Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 71.


__ADS_3

Di rumah sakit, Arhan nampak gelisah sembari mondar-mandir di depan pintu. Air matanya tak henti menetes dengan mulut komat kamit memohon doa, berharap Aina baik-baik saja di dalam sana.


Sekitar 1 jam berlalu, 2 orang dokter keluar dari ruangan. Saat mendengar suara pintu bergeser, Arhan dengan cepat menghampiri keduanya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arhan kepada salah seorang dokter yang sudah berdiri di hadapannya.


"Maaf, sebaiknya Bapak menanyakan kondisi istri Bapak pada dokter Kemal saja! Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, saya tidak menemukan penyakit yang serius di tubuh istri Bapak." jawab dokter spesialis penyakit dalam itu, kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.


Dokter Kemal yang masih berdiri di hadapan Arhan tersenyum, "Istri Bapak baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"


Arhan menghela nafas berat, "Tapi kenapa istri saya mengeluh sakit di bagian perut dan pinggangnya, Dok?"


"Hal yang normal untuk calon Ibu yang tengah hamil muda." Dokter Kemal menjeda ucapannya.


"Hamil?" Mata Arhan membulat dengan mulut sedikit menganga, tubuhnya seketika bergetar saking kagetnya mendengar ucapan dokter itu.


"Ya, kandungan istri Bapak sudah memasuki usia 5 minggu. Tapi sepertinya istri Bapak mengalami tekanan yang membuatnya stres. Hal itulah yang menyebabkan perutnya kram. Jika hal ini berlarut-larut, saya khawatir janin yang ada di dalam rahim istri Bapak tidak akan bertahan lama." Dokter Kemal menjelaskan.


"Deg"


Seketika air mata Arhan jatuh berguguran, rasanya seperti mimpi yang datang di siang bolong. Kaget, cemas, bahagia, semua membaur menjadi satu.


"Sebaiknya malam ini istri Bapak dirawat dulu di sini, kita akan melihat perkembangannya menjelang besok!"


"Baik Dok, tidak masalah. Tapi janin yang ada di rahim istri saya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Arhan memastikan.


"Untuk saat ini baik, saya sudah menyuntikkan obat penguat kandungan. Berdoa saja, semoga calon anak kalian kuat di dalam sana! Sebentar lagi suster akan memindahkan istri Bapak ke ruang inap."


"Syukurlah kalau begitu, terima kasih untuk bantuannya ya, Dok." ucap Arhan sembari mengulurkan tangannya.


"Sudah kewajiban saya. Ingat, jangan membuat istri Bapak stres! Hal itu sangat berpengaruh untuk perkembangan janin yang ada di rahim istri Bapak."


"Baik Dok, saya pasti mengingat itu."

__ADS_1


Usai berjabat tangan, dokter Kemal berlalu meninggalkan Arhan sendirian.


Setelah dokter itu menghilang dari pandangannya, Arhan menekuk kakinya di kursi tunggu. Mulutnya tak henti mengucap syukur yang tak terhingga.


Air mata Arhan jatuh berderai tatkala mengingat kembali perjuangan Aina saat melahirkan Aksa. Waktu yang terbuang dengan percuma, bahkan Arhan tak sempat melihat perkembangan Aksa di dalam perut Aina kala itu.


Arhan semakin larut dalam penyesalannya, air matanya kian tak terbendung menyesali perbuatannya di masa lalu. Kini, dia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tuhan beri untuknya.


"Arhan,"


Suara Leona membuat Arhan terperanjat, lamunannya buyar seketika. Arhan mendongakkan kepalanya dengan air mata yang terus saja mengalir membasahi pipinya.


"Ma, Pa,"


Arhan segera bangkit dari duduknya, kemudian berlari kecil dan memeluk kedua orang tuanya dengan erat. Tangisannya pecah di tengah pelukan hangat Leona dan Airlangga.


"Arhan, apa yang terjadi Nak? Bagaimana keadaan Aina?" tanya Airlangga sembari mengusap punggung putranya.


Arhan tak menyahut, tenggorokannya terasa penuh hingga sulit baginya untuk berkata-kata.


