
Karena tak ada pilihan lain lagi, Hendru terpaksa kembali menuju ranjang. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, dia bahkan tidak mau memikirkannya.
"Hendru, kamu dimana? Jangan tinggalkan aku sendiri!" pinta Nayla dengan suara bergetar, dadanya mulai terasa sesak.
"Aku di sini Nayla, aku tidak kemana-mana. Jangan takut!" sahut Hendru sembari meraba permukaan kasur.
Baru saja Hendru menempelkan bokongnya di atas kasur, tangan Nayla sudah melingkar di dadanya. Hendru bisa merasakan bagaimana lembutnya dada Nayla menyentuh punggungnya.
Dada Hendru tiba-tiba berdenyut ngilu, aliran darahnya berpacu dengan detak jantung yang berdegup semakin kencang. Bahkan hembusan nafasnya terdengar kian memburu.
"Nayla, bisakah pelukannya sedikit direnggangkan?" pinta Hendru sembari meraih tangan Nayla yang melingkar di dadanya.
Mendengar itu, Nayla pun menarik tangannya dengan cepat. Dia sadar tak seharusnya memeluk Hendru seperti itu.
"Ma, maaf, aku tidak bermaksud menyentuhmu." gumam Nayla, lalu menjaga jarak dengan Hendru.
"Nayla," panggil Hendru.
Nayla tak menyahut, dia meringkuk memeluk kakinya sendiri. Dia bukannya sengaja mendekati Hendru, tapi sejak kecil dia memang sudah takut dengan kegelapan.
"Nayla, kenapa diam saja?" tanya Hendru sembari meraba permukaan kasur.
"Hiks Hiks" Isak Nayla terdengar jelas di telinga Hendru.
"Nayla, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyuruhmu menjauh dariku." ucap Hendru, lalu merangkak naik ke kasur.
Saat tangan Hendru berhasil meraih punggung Nayla, dia pun menarik Nayla ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis! Sekarang peluk saja aku selama yang kamu mau!" ucap Hendru sembari mengusap punggung Nayla perlahan.
"Tidak perlu Hendru, lepaskan saja aku! Aku tidak apa-apa, hiks." Nayla berusaha mendorong dada Hendru, namun Hendru tidak membiarkan Nayla lepas dari pelukannya.
"Sssttt, jangan marah! Aku bersedia dipeluk olehmu selama yang kamu mau. Bahkan jika kamu mau memelukku seumur hidupmu, aku siap!" ungkap Hendru yang secara tidak langsung mengungkapkan isi hatinya.
"Hendru, apa yang kamu katakan?" tanya Nayla sembari melototkan matanya, namun Hendru tak bisa melihat itu.
Hendru membaringkan tubuhnya di permukaan kasur, lalu menarik Nayla hingga menindih sebagian tubuhnya.
"Hendru, apa yang kamu lakukan?" tanya Nayla sembari beringsut dari posisinya.
"Peluk aku Nayla, peluk aku! Biarkan aku tidur sembari memelukmu malam ini!" pinta Hendru, dia menarik pinggang Nayla hingga terjatuh di atas tubuhnya.
"Jangan Hendru, ini salah!" tolak Nayla, dia berusaha bangkit dari tubuh Hendru.
Hendru mengunci tubuh Nayla dengan erat hingga gadis itu kesulitan melepaskan diri.
"Hendru, jangan seperti ini! Kita tidak boleh tidur seperti ini!" jelas Nayla.
__ADS_1
"Kenapa Nayla? Aku tidak akan melakukan sesuatu yang menyalahi aturan, aku hanya ingin tidur sembari memelukmu!" ungkap Hendru.
"Cukup Hendru! Apa kamu sudah terbiasa seperti ini?" ketus Nayla.
"Sssttt, kenapa bicara seperti itu? Seumur-umur, baru kali ini aku bersentuhan dengan seorang wanita." jelas Hendru.
"Jangan bohong, aku tidak percaya!" ketus Nayla.
"Aku berani bersumpah demi apapun, hanya kamu wanita yang pernah bersentuhan denganku." ucap Hendru.
"Basi, semua pria pasti mengatakan itu saat bersama seorang wanita." sindir Nayla.
"Tidak Nayla, aku tidak seperti itu. Kamu saja yang selalu berpikiran buruk terhadapku." ucap Hendru.
"Sudahlah Hendru, ayo lepaskan aku!" pinta Nayla.
"Jika aku tidak mau, bagaimana?" tantang Hendru.
"Bersiap-siap saja, mau aku gigit lagi?" gertak Nayla.
"Tidak masalah, tapi aku mau request ya." pinta Hendru.
"Request apaan?" tanya Nayla.
"Aku mau digigit di bagian bibir saja, boleh kan?" goda Hendru.
"Hahahaha, kenapa marah?" tanya Hendru sembari menahan tangan Nayla.
