Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 128.


__ADS_3

Lima tahun kemudian...


"Mama Ina, Kak Aksa nakal," teriak seorang gadis kecil berbadan bontot, memiliki kulit sedikit gelap dan rambut ikal sebahu.


Aina berlari ke ruang tengah, teriakan gadis itu membuatnya hampir saja tersungkur tersandung karpet. Untung tangannya masih sigap memegangi kepala sofa, jika tidak dia mungkin sudah jungkir balik di dasar lantai.


"Inara, kamu kenapa sayang?" Aina langsung berjongkok dan memeluk Inara yang tengah menangis sesegukan.


"Huhuhuuu... Kak Aksa nakal, lukisan Inara dirobek sama dia." Gadis kecil itu terus saja menangis di pelukan Aina.


Aina menatap kertas Inara yang sudah terbelah dua, dia langsung mendengus dengan kesal. Bagaimana cara mendidik putra sulungnya itu agar tak bandel lagi kepada adik-adiknya? Setiap hari dia selalu dibuat naik darah karena perangai putranya yang satu itu.


"Dasar cengeng! Dikit-dikit ngadu, dikit-dikit ngaku." cibir Aksa tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Aksa, kamu bisa diam gak. Inara ini adik kamu loh, kenapa digangguin terus?" geram Aina dengan air mukanya yang mulai menggelap.


"No, dia bukan adik Aksa. Kulitnya aja hitam dan gendut. Adik Aksa cuma Avika sama Aryan." jawab Aksa yang tidak mau mengakui Inara sebagai adiknya.


"Aksaaa... Siapa yang ngajarin kamu bicara seperti itu?" bentak Aina yang mulai naik pitam.


"Belain aja terus anak kesayangan Mama itu, sampai kapanpun Aksa gak akan mau punya adik seperti dia."


Aksa melipat tangannya di dada, lalu menghentakkan kakinya dan berlalu meninggalkan ruang tengah, perlahan kakinya mulai melangkah menuju paviliun.


Kini Aksa sudah berusia delapan tahun dan duduk di kelas tiga SD. Aksa tumbuh menjadi anak yang cerdas dan cerewet, tapi entah kenapa dia selalu saja nakal terhadap Inara yang tidak dia sukai menjadi adiknya.


Baginya Inara itu hanyalah orang asing yang ada di dalam keluarganya. Meski Arhan sudah menjelaskan tapi dia tetap kekeh dengan keputusannya yang tidak mau menerima Inara di tengah mereka.


"Inara sayang, maafin Kak Aksa ya. Sini Mama bantuin bikin gambarnya lagi!" bujuk Aina, kemudian menyapu pipi gembul itu dengan jemarinya.


"Gak usah Ma, Inara mau ke kamar aja." Inara berjongkok dan memungut barang-barangnya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu dia berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Aina mengelus dada dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Apa sebentar lagi dia akan mendapat serangan jantung ulah perangai putra sulungnya itu. Dengan wajah menyala padam dia keluar mencari keberadaan Aksa.


Aksa tengah duduk bersama Baron di teras paviliun. Keduanya nampak begitu akrab layaknya ayah dan anak. Baron memang selalu memanjakannya seperti darah dagingnya sendiri. Dia bahkan mengajari Aksa beberapa gerakan bela diri yang dia kuasai.


Baron tau Aksa nantinya akan menjadi pewaris keluarga Airlangga, bekal seperti itu sangat diperlukan mengingat ada saja orang-orang tak bertanggung jawab yang mengintai keluarga besar mereka. Aksa harus memiliki model untuk melindungi keluarganya, namun hal itu Baron ajarkan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Arhan.


"Aksa, sini ikut Mama!" Aina menjewer kuping Aksa dan menariknya dengan geram.


"Ma, lepasin dulu! Sakit Ma," teriak Aksa sambil mencengkram tangan Baron.


"Aina, kamu apa-apaan sih? Lepasin dulu! Itu sakit loh," seru Baron sembari menahan tangan Aina.


Saat tangan Aina terlepas dari kupingnya, Aksa langsung menghindar dan bersembunyi di balik tubuh kekar Baron.


"Baron, kamu jangan melindungi tikus itu terus! Perangainya sudah kelewatan," ketus Aina dengan tatapan mematikan.


"Sabar Aina, tikus itu masih kecil. Dia belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Kamu ini ibunya, harusnya lebih sabar menghadapi dia." Baron berusaha menenangkan Aina.


