
Pukul 7 malam, mobil yang dikendarai Arhan sudah terparkir di depan rumah sakit. Usai mematikan mesin mobil, Arhan segera turun dan berlari ke dalam. Hendru pun menyusulnya karena khawatir dengan keadaan Nayla.
Wajah emosional dengan rahang mengerat kuat, tatapan mata sangat tajam dengan tubuh tegap dan tangan mengepal erat membuat tampilan Arhan persis seperti serigala yang siap menerkam mangsanya. Bahkan polisi pun terdiam melihat kedatangannya.
"Apa yang terjadi? Dimana istriku?" teriak Arhan yang tak sanggup lagi mengendalikan emosinya, membuat semua mata terbelalak dan terdiam melihat kemarahannya.
"Kenapa kalian diam saja hah? Kemana mereka membawa istriku?" imbuh Arhan dengan tatapan membunuhnya. Ingin sekali Arhan menghancurkan rumah sakit itu, namun tidak mungkin.
"Maaf Tuan Arhan, kendalikan emosi Anda. Ini rumah sakit, jangan membuat keributan di sini! Aku akan menjelaskannya pada Anda, mari duduk dulu!" jawab seorang polisi.
"Duduk kau bilang? Apa otakmu tidak ada? Istriku diculik, dia sedang mengandung anakku. Kau pikir aku bisa duduk?" geram Arhan menantang polisi itu.
"Tenang dulu Tuan! Aku tau bagaimana perasaan Anda saat ini, tim kami sedang melakukan pencarian. Dari data yang kami dapat, para penjahat itu membawa istri Anda ke arah hutan. Tim kami sudah mengarah ke sana." jelas polisi itu.
Tanpa menjawab, tanpa respon apa-apa, Arhan berlalu begitu saja meninggalkan rumah sakit. Tak terbayang olehnya bagaimana keadaan Aina saat ini. Apakah istrinya sudah makan? Apa penjahat itu menyiksa Aina? Apa mereka menyakiti anak yang ada di perut Aina?
"Kau mau kemana Arhan? Aku ikut," seru Hendru.
"Kau di sini saja! Jaga Nayla, dia membutuhkan dirimu!" sahut Arhan, kemudian melanjutkan langkahnya.
Arhan kembali masuk ke dalam mobil, sejenak dia menangisi keberadaan Aina yang entah bagaimana nasibnya saat ini. Arhan memukulkan kepalanya ke stir, menyesal sudah meninggalkan Aina hingga penculikan ini terjadi.
Setelah melepaskan kesedihannya, Arhan membuka dasbor dan mengambil senjata yang sudah lama mengendap di dalam sana. Akhirnya tangan Arhan menyentuh benda itu lagi setelah sekian lama tak menggunakannya. Arhan pun menyalakan mobil dan melajukan nya menuju arah hutan.
Sementara itu, Hendru dengan segera menemui Nayla yang masih terbaring di atas brankar. Wajah Nayla nampak pucat dengan bibir membiru karena pukulan keras penjahat tadi.
"Nayla,"
Hendru menghampiri Nayla yang sedang tertidur, tak terasa air matanya tumpah melihat keadaan istrinya.
"Sayang,"
Hendru mengusap kepala Nayla dan menciumnya dengan sayang, lalu menggenggam tangan Nayla dengan erat.
"Maaf Pak, kami terpaksa memberikan obat tidur pada Ibu Nayla. Dia terus saja memanggil Ibu Aina sedari tadi, kami takut dia stres. Tidak baik untuk janinnya, kandungan istri Bapak sangat lemah." jelas suster yang ikut masuk bersama Hendru.
__ADS_1
"Janin? Kandungan? Apa maksudnya?" Hendru memutar lehernya menghadap suster, matanya membulat sempurna dengan kening sedikit mengerut.
"Ibu Nayla sedang mengandung. Tadi pagi beliau ke sini bersama Ibu Aina untuk memeriksa kandungan mereka. Pulang dari sini kejadian itupun terjadi. Untung saja Ibu Nayla cepat di bawa ke sini, jika tidak mungkin janinnya sudah tidak ada."
"Deg!"
Hendru bergeming dengan jantung berdegup kencang. Rasanya seperti mimpi saat mengetahui kehamilan Nayla. Setelah 4 bulan menikah, akhirnya anugerah terindah itu datang juga.
"Jadi istri saya sudah tau kalau dia hamil?" tanya Hendru.
"Iya Pak, kalau begitu saya pamit dulu ya. Kalau ada apa-apa, panggil saya di ruangan suster!"
"Ok Sus, makasih ya."
Hendru kembali menitikkan air matanya, mencium tangan Nayla lalu mengusap perut rata Nayla dengan lembut.
"Anak Ayah yang kuat ya. Ayah di sini," gumam Hendru, lalu mengecup perut Nayla.
