
Setelah membayar belanjaan yang dia beli, Arhan meminta petugas membawakan barangnya ke mobil. Dia pun menggendong Aksa dan mendudukkannya di bangku depan.
"Arhan...," Suara seorang wanita yang sangat dikenali membuat Arhan terlonjak.
Saat menoleh ke arah sumber suara, Arhan mengerutkan keningnya. Mukanya seketika berubah masam, kenapa lagi-lagi dia harus bertemu dengan nenek lampir itu.
"Sial, kenapa aku harus bertemu dia lagi sih? Menyebalkan," gerutu Arhan dari dalam hati. Mengingat ada Aksa bersamanya, Arhan terpaksa meredam kekesalannya. Dia tidak ingin Aksa ketakutan jika dia meninggikan suara.
"Siang Arhan, kebetulan bertemu di sini? Abis belanja ya?" sapa Tasya dengan gaya genitnya. Bukannya terpesona, Arhan malah pengen muntah melihat tingkahnya.
"Maaf, aku harus pulang." Arhan menutup pintu depan, kemudian beranjak menuju pintu yang ada di samping bangku kemudi.
Tasya berlari kecil menyusul Arhan, lalu menghadang langkahnya. "Arhan, kenapa jadi kaku gini sih?"
Tasya berusaha keras menarik perhatian Arhan dengan gaya centil yang biasa dia gencarkan saat masih resmi menjadi istri Arhan dulu.
"Apa salahnya? Memangnya siapa kau?" ketus Arhan dengan tatapan tak suka. Moodnya yang tadi baik, kini berubah jelek 180 derajat.
"Arhan, jangan gitu dong! Bagaimanapun, kita pernah bersama kan?" Tasya berusaha membangkitkan ingatan Arhan akan kebersamaan mereka dulu, tujuannya sudah jelas bahwa dia ingin kembali bersama Arhan.
"Sudahlah, tidak perlu membahas cerita lama! Menyingkir lah dari hadapanku, aku mau lewat!" Arhan mengeratkan rahangnya. Jika saja yang dihadapi kali ini adalah seorang pria, mungkin kejadiannya akan berbeda.
"Arhan, tolong jangan seperti ini padaku! Aku tau aku salah, aku menyesal. Bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi? Aku janji akan berubah," ucap Tasya memohon, setetes cairan bening tumpah di sudut matanya. Entah itu air mata penyesalan atau sekedar air mata buaya.
"Tidak ada kesempatan lagi untukmu! Aku sudah bahagia bersama wanita yang bisa menghargai dan mencintaiku dengan tulus. Kau hanya masa lalu, tapi dia adalah masa depan bagiku. Wanita yang sangat aku cintai melebihi apapun di dunia ini."
Arhan mendorong lengan Tasya sehingga beranjak dari tempatnya berdiri, lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan kasar.
"Arhan..., Arhan..., Jangan pergi! Aku belum selesai bicara," Tasya mengetuk-ngetuk kaca mobil, berharap Arhan akan keluar dan memaafkan dirinya.
Arhan tak menggubris permintaan Tasya, menoleh ke arahnya pun tidak. Setelah mesin mobil menyala, Arhan dengan sigap menginjak pedal gas. Mobil mewah itu melaju kencang meninggalkan parkiran supermarket.
__ADS_1
Tasya menyeka sudut matanya dengan kasar, senyuman licik terukir jelas di bibirnya. "Kau bisa saja mengabaikan aku, tapi kau tidak akan tau apa yang bisa aku lakukan pada istrimu. Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang di atas penderitaan ku!" Tasya segera pergi sebelum sempat memasuki supermarket. Keinginan untuk berbelanja sepertinya sudah tak ada lagi.
Mobil yang dikendarai Arhan sudah terparkir di halaman rumah. Sebelum turun, Arhan membuka sabuk pengaman Aksa lalu menggendongnya.
Di luar, Aina sudah menunggu di beranda rumah. Ada Leona juga yang duduk di sebelahnya. Aina sudah tidak sabar ingin mencicipi eskrim pembelian suaminya. Lidahnya semakin terasa kecut memikirkan rasa eskrim yang pastinya sangat nikmat.
"Abang, kenapa lama sekali?" tanya Aina dengan bibir sedikit maju.
Arhan terdiam, dia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Aina. Selain bisa mengundang pertengkaran, dia tentunya memikirkan keadaan Aina yang tidak boleh banyak pikiran, apalagi stres.
"Kenapa sayang? Kangen ya sama Abang?" goda Arhan menutupi rasa bersalahnya, kemudian duduk di hadapan kedua wanita kesayangannya itu.
