Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 68.


__ADS_3

Assalamu'alaikum para pembaca setia novel receh ini, mohon maaf karena beberapa hari ini tidak sempat up, lagi sibuk ngurusin nikahan adik di kampung🙏🙏🙏


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah mobil yang dikendarai Arhan terparkir di depan rumah, Aina segera turun lalu meninggalkan suaminya tanpa sepatah katapun. Hal itu membuat Arhan semakin kebingungan.


Setibanya di kamar, Aina membanting pintu dengan kasar, kemudian melangkah ke dalam kamar mandi membersihkan diri.


Di sana, Aina menatap wajahnya dari permukaan cermin. Percaya tak percaya, hatinya tetap saja terluka mengingat ucapan wanita yang mengaku sebagai mantan istri Arhan tadi.


Usai mencuci wajah dan mengganti pakaian, Aina keluar dan berbaring di atas tempat tidur dengan posisi memunggungi Arhan. Dia bahkan tak merespon kehadiran suaminya yang tengah duduk di sisi ranjang.


Arhan mengusap wajahnya kasar, hembusan nafasnya terdengar berat, dia sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi kepada Aina.


"Sayang, tolong lihat Abang! Katakan pada Abang, apa yang terjadi sebenarnya? Apa salah Abang?" tanya Arhan dengan berbagai macam pertanyaan, hatinya sedih melihat Aina yang mengacuhkannya tanpa alasan.


Aina meringkuk dengan isak yang tertahan. Ingin sekali dia meluapkan amarahnya yang tengah berapi-api, namun dia lebih memilih diam untuk meredakan emosinya.


Arhan yang melihat itu menjadi kelimpungan, entah bagaimana cara meyakinkan Aina.


"Terserah Aina aja, Abang pusing melihat Aina seperti ini!" Arhan bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju pintu dan memilih meninggalkan kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari, Arhan kembali ke kamar. Semalam, Arhan memilih tidur di kamar lain sebab tak ingin mengganggu istrinya.


Karena Aina masih tertidur, Arhan segera ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah itu mengenakan pakaian kantor dan meninggalkan rumah tanpa sarapan.


Di kantor, wajah Arhan nampak gusar memikirkan kejadian semalam. Dia sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Sementara di rumah, Aina nampak resah karena tak menemukan Arhan dimana-mana. Dia bahkan sudah mencari suaminya sampai ke setiap sudut rumah.


"Aina, apa yang kamu cari Nak?" tanya Airlangga yang kebetulan tengah berolahraga di taman belakang.


"Ti_tidak ada Pa," Aina nampak gugup, dia tak berani mengatakan yang sebenarnya kepada Airlangga. Dia sendiri masih ragu dengan kecurigaannya.

__ADS_1


Setelah tiba di kamar, Aina terduduk lesu di sisi ranjang. Tidak biasanya Arhan pergi tanpa pamit kepada dirinya, perasaan bersalah pun seketika bersarang menggerogoti hatinya.


Aina mengambil ponsel yang terletak di atas nakas, lalu menghubungi Arhan. Sayangnya Arhan tak mengangkat panggilan darinya, bahkan setelah beberapa kali menghubungi Arhan, kini ponsel suaminya sudah berada di luar jangkauan.


Aina menghela nafas berat, lalu membuangnya kasar. Matanya nampak berkaca-kaca.


Sementara di kantor, Arhan tengah berada di ruang monitor CCTV. Dia masih penasaran dan ingin melihat secara langsung kejadian apa yang terjadi dengan istrinya tadi malam.


Melalui bantuan security, Arhan akhirnya mengerti penyebab istrinya berubah dalam sekejap. Arhan menelan ludahnya kasar, kemudian mengusap wajahnya berulang kali.


"Wanita tak tau malu! Berani sekali dia mengusik istriku," gumam Arhan dengan mata menyala tajam, seketika amarahnya memuncak saat melihat Aina terduduk lesu berderai air mata.


Arhan mengepalkan tangannya erat, lalu memukulkannya pada permukaan meja. Selesai mengcopy potongan CCTV tersebut, Arhan berlalu meninggalkan ruangan, lalu berjalan menuju parkiran kantor.


Sepanjang perjalanan pulang, Arhan tak henti menggertakkan giginya. Tak salah jika Aina mengacuhkannya, wanita licik itulah yang membuat kacau rumah tangganya.


Sesampainya di depan rumah, Arhan berlari masuk dan segera menuju kamar. Kebetulan sekali Aina tengah berbaring di samping Aksa.


Aina terperanjat saat mendengar suara pintu. Sadar akan kedatangan suaminya, Aina pun dengan cepat memicingkan matanya.


