Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 131.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aina sudah ribut mengurus ketiga buah hatinya. Apalagi saat membangunkan Aksa yang susah sekali membuka matanya. Berbeda dengan Avika dan Aryan yang akan langsung terbangun saat Aina menggelitik ketiaknya.


Avika dan Aryan sudah rapi setelah mandi dan mengenakan pakaian sekolah mereka masing-masing. Avika mengenakan seragam SD sementara Aryan mengenakan seragam TK nol kecil.


Aksa satu sekolah dengan Avika sedangkan Aryan satu sekolah dengan Inara. Hanya saja Inara di kelas nol besar karena selisih usia mereka satu tahun lebih.


"Aksa, ayo cepat Nak! Avika udah nungguin kamu di bawah," seru Aina sembari mengguncang tubuh putra sulungnya itu.


"Ma, Aksa masih ngantuk. Bentar lagi ya," gumam Aksa yang masih enggan membuka matanya.


"Aksa, sekali-sekali tolong nurut sama Mama. Kamu harus sekolah Nak, jangan buat Mama mati berdiri karena perangai kamu ini!" lirih Aina yang setiap pagi dibuat darah tinggi oleh putranya yang satu itu.


Saat mendengar ucapan Aina yang terakhir, Aksa langsung membuka matanya dan duduk dengan tatapan linglung.


"Iya, Aksa mandi sekarang. Mama jangan ngomong gitu lagi!" ucap Aksa, kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.


Aina menghela nafas berat, memang hanya kata-kata itu yang bisa membuat Aksa mengerti dan mendengar ucapannya. "Cepat ya Nak, Mama tunggu di bawah!"


Aina meninggalkan kamar Aksa dan turun menuju ruang makan. Di sana Avika dan Aryan tengah sarapan bersama Inda. Setiap pagi istri Baron itulah yang membantu menyuapi mereka. Sementara Inara sendiri tengah makan disuapi Nayla.


Aina langsung memasuki dapur dan bergegas menyiapkan bekal untuk keempat anaknya. Semua makanan di susun rapi ke dalam kotak masing-masing, tak lupa juga Aina mengisi botol minum mereka. Begitulah Aina setiap paginya, terlihat santai namun harus berjibaku mengurusi keempat tikus kecil itu.


Aksa turun sembari menyandang tas di punggungnya, dia duduk di samping Inda dan mulai menyantap sarapannya. Berbeda dengan ketiga adiknya, dia sama sekali tak mau disuapi karena sudah merasa dewasa dari yang lainnya.


Segera Aina memasukkan bekal mereka ke dalam tas masing-masing dan menutup resleting nya kembali.


"Sudah siap semua," sapa Baron yang bertugas jadi sopir keempat tikus kecil itu.


Tidak hanya mengantar mereka, Baron juga ditugaskan menjaga mereka selama di sekolah. Kebetulan sekolah mereka berada dalam satu yayasan dan letaknya pun bersebelahan.


Setiap harinya Baron akan pergi jam tujuh pagi dan pulang jam 1 siang. Dia harus sekolah kembali menyusul ketertinggalannya di masa lampau tapi tidak sampai kelas.


Baron merasa senang melakukan pekerjaannya itu. Sebab itu juga dia tidak pernah menuntut Inda untuk memberinya seorang anak, kehadiran keempat tikus itu saja sudah membuatnya sangat bahagia.


Sekarang kebahagiaannya semakin lengkap setelah mengetahui kehamilan istrinya yang sudah menginjak usia lima bulan.


"Avika siap Om,"

__ADS_1


"Aryan juga Om,"


"Inara juga Om,"


Ketiga tikus kecil itu berseru bersamaan hingga membuat ruang makan menjadi gaduh.


"Aksa, kamu udah siap?" tanya Baron saat melihat Aksa cuek saja di tempat duduknya.


"Dikit lagi," jawab Aksa dengan cool nya.


"Kak Baron, ayo sarapan dulu dikit!" ajak Inda, dia segera mengambilkan makanan untuk suaminya itu.


Baron menghampiri Inda dan duduk di sebelahnya lalu menyantap makanan yang sudah ada di hadapannya.


"Aku udah selesai," ucap Aksa, lalu meneguk minumannya dan meninggalkan meja makan.


Aksa melenggang menuju mobil yang sudah menunggu di halaman, seperti biasa dia duduk di bangku depan tepat di samping bangku kemudi.


Aina, Nayla, Inda dan Baron hanya bisa mengelus dada melihat sikap dingin pewaris utama keluarga Airlangga itu. Entah turun dari mana sikap kaku nya itu, Arhan sendiri tidak sedingin itu, Airlangga sang kakek juga tidak seperti itu.


