
Pukul 5 sore, Arhan tiba di kediamannya bersama Hendru. Kebetulan mereka melihat Aina dan Nayla tengah duduk di dekat kolam bersama Aksa.
Setelah turun dari mobil, keduanya menghampiri para wanita mereka dengan beberapa paper bag yang ada di tangan masing-masing.
"Sore sayang, kok malah duduk di luar? Apa Aina udah baikan?" tanya Arhan, kemudian mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang.
"Udah Bang, Aina baik-baik aja kok. Abis minum teh herbal dari Mama tadi, tubuh Aina udah kembali enakan." sahut Aina sembari tersenyum kecil.
"Syukurlah kalau begitu, berarti nanti malam Aina bisa nemenin Abang kan?" tanya Arhan, kemudian duduk di sebelah Aina.
"Memangnya nanti malam Abang mau kemana?" tanya Aina sembari menautkan alisnya.
"Ada acara di perusahaan. Oh ya, ini untuk Aina, tadi Abang sama Hendru mampir dulu di butik." jelas Arhan sembari menyodorkan beberapa paper bag ke tangan Aina.
"Apa ini Bang?" tanya Aina penasaran.
"Liat aja sendiri!" sahut Arhan, kemudian mengambil Aksa dari pangkuan Aina.
Melihat Arhan yang sudah memberikan paper bag itu kepada Aina, Hendru pun memberanikan diri menghampiri Nayla.
"Nayla, ini untuk kamu! Kalau bisa, nanti malam temani aku ya!" pinta Hendru dengan wajah sedikit gugup.
"Apa ini Hendru?" tanya Nayla kebingungan.
"Bukan apa-apa, hanya hadiah kecil. Jika kamu suka, nanti malam tolong dipakai ya!" pinta Hendru sembari menaruh beberapa paper bag itu di pangkuan Nayla.
"Hendru, aku tidak bisa menerima ini. Lagian untuk apa aku ikut denganmu?" ucap Nayla menolak pemberian Hendru.
"Buang saja jika kamu tidak mau menerimanya!" Hendru menatap Nayla dengan penuh kekecewaan, kemudian meninggalkan tempat itu begitu saja.
Melihat Hendru yang begitu, Nayla menjadi tidak enak hati. Ingin sekali dia menyusul Hendru, namun dia malu terhadap Arhan dan Aina yang masih duduk di sampingnya.
"Nayla, Hendru itu berniat baik padamu. Dia ingin kamu menemaninya di acara nanti malam, dia juga ingin memperjelas hubungan kalian. Kalau kamu begini, jangan salahkan dia jika mencari wanita lain!" tekan Arhan meyakinkan Nayla.
Mendengar itu, seketika dada Nayla berdenyut nyeri. Tentu saja dia tidak mau melihat Hendru bersama wanita lain. Bagaimanapun, dia sudah terlanjur menyukai Hendru.
"Pikirkan kata-kataku dengan baik, jangan sampai kamu menyesal!" Arhan kembali meyakinkan Nayla.
"Sayang, kita masuk yuk! Abang capek banget nih," ajak Arhan sembari bangkit dari duduknya.
Arhan menggenggam tangan Aina dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain menahan tubuh Aksa yang ada di dalam dekapannya. Aina pun menenteng beberapa paper bag yang diberikan Arhan dengan sebelah tangannya.
"Nayla, kami masuk duluan ya! Jangan melamun sendirian, lebih baik bicara dulu sama Hendru!" saran Aina, kemudian mengayunkan kakinya mengikuti langkah Arhan.
Sesaat, Nayla tertegun dalam duduknya. Dia sangat mengerti apa yang dimaksud oleh Arhan dan Aina barusan.
Tidak lama, Nayla bangkit dari duduknya, kemudian menenteng paper bag pemberian Hendru tadi di tangannya.
__ADS_1
Bukannya berjalan menuju pintu utama, Nayla malah berjalan ke arah paviliun yang ditempati Hendru.
Sesampainya di depan pintu, Nayla menghentikan langkahnya sembari menghela nafas berat, lalu membuangnya kasar.
Tanpa mengetuk pintu, Nayla menyelonong masuk tanpa permisi. Di dalam sana, dia mendapati Hendru yang tengah termenung di atas kasur dengan posisi telentang.
"Hendru," panggil Nayla dengan suara bergetar.
Hendru yang tadinya tengah berpikir keras, seketika terlonjak saat mendengar suara Nayla yang begitu jelas di telinganya.
Mata Hendru terbuka lebar, lalu segera bangkit dari pembaringannya. "Nayla, apa yang kamu lakukan di sini?"
Seulas senyum terukir indah di wajah Nayla. "Maaf, apa aku mengganggu?"
"Ti, tidak, silahkan duduk!" jawab Hendru sembari menarik sebuah kursi, lalu meletakkannya di hadapan Nayla.
