
Setelah semuanya turun, mereka disambut hangat oleh petugas yang bekerja di pulau itu.
"Selamat datang Tuan, Nyonya, senang bertemu kalian. Semoga betah berlibur di pulau ini!" ucap salah seorang dari petugas yang sudah standby menanti kedatangan mereka.
"Terima kasih, tentu saja kami akan betah di sini. Pulau ini benar-benar indah," sahut Aina yang paling antusias dalam perjalanan kali ini.
"Benar sekali. Tidak hanya indah, tapi udara di sini sangat asri." tambah Nayla yang tak kalah antusiasnya dari Aina.
Mendengar celetukan 2 wanita cantik itu, semua orang terkekeh bersamaan. Tidak terkecuali dengan Arhan dan Hendru yang sedari tadi mematut wanita mereka.
"Kalau begitu silahkan Tuan, Nyonya! Kami sudah menyiapkan resort untuk kalian beristirahat." ucap seorang petugas, kemudian membantu membawakan koper mereka.
Aina dan Nayla melenggang lebih dulu, wajah keduanya nampak berseri. Arhan dan Hendru berjalan di belakang, sementara Aksa masih tertidur di gendongan papanya. Disusul 3 orang petugas yang membawakan koper mereka.
Sesampainya di depan resort, mata Aina membola menyaksikan penginapan yang nampak sederhana namun terlihat mewah. Sangat sesuai dengan pemikirannya sebelum ini.
"Kenapa mata Aina begitu? Aina tidak suka ya?" tanya Arhan sembari menautkan alisnya.
"Apaan sih Bang? Kapan Aina bilang tidak suka? Tempat ini sangat bagus, Aina sangat suka." jawab Aina dengan seulas senyuman yang sangat manis.
"Kalau begitu silahkan masuk Nyonya! Sesuai pesanan Tuan, kami sudah menyediakan 3 kamar. Kalian bisa beristirahat dan membersihkan diri di dalam!" sambung seorang petugas, kemudian membawa masuk koper mereka ke kamar masing-masing.
Karena hari mulai gelap, mereka pun memutuskan untuk masuk ke kamar sembari menunggu waktu makan malam tiba.
Aina dan Arhan masuk ke kamar yang sama, sementara Nayla dan Hendru masuk ke kamar yang berbeda.
Di dalam kamar, mata Aina kembali terbuka lebar. Dia bahkan sudah kesulitan untuk berkata-kata, semua terlalu mengejutkan untuknya. Bola matanya berguling liar menyaksikan pemandangan di sekitarnya.
Setelah membaringkan Aksa di atas tempat tidur, Arhan mendekati Aina yang tengah duduk di atas sofa. Pemandangan di luar sana nampak jelas dari balik jendela kaca yang mengelilingi kamar mereka.
"Apa yang Aina lihat?" tanya Arhan sembari menekuk kakinya di samping Aina, lalu memeluk pinggang istrinya dengan erat.
__ADS_1
Aina menatap lekat wajah suaminya. "Makasih ya Bang, Aina tidak pernah membayangkan akan berada di tempat seindah ini sebelumnya." ucap Aina, kemudian membalas pelukan Arhan dan merebahkan kepalanya di lengan Arhan.
"Aina senang?" tanya Arhan sembari tersenyum lebar.
"Senang Bang, sangat senang malah." jawab Aina.
"Kalau Aina senang, cium Abang dulu dong! Masa' cuma bilang makasih doang sih?" pinta Arhan menggoda istrinya.
"Mau dicium di bagian mana?" tanya Aina, kemudian mengangkat kepalanya dan menatap wajah Arhan dengan intim.
"Semuanya dong," jawab Arhan sembari tersenyum sumringah.
Melihat senyuman suaminya yang begitu lepas, Aina pun ikut tersenyum. Arhan tidak hanya menjadi suami dan ayah yang baik untuk dirinya dan Aksa. Tapi Arhan juga menepati janjinya untuk membahagiakan Aina, mencintainya dengan setulus hati, bahkan menjadikannya ratu sesuai ucapannya sebelum menikahi Aina.
Tanpa ragu, Aina mengecup keseluruhan wajah Arhan dengan lembut. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir Arhan. Kecupan lembut itu berakhir jadi luma*tan, keduanya saling mengesap hingga dalam, kemudian saling membelit lidah.
Setelah melepaskan pagutan mereka, keduanya saling tersenyum, kemudian saling memeluk dengan penuh kehangatan.
"Mandi yuk! Mumpung Aksa masih tidur," ajak Arhan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hmmm, alasan doang. Bilang aja kalau Abang tuh pengen!" sindir Aina dengan seulas senyum yang terukir di wajahnya.
"Tau dong, suami sendiri siapa yang tidak tau? Wajah mesum Abang tuh gak bisa bohong," ungkap Aina, kemudian mengacak rambut suaminya hingga berantakan.
