
Usai acara 7 bulanan Aina kemaren, Airlangga dan Leona memutuskan untuk berangkat ke Korea, perusahaan di sana memerlukan seseorang diantara mereka. Karena Arhan tak bisa meninggalkan Aina yang tengah hamil tua, akhirnya Airlangga lah yang menggantikannya.
Sebenarnya Arhan sempat mengajak Aina untuk pindah ke sana, namun Aina menolak karena tak ingin meninggalkan ibukota. Arhan tentunya sangat mengerti keinginan istrinya dan menurut saja.
Esok hari, Arhan pamit untuk pergi ke luar kota bersama Hendru. Wajah Aina dan Nayla mendadak sendu, meski hanya 2 hari tapi keduanya merasa akan ditinggalkan berbulan-bulan.
Terlebih Aina, hatinya tak rela ditinggalkan. Namun, tanggung jawab pekerjaan membuatnya harus mengalah dan bersabar. Apalagi sejak kandungannya memasuki tri semester ketiga ini, dia tak mau jauh-jauh dari Arhan.
"Sayang, Abang pamit ya. Abang janji akan pulang secepatnya." Arhan memeluk Aina erat, mengecup keningnya dan turun mengesap bibir ranum istrinya. Setelah itu berjongkok mengusap perut Aina.
"Sayang Papa jangan nakal ya! Jagain Mama saat Papa gak ada, ok!" Arhan tak hentinya mencium perut Aina, bahkan dia sampai terkekeh saat merasakan tendangan calon baby nya yang begitu kuat.
"Hahahaha... Anak Papa memang pintar, belum lahir aja udah berani nendang Papanya." Semua orang ikut terkekeh mendengar ucapan Arhan.
"Sayang, Mas juga pamit ya. Nayla baik-baik di rumah, jangan nakal!" ucap Hendru yang tak mau kalah dengan Arhan. Emang dia saja yang punya istri, sekarang Hendru juga punya. Arhan tak bisa lagi memanasi Hendru seperti sebelumnya.
"Iya, Mas hati-hati ya! Jangan nakal di sana!" jawab Nayla, lalu memeluk Hendru dengan erat. Hendru pun membalasnya dan mencium kening Nayla, lalu mengesap bibir istrinya.
"Apaan sih Mas? Malu tau," ucap Nayla sembari mendorong wajah Hendru.
"Untuk apa malu? Anggap aja kita hanya berdua di sini!" seloroh Hendru.
"Hey, kau pikir kami ini hantu." ketus Arhan dengan sorot matanya yang tajam.
"Anggap saja iya," sahut Hendru dengan santainya.
"Dasar tidak waras!" umpat Arhan.
"Sudah, sudah! Kenapa malah bertengkar? Kayak anak kecil aja," timpal Aina menengahi.
"Aksa, Papa pergi dulu ya. Aksa jangan nakal, kasihan Mama sama adek bayinya." ucap Arhan sembari memeluk putranya, lalu mencium pipi gembul Aksa.
"Ayah juga pamit ya Nak. Tolong jagain Bunda juga!" Hendru pun tak mau kalah. Dia memeluk Aksa dan menciumnya dengan sayang.
__ADS_1
"Ayah, Bunda, hueeeek." Arhan kembali mengolok Hendru seakan ingin muntah mendengarnya.
"Apaan sih? Bilang aja iri, ya kan?" Hendru pun membalasnya dengan mengatai Arhan.
"Siapa juga yang iri? Sudah jelas Aksa putraku," sahut Arhan.
"Putra?" Hendru mengerutkan keningnya. "Sadar woi, Aksa juga putraku. Buktinya dia lebih suka tidur bersamaku, kau itu hanya nanam bibit doang." Lagi-lagi Hendru tak mau kalah sedikitpun.
"Ya ampun, kalian ini ya. Kalau bertengkar terus kapan berangkatnya?" keluh Aina yang mulai pusing melihat kelakuan menjengkelkan kedua pria itu.
"Tau nih, udah pada tua juga." timpal Nayla dengan bibir mengerucut.
"Hahahaha... Suamimu aja yang tua, aku gak." Arhan kembali mengesap bibir Aina, kemudian masuk ke dalam mobil.
Hendru lagi-lagi tak mau kalau, dia pun mengesap bibir Nayla dan menyusul Arhan ke dalam mobil.