"Tidak usah, aku cuma sebentar. Tidak enak diliat orang," tolak Nayla dengan sopan.
"Oh begitu ya," Hendru nampak sedikit salah tingkah.
"Ada apa mencari ku?" sambung Hendru sembari menautkan alisnya.
"Terima kasih hadiahnya, nanti malam aku akan memakainya untukmu. Kalau begitu, aku pamit dulu ya!"
Setelah mengatakan itu, Nayla langsung berbalik dan melangkah menuju pintu. Wajahnya memerah sebab tak tau harus bicara apa lagi.
"Yes," Hendru nampak bahagia seperti anak kecil yang baru saja menang bermain kelereng.
"Ada apa Hendru?" tanya Nayla yang tiba-tiba berbalik dan berdiri di depan pintu, seulas senyum terukir indah di wajahnya.
"Seeeer"
Seketika, Hendru tertegun dengan ekspresi membagongkan. "Ti, tidak apa-apa Nayla, tadi ada nyamuk." kilah Hendru sembari mengibaskan tangannya.
"Hati-hati, biasanya nyamuk siang itu sangat berbahaya!" ucap Nayla sembari mengulum senyumannya.
"Ya, kamu benar. Kalau begitu, aku harus menyemprot ruangan ini agar nyamuknya pergi!" jawab Hendru gugup, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
Nayla kembali berbalik sembari menggeleng gelengkan kepalanya. Lalu meninggalkan Hendru yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar, Aina menekuk kakinya di sisi ranjang, kemudian membuka satu persatu paper bag yang ada di tangannya.
Seketika, Aina tersenyum kecil melihat semua barang yang sudah berserakan di atas kasur.
"Bang, semua ini untuk Aina?" tanya Aina dengan tatapan tak biasa.
__ADS_1
"Tentu saja sayang, untuk siapa lagi? Istri Abang kan cuma Aina seorang," jawab Arhan yang tengah sibuk membuka pakaiannya.
"Loh, kok jawabnya gitu sih Bang? Abang mau nambah istri lagi?" tanya Aina dengan tatapan sangat tajam.
"Memangnya boleh?" tanya Arhan balik, kemudian tersenyum seadanya.
"Boleh, asal Abang bersedia dibagi menjadi 2." sahut Aina sembari tersenyum sinis.
"Apanya yang mau dibagi?" tanya Arhan sembari mengulum senyumannya.
"Apa lagi? Tentu saja rudal Abang itu," ketus Aina dengan tatapan mematikan.
"Hahahaha," Tawa Arhan menggelegar memenuhi seisi kamar.
"Jangan tertawa!" ketus Aina kesal, lalu memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Cie, ada yang marah. Takut banget ya Abangnya diambil orang?" celetuk Arhan sembari melangkah menghampiri Aina dan duduk di sampingnya.
"Siapa yang takut? Kalau diambil orang, tinggal cari gantinya. Simpel kan?" jawab Aina dengan datarnya.
Mendengar itu, Arhan membuka matanya lebar, kemudian mendorong Aina hingga terbaring di atas kasur.
"Coba katakan sekali lagi!" geram Arhan dengan tatapan mematikan, rahangnya mengerat kuat saking kesalnya.
"Kenapa marah?" tanya Aina sembari menahan dada Arhan yang tengah menekan tubuhnya.
"Suami mana yang gak marah dengar istrinya ngomong begitu? Kurang apa lagi Abang selama ini?" geram Arhan yang sudah dikuasai rasa cemburu di hatinya.
"Hahaha, aneh-aneh aja Abang nih." Kini giliran Aina yang tertawa dengan lepas.
"Aneh bagaimana?" tanya Arhan sembari menautkan alisnya.
"Tentu saja aneh, giliran ngerjain Aina senangnya minta ampun. Pas dikerjain balik malah marah," ucap Aina sembari tersenyum miring.
"Ya iya lah Abang marah, Aina tuh hanya milik Abang seorang. Jangan pernah berpikir mencari pengganti Abang!" tekan Arhan mengingatkan istrinya.
"Iya, iya, Aina tau itu kok. Sudah, lepaskan Aina dulu! Tubuh Abang berat banget," keluh Aina sembari mendorong dada Arhan.
"Gak mau, posisinya udah pas. Kita main sebentar ya!" goda Arhan, kemudian mengecup bibir Aina penuh kelembutan.
"Jangan sekarang dong Bang! Katanya malam ini mau keluar," jelas Aina menolak permintaan suaminya.
"Hehehe, iya juga ya. Tapi ntar malam boleh kan?" pinta Arhan dengan tatapan menuntut.
"Boleh sayang, sekarang lepasin Aina dulu!"
Arhan mengecup kening Aina sembari tersenyum sumringah, kemudian melepaskan Aina dari kungkungannya.
__ADS_1