
Sore hari, mobil Arhan sudah terparkir di garasi. Hendru masuk ke paviliun depan, sementara Arhan berjalan ke arah kolam. Matanya tak sengaja menangkap keberadaan Aina dan Aksa yang tengah duduk di sofa.
Arhan meninjitkan kakinya, sengaja berjalan pelan, lalu memeluk Aina dari belakang. Sontak saja Aina terlonjak kaget, dia hampir saja berteriak. Namun saat menoleh, dia malah tersenyum mendapati wajah Arhan yang begitu dekat dengan dirinya.
"Abang, kenapa mengagetkan Aina? Untung saja Aksa tidak jatuh," keluh Aina sembari memeluk Aksa erat.
"Maafkan Abang sayang, Abang pikir Aina sudah mengetahui kepulangan Abang. Apa Aina tidak mendengar suara mobil?" tanya Arhan.
Arhan berpindah ke hadapan Aina, duduk di samping istrinya dan melingkarkan tangannya di pinggang Aina.
"Tidak, dari tadi banyak mobil yang keluar masuk. Aina tidak memperhatikannya." jawab Aina.
Arhan merapatkan tubuhnya, mendatangi leher Aina yang sangat wangi. Membuat Arhan betah berlama-lama menghidunya.
"Apa yang Abang lakukan? Jangan mesum di sini, malu!" bisik Aina sembari bergeser hingga tubuh keduanya merenggang.
Arhan terkekeh melihat ekspresi Aina. Sudah sejauh ini, tapi Aina masih saja canggung berhadapan dengan dirinya.
"Ya sudah, kalau begitu Abang sama Aksa saja."
Arhan mengambil Aksa dari tangan Aina, kemudian merebahkan putranya di atas pangkuannya. Dia tak hentinya mencium pipi gembul Aksa saking gemasnya.
"Jagoan Papa udah mandi ya? Wangi sekali, sama seperti Mama." celetuk Arhan, kemudian menatap Aina dengan intim.
"Tentu saja wangi, bukankah Abang yang minta?" ucap Aina menyembunyikan senyumannya.
"Sayangnya ada yang kurang," keluh Arhan, lalu menghela nafas berat.
"Kurang apa lagi sih Bang? Bukankah Aina sudah rapi, cantik dan wangi sesuai permintaan Abang." Aina merungut kesal.
"Kalau Abang ingin wanita yang lebih sempurna, maka Abang salah memilih Aina!" Aina bergeser dari duduknya, lalu membelakangi Arhan dengan wajah cemberut nya.
Melihat istrinya yang merajuk, Arhan pun terkekeh sekaligus gemas. Dia mendekat dan mengecup pundak Aina lembut.
"Bukan itu maksud Abang, sayang. Untuk apa lagi wanita lain? Satu ini saja sangat sulit menghabiskannya." bisik Arhan, hembusan nafasnya yang hangat membuat bulu kuduk Aina berdiri tegak.
Aina menggerakkan bahunya karena geli, lalu menoleh ke arah Arhan. Matanya membola menatap wajah suaminya yang sangat tampan.
__ADS_1
"Lalu apa yang Abang maksud?" tanya Aina penasaran sembari mengulum senyumannya.
Arhan mendekati bibir Aina, hembusan nafasnya membuat tubuh Aina meremang. Arhan mengecup bibir Aina lembut, lalu melu*matnya rakus. Sudah sedari tadi dia menahan diri sebab Aina tak mengerti maksud ucapannya.
Aina terbawa menikmati sentuhan lembut dan hangat suaminya, Arhan mampu membuat istrinya melayang tinggi. Tubuh Aina serasa mengambang di udara.
Sadar akan kondisi dan tempat yang salah, Aina pun bergegas melepaskan pagutannya. Pipinya merona menahan malu, lalu menenggelamkan wajahnya di pundak suaminya.
Arhan yang melihat itu hanya bisa terkekeh, senang melihat respon istrinya yang hangat. Apa lagi melihat wajah Aina yang memerah, membuatnya gemas dan ingin sekali melahap habis istrinya detik ini juga.
"Masuk yuk! Abang mulai gerah di sini," ajak Arhan, lalu menggenggam tangan Aina.
...****************...
Aina dan Arhan sudah berada di kamarnya, sementara Aksa mereka tinggal di bawah bersama Leona.