Di hutan, Aina di sekap di dalam sebuah gubuk. Tangan dan kakinya diikat di tiang, sementara wajahnya sudah lebam dan terluka di beberapa tempat.
Beberapa kali Tasya memukul wajah Aina hingga bibirnya mengeluarkan darah, kepalanya dipukulkan ke dinding. Tak berhenti di situ, Tasya juga menendang perut Aina hingga pendarahan. Sampai detik ini pun darahnya masih saja mengalir.
"Tolong lepaskan aku! Perutku sakit sekali, aku harus menyelamatkan anak ini, dia tidak bersalah!" rintih Aina dengan suara tertahan, bahkan nyaris menghilang. Jangankan untuk bergerak, berucap saja rasanya sangat sulit. Matanya pun sudah tak bisa untuk dibuka, sekujur tubuh Aina remuk, tulangnya serasa berpisah dengan sendinya.
"Percuma memohon pada kami, kami hanya melakukan tugas. Sekarang sudah waktunya, pergilah ke neraka bersama anakmu itu."
Kedua pria itu keluar dan mengunci pintu. Setelah menuangkan minyak tanah di sekitar gubuk, mereka pun melemparkan korek api hingga si jago merah mulai mengamuk dan menjalar di permukaan dinding.
"Mampus kau!" Kedua pria itu pun segera pergi meninggalkan tempat sepi itu.
Air mata Aina menetes meski matanya tak bisa lagi untuk di buka. Suhu tubuhnya mulai terasa panas karena hawa api yang masih menjalar mendekati dirinya.
Sejenak, kenangan indah bersama Arhan kembali terlintas di ingatan Aina. Mungkin takdir sudah menentukan jalannya sendiri. Meski hanya sesaat, Aina bersyukur sudah diberi kesempatan merasakan kebahagiaan bersama Arhan dan putranya.
Semakin asap menggebu di dalam gubuk, semakin lemah pula Aina dibuatnya. Setelah beberapa kali terbatuk-batuk, kepala Aina pun terkulai lemas hingga tak sadarkan diri. Tinggal menunggu api mendekat, maka Aina akan berakhir malam ini juga.
__ADS_1
Di tempat yang sama, Arhan masih berkeliling menyusuri hutan. Lama dia berputar tak tentu arah, perasaannya pun semakin tidak tenang saat merasakan sesuatu terjadi pada istrinya. Ada kontak batin hingga membuat dada Arhan mendadak sesak.
"Sayang, Aina dimana? Aina harus kuat demi anak kita, tunggu Abang! Abang tidak akan membiarkan Aina terluka, Aina yang sabar ya."
Sambil bicara dalam hati, Arhan terus saja berlari ke dalam hutan layaknya orang gila. Medan yang berbahaya dan gelap tak membuatnya gentar sedikitpun. Arhan terus saja berlari hingga matanya menangkap sebuah cahaya yang cukup terang.
"Apa itu? Apa Aina di sana?" Tanpa berpikir, Arhan kembali berlari ke arah sumber cahaya. Hingga pada jarak yang sudah semakin dekat, Arhan bisa melihat jelas bahwa cahaya itu berasal dari api. Api yang sangat besar hingga membuat dada Arhan berdenyut ngilu.
Sekencangnya Arhan berlari hingga berjarak beberapa meter saja. Saat itu pula suara sirine polisi terdengar dalam jarak yang cukup dekat.
Arhan memutari gubuk mencari jalan masuk, namun api sudah meraja lela hingga tak ada celah untuk masuk ke dalamnya.
"Aina...,"
"Sayang..., Apa Aina di dalam?" teriak Arhan. Berharap ada jawaban dari dalam sana, ternyata tidak.
Arhan tak mau menyerah begitu saja, hatinya sangat yakin kalau Aina ada di dalam. Dengan segera Arhan menyeburkan diri ke dalam kolam, lalu keluar lagi.
Saat Arhan ingin masuk, tangan seseorang tiba-tiba menahannya.
"Jangan masuk Tuan! Ini berbahaya," larang seorang polisi.
"Lepaskan aku, istriku ada di dalam!" bentak Arhan sembari memberontak.
"Tapi ini berbahaya Tuan, Anda bisa terjebak. Apinya sangat besar,"
"Tidak masalah! Jika istriku harus mati di dalam sana, maka aku juga akan mati bersamanya!" tegas Arhan. Arhan pun mendorong polisi itu dan berlari masuk ke dalamnya.
...------------------------------------------------...
Hufff, agak nyesek ya.
Maaf ya kalau author bikin olahraga jantung dikit.
Kira-kira kalau keduanya meninggal gimana ya???
__ADS_1
Hehehe, makasih buat kakak2 yang udah support novel receh ini. Semoga rejekinya lancar dan sehat selalu. Aamiin...