"Sabar sabar, sudah kenyang aku menelan kesabaran ulah perangainya. Kamu sebagai paman bisa gak sih sedikit lebih tegas padanya. Inara itu adiknya, katakan padanya jangan mengganggunya terus!" bentak Aina yang mulai tersulut emosi.


Aina memijat keningnya yang mulai terasa pusing, kemudian berbalik dan meninggalkan paviliun. Dengan air muka keruh, Aina terus saja mendongkol tanpa memperhatikan jalan yang dia lewati.


"Bug!"


Aina menghantam tubuh tinggi kekar yang berdiri di depannya. Siapa lagi kalau bukan suami tercintanya yang baru saja pulang dari kantor. Aina berteriak saat tubuhnya mendadak oleng, untung saja Arhan dengan sigap menangkapnya. Jika tidak mungkin kepalanya sudah menyeruduk tiang rumah yang begitu besar.


"Sayang, Aina kenapa? Kok jalannya buru-buru gitu?" tanya Arhan mengerutkan keningnya.


"Udah, lepas! Anak dan bapak sama aja, sama-sama menyebalkan." Aina mendorong dada Arhan dan melanjutkan langkahnya memasuki rumah.


Arhan lagi-lagi mengerutkan keningnya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Baru juga sampai rumah sudah disambut dengan omelan.

__ADS_1


"Hahahaha... Pasti gara-gara Aksa lagi," Hendru yang baru turun dari mobil malah tertawa terbahak-bahak melihat air muka Arhan yang membagongkan.


"Apaan sih?" Arhan mendengus kesal dan berjalan memasuki rumah.


Baru saja kakinya menginjak teras, Avika dan Aryan sudah berlari melompati tubuhnya.


"Papa," teriak keduanya bersamaan.


Arhan langsung berjongkok dan memeluk mereka, lalu mengecup pipi keduanya secara bergiliran.


"Sayang Papa belum pada mandi ya, kok bau banget sih?" seloroh Arhan sembari tersenyum kecil.


"Belum Pa, kita kan nungguin Papa dulu. Mandinya sama Papa aja hari ini," sahut Avika dengan lucunya.


Avika sendiri sudah berusia enam tahun dan duduk di bangku kelas satu SD. Tidak jauh dari Aksa, dia juga tumbuh menjadi gadis kecil yang pintar, sangat manja apalagi kepada sang papa. Arhan terkadang kelimpungan sendiri mengikuti keinginan gadis bontotnya itu.


"Kenapa gak mandi sama Mama aja?" tanya Arhan.


"Mama lagi pusing, Kak Aksa berulah lagi. Inara digangguin sampai nangis," celoteh Aryan, putra ketiga Aina dan Arhan yang kini sudah berusia empat tahun.


Berbeda dengan Aksa dan Avika yang lebih mirip dengan sang papa, Aryan justru menyalin wajah sang mama sembilan puluh persen. Memiliki kulit putih dan pipi yang gembul seperti bakpao.


Arhan menghela nafas berat, tidak salah kalau tadi dia melihat Aina begitu marah hingga menjadikannya sebagai sasaran. Begitulah Aina, setiap kali Aksa berulah maka Arhan lah yang akan menanggung kemarahannya.


"Ya udah, kita ke kamar kalian yuk!" Arhan bangkit dari jongkoknya lalu menggenggam tangan kecil Avika dan Aryan. Ketiganya berjalan menuju kamar yang ada di lantai atas.


Arhan langsung melepaskan jas yang dia kenakan dan menaruhnya di atas kasur, membuka beberapa baris kancing dan menyingsingkan lengan kemejanya lalu melipat kaki celananya sebatas lutut. Tidak ada kata lelah jika sudah bersama dengan buah hatinya itu.


Setelah Avika dan Aryan membuka pakaian mereka, Arhan langsung memandikannya secara bergantian. Usai mandi, Arhan juga yang memakaikan baju keduanya dan membedaki wajah mereka lalu menyisir rambut keduanya dengan rapi.


"Makasih Papaku yang tampan dan baik hati." ucap Avika dengan comelnya, kemudian mengecup pipi sang papa dengan bibir mungilnya.

__ADS_1


Aryan pun melakukan hal yang sama pada Arhan.


Setelah mengucapkan terima kasih, keduanya berlari meninggalkan kamar dan pergi mencari Inara. Sore hari adalah waktu mereka untuk menonton film kartun kesukaan mereka bertiga.


__ADS_2