Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 104.


__ADS_3

Pada saat jam makan malam tiba, Arhan mengumpulkan semua orang di meja makan. Saking seriusnya, Aina sampai kebingungan melihat reaksi datar suaminya.


Apa Arhan sudah mengetahui sesuatu tentang penculikan itu? Aina takut Arhan akan membahas itu dan membuat rencana untuk membalas Tasya. Bagaimanapun Aina tidak mau masalah itu diperpanjang, cukup berhati-hati saja untuk ke depannya.


"Kenapa liatin Abang seperti itu?" tanya Arhan dengan santai, garis bibirnya sedikit terangkat naik.


"Gak papa, serius banget tampangnya. Ada apa sih Bang?" jawab Aina dengan pertanyaan pula.


Arhan hanya tersenyum, kemudian memutar tubuhnya menghadap dapur. "Inda, kemarilah!"


Inda terperanjat dan segera menghentikan pekerjaannya. "Iya Tuan,"


Segera Inda berjalan menghampiri Arhan yang sudah duduk di meja makan bersama yang lainnya, tidak terkecuali Baron yang tengah deg-degan dengan jantung bergemuruh kencang.


"Ada apa Tuan?" tanya Inda sembari menekuk wajahnya, kedua tangannya saling menggenggam karena takut Arhan akan memarahinya.


Kembali Arhan tersenyum hingga membuat semua orang penasaran. "Duduklah!"


Inda mendongak dengan pipi bersemu merah. Takut, cemas, gemetaran, gelisah, semua bercampur menjadi satu. Apa nasibnya sudah berakhir? Apa dia akan dipecat? Tapi apa kesalahan yang sudah dia perbuat?


Segera Inda duduk sembari menekuk wajahnya, meremas tangan satu dan lainnya untuk menghilangkan rasa takut yang berkecamuk di hatinya.


"Berapa umurmu sekarang?" tanya Arhan tanpa basa-basi.


Aina yang mendengar itu segera melirik suaminya dengan tatapan aneh. Untuk apa Arhan menanyakan umur Inda segala? Hal itu menimbulkan rasa curiga di hati Aina.


"Dua puluh enam, Tuan. Kenapa dengan umur saya?" Inda memberanikan diri untuk bertanya.


"Gak papa, sepertinya sudah saatnya kau memikirkan masa depan. Apa kau tidak kepikiran untuk menikah?" tanya Arhan.


Inda mendongak dengan kening sedikit mengkerut. "Maaf Tuan, saya masih ingin bekerja di sini. Kalau saya menikah, pekerjaan ini akan hilang dari saya. Saya juga belum bisa berpisah dengan Aksa." jelas Inda dengan mata berkaca.


"Oh, tapi keinginanmu untuk menikah ada kan?" tanya Arhan lagi.


"Ada Tuan, tapi jodoh saya sepertinya belum lahir." seloroh Inda untuk menghilangkan kecanggungan nya.


"Hahahaha...,"


Mendadak ruangan itu bergemuruh dengan tawa yang keluar dari mulut semua orang. Tidak dengan Aina yang hanya tersenyum kecut. Apa suaminya menyukai Inda? Sejak kapan?


"Permisi, aku keluar sebentar." Baron memilih pergi karena tak berani mendengar kelanjutan ucapan Arhan. Rasanya terlalu cepat, tapi dia sendiri takut salah langkah. Lebih baik dihalalkan daripada berbuat dosa.


Aina memutar lehernya beberapa derajat, lalu menatap manik mata Arhan sampai dalam. "Ini sebenarnya ada apa sih Bang? Dari tadi ucapannya putar-putar doang, ngomong tuh yang jelas biar kami gak penasaran!"


"Iya nih, aku aja ikut bingung." timpal Hendru mengerutkan keningnya.


"Aku juga," sambung Nayla menautkan alisnya.

__ADS_1


"Hahahaha...,"


Kembali Arhan tertawa melihat ekspresi membagongkan di wajah semua orang, apalagi Aina yang terlihat begitu kesal.


Arhan mengacak rambut Aina gemas. "Gini sayang, jadi Abang ingin melamar Inda untuk-"


"Untuk apa?" potong Aina dengan nada meninggi. Mendadak dadanya terasa sesak mendengar ucapan Arhan yang belum sempat dia selesaikan.


"Untuk apa melamar Inda? Abang mau menikahi Inda juga? Apa gak cukup Aina aja yang jadi istri Abang? Kurang apa Aina Bang? Apa Aina udah gak cantik lagi? Apa Abang udah bosan sama Aina? Atau Abang gak nafsu lagi liat tubuh Aina yang udah melar ini?"


"Deg!"


Semua orang bergeming dengan jantung berdegup kencang. Benarkah yang dikatakan Aina barusan? Apa Arhan ingin menjadikan Inda sebagai istri keduanya?


Sementara Inda sendiri sudah menangis karena ketakutan mendengar ucapan Aina. Dia tidak mungkin merusak rumah tangga majikannya yang sudah begitu baik terhadap dirinya. "Maaf Tuan, saya tidak bisa."


Inda mencoba bangkit, namun Arhan dengan cepat menahan langkahnya. "Jangan kemana-mana!" Terpaksa Inda kembali duduk menahan tangisannya yang ingin pecah saat ini juga.


Arhan bangkit dari duduknya dan memeluk Aina hingga wajah cantik itu tenggelam di perutnya. "Aina gak mau dimadu! Jika Abang gak cinta lagi sama Aina, biarkan Aina pergi dari sini, biarkan Aina membawa anak-anak kita!"


"Aina ngomong apa sih sayang?" Arhan mulai kelimpungan karena Aina terus saja menangis tanpa henti.


"Pokoknya Aina gak mau, Aina ingin pergi aja!" Aina mendorong perut Arhan dan mencoba bangkit dari duduknya.