"Yee, siapa juga yang kangen?" Aina menatap Arhan dengan sinis.
"Oh ya, eskrim nya mana Bang?" tanya Aina ketika mengingat kembali pesanannya.
Sejak Arhan turun hingga duduk di hadapannya, Aina tak melihat Arhan membawa apapun. Hanya ada Aksa di gendongannya. Aina kembali memanyunkan bibirnya dengan wajah tertunduk lesu.
"Hahahaha..." Arhan tertawa lepas melihat wajah cemberut istrinya. Andai kata tidak ada Leona di sana, mungkin Arhan sudah melahap habis bibir Aina tanpa ampun.
"Baik Tuan," Inda melangkah ke luar dan mengambil kunci mobil yang disodorkan Arhan ke arahnya.
Tidak lama, Inda kembali menenteng 2 kantong plastik berukuran sedang. Satu diantaranya merupakan barang kebutuhan Aina dan satunya lagi berisikan eskrim yang diborong Arhan tadi.
"Ini Tuan," Inda menaruh kantong tersebut di dasar lantai. Saat hendak beranjak pergi, suara Arhan seketika membuat langkahnya terhenti.
"Tunggu sebentar Inda!" Seketika, Inda pun menahan langkahnya dan berdiri di belakang kursi yang diduduki Arhan.
Arhan menaruh Aksa di pangkuan Leona, kemudian mengangkat salah satu kantong dan menaruhnya di atas meja.
"Aina mau yang mana?" Saat Arhan mengangakan kantong tersebut, mata Aina membulat sempurna, begitupun dengan Leona.
__ADS_1
"Abang, kenapa membeli eskrim sebanyak ini?" tanya Aina sembari mengerutkan keningnya. Dia tak habis pikir kenapa suaminya membeli eskrim sebanyak itu, pikirnya satu saja belum tentu habis. Apalagi sebanyak itu.
"Ambil aja yang Aina mau, sisanya buat yang lain. Mama juga,"
"Arhan, Arhan, ada-ada aja kamu nih." seloroh Leona, kemudian tertawa melihat kelakuan putra semata wayangnya itu.
Setelah mengeluarkan beberapa eskrim, Arhan meminta Inda memasukkan beberapa ke dalam freezer, jaga-jaga kalau Aina menginginkannya lagi nanti.
"Inda, bagikan ini kepada yang lainnya! Kau juga boleh memakannya!" titah Arhan sembari menyodorkan kantong itu ke tangan Inda.
"Baik Tuan, terima kasih!"
Setelah mengambil alih kantong tersebut dari tangan Arhan, Inda berlalu meninggalkan teras, kemudian membagikannya kepada semua orang. Mulai dari sopir, tukang kebun, satpam, pokoknya semua manusia yang ada di rumah itu mendapatkan jatah masing-masing.
Aksa nampak begitu comel dengan mulut yang sudah belepotan, membuat semua orang terbahak-bahak melihat kelucuannya yang sangat menggemaskan.
"Mama ambil 2 ya, satunya buat Papa."
Setelah mengambil eskrim tersebut, Leona memilih meninggalkan teras. Dia juga ingin menikmati eskrim tersebut bersama suami tercinta. Jarang-jarang dia dibuat seperti anak kecil oleh putranya sendiri.
Kini di teras sana hanya ada Aina, Aksa dan Arhan bertiga saja. Melihat Aina yang sangat menikmati sekali eskrim pembeliannya, seulas senyum kebahagiaan tersirat di bibir Arhan.
Arhan menarik kursinya hingga bedempet dengan kursi yang diduduki Aina. Karena Aksa masih asik dengan eskrim nya, Arhan pun dengan sigap menjilati lelehan eskrim yang menempel di sudut bibir Aina.
"Abang...,"
Aina terperanjat dan dengan spontan mendorong kepala Arhan agar menjauh darinya.
"Kenapa sayang? Abang hanya membersihkan lelehan eskrim yang tertinggal di bibir Aina, salah?" keluh Arhan dengan keningnya yang mengkerut.
"Alasan, bilang aja mau nyuri kesempatan!" ketus Aina, lalu melanjutkan makannya dengan mulut komat kamit mengatai suaminya.
__ADS_1
"Hehehe, benar dua duanya sayang."
Arhan terkekeh melihat ekspresi Aina yang menggemaskan. Rasanya ingin sekali menggendong Aina dan membawanya ke ranjang. Menyuruh Aina makan eskrim secara asal agar Arhan bisa menyapu bersih sisa eskrim yang belepotan di bibir istrinya itu.