Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 67.


__ADS_3

Satu jam sudah berlalu, kini semua tamu tengah asik mencicipi makanan yang sudah terhidang di atas meja masing-masing.


Seorang wanita tersenyum licik ke arah meja Arhan, ada sejuta misteri yang tersimpan dari tatapan matanya. Terlebih saat melihat Aina yang terus saja menempel dengan suaminya.


"Pasangan serasi, cih." Tasya bergumam penuh kebencian, lalu meremas gelas yang ada di tangannya dengan kesal.


Sementara itu, Arhan dan Aina nampak semakin intim. Sekilas, Arhan tak sengaja melihat Tasya dari tempat duduknya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Aina. Dia tak peduli dan tak mau peduli sebab Tasya hanya sekedar masa lalu baginya.


Usai menikmati makan malam bersama, Aina pamit untuk ke kamar kecil. Arhan menawarkan diri untuk menemani, namun Aina menolak sebab Arhan masih dibutuhkan di sana.


Di kamar kecil, Aina tak menyadari jika seseorang telah membuntutinya dari belakang. Usai membuang apa yang seharusnya dia buang, Aina merapikan pakaiannya kembali.


Saat hendak melangkah meninggalkan kamar kecil, Aina terperanjat dan hampir saja tergelincir. Ada dorongan yang cukup kuat menekan punggungnya.


"Ahh," rintih Aina saat keningnya tak sengaja membentur sudut pintu.


Aina menoleh ke belakang, namun tak menemukan siapapun di sana. Dengan raut wajah bingung, Aina bergegas meninggalkan kamar kecil, lalu memijit keningnya yang terasa sedikit perih.


Baru beberapa langkah berjalan, Aina kembali dikejutkan dengan suara tawa yang menggelegar. Karena penasaran, Aina menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Prok Prok"


Suara tepuk tangan membuat Aina menautkan alisnya, dia kebingungan melihat seorang wanita yang tak dia kenal sudah berdiri tegak di hadapannya.


"Siapa kau?" tanya Aina penasaran.


Tasya tersenyum licik, lalu melangkah menghampiri Aina hingga keduanya saling berhadap-hadapan.


"Wanita licik," umpat Tasya dengan tatapan mematikan.


Aina kembali menautkan alisnya. "Hei, siapa yang kau bilang licik?"


"Dasar wanita murahan! Kau pikir aku tidak tau siapa dirimu,"


Kata-kata Tasya itu seketika membuat Aina geram, lalu menatapnya dengan tatapan yang tak kalah mematikan.


"Hei Nona, tidak bisakah kau berbicara dengan sopan?" ucap Aina sembari mengepalkan tangannya.


"Sopan?" Tasya kembali tertawa setelah mendengar permintaan Aina.

__ADS_1


"Berapa uang yang kau butuhkan? Aku akan memberimu berapapun yang kau inginkan, tapi aku punya syarat yang harus kau penuhi!"


"Deg"


Jantung Aina seketika terasa panas hingga darahnya tiba-tiba mendidih.


"Maaf Nona, aku tidak mengenalmu dan aku juga tidak peduli siapa dirimu. Tidak perlu menawarkan uangmu padaku, aku tidak butuh!" ketus Aina dengan tatapan sangat tajam.


Mendengar itu, Tasya menggertakkan giginya geram. Ternyata Aina tidak sebodoh yang dia pikirkan, matanya memerah memendam rasa sakit di hatinya yang mendalam.


Tasya semakin mendekat dan berbisik di telinga Aina. "Aku tau siapa kau, kau itu hanya wanita murahan yang dibayar untuk melayani hasrat Arhan dalam satu malam. Jangan sok suci di depanku!"


"Deg"


Jantung Aina berdegup kencang bak diguncang gempa berkekuatan besar, bahkan sangat menyesakkan dada. Kakinya tiba-tiba lemas dengan mata berkaca-kaca.


"Aina, Aina, malang sekali nasibmu. Kau pikir Arhan mencintaimu?" Tasya mengayunkan kakinya dan berjalan mengelilingi Aina.


"Apa maksudmu?" tanya Aina dengan tatapan yang sulit dimengerti, lalu meremas jemarinya dengan kasar.


Tasya tersenyum sumringah sembari terus mengelilingi Aina yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Sepertinya rencana untuk mencuci otak Aina tidak sesulit yang dia bayangkan.


Tasya kembali tersenyum. "Arhan menikahi mu hanya karena perasaan bersalah, wanita yang dia cintai bukanlah kau tapi aku."


