
Hari berganti hari, Aina sudah pulang ke rumah sejak tiga hari yang lalu. Hari ini adalah hari spesial untuk Baron dan Inda yang akan meresmikan hubungan mereka dalam ikatan suci pernikahan.
Sesuai permintaan Baron dan Inda, mereka ingin mengambil wajibnya saja. Tidak ada pesta ataupun resepsi mewah. Akad nikah, kumpul keluarga, selesai.
Inda sudah siap dengan kebaya putih yang melekat di tubuh mungilnya, perpaduan kebaya dan songket berwarna hitam navy itu membuat aura kecantikannya kian terpancar. Ditambah riasan makeup yang natural semakin membuatnya memukau.
"Cantik banget sih calon pengantin kita, jadi iri deh." seloroh Aina sembari memeluk lengan Inda.
Meskipun gadis itu hanya seorang pelayan tapi Aina sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri, sama seperti Nayla. Dia tau bagaimana sulitnya hidup sendirian tanpa keluarga.
"Iya, pantesan aja Baron sampai tergila-gila sama kamu. Cantiknya gak ketulungan," timpal Nayla yang juga ikut memeluk lengan Inda yang lainnya.
Ketiga wanita cantik itu tersenyum bahagia, nampak jelas dari pantulan cermin yang ada di hadapan mereka.
"Nyonya berdua jangan berlebihan gini dong, aku kan jadi malu." gumam Inda dengan pipi bersemu merah.
"Hahahaha... Gak usah malu, malunya disimpan untuk nanti malam aja pas lagi sama suami!" celetuk Aina yang tak hentinya menggoda Inda.
"Nyonya, jangan bikin aku takut!" keluh Inda dengan bibir mengerucut.
"Hahahaha... Iya, iya, ayo keluar! Pasti calon suamimu udah gak sabar pengen liat permaisuri hatinya yang cantik ini."
Inda bangkit dari duduknya dengan air muka takut bercampur cemas. Sementara Aina dan Nayla berjalan di samping kanan dan kirinya mendampingi gadis cantik itu.
"Nyonya, aku takut." gumam Inda menahan langkah kakinya.
"Gak papa Inda, atur nafas dulu biar rileks. Nanti kalau udah sah, rasa takutnya juga bakalan hilang dengan sendirinya." sahut Aina menenangkan Inda.
"Nyonya, gimana kalau Baron gak bisa nerima aku?" lirih Inda memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Bodoh ih. Kalau dia gak bisa nerima, mana mungkin dia mau nikahin kamu. Jangan mikir aneh-aneh gitu!"
Ketiganya kembali melangkah menuju ruang tengah yang akan dipakai untuk acara akad. Semua keluarga sudah berkumpul di sana, termasuk Baron yang sudah duduk di depan penghulu.
Aina dan Nayla menuntun Inda duduk di samping Baron. Baron terperanjat melihat kecantikan calon istrinya yang tak dia sangka, selama ini dia hanya melihat Inda dalam keadaan polos tanpa makeup.
"Cantik banget sih, gak sabar pengen gigit." gumam Baron hingga membuat seisi ruangan bergemuruh dengan gelak tawa.
__ADS_1
"Hahahaha..."
"Sabar woi, tunggu sah dulu!" sorak Arhan sembari memegangi perutnya menahan tawa.
"Iya ih, mesum banget kau Baron. Belum apa-apa udah pengen gigit anak orang aja." timpal Hendru yang hampir menangis menahan tawanya.
"Apaan sih kalian ini? Kayak gak pernah duduk di sini aja," ketus Baron dengan santai tanpa malu sedikitpun.
"Iya, kami emang pernah duduk di posisi sepertimu. Tapi gak kayak kamu juga kali," jawab Arhan yang masih saja tertawa cekikikan.
"Udah-udah, bercandanya nanti aja dilanjutin. Kasihan penghulunya kelamaan nunggu," timpal Airlangga yang sudah diburu waktu. Selesai akad, dia akan langsung terbang ke Korea bersama Leona.
Semua orang kembali diam dan fokus pada acara akad, sementara air muka Baron nampak berubah seketika. Wajah yang tadinya santai, kini menjadi tegang saat berjabat tangan dengan penghulu yang akan menikahkan mereka.