Arhan membuka jasnya dan melemparnya ke sembarang tempat, lalu menekuk kakinya di sisi ranjang.


Aina menepis tangan Arhan dengan kasar, kemudian beringsut menjauhi suaminya tanpa sepatah katapun.


Melihat reaksi istrinya yang begitu, Arhan kembali tersenyum lalu berbaring di samping Aina dan memeluknya dengan erat.


"Abang tidak tau apa yang dikatakan wanita itu pada Aina. Tapi apakah Aina lebih percaya padanya daripada suami Aina sendiri?" bisik Arhan tepat di telinga Aina, kemudian mempererat pelukannya.


"Tidak perlu membela diri! Pengkhianat tetap saja pengkhianat." ketus Aina dengan suara bergetar.


"Untuk apa Abang membela diri? Lagian siapa yang pengkhianat? Abang tidak pernah merasa mengkhianati Aina," jawab Arhan dengan santainya.


"Mana ada maling yang mau mengakui kejahatannya?" ketus Aina, lalu mendorong Arhan dan bangkit dari pembaringannya.


Aina berjalan menuju pintu. Sebelum dia sempat meraih kenop pintu, Arhan sudah lebih dulu menghadang langkahnya, lalu menarik Aina ke dalam dekapan dadanya.

__ADS_1


"Jangan bodoh! Jika Abang mau berkhianat, bukan wanita itu yang akan Abang pilih. Aina tau kan kalau Abang sangat membenci wanita itu?" jelas Arhan sembari mengusap punggung Aina.


"Bohong, kalian berdua sama aja. Tidak tau malu," ketus Aina sembari mendorong dada Arhan.


"Hahahaha" Tawa Arhan menggelegar memenuhi seisi ruangan.


"Di sinilah letak kelemahan Aina. Sebelum tau apa yang terjadi sebenarnya, Aina sudah lebih dulu menyimpulkannya sendiri. Aina pikir Abang sebodoh itu?" jelas Arhan.


"Tidak tau, selesaikan saja urusan kalian berdua! Jika kalian ingin bersama lagi, maka biarkan Aina yang mengalah. Aina tidak mau jadi penghalang untuk hubungan kalian." lirih Aina dengan mata berkaca-kaca.


"Bodoh! Siapa juga yang mau bersama dia? Wanita itu tidak ada apa-apanya dibanding Aina."


Arhan melepaskan pelukannya, kemudian menyentuh pipi Aina dengan kedua tangannya. Tatapan keduanya pun bertemu untuk sesaat.


Arhan menyeka pipi Aina yang mulai basah, kemudian mengecup kening Aina penuh kasih sayang.


"Hanya Aina wanita yang ada di hati Abang. Tubuh dan cinta ini hanya milik Aina seorang, tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi Aina, termasuk wanita itu."


"Sekarang, wanita itu pasti tengah tertawa melihat Aina seperti ini. Inilah yang dia inginkan, merusak rumah tangga kita." ucap Arhan.


"Bukan dia yang merusak rumah tangga kita, tapi Abang sendiri. Kalian bahkan sering bertemu di belakang Aina, untuk apa Abang melakukan itu? Jika Abang ingin kembali bersamanya, katakan saja!" bentak Aina dengan mata merah menyala.


"Sampah yang sudah dibuang, tidak akan pernah dipungut kembali. Aina tau bagaimana Abang kan?" ucap Arhan.


"Entahlah, Aina pusing. Sekarang pergilah, Aina ingin sendiri!" ketus Aina sembari mengalihkan pandangannya.


Arhan menghela nafas berat, lalu membuangnya kasar. Sulit baginya meyakinkan Aina yang tengah dibakar api cemburu.


"Sekarang begini saja, ganti pakaian Aina, kita akan pergi menemui wanita itu! Abang tidak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut," ajak Arhan mengambil jalan tengah.


"Tidak mau, untuk apa mengajak Aina? Abang pergi saja sendiri!" ketus Aina dengan bibir sedikit maju.


"Kenapa? Aina takut bertemu dia?" tanya Arhan dengan kening sedikit mengkerut.


"Untuk apa takut? Hubungan kalian tidak ada sangkut pautnya dengan Aina. Terserah kalian mau ngapain, Aina tidak peduli!"

__ADS_1


"Apa Aina yakin tidak peduli? Wanita itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Abang, Aina rela?" tanya Arhan sembari tersenyum kecil, berniat menggoda istrinya.


Seketika, tatapan Aina berubah bak singa yang tengah kelaparan. Hal itu membuat Arhan tersenyum puas, dia tau pasti kalau Aina tidak akan membiarkannya bertemu dengan wanita lain, apalagi mantan istrinya.


__ADS_2