"Nyonya jangan pergi, biar aku aja yang pergi!" timpal Inda yang merasa bersalah akan hal ini.


Tangisan Aina pecah mendengar itu, berarti Arhan benar-benar ingin mempertahankan Inda dan menjadikannya istri kedua. "Abang jahat, Aina benci sama Abang. Abang pembohong, Abang pengkhianat!"


Kembali Aina berdiri dan berusaha untuk pergi, namun Arhan dengan cepat memeluknya hingga tak bisa bergerak sama sekali. Aina pun meronta-ronta untuk melepaskan diri.


"Hendru, panggil cucunguk itu kemari! Dia yang harus bertanggung jawab atas semua ini!" titah Arhan yang mulai tersulut emosi.


Hendru mengangguk pelan dan segera meninggalkan ruang makan. Drama apa yang baru saja dia lihat ini? Lebih menyedihkan dari drama India.


"Sayang, Aina tenang dulu ya! Abang gak ada niat buat duain Aina, Aina salah paham sayang." bujuk Arhan sembari mengusap punggung Aina, sementara Aina masih saja memberontak ingin melepaskan diri.


Beberapa menit kemudian, Hendru kembali bersama Baron. Pria itu tergugu melihat suasana yang mendadak memanas. Kenapa Aina menangis? Inda juga, apa yang terjadi setelah kepergiannya?


"Ada apa ini?" tanya Baron sembari mengerutkan keningnya.


"Duduk! Katakan apa yang kau inginkan di depan semua orang!" titah Arhan penuh penekanan.


"Aku?" Kembali Baron mengerutkan keningnya.


"Iya kau, siapa lagi? Jika kau merasa dirimu laki-laki sejati, maka katakan semuanya detik ini juga! Aku tidak bisa lagi membantumu, kau liat istriku sampai menangis dan ingin pergi gara-gara hanya ingin membantumu!" ketus Arhan yang masih berdiri memeluk Aina dengan erat.


Baron mengusap wajahnya berkali-kali, dengan langkah berat dia segera duduk dan berusaha mengatur nafas. Rasanya terlalu sulit mengatakan ini, bagaimana jika Inda menolak? Mereka baru saja bertemu beberapa hari, bukankah ini terlalu cepat?

__ADS_1


"Ayo katakan, jangan diam aja!" bentak Arhan yang mulai geram melihat tingkah Baron. Tubuh saja yang besar, tapi nyalinya secuil doang.


Baron menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. "Maaf Aina, aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian. Sebenarnya-"


"Sebenarnya apa? Katakan dengan jelas!" potong Aina dengan suara yang nyaris menghilang.


"Sabar sayang, dengar dulu!" Arhan mengusap kepala Aina dan mengecupnya dengan sayang.


"Ayo Baron, bicaralah! Kau tidak liat Aina sampai terisak karena kesalahpahaman ini." Hendru ikut menimpali. Dia juga tak ingin Aina larut dalam pemikiran negatifnya.


"Maaf jika ini sudah membuat kalian jadi bersiteru. Tadi, aku meminta Arhan untuk melamar Inda. Aku ingin Inda menjadi istriku." Baron menjeda ucapannya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Aina bergeming mendengar itu, sementara Hendru, Nayla dan Inda membuka mata dengan sempurna. Tidak ada yang menyangka bahwa Baron ternyata menaruh hati pada Inda.


"Inda, aku tau ini terlalu cepat. Kita bahkan belum saling mengenal satu sama lain. Jika boleh aku meminta, beri aku kesempatan untuk menjadi suamimu. Aku janji akan menjagamu dan menyayangimu setulus hati. Aku tidak akan pernah menyakitimu."


Inda mendongak dengan air mata yang masih mengalir di sudut matanya, lalu menoleh ke arah Arhan yang masih berdiri memeluk Aina. Bagaimanapun, sekarang Arhan lah yang bertanggung jawab di rumah besar itu.


"Kenapa melihatku seperti itu? Kau bebas menentukan pilihanmu sendiri. Jika mau katakan iya, jika tidak tolak saja!" seloroh Arhan sembari tersenyum dengan bahu sedikit terangkat.


"Jadi?" Aina mendongak menatap wajah Arhan.


"Jadi ini yang ingin Abang katakan tadi, ternyata kompornya sudah panas duluan dan meledak tanpa mikir. Dasar kompor gak ada akhlak!" Sengaja Arhan melepaskan pelukannya dan memilih menjauh dari semua orang.


Aina yang merasa bersalah segera menyusul Arhan yang sudah tiba di ambang pintu.


"Abang mau kemana? Tunggu!" rengek Aina dengan manja.


Arhan menghentikan langkahnya dan berbalik. "Apa lagi?"


Aina merentangkan tangannya dan memeluk Arhan dengan erat. "Maafin Aina ya, Aina pikir-"


"Mulai besok gak usah mikir lagi!" seloroh Arhan sembari menyentil kening Aina.


"Maaf sayang, Aina kan hanya manusia biasa. Abisnya Abang ngomongnya gak jelas sih? Coba ngomong langsung ke intinya, Aina gak bakalan salah paham."


"Hmmm... Maafin gak ya," goda Arhan.


"Abang...," rengek Aina.


"Ok dimaafin, tapi nanti harus ada hadiahnya ya." pinta Arhan.


"Hadiah apa?" tanya Aina.


"Ada deh," Arhan menarik hidung Aina, lalu mengesap bibir ranum istrinya dengan rakus. Entahlah, jika mereka di kamar, mungkin sudah Arhan lahap hingga tak bersisa.


Kembali keduanya melangkah menuju ruang makan untuk mendengar jawaban dari Inda.

__ADS_1


__ADS_2