"Saya terima nikah dan kawinnya Inda Anggraini binti Eko Susanto dengan mas kawin tersebut, tunai..."
Dalam satu kali tarikan nafas, Baron berhasil mengucap ijab dengan jelas dan lantang.
"Sah..."
"Sah..."
Inda mencium tangan pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya, Baron pun mengecup kening Inda dan turun mengecup bibir merah delima Inda hingga membuat wanita yang baru saja dinikahinya itu terperanjat saking kagetnya. Sementara semua orang yang menyaksikan itu langsung tertawa terbahak-bahak.
"Astaga Baron, kau ini benar-benar ya." Arhan sampai kehilangan akal melihat sahabatnya yang tidak tau malu itu.
"Gak sabar lagi dia," timpal Hendru sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Bisa habis Inda kalau begini." seloroh Aina sembari menyembunyikan wajahnya di lengan Arhan.
"Ganas," sambung Nayla sembari menggenggam tangan Hendru dengan erat.
Usai akad dan makan bersama, semua anggota keluarga mengantarkan Airlangga dan Leona sampai halaman. Sebenarnya Arhan dan Aina ingin sekali mengantar mereka sampai bandara, namun Airlangga melarang karena memikirkan keadaan menantunya yang masih lemah.
"Papa dan Mama pergi dulu!" Satu persatu dari mereka memeluk dan mencium tangan Airlangga dan Leona secara bergantian.
"Baron, Papa percayakan keamanan keluarga ini padamu! Kamu harus bisa menjaga keluarga ini layaknya keluargamu sendiri karena bagi Papa kalian semua itu sama."
__ADS_1
"Iya Pa, Baron janji."
"Arhan, tolong jaga menantu dan cucu Papa dengan baik! Sekali lagi Aina celaka, Papa tidak akan segan-segan memboyong mereka ke Korea!"
"Iya Pa, Arhan janji."
"Hendru, urus perusahaan dengan baik! Papa tau Arhan tidak bisa seperti dulu karena harus membagi waktunya dengan keluarga."
"Iya Pa, Hendru janji."
"Aina, Nayla, Inda, jaga suami kalian dengan baik! Jangan biarkan mereka keluar rumah seenaknya! Ingat, pelakor berserakan di mana-mana. Kalau ada yang berani menyakiti kalian, hubungi Papa! Biar Papa yang memberi mereka pelajaran, bila perlu dikebiri saja biar tau rasa!"
"Aduh... Auuu... Aish..." gumam Arhan, Hendru dan Baron bersamaan sembari menutup bagian terlarang mereka dengan tangan.
"Papa emang yang terbaik, pantesan aja Mama sampai klepek-klepek sama Papa." seloroh Aina dengan senyum penuh kemenangan, lalu melirik Arhan dengan senyuman sinis. Nayla dan Inda juga ikut melirik suami masing-masing dengan tatapan yang sama.
Setelah mobil yang dikendarai Pak Anang meninggalkan gerbang, semuanya kembali masuk ke dalam rumah. Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi. Airlangga memiliki tanggung jawab yang sangat besar di Korea menggantikan Arhan yang tidak ingin kembali ke sana.
"Aina ke kamar duluan ya Bang, mau mandi dulu. Gerah banget,"
"Nayla juga, sekalian mau liat Inara."
"Aku juga, kebaya ini terlalu panas."
Aina dan Nayla berjalan menuju lift, sementara Inda melangkah menuju kamarnya.
"Tunggu Inda! Kamu mau kemana?" sorak Baron yang membuat langkah istrinya terhenti seketika.
"Mau ke kamar, kemana lagi?" Inda menautkan alisnya bingung.
"Kamar yang mana? Mulai malam ini, kamarmu di paviliun bersamaku. Kamu lupa udah punya suami?" tegas Baron dengan tatapan aneh.
"Iya, aku ingat. Aku mau ganti baju dulu, kebaya ini panas banget." sahut Inda dengan bibir mengerucut.
"Di paviliun juga ada pakaian untukmu, ganti di sana aja. Besok baru kita pindahin barang-barang mu ke sana!"
Inda mengangguk lemah dan terpaksa putar arah menuju paviliun yang akan menjadi tempat mereka mulai malam ini.
__ADS_1