"Sudahlah Hendru, aku sudah lelah. Ayo lepaskan aku!" pinta Nayla.
"Aku juga lelah Nayla, maka dari itu biarkan aku tidur sambil memelukmu ya!" pinta Hendru.
"Tidak mau! Kamu boleh tidur di ranjang ini, tapi tidak boleh berdekatan. Harus ada guling di tengah-tengah kita!" jawab Nayla.
"Ya sudah, kalau begitu tidur saja sendiri! Aku tidur di sofa saja,"
Hendru melepaskan pelukannya, lalu memiringkan tubuhnya hingga tubuh Nayla terguling di permukaan kasur.
"Tidurlah, kalau ada apa-apa teriak saja!" ucap Hendru.
"Hendru, jangan pergi! Aku takut sendirian," rengek Nayla.
"Pilihan ada di tanganmu! Kalau mau aku tidur di sini, maka biarkan aku memelukmu!" tawar Hendru sembari tersenyum miring, sayangnya Nayla tak bisa melihatnya.
"Ya sudah, kalau begitu pergi saja!" ketus Nayla sembari mendorong punggung Hendru.
"Kamu yakin?" tanya Hendru.
__ADS_1
"Yakin, pergilah! Untuk apa juga aku tidur dengan orang asing sepertimu?" kesal Nayla.
"Orang asing?" Hendru menautkan alisnya, sayangnya Nayla tak bisa melihat itu.
"Iya, tentu saja orang asing. Siapa lagi?" ketus Nayla.
Saking kesalnya mendengar ucapan Nayla, Hendru dengan cepat menarik pinggang gadis itu hingga tubuh keduanya kembali merapat.
Hendru mengangkat tangannya, kemudian meraba wajah Nayla, lalu bergerak menyentuh bibir gadis itu. Tanpa permisi, tiba-tiba bibir Hendru sudah menempel di permukaan bibir Nayla.
Nayla yang tak bisa melihat pergerakan Hendru tiba-tiba tertegun saat benda kenyal itu menyentuh bibirnya. Bahkan kini benda kenyal itu tengah bergerak menghisap bibirnya.
"Ahh," Teriakan Nayla membuat pagutan Hendru terlepas seketika.
"Brengsek kamu Hendru! Apa yang kamu lakukan? Kenapa mencuri ciuman pertamaku?" umpat Nayla sembari memukuli dada Hendru berulang kali.
"Ciuman pertama? Hahaha," Hendru terkekeh mendengar itu.
"Bajingan! Kenapa tertawa hah?" Nayla tak henti-hentinya memukul dada Hendru sekuat tenaganya.
"Sssttt, jangan marah! Aku saja tidak keberatan, padahal ini juga ciuman pertama aku loh." ungkap Hendru.
Mendengar itu, Nayla tiba-tiba terdiam tanpa kata, antara percaya tak percaya dengan pengakuan Hendru barusan.
"Nayla, aku menyayangimu. Bukan sehari 2 hari ini, tapi sejak pertama kali kita bertemu." ungkap Hendru dalam kegelapan yang begitu sunyi.
"Apa yang kamu katakan? Jangan bercanda Hendru, ini tidak lucu!" ketus Nayla.
"Tidak Nayla, ini serius. Untuk apa aku bercanda di usiaku sekarang? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau aku sudah tua?" ucap Hendru mengingatkan kembali saat pertama mereka bertemu.
"Kamu ingat itu?" tanya Nayla.
"Tentu saja, aku bahkan ingat saat kamu menyiksaku dengan minuman waktu itu. Perutku sampai begah loh, benar-benar konyol." ungkap Hendru.
"Hahaha, benarkah?" Tawa Nayla terdengar begitu lepas.
Hendru kembali menyentuh wajah Nayla, lalu menempelkan hidungnya di pipi gadis itu. Hembusan nafas keduanya terasa hangat menerpa wajah masing-masing.
"Aku mencintaimu Nayla, aku sungguh-sungguh. Menikahlah denganku!" pinta Hendru dengan nafas kian memburu.
Nayla tak mampu berucap, sebenarnya dia juga memiliki rasa terhadap Hendru. Hanya saja, terkadang dia merasa takut karena mengganggap perasaannya bertepuk sebelah tangan. Dia juga ragu, takut Hendru bukanlah pria yang baik.
"Hendru, apa yang kamu katakan? Jangan bermain-main dengan perasaanmu sendiri!" ucap Nayla yang kini dalam kebimbangan.
"Aku serius Nayla, tidak ada waktu lagi bagiku untuk bermain-main." tegas Hendru.
Hendru kembali mengesap bibir Nayla, kali ini sedikit lebih panas dari sebelumnya, Hendru melu*matnya penuh kelembutan.
__ADS_1
Meskipun hal ini merupakan pengalaman pertama baginya, tapi tidak sulit menaklukkan Nayla dengan permainannya. Bahkan Nayla meresponnya dan membalas luma*tannya.