu, Hendru meminta piring kepada Nayla. Gadis itu dengan cepat mengambilnya dan berdiri di sebelah Hendru.
"Ini sudah matang kan?" tanya Hendru meminta pendapat Nayla, takutnya bagian dalam ikan itu masih mentah.
"Sepertinya sudah, coba dibalik dulu!" sahut Nayla yang masih berdiri di samping Hendru.
Hendru membalik ikan tersebut sesuai arahan Nayla, entah kenapa suasana malam itu membuatnya merasa damai mengingat tidak ada Arhan di dekatnya. Pria itu selalu saja memojokkan dirinya jika bersama.
"Sudah matang Hendru, angkat saja!" suruh Nayla, lalu menyodorkan piring tepat di hadapan Hendru.
Setelah memindahkan ikan tersebut ke dalam piring, Hendru kembali membakar ikan yang tersisa. Kebetulan ada 4 ekor ikan berukuran cukup besar, sementara pemanggangan itu cuma mampu menampung 2 ekor ikan sekali panggang.
Di dalam kamar, Arhan mulai bangkit dari pembaringannya. Dia membantu Aina berdiri, memeluk istrinya, lalu mengecup kening Aina dengan sayang.
"Nanti Abang boleh minta 2 ronde kan?" tanya Arhan dengan tatapan mesumnya.
"Hah," Aina melotot tajam.
"Satu ronde aja pinggang Aina serasa ingin putus, mana mungkin Aina sanggup 2 ronde Bang?" keluh Aina dengan tatapan tak biasa.
"Hahahaha. Kan di jeda dulu sayang, bukan sekali hajar." jelas Arhan sembari terkekeh melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan.
"Lihat nanti saja Bang! Ayo, keluar! Kasihan Nayla dan Hendru berdua saja." ajak Aina.
"Kenapa kasihan? Abang sengaja membiarkan mereka tinggal berdua." Arhan tersenyum kecil.
"Aina lihat aja nanti! Setelah malam ini, mereka tidak akan bermusuhan lagi!" tegas Arhan penuh keyakinan.
"Kok Abang tau? Apa yang Abang rencanakan?" tanya Aina penasaran.
__ADS_1
"Rencana sudah berjalan sejak pagi tadi, Aina aja yang gak ngeh. Ya sudahlah, keluar yuk! Abang udah lapar!"
Arhan memeluk pinggang Aina dan membawa istrinya keluar. Setelah meregangkan ototnya yang tadi terasa kaku, kini giliran perutnya yang memberontak minta diisi.