"Kau pikir Arhan akan tertarik dengan wanita kampung sepertimu? Kau salah, hanya aku satu satunya wanita yang dia cintai. Meskipun kami sudah bercerai, tapi Arhan masih sering menemui ku di belakangmu. Apa kau tau itu?"


"Deg"


Lagi-lagi Aina merasakan guncangan yang begitu dahsyat, bahkan kini kakinya sudah tak sanggup lagi untuk berdiri. Aina terhuyung sembari merentangkan tangannya meraih permukaan dinding.


Tak terasa, satu persatu butiran bening di matanya mulai berjatuhan. Sakit, perih, rasanya seperti ditikam beribu belati.


"Sebenarnya aku kasihan padamu, aku tidak berniat untuk berhubungan lagi dengan suamimu. Tapi dia selalu datang menemui ku, apa lagi yang bisa ku lakukan? Aku bahkan sampai bercerai dengan suamiku, semua itu ulah Arhan yang se...,"


"Cukup, hentikan!"


Teriakan Aina seketika membuat ucapan Tasya terhenti, dia menutupi kedua telinganya dan terduduk lesu di dasar lantai. Aina meraung sejadinya, tidak ada yang lebih menyakitkan dari ini. Bagaimana mungkin Arhan tega mengkhianatinya sedalam ini.


Melihat Aina yang sudah hancur seperti itu, Tasya kembali mengukir senyuman licik, kemudian meninggalkan Aina begitu saja.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Arhan? Apa salahku? Kenapa melakukan ini padaku?" Aina berteriak histeris, hatinya hancur berkeping-keping mengingat semua ucapan Tasya yang begitu menyakitkan. Isak tangisnya pecah memenuhi seisi lorong.


Di dalam aula, Arhan mulai resah mengingat istrinya yang tak kunjung kembali. Arhan mendorong kursi dan bergegas bangkit dari duduknya.


Setibanya di lorong menuju kamar kecil, Arhan tersentak saat mendapati Aina yang tengah meringkuk memeluk kakinya sendiri.


"Aina," Arhan berlari menghampiri istrinya, kemudian menekuk kakinya hingga posisi keduanya sejajar.


"Sayang, apa yang terjadi?" Arhan menarik tangan Aina dan membawanya ke dalam dekapan dadanya.


"Jangan sentuh aku!" Aina mendorong Arhan dengan kasar hingga pelukan suaminya terlepas.


"Sayang, kenapa mendorong Abang? Apa yang terjadi?" Arhan mengerutkan keningnya, dia sungguh bingung melihat reaksi Aina yang tak biasa.


Dengan air mata yang masih berjatuhan, Aina menatap Arhan dengan penuh kebencian. Suami yang selama ini dia sanjung setinggi langit, ternyata tak lebih dari seorang pengkhianat yang tak punya perasaan.


"Aku mau pulang," Aina bangkit dari duduknya, kemudian meninggalkan Arhan begitu saja.


"Sayang, tunggu Abang!" Arhan ikut bangkit dari duduknya, kemudian berlari menyusul Aina yang tengah berjalan menuju parkiran.


Arhan tak mengerti apa-apa, dia nampak kelimpungan melihat perubahan sikap Aina yang tidak mendasar. Hubungan yang tadinya hangat, kini berubah dingin tanpa sebab yang jelas.


Arhan berusaha keras meraih tangan Aina, kemudian menariknya hingga tubuh Aina membentur dirinya.


"Aina, lihat Abang!" ucap Arhan sembari menyentuh pipi istrinya, namun Aina begitu kekeh menundukkan pandangannya.


Arhan menghela nafas berat, lalu membuangnya dengan kasar. "Abang bingung melihat Aina seperti ini. Jika ada masalah, tolong ceritakan pada Abang, jangan menghindar!" pinta Arhan penuh penekanan.


"Aku mau pulang," lirih Aina sembari menyeka pipinya dengan kasar.


"Ok, kita pulang." Arhan mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya. Setelah membantu Aina duduk di dalam mobil, Arhan bergegas masuk dan duduk di bangku kemudi.


Sebelum menyalakan mesin mobil, Arhan mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi Hendru yang masih berada di dalam aula.


Arhan menjelaskan niatnya yang ingin pulang lebih dulu, kemudian meminta Hendru untuk pulang bersama kedua orang tuanya setelah acara selesai.


Setelah Hendru mengiyakan permintaannya, Arhan mematikan sambungan telepon, lalu menyalakan mesin mobil.


Sepanjang perjalanan pulang, Aina hanya menangis hingga sesegukan. Dia bahkan tak sekalipun menoleh ke arah suaminya yang tengah fokus menyetir mobil. Hal itu membuat Arhan kian bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2