"Ya Tuhan, kenapa aku bisa melahirkan putra seperti dia? Benar-benar seperti tembok," keluh Aina sembari memijat dahinya. Jangankan mencium pipi sang mama, menyalami tangannya saja tidak.


"Jati diri apanya, anak itu aja yang aneh. Apa aku ini orang asing baginya? Aku yang melahirkan dia, tapi kenapa sikapnya begitu dingin padaku?" gerutu Aina yang tak habis pikir dengan sikap anaknya itu.


Sudah berapa tahun dia tidak pernah dicium oleh Aksa? Bahkan saat Aina ingin menciumnya, Aksa selalu saja menghindar darinya. Terkadang Aina merasa seperti tak dianggap oleh putranya itu.


"Mau gimana lagi? Berdoa saja semoga suatu saat nanti dia bisa berubah, sekerasnya es batu pasti akan mencair juga saat tak lagi ditaruh di dalam freezer."


Setelah mengatakan itu, Baron bangkit dari duduknya. Dia meraih pundak Inda dan mengecup pucuk kepala istrinya itu.


"Avika, Aryan, Inara, lets go." seru Baron, lalu berjalan meninggalkan ruang makan.


Ketiga tikus kecil itu menyalami dan mencium punggung tangan Aina, Nayla dan Inda secara bergiliran. Setelah itu ketiganya berlari menyusul Baron.


"Dadah Mama, Bunda, Tante." sorak ketiganya bersamaan. Ketiga wanita cantik itu pun melambaikan tangan mereka.


Baron membukakan pintu belakang, ketiganya masuk dan duduk di tempat masing-masing. Avika duduk di samping kiri, Inara duduk di samping kanan dan Aryan duduk di tengah-tengah keduanya.

__ADS_1


"Tuan raja, apa kita bisa jalan sekarang?" seloroh Avika kepada Aryan yang seolah adalah raja mereka karena duduk di tengah.


"Oke dayang-dayang ku, ayo jalan sekarang!" sahut Aryan dengan tangan yang terlipat di dada.


Baron melebarkan senyumannya, setiap pagi ada-ada saja kelakuan lucu tikus kecil itu sehingga membuatnya tak bisa menahan tawa.


Segera Baron menutup pintu dan mengitari mobil. Setelah duduk di bangkunya, pedal gas pun diinjak dan mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Avika, Aryan dan Inara asik bercengkrama di belakang sana. Sesekali mereka mengajak Baron ngobrol saat tidak mengerti dengan pembicaraan mereka sendiri.


Berbeda dengan Aksa yang malah asik dengan mode diamnya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan obrolan adik-adiknya yang masih mengoceh sembari tertawa.


Manik mata Aksa menatap lurus jalanan yang mereka lalui, sementara kedua tangannya di lipat di dada.


"Aksa, apa yang kamu pikirkan?" tanya Baron sambil melirik ke arah Aksa, sedetik kemudian fokus kembali menatap jalanan.


"Tidak ada," jawab Aksa dengan cool nya. Dia bahkan dengan entengnya mengangkat bahu sambil memajukan bibirnya beberapa senti.


Baron menggaruk dahinya yang mengkerut, susah sekali menebak pikiran bocah ingusan itu. Jangankan dia, Arhan dan Aina yang membuatnya saja tidak mengerti dengan sikap putra mereka sendiri.


Tidak lama, mobil yang dikendarai Baron menepi di depan gerbang sekolah. Dia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Aksa, lalu membuka pintu belakang.


Aksa turun lebih dulu dan memasuki gerbang begitu saja tanpa mempedulikan adik-adiknya yang masih berdiri di samping mobil.


"Pagi Tuan muda," sapa seorang satpam menyambut kedatangan Aksa.


"Pagi," jawab Aksa cuek dengan sebelah tangan yang berada di dalam saku celananya.


"Tuan muda?" Baron mengerutkan dahinya.


Sejak kapan anak itu dipanggil tuan muda? Bukankah semua murid di sekolah itu sama saja? Mereka semua berasal dari golongan yang sama.


Ah, sudahlah. Baron menghela nafas dan mengantarkan Avika memasuki gerbang.


"Pagi Pak Eko," sapa Avika dengan sopan.


"Pagi Avika, silahkan masuk!" sahut Pak Eko dengan ramah.

__ADS_1


Setelah Aksa dan Avika masuk, Baron menggandeng tangan Inara dan Aryan menuju gerbang sebelah. Keduanya masuk ke dalam gerbang dan melambaikan tangan ke arah Baron. Baron membalasnya lalu kembali ke mobil dan memindahkannya ke parkiran.


__ADS_2