
Setibanya di dalam rumah, langkah Arhan terhenti saat mendengar obrolan Aina bersama Nayla. Cukup serius hingga membuat Arhan penasaran. Dia pun memilih berdiam diri dibalik tembok.
"Kenapa malah berdiri di sini? Katanya mau makan?" tanya Baron yang juga ikut menghentikan langkahnya.
"Sssttt... Jangan berisik!" Arhan menaruh telunjuknya di ujung bibir. Baron pun mengangkat bahunya dan memilih duduk di sofa ruang tamu.
Arhan kembali fokus membuka telinganya lebar-lebar, berharap menemukan jawaban dari obrolan kedua wanita itu.
"Jadi apa lagi yang dia lakukan padamu?" tanya Nayla penasaran, dia pun menggenggam tangan Aina erat.
"Entahlah, aku tidak sanggup mengingatnya lagi. Rasanya begitu menakutkan, dia lebih kejam dari iblis." jelas Aina dengan mata berkaca-kaca. Seumur hidup, baru kali ini dia bertemu wanita yang begitu kejam melebihi binatang.
"Kenapa tidak menceritakan semuanya pada Abang? Dia berhak tau, bagaimanapun wanita itu adalah mantan istrinya. Secara terang-terangan, kamu dijadikan korban olehnya. Ini tidak bisa dibiarkan!" ucap Nayla.
"Aku belum siap Nayla. Jika Abang tau, apakah dia akan membalas wanita itu?" tanya Aina yang masih saja memikirkan keselamatan wanita jahat itu.
"Harus dong, bila perlu bunuh aja wanita itu! Jika dia hanya menyakitimu, mungkin tidak masalah. Ingat Aina, dia juga menyakiti putrimu! Dia menendang perutmu tanpa rasa iba, bukankah jelas bahwa dia ingin membunuh anakmu?" geram Nayla.
"Deg!"
Arhan terhuyung mendengar ucapan Nayla barusan. "Menendang perut?" Arhan kembali mengulangi kata itu.
Ibarat api unggun yang hanya sekedar untuk membakar ikan, lalu disiram dengan bensin sebanyak-banyaknya. Api membesar dan menyambar sekujur tubuhnya. Begitulah panasnya dada Arhan saat ini. Marah, sangat marah hingga wajahnya memerah.
"Binatang... Tidak, tidak, binatang saja masih punya perasaan. Dia lebih pantas disebut iblis. Baiklah jika ini maunya, kita liat saja nanti!"
Arhan berusaha keras meredam amarahnya, Aina tidak boleh tau bagaimana sakitnya hati Arhan saat ini. Biarkan saja Aina menganggap Arhan tidak tau apa-apa, akan lebih baik untuk Aina. Arhan bisa bermain cantik di belakang Aina, dengan begitu Aina tidak akan terbebani dengan rencana Arhan yang ingin menghancurkan wanita itu sehancur hancurnya.
__ADS_1
"Baron, ayo masuk!" ajak Arhan, dia pun melanjutkan langkahnya dengan raut wajah santai seakan tak mendengar apa-apa barusan.
Saat mendengar derap langkah yang lumayan keras, Aina dan Nayla pun dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Sesampainya di ruang keluarga, Arhan mengambil putrinya dari pangkuan Aina lalu meletakkannya di dalam box bayi milik Aksa dulu. Karena jarak kelahiran Aksa dan adiknya tidak terlalu jauh, maka barang-barang Aksa masih bisa mereka gunakan. Semuanya masih sangat layak untuk dipakai.
"Makan yuk!" ajak Arhan, lalu menggendong Aina menuju ruang makan.
"Jangan digendong terus dong Bang! Aina bisa jalan sendiri kok. Kalau dimanjain terus, kapan Aina sembuh dan jalan lagi seperti biasanya?" keluh Aina.
"Jangan ngeyel!" ketus Arhan dengan dinginnya, Aina pun terdiam tanpa kata.
Semua orang sudah duduk di meja makan. Biasanya Aina yang mengambilkan nasi dan lauk untuk Arhan, sekarang berbalik. Kini giliran Arhan yang melayani istrinya bak seorang putri kerajaan.
