Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 137.


__ADS_3

Saat makan malam berlangsung, terjadi kegaduhan di parkiran. Awalnya Arhan tidak mempedulikannya sama sekali tapi saat matanya tak sengaja menangkap keberadaan seseorang yang mencurigakan, dia mulai waspada dan memberi kode kepada Dori dan Andi. Keduanya langsung paham dan mulai siaga memperhatikan setiap pergerakan di luar sana.


Setelah anak-anak selesai makan, mereka semua langsung meninggalkan area pusat perbelanjaan dan memutuskan untuk segera pulang. Nampaknya tidak aman kalau anak-anak kelamaan di luar sana.


Sesampainya di rumah, Aina langsung membawa anak-anak ke kamar mereka. Sementara Arhan masih duduk di taman depan bersama Dori dan Andi. Arhan memang tidak mengenali penampakan yang dia lihat di mall tadi tapi dia hafal betul tatapan iblis yang terpancar dari sorot mata orang berpakaian serba hitam tersebut. Sangat familiar dan tidak asing lagi di matanya.


Kewaspadaan Arhan tiba-tiba meningkat setelah kejadian di mall tadi. Dia berpikir kalau keributan itu sengaja diciptakan untuk mengalihkan perhatiannya dan kedua pengawal yang dia bawa. Untungnya Arhan tidak sebodoh itu dan tidak terpancing sedikitpun.


Setelah menginstruksikan kepada Dori dan Andi untuk meningkatkan keamanan, Arhan meninggalkan mereka dan masuk ke dalam rumah. Dori dan Andi segera menghubungi Tobi dan memintanya mengirimkan beberapa orang untuk memperketat keamanan di rumah itu. Tentu saja Tobi dengan cepat mengirimkan anak buahnya, bahkan dia sendiri ikut datang menambah kekuatan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari, Arhan menceritakan kejadian semalam kepada Baron lalu meminta Baron meningkatkan keamanan saat anak-anak berada di sekolah mereka.


Menjaga empat orang anak sekaligus dalam waktu bersamaan tentunya tidak mudah buat Baron. Dia kemudian meminta Tobi untuk ikut bersamanya menjaga anak-anak saat di sekolah. Tobi pun langsung mengangguk pertanda setuju dengan permintaan Baron.


Pagi itu semua anggota keluarga sarapan bersama di meja makan, sedangkan para pelayan dan pekerja lainnya sarapan di gazebo taman belakang. Setelah itu giliran para pengawal yang mengisi perut mereka.


Usai sarapan, anak-anak langsung berpamitan kepada orang tua mereka lalu masuk ke dalam mobil bersama Baron dan Tobi. Sebuah Honda Odyssey berwarna putih nampak meninggalkan gerbang dan melaju menyisir jalan raya.


Seperti biasa, Aksa duduk di bangku depan sedangkan ketiga adiknya duduk di bangku penumpang. Tobi pun terpaksa duduk di bangku belakang.


"Kak Baron, siapa pria itu?" tanya Aksa dengan cool nya, dia bahkan tak menoleh ke belakang sedikitpun. Membuat Tobi mendengus dengan tatapan kesal. Sombong sekali anak itu pikir Tobi yang memang belum mengenali sifat Aksa sebenarnya.

__ADS_1


Baron mengerutkan kening dan melirik Aksa untuk sesaat. "Itu namanya Om Tobi, mulai hari ini dia akan ikut kemanapun kita pergi."


"Oh," jawab Aksa singkat, dia tidak bertanya lagi setelah itu. Dia kembali fokus menatap jalanan yang mereka lalui.


Lain halnya dengan ketiga adiknya yang langsung memperkenalkan diri mereka kepada Tobi.


"Halo Om Tobi, nama aku Avika."


"Halo Om, aku Aryan."


"Dan aku Inara,"


Ketiganya memperkenalkan diri dengan ramah. Tobi pun langsung tersenyum dan ikut memperkenalkan dirinya. "Halo semuanya, mulai hari ini Om Tobi akan selalu mengawal kalian kemanapun kalian pergi. Kalian harus patuh ya!"


Aksa yang tadinya diam, kini nampak memutar lehernya ke belakang untuk beberapa detik. Tidak lama dia kembali membuang pandangannya ke arah depan. "Keahlian apa yang kau miliki sehingga begitu berani menjadi pengawal kami?"


