
Mobil yang dikendarai Arhan berhenti di depan supermarket, dia mau belanja terlebih dahulu untuk bekal selama di villa. Arhan turun dan mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Aina dan membantunya turun.
Aina tersenyum dan melingkarkan sebelah tangannya di lengah Arhan. Keduanya berjalan memasuki supermarket.
"Mau beli apa Bang?" tanya Aina sembari menarik sebuah troli.
"Aina pilih aja, biar Abang yang dorong trolinya!" Arhan mengambil alih troli itu dari tangan Aina, lalu mengikuti langkah kaki istrinya yang mulai mengitari rak.
Arhan hanya bisa tersenyum melihat istrinya yang benar-benar serius memilih kebutuhan mereka, terkadang Arhan merasa takut. Semakin hari Aina nampak semakin cantik, sementara dia sendiri sudah semakin tua. Jarak umur yang cukup jauh membuat Arhan sangsi Aina akan berpaling darinya dan mencari pria yang lebih muda.
"Mas Arhan, kamu di sini juga?" Suara seorang wanita membuyarkan lamunan Arhan. Wanita itu memeluknya seperti sudah saling mengenal sebelumnya.
Aina yang mendengar itu segera berbalik dan membulatkan matanya dengan sempurna. Arhan yang terkejut segera mendorong wanita itu hingga pelukannya terlepas.
"Mas Arhan apa kabar? Makin tua makin tampan aja. Kapan nih check in bareng lagi? Aku kangen loh sama goyangan mas," ucap wanita itu dengan gamblang.
"Deg!"
Aina membungkam mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain meremas barang yang baru saja dia ambil dari rak. Jantungnya bergemuruh kencang serasa ingin keluar dari tempatnya.
Check in? Goyangan? Apa selama ini Arhan membohonginya? Apa selama ini Arhan masih bermain wanita di belakangnya? Air mata Aina jatuh berguguran saking syok nya.
"Maaf, Arhan yang dulu sudah mati. Anda salah mengenali orang." Arhan menjauhi wanita itu dan menghampiri Aina yang berjarak beberapa meter saja darinya.
"Sayang-"
"Gak usah pegang-pegang!" Aina menepis tangan Arhan dengan kasar. Dia ingin sekali marah tapi takut harga diri suaminya jatuh di hadapan banyak orang. Bagaimanapun Aina masih menghargai suaminya meski sudah melukai perasaannya.
Aina mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. "Antar Aina pulang!" lirihnya sembari berjalan meninggalkan supermarket.
Arhan hendak menyusul Aina tapi tangannya ditahan oleh wanita tadi. "Mas, kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Lepas! Awas saja kalau sampai istriku minta cerai, aku pastikan hidupmu akan menderita!" ancam Arhan dengan tatapan mematikan.
Wanita itu bergeming sembari melepaskan tangan Arhan. Dia benar-benar tidak tau kalau Arhan sudah menikah karena dia baru saja pulang dari luar negeri.
Arhan berlari menyusul Aina yang sudah berdiri di samping mobil. "Sayang-"
"Jangan pegang-pegang!" potong Aina yang tak mau membiarkan Arhan menyentuhnya.
Aina membuka pintu belakang dan duduk dengan mode kesalnya. Pipi menggembung dan bibir mengerucut, sementara kedua tangannya dilipat di dada dengan mata mengarah keluar jendela.
"Sayang, kenapa duduk di belakang?" Arhan mulai kelimpungan karena takut istrinya benar-benar marah.
"Masuk dan bawa Aina pulang! Jika tidak-"
"Iya iya, Abang masuk." Terpaksa Arhan menuruti kemauan Aina dan masuk ke dalam mobil.
Sebelum melajukan mobilnya, Arhan menoleh ke belakang menatap wajah istrinya yang sudah menyala dibakar api kemarahan. "Sayang, Aina salah paham. Abang-"
Terpaksa Arhan mengangguk dan melajukan mobilnya menuju arah pulang. Tidak ada pembicaraan selama mereka di dalam perjalanan.
Sesampainya di depan rumah, Aina melompat turun dan berlari memasuki rumah. Semua orang yang ada di ruang keluarga terkejut melihat kedatangannya.