Setelah keduanya duduk di bangku masing-masing, Hendru pun melajukan mobilnya meninggalkan gerbang. Aina dan Nayla kembali masuk ke dalam rumah, begitupun dengan Aksa yang ada di gendongan Nayla.
"Sepi deh, mana Mama dan Papa juga gak ada." keluh Aina dengan wajah sendunya, lalu duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Mama, Unda, ain yuk!" ajak Aksa sembari turun dari gendongan Nayla.
"Hehe, Aksa mau main apa sayang?" tanya Aina sembari mengacak rambut putranya.
Aksa berlari menuju lemari pajangan, tidak lama dia kembali sembari menarik keranjang mainannya. "Eeeh, eeeh,"
Aina dan Nayla sontak tertawa melihat ekspresi wajah Aksa yang sangat menggemaskan.
"Hahahaha... Berat sayang, tuh nafasnya jadi ngos-ngosan." tawa Aina.
"Iya nih Aksa, sok kuat." Nayla pun berdiri dan membantu Aksa menarik keranjang mainannya.
Di waktu yang bersamaan, nampak seorang wanita yang tengah duduk di sebuah cafe. Sorot matanya sangat tajam dengan mulut komat kamit mengomel tak jelas.
__ADS_1
Tidak lama, dua orang pria bertubuh tinggi besar datang dan duduk di hadapan wanita itu.
"Bodoh! Kenapa baru datang hah? Kalian gak liat ini jam berapa?" bentak wanita itu sembari menggebrak meja.
"Maaf bos, tadi ada sedikit kendala di jalan." sahut seorang pria sembari menekuk wajahnya.
"Aku tidak mau mendengar alasan kalian. Jika kalian tidak sanggup, aku bisa mencari orang lain." gerutu wanita itu dengan tatapan membunuhnya.
"Jangan bos! Kami sanggup, tadi hanya kesalahan kecil saja. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi." jawab pria satunya lagi.
Ya, wanita itu tidak lain adalah Tasya. Mantan istri Arhan yang kini sedang dikuasai dendam yang membara. Kesal karena selalu saja ditolak oleh Arhan, dia pun merencanakan hal gila untuk mencelakai Aina.
Kenapa Tasya jadi begini? Dendam apa yang membuat otaknya menjadi tidak waras? Bukankah dia sendiri yang mengkhianati Arhan? Kenapa kini malah tidak senang melihat kebahagiaan Arhan dan Aina?
"Ini foto wanita itu, singkirkan dia! Bagaimanapun caranya, dia harus lenyap dari muka bumi ini." titah Tasya sembari tersenyum licik.
"Ini mah gampang, bos tenang saja. Bagaimana dengan bayaran kami?" jawab salah satu dari pria itu.
"Bayaran, bayaran, belum kerja saja sudah minta bayaran." gerutu Tasya.
"Bug!"
Segepok uang melayang di wajah salah satu pria itu.
"Itu DP nya. Jika kalian berhasil, maka kalian akan mendapatkan 10 kali lipat dari itu." jelas Tasya.
"Nah, begini kan enak. Kalau begitu kami pergi dulu." Kedua pria itu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Tasya yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Tasya tertawa licik. "Hahaha... Ingat Arhan, kau itu hanya milikku. Hanya aku yang boleh menyentuhmu. Kau tidak pantas bersanding dengan wanita kampung itu. Dia itu hanyalah wanita murahan."
Sadar atau tidak, Tasya sepertinya sedang menghina dirinya sendiri. Siapa yang murahan? Aina ataukah dia?
Meskipun Aina pernah menjadi gadis bayaran mantan duren itu, tapi Arhan mendapatkan kesuciannya. Arhan lah yang sudah unboxing paket bersegel itu pertama kali. Lalu bagaimana dengan Tasya?
__ADS_1
Tasya hanyalah barang bekas yang dipungut oleh Arhan. Meskipun begitu, Arhan tidak mempermasalahkannya sama sekali. Arhan bahkan mencintainya tanpa mempedulikan masa lalunya.
Sayangnya, Tasya sendiri yang minta dikembalikan ke tempat sampah. Lalu dimana salah Arhan? Jika sekarang dia bahagia bersama Aina, mungkin itu sudah takdirnya. Kenapa sekarang Tasya jadi kebakaran jenggot?