Selang beberapa detik, pintu ruangan terbuka lebar. Dua orang suster nampak keluar sembari mendorong stretcher yang ditiduri Aina.


Arhan segera melepaskan pelukannya, kemudian berlari menyusul suster dan membantunya mendorong stretcher menuju ruang inap.


Hati Arhan terenyuh melihat Aina yang tengah tertidur pulas, wajahnya nampak pucat. Arhan menggenggam tangan Aina dengan erat, kemudian menciumnya dengan sayang.


Leona dan Airlangga menyusul dari belakang, keduanya saling melempar pandang sebab belum mengetahui keadaan Aina yang sebenarnya.


Sesampainya di ruang inap, Arhan mengangkat tubuh ringkih Aina dan memindahkannya ke ranjang. Arhan sengaja meminta kamar VVIP agar istrinya merasa lebih nyaman.


Setelah kedua suster itu berlalu dari pandangannya, Arhan duduk di sisi ranjang sembari menatap lekat wajah Aina, kemudian mengecup kening istrinya dengan sayang.


"Arhan, bagaimana keadaan Aina Nak?" tanya Leona yang sudah berdiri di samping ranjang.

__ADS_1


"Aina baik-baik saja kok Ma, Aina cuma butuh istirahat." sahut Arhan dengan tatapan sendu.


"Syukurlah, Mama khawatir sekali tadi. Apa kata dokter?" tanya Leona yang masih belum puas dengan jawaban putranya.


Arhan menghela nafas panjang, lalu membuangnya perlahan, kemudian mengusap perut Aina yang masih rata.


"Aina hamil Ma, Pa, kata dokter usia kandungan Aina sudah jalan 5 minggu."


"Deg"


Leona dan Airlangga terperanjat dan saling melempar pandang, kemudian tersenyum penuh kebahagiaan.


"Arhan, kamu tidak bercanda kan Nak?" tanya Leona seakan tak percaya.


"Untuk apa Arhan bercanda Ma? Ada janin yang sedang tumbuh di rahim istri Arhan, cucu kalian." jelas Arhan sembari terus mengusap perut Aina.


Mendengar itu, Leona tak kuasa menahan diri. Dia menghampiri Aina dan mengusap kepalanya, lalu mengecupnya penuh kasih sayang.


"Terima kasih Aina, kamu tidak hanya menjadi istri yang baik untuk Arhan. Tapi kamu juga sudah mengisi rumah kita dengan kebahagiaan. Apalagi yang lebih membahagiakan dari ini?" Mata Leona berkaca-kaca mengatakan itu, harapan untuk memiliki cucu lagi akhirnya terkabul.


"Arhan, tolong jaga istrimu dengan baik! Aina itu seperti berlian, kamu beruntung mendapatkan istri seperti Aina. Papa sangat bahagia Nak, sebentar lagi rumah kita akan penuh dengan suara tangisan dan tawa putra putri kalian." Airlangga tak kalah terharunya mendengar kabar kehamilan menantunya.


"Arhan tau Pa, Ma, doakan Aina ya! Semoga janin yang ada di perut Aina bisa bertahan." lirih Arhan.


"Mama dan Papa pasti mendoakan yang terbaik buat kalian dan cucu kami." sahut Leona, kemudian mengusap kepala Arhan dengan sayang.


"Makasih ya Ma, Pa," Arhan bangkit dari duduknya, kemudian memeluk Leona dan Airlangga secara bergantian.


"Mama dan Papa pulang saja ya! Biar Arhan yang di sini menemani Aina. Arhan khawatir Aksa rewel karena tak melihat kami berdua di rumah." pinta Arhan yang memikirkan keadaan putranya.


"Iya sayang, Mama tau itu. Kalau ada apa-apa, cepat kabari kami ya!" ucap Leona.


"Iya Ma," sahut Arhan.

__ADS_1


Setelah Leona dan Airlangga meninggalkan ruangan, Arhan berbaring di samping Aina yang masih terlelap. Arhan tak henti menatap wajah Aina yang begitu polos, hati Arhan terenyuh melihat keadaan istrinya seperti ini.


Arhan kembali mengusap perut Aina, sedih bercampur haru. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana bahagianya dia saat ini.


__ADS_2