"Aina, kenapa balik lagi? Kalian gak jadi pergi?" cerca Leona dengan pertanyaan, keningnya mengerut melihat wajah menantunya yang dipenuhi kemarahan.
Aina tak menyahut dan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Bukannya tidak sopan tapi Aina sendiri tidak tau harus menjawab apa. Hatinya benar-benar sakit melihat tubuh suaminya disentuh wanita lain. Apa salah kalau Aina marah? Apa salah kalau Aina cemburu? Apa Aina egois?
Arhan menyusul masuk dan berlari mengejar istrinya. Arhan tidak mau Aina berpikir aneh hanya karena kesalahpahaman yang belum sempat dia jelaskan.
"Arhan, apa yang terjadi dengan kalian?" Lagi-lagi Leona mengerutkan keningnya.
"Maaf Ma, Arhan ke atas dulu. Tolong jagain Aksa sama Avika ya Ma, Aina marah sama Arhan!" lirih Arhan dengan wajah sedihnya, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.
__ADS_1
Leona hanya bisa mengelus dada. Sebelum pergi keduanya nampak begitu bahagia, tapi kenapa keduanya kembali dalam keadaan seperti ini?
"Sayang, buka pintunya!" teriak Arhan dari luar sana. Aina mengunci pintu karena tak ingin melihat wajah pengkhianat suaminya.
Aina meringkuk di atas tempat tidur dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata. Hatinya hancur berkeping-keping, sakit mengingat pemandangan menyakitkan yang membuat otaknya tidak bisa berfungsi dengan baik.
Arhan mengusap wajahnya berkali-kali, hembusan nafasnya terdengar berat. Bagaimana cara meyakinkan Aina kalau sudah begini? Dia tidak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut.
Arhan membuka laci lemari pajang yang ada di sudut ruangan, mengambil kunci cadangan hingga akhirnya berhasil membuka pintu dan masuk ke dalamnya.
Hatinya ikut sakit saat mendapati Aina yang tengah meringkuk menangisi kejadian yang tak diduga itu. Mana Arhan tau akan bertemu dengan wanita yang pernah hadir di masa lalunya, jika tau tidak mungkin Arhan akan mampir di tempat itu.
Arhan menekuk kakinya di sisi ranjang dan mengusap punggung Aina dengan lembut.
"Jangan sentuh Aina lagi! Aina jijik dengan tangan itu," isak Aina dengan suara yang nyaris menghilang.
"Sayang, dengerin Abang dulu! Aina salah-"
"Abang benar, Aina yang salah. Aina salah karena gak bisa menjadi istri yang baik untuk Abang, Aina gak bisa melayani Abang seperti wanita itu melayani Abang." potong Aina sebelum Arhan selesai berbicara.
"Sayang, bukan itu maksud Abang." Arhan mengusap wajahnya berkali-kali.
"Jika Abang gak puas sama Aina, kenapa gak ngomong aja terus terang? Kenapa malah tidur dengan wanita itu di belakang Aina? Aina gak rela, hati Aina sakit dengarnya." isak Aina menahan rasa ngilu di hatinya.
"Sayang, dengar Abang dulu." Arhan mengusap kepala Aina dengan sayang.
"Aina capek Bang, mulai hari ini terserah Abang mau ngapain aja di luar sana. Aina bebasin Abang mau tidur dengan siapa aja." Aina menyapu wajahnya yang sudah basah.
"Abang jangan takut, Aina gak akan minta cerai. Aina akan bertahan sampai anak-anak kita dewasa dan mengerti. Selama itu, Aina minta jangan lagi sentuh Aina! Kita akan hidup dengan cara kita masing-masing." imbuh Aina.
Aina turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya. Beberapa menit kemudian Aina keluar dan melangkah meninggalkan kamar tanpa menghiraukan Arhan yang masih terpaku usai mendengar ucapannya tadi.
__ADS_1
Kepala Arhan berputar-putar memikirkan ucapan Aina yang menurutnya tidak adil. Kenapa dia harus dihukum atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan? Padahal wanita itu hanya masa lalu bagi Arhan, hubungan mereka terjadi jauh sebelum Arhan bertemu Aina. Tapi kenapa Aina tidak mau mendengar penjelasannya.