Pertanyaan itu tentunya membuat rahang Tobi mengerat kuat. Bisa-bisanya bocah ingusan seperti itu merendahkan kemampuannya. Tobi ingin marah tapi Baron dengan cepat memberi kode dengan mengangkat tangan. Tobi pun urung memakinya dan memilih diam dengan air muka penuh kekesalan.


"Kenapa diam saja?" imbuh Aksa begitu dingin seperti es balok.


"Memangnya keahlian apa yang harus aku miliki?" Akhirnya Tobi pun bersuara.


"Jangan berbelit-belit! Katakan keahlian apa yang kau miliki, jika tidak ada lebih baik urungkan saja niatmu menjadi pengawal kami!" ucap Aksa.

__ADS_1


Lagi-lagi Tobi mengeratkan rahangnya dengan tangan mengepal erat. Jika tidak memikirkan bahwa Aksa adalah putra bosnya, mungkin sudah dia lempar bocah ingusan itu ke jalanan.


Baron yang melihat itu hanya bisa tersenyum menahan tawanya, matilah kau pikir Baron di dalam hatinya. Akhirnya kekejaman Tobi dipertanyakan di hadapan seorang anak kecil.


"Aku bisa bela diri dan mematahkan tanganmu saat ini juga, aku juga bisa mendaratkan timah panas di kening mu detik ini juga. Kalau kau ingin melihat, aku bisa melakukannya sekarang juga." geram Tobi dengan air muka menggelap, keruh bak kubangan kerbau.


"Hahahaha... Bagus, kalau begitu kau layak jadi pengawal kami. Tapi pulang sekolah nanti kau harus menjalani tes dariku." ucap Aksa dengan tawanya yang khas, dia kemudian mengangkat tangannya ke udara dan mengacungkan ibu jarinya.


Pipi Baron langsung menggembung melihat itu, dia hampir saja memuntahkan tawanya tapi sebelah tangannya dengan sigap membungkam mulutnya sendiri. Sementara Tobi langsung mendengus dengan kesal, berani-beraninya bocah ingusan itu mempermainkan dirinya. Hal itu tentu saja memancing emosi Tobi.


Tidak berselang lama, Honda Odyssey yang dikendarai Baron itu menepi di depan gerbang sekolah. Setelah mereka semua turun, Baron mengantar Aksa dan Avika ke gerbang SD sedangkan Tobi mengantarkan Aryan dan Inara ke gerbang TK.


Setelah keempat tikus kecil itu masuk ke pekarangan sekolah, Baron dan Tobi duduk di bangku tunggu. Begitulah yang biasa dilakukan Baron setiap harinya dan sekarang Tobi pun harus menjalani tugas yang sama.


"Ada apa dengan bocah satu itu? Kenapa sikapnya sangat berbeda dengan ketiga adiknya?" cerca Tobi dengan pertanyaan. Dia sempat memijit dahinya karena pusing melihat tingkah Aksa yang menurutnya sangat aneh.


"Jangan diambil hati, dia memang begitu. Jangankan kau, orang tuanya saja selalu dibuat sakit kepala olehnya." Baron menyalakan rokok dan duduk dengan santainya.


"Kenapa bisa begitu?" Tobi mengerutkan keningnya. Dia benar-benar penasaran karena baru kali ini dia bertemu dengan bocah sedingin itu, tidak seperti anak-anak lain seusianya.


"Hmm... Menurutku wajar, dia itu calon penerus kejayaan Airlangga. Sikap dingin dan arogannya memang sudah mendominasi sejak dia berumur enam tahun. Aku rasa sejak aku menceritakan penderitaan Aina padanya, disitulah dia mulai berubah. Bisa jadi suatu hari nanti dialah yang akan menghancurkan musuh-musuhnya. Kau tidak perlu merasa tersinggung dengan ucapannya, ikuti saja kemauannya! Tapi jika kau melakukan pelatihan padanya, jangan sampai Arhan tau. Aku selama ini juga mengajarinya secara diam-diam. Bukan bermaksud kurang ajar, tapi penerus kejayaan Airlangga harus kuat seperti baja. Aku menaruh harapan padanya."


Tobi manggut-manggut mendengar penjelasan Baron yang panjang seperti jalan tol tersebut. Kini dia mengerti, mungkin memang seharusnya seperti itu. Seorang penerus sejati tidak hanya harus pintar dari segi otak tapi juga harus memiliki kemampuan fisik dan kekuatan mental. Apalagi Aksa memiliki tiga orang adik yang harus dia jaga kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2