Mendengar itu, Arhan pun terkekeh dengan sendirinya, kemudian bangkit dari duduknya. Tanpa Aina sadari, Arhan dengan cepat mengangkat tubuh Aina, kemudian membopongnya menuju kamar mandi.
"Apa yang Abang lakukan?" tanya Aina dengan kening sedikit mengkerut.
"Bukankah Aina sudah tau, kenapa masih bertanya?" jawab Arhan dengan santainya.
Setibanya di dalam sana, Arhan menurunkan Aina di depan cermin. Kemudian menenggelamkan wajahnya di tengkuk Aina sembari melucuti satu persatu pakaian yang dikenakan istrinya hingga berjatuhan di lantai.
Melihat pantulan tubuh istrinya yang sudah polos dari cermin, Arhan menelan ludahnya kasar. Gairahnya meningkat saat menyaksikan 2 bola kenyal Aina yang menggantung indah di dadanya.
Tanpa berpikir, Arhan pun melucuti pakaiannya, batang rudalnya sudah berdiri tegak dan menegang di bawah sana. Membuat dadanya berdenyut ngilu.
Tak sanggup menunggu lagi, Arhan mulai menggerayangi tubuh Aina dengan sentuhannya yang sangat lembut. Membuat tubuh Aina bergetar saat Arhan menenggelamkan wajahnya di belahan dadanya.
__ADS_1
Desa*han tipis pun keluar dari mulut Aina saat Arhan melahap habis bola kenyal miliknya. Bahkan tangan Arhan tak henti meremas bagian lainnya.
Aina menutup matanya perlahan, kemudian menggigit bibirnya menikmati permainan suaminya yang begitu lembut. Lagi-lagi Aina mende*sah dengan manja saat Arhan menggigiti ujung dadanya.
Melihat istrinya yang begitu, Arhan melepaskan hisapannya dari bola kenyal itu, kemudian mengecup perut Aina hingga turun ke bagian inti istrinya.
Melihat kelopak bunga berwarna pink yang menantang li*bi*do nya, Arhan menelan ludahnya kasar. Aroma khas dari inti Aina membuat batang rudalnya semakin menegang.
Tanpa basa basi, Arhan dengan cepat menenggelamkan wajahnya di bawah sana. Menjilatinya, lalu memainkannya dengan lidahnya. Hal itu membuat Aina kembali mende*sah menikmati sensasi yang luar biasa.
Kakinya sampai bergetar hingga menjalar ke sekujur tubuhnya. Seketika, cairan hangat pun keluar dari dalam sana. Aina menjerit kecil menikmati pencapaiannya.
Melihat istrinya yang sudah tak berdaya, Arhan dengan cepat bangkit dari jongkoknya. Kemudian melu*mat bibir Aina dengan rakus.
Karena tak sanggup lagi menahan gairahnya yang sudah di ujung tanduk, Arhan bergegas membalikkan tubuh Aina dan menyerangnya dari arah belakang.
Saat batang rudal Arhan menerobos dinding hangat miliknya, jeritan kecil pun kembali keluar dari mulut Aina. Dia tak hentinya mende*sah saat Arhan mulai berpacu dengan kekuatannya.
Pergerakan keluar masuk yang dilayangkan Arhan membuat tubuh Aina mengejang dan bergetar hebat. Desa*hannya menggema memenuhi seisi kamar mandi.
Setengah jam berpacu dengan nafas yang kian memburu dan keringat yang mengucur deras, Arhan akhirnya menyerah. Lumpur panas itu menyembur hingga berjatuhan di dasar lantai.
"Akhh," erang Arhan dengan dahsyatnya. Kakinya sampai bergetar menikmati puncak kepuasannya.
Setelah semua lumpur itu keluar, Arhan mencabut batang rudalnya, kemudian menciumi punggung Aina dan menggigitnya gemas.
Saat Aina berbalik, Arhan melahap habis bibir ranum istrinya dengan rakus, kemudian melepaskannya dan memeluk Aina dengan erat.
"Makasih sayang," ucap Arhan dengan nafas terengah.
"Untuk apa berterima kasih! Bukankah sudah kewajiban Aina melayani Abang?" sahut Aina, kemudian mencium leher Arhan dengan lembut.
"Tidak salah Abang memilih Aina jadi istri Abang, Aina begitu sempurna untuk Abang." sanjung Arhan.
"Hehehe, Abang baru sadar ya? Kemaren-kemaren kemana aja?" canda Aina terkekeh.
"Hahaha, Aina bisa aja." Arhan mencubit hidung Aina gemas.
__ADS_1
"Mandi yuk! Takutnya Aksa keburu bangun," ajak Aina, kemudian melepaskan pelukannya dan bergegas menyalakan shower.