Setelah melepas pakaian kantornya, Arhan memeluk Aina yang tengah duduk di sisi tempat tidur. Menikmati aroma tubuh istrinya yang mulai mempengaruhi li*bi*do nya.
Arhan menempelkan bibirnya di leher Aina, lalu menggelitiknya dengan lidahnya. Hal itu membuat Aina menggeliat geli, dia terkekeh saking tak kuasa menahan rasa yang entah.
"Cukup Bang, jangan menggoda Aina terus! Ini masih sore," Aina mendorong dada Arhan, lalu menghindar dan berpindah ke sofa.
"Aina tidak menginginkan Abang?" tanya Arhan sembari melenggang menghampiri istrinya.
"Tidak," jawab Aina singkat.
"Serius?" Kini Arhan sudah duduk di samping istrinya.
"Serius, dua rius, sepuluh rius." jawab Aina, lalu terkekeh.
"Kenapa tertawa? Apa Abang terlihat aneh?" tanya Arhan menautkan alisnya.
"Aneh, sangat aneh malahan." jawab Aina, dia kembali terkekeh.
"Aneh di mananya?" Arhan tampak semakin kebingungan.
"Lihat sendiri saja di cermin!" suruh Aina.
__ADS_1
Arhan penasaran dengan apa yang dimaksud oleh istrinya, dia bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju meja rias. Sementara itu, Aina melenggang menuju pintu.
"Tidak ada yang aneh, wajah Abang biasa aja kok. Malahan terlihat sangat tampan." ucap Arhan sembari mematut wajahnya di depan cermin.
"Ada, lihat lagi!" sahut Aina yang kini sudah berdiri di balik pintu.
"Apa sih sayang? Tidak ada yang aneh," geram Arhan, dia merasa dipermainkan oleh istrinya sendiri.
"Apa Abang tidak melihat? Wajah Abang terlihat mesum sekali." sahut Aina, tawanya menggelegar menganggu pendengaran Arhan.
Arhan membalikkan tubuhnya, dia benar-benar geram melihat kelakuan istrinya. Saat berlari mengejar Aina, wanita itu menjulurkan lidahnya sembari tertawa puas.
"Bleeek, emang enak dikerjain?" Aina bergegas menutup pintu dan berlari menuruni anak tangga.
"Astaga, bisa-bisanya aku terkecoh olehnya." kesal Arhan sembari membuka pintu. Sayangnya Aina sudah menghilang dari sana.
Arhan mengulum senyumannya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kelakuan Aina membuatnya gemas dan ingin menelan istrinya hidup-hidup.
...****************...
Malam hari, Arhan turun setelah membersihkan diri. Aina dan yang lainnya sudah duduk di meja makan. Arhan ikut bergabung dan duduk di samping istrinya.
"Bagaimana kerjaan kamu di kantor Nak? Papa dengar dari Hendru, katanya ada yang datang mengganggu ketenangan kamu." tanya Airlangga memulai percakapan.
"Astaga Hendru, kenapa mulutmu ember sekali?" batin Arhan menggerutu.
Wajah Arhan memerah karena gugup, mana mungkin dia menceritakannya di depan semua orang. Bisa-bisa perang dunia ketiga kalau Aina tau mantan istrinya mendatangi dirinya di kantor.
"Bang, kenapa bengong? Papa nanya loh," sambung Aina, dia bingung melihat diamnya Arhan.
"Ti, tidak ada apa-apa Pa. Hanya orang iseng, tidak perlu dipikirkan!" jawab Arhan terbata.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Mulai besok, suruh satpam memperketat penjagaan. Jangan biarkan orang tak dikenal masuk ke kantor, takutnya membuat masalah!" pesan Airlangga.
"Iya, Papa tenang saja. Semuanya baik-baik saja kok." jawab Arhan.
Arhan menghela nafas berat, lalu mengusap wajahnya kasar. Untung saja Airlangga tidak bertanya lebih banyak.
__ADS_1
Sedikit disayangkan, ternyata gelagat Arhan itu membuat Aina curiga. Aneh saja, tidak biasanya Arhan terlihat gugup di depan semua orang.
Selama yang dia tau, Arhan adalah sosok laki-laki yang terbuka dalam segala hal. Bahkan dia tak segan menceritakan masalah pribadinya kepada kedua orang tuanya. Aina menautkan alisnya sembari melirik Arhan dengan tatapan tajamnya.