"Wanita tadi mana? Kok gak ikut makan bareng kita?" tanya Baron sembari menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Inda.
"Enak aja bau, seminggu tak mandi pun akan tetap wangi." jelas Baron dengan sombongnya.
"Hueeeek... Mimpi aja terus!"
Setengah jam sudah berlalu, meja makan pun mulai kosong. Arhan kembali memindahkan Aina ke kursi roda, lalu membawa Aina dan putrinya ke lantai atas menggunakan lift untuk pertama kalinya.
Sementara Aksa sendiri memilih bermain bersama Baron di paviliun. Bocah itu mulai menanyakan hal yang membuatnya kebingungan sejak beberapa hari ini.
"Kak Bayon, Mama atit apa?" tanya Aksa dengan lugunya.
"Hah?" Baron pun mengerutkan keningnya, dia bingung harus menjawab apa. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, apa bocah itu akan mengerti?
__ADS_1
"Mama gak sakit apa-apa, Mama hanya perlu istirahat. Kan Mama baru aja ngelahirin adik Aksa," jawab Baron setelah berpikir beberapa saat.
"Dedek antik," Aksa pun tersenyum dengan lucunya.
"Iya, adik Aksa cantik banget. Makanya Aksa gak boleh nakal, Aksa harus jadi pria pemberani agar bisa jagain Mama sama adik cantik." jelas Baron sembari mengusap kepala Aksa.
"Ya," angguk Aksa seakan mengerti maksud ucapan Kak Bayonnya itu.
Puas bermain hingga paviliun berubah jadi kapal pecah, Aksa pun tertidur di atas lengan pria itu. Tidak lama, Baron pun ikut tertidur di samping Aksa.
Sebenarnya sudah sedari tadi matanya mengantuk, namun ocehan Aksa membuatnya tak bisa memejamkan mata. Beberapa hari ini dia kurang tidur sebab harus begadang menjaga Aina di rumah sakit.
Tiga hari yang lalu, mata Baron sempat menangkap kedatangan dua orang pria yang tengah berlenggak-lenggok di dalam rumah sakit. Pandangan mereka mengarah pada ruangan Aina. Hal itu tentu saja menjadi tanda tanya besar di benak Baron.
Dari gelagatnya, Baron bisa menyimpulkan bahwa kedua pria itu bukanlah orang baik. Bisa jadi preman bayaran, atau mungkin juga orang yang sama dengan yang menculik Aina tempo hari.
Saat Baron menghampiri, kedua pria itu malah menjauh dan pergi begitu saja. Karena itulah kewaspadaan Baron mendadak tinggi. Dia tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah diberikan Arhan padanya.
Di lantai atas, Arhan mengambil putrinya dan meletakkannya di dalam box, lalu memindahkan Aina ke kasur. Setelah membaringkan Aina dengan posisi yang cukup nyaman, Arhan beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi.
Arhan membuka pakaian yang dia kenakan dan hanya menyisakan segitiga pengaman saja, dia pun menyalakan shower hingga mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Sesaat, tatapan mata Arhan berubah tajam mengingat kata-kata Nayla di bawah tadi. Dia sungguh tak menyangka bahwa wanita yang pernah hadir di hidupnya itu adalah seorang psikopat.
Semakin Arhan mengingatnya, semakin panas pula jantung dan otaknya. Arhan tentu saja tak bisa tinggal diam, nyaris saja dia kehilangan anak dan istrinya ulah keberingasan wanita itu. Arhan pun berusaha keras menenangkan hatinya, sudah saatnya dia bertindak agar wanita itu mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Usai mandi dan mengenakan pakaian kasual, Arhan pun memilih berbaring di samping Aina. Sebaiknya meregangkan otot-otot sejenak sebelum kembali ke bawah menemui Baron. Sembari meluruskan kakinya, manik mata Arhan berguling liar memikirkan balasan apa yang setimpal untuk wanita itu. Tak ada lagi rasa kasian, bahkan status sebagai mantan istri pun tak lagi berharga untuk Arhan. Penjahat tetaplah penjahat, dia harus dihukum sesuai perbuatannya.
__ADS_1