
Baron kembali ke paviliun setelah mengisi perutnya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa. Kembali bayangan semalam menghantui otaknya, sungguh Inda nampak begitu seksi kala merayu dirinya.
"Aish, apa-apaan ini? Kenapa bayangan gadis itu selalu datang menghantui pikiranku?" keluh Baron sembari mengusap wajahnya berkali-kali.
Bagaimana mungkin Baron bisa memikirkan wanita itu? Apa karena semalam telinganya sudah diracuni saat mendengar de*sahan mematikan dari mulut Tasya? Tapi bukan dia yang menciptakan de*sahan itu, kenapa malah otaknya yang menjadi kacau tak menentu? Apa ini pengaruh minuman semalam?
Baron meninju udara dan menarik nafas sebanyak-banyaknya. Lalu memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Niat hati ingin meredamkan pikiran kotornya, justru ingatan itu semakin membelit di otaknya. Tanpa dia sadari, benda lunak di bawah sana menegang begitu saja.
"Aish, kau ini. Sejak kapan kau jadi liar begini?" gerutu Baron sembari menjentik kepala bazoka miliknya.
Bukannya takut, bazoka itu malah menentang dirinya. Semakin keras dan semakin menegang hingga menonjolkan urat-uratnya.
"Sial," Baron mengisi bathtub dan memilih berendam dengan air dingin. Berharap benda itu bisa dijinakkan dengan cara membuatnya kedinginan.
Di perusahaan, Arhan nampak melamun dalam pemikiran yang tidak tau kemana arahnya. Rasa penasaran dan sedikit rasa iba terbersit di benaknya saat mengingat pengakuan Baron tadi.
"Maafkan aku, tapi semua ini terjadi karena ulah mu sendiri. Jika saja kau tidak menyakiti wanita yang sangat aku cintai, kejadian ini tidak akan berlaku padamu. Inilah bayaran yang harus kau terima, respect ku padamu sudah tak ada lagi!" batin Arhan, dia pun mengusap wajahnya berkali-kali dan menghela nafas berat.
Arhan sadar, bagaimanapun Tasya pernah menjadi bagian terpenting di hidupnya. Wanita yang pernah dia cintai dan dia terima setulus hati. Tapi kenapa wanita itu berubah jadi iblis yang sangat menyeramkan? Salah Arhan dimana? Dia tidak pernah menyakiti ataupun mengkhianati Tasya saat masih menjadi istrinya, justru wanita itulah yang berkhianat padanya.
Di waktu yang bersamaan, Tasya terbangun dari tidurnya. Jangankan untuk bangun, bergerak saja rasanya begitu sulit. Tubuhnya benar-benar remuk, intinya sakit seperti dihujam beribu pedang. Manusia iblis apa yang tega menggilir tubuhnya hingga menyisakan trauma mendalam di hatinya.
Sadar dirinya berada di sebuah tempat yang gelap, Tasya berusaha kuat dan merangkak menuju pintu.
"Tolong! Ada orang kah di luar sana? Tolong aku!" teriak Tasya dengan suara yang nyaris menghilang.
Tidak ada sahutan, bahkan ruangan itu seperti tak memiliki kehidupan sama sekali. Semua orang meninggalkannya di sana sejak dini hari tadi dalam keadaan tak berdaya.
Tasya menguatkan diri untuk bisa terbebas dari tempat itu, sayangnya pintu terkunci dari luar. Bagaimana cara pergi dari sana? Manik mata Tasya berputar-putar mencari jalan keluar.
Sedikit biasan cahaya nampak dari balik rak, Tasya menghela nafas panjang dan merangkak menghampiri sumber cahaya. Sekuat tenaga dia mencoba mendorong rak itu hingga terguling di lantai, semua hancur berserakan seperti kapal pecah.
Berbekal sebuah kayu, Tasya berusaha memecahkan jendela itu hingga beling kaca berhamburan dimana-mana. Lalu berusaha keras memanjatnya dengan kaki yang bertumpu pada rak.
"Byuur!"
__ADS_1
Tubuh Tasya terjun bebas ke dalam air, ternyata bangunan itu berdiri di atas sebuah danau yang ada di tengah hutan. Dia berusaha berenang, namun tubuhnya tak kuat melakukan pergerakan.
Di rumah, Aina tengah asik bermain dengan kedua buah hatinya. Aksa duduk di sebelah Aina dan putri kecilnya masih melek di pangkuannya.
"Dede antik, ini Kak Asya." ucap Aksa memperkenalkan diri, lalu mencolek pipi adiknya.
"Hehe, bukan begitu sayang. Sini, biar Mama ajarin!" Aina meraih tangan Aksa dan meletakkannya di pipi sang putri. "Yang benar tuh gini ya, dielus biar adiknya gak keganggu." imbuh Aina sembari mempraktekkan cara mengelus pipi putrinya.
Baru saja Aksa menyentuh pipi adiknya, bayi cantik itu malah menangis dengan lantang. Membuat Aksa terperanjat dan menjauhkan tangannya dengan segera.
"Angis dede na, cup cup cup." Aksa berusaha menenangkan adiknya dengan cara menepuk-nepuk kaki sang adik yang terbalut bedong.
"Hehe, adiknya haus sayang. Sama seperti Aksa dulu," Aina membuka barisan kancing piyamanya dan segera menyusuinya.
"Dede ne*nen," celoteh Aksa dengan lugunya.
"Iya sayang, sekarang ne*nen nya buat adiknya Aksa ya." jelas Aina sembari mengusap kepala putranya.
Aksa mengangguk mengerti, lalu memilih berbaring di samping Aina. Lama Aksa menatap sang mama dan adiknya, akhirnya dia pun tertidur dengan lelap. Aina tersenyum dan kembali mengusap kepala Aksa dengan sayang.
"Woi, ngelamun aja. Apa yang kau pikirkan? Ingat, kemarin anak ayam di depan sana mati karena melamun!" seloroh Arhan dengan santainya.
"Ah, apaan sih? Pergi sana!" ketus Baron sembari mengusap wajahnya berkali-kali.
"Hahaha... Tentu aja aku akan pergi, untuk apa di sini? Mending liat istri dan anakku daripada liat muka kusut mu itu." Arhan berbalik dan mengayunkan kakinya.
"Tunggu woi! Main pergi aja," ketus Baron menahan langkah kaki Arhan.
Arhan menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ada apa?"
"Aku ingin menikah," seru Baron dengan santainya.
"Menikah?" Arhan menautkan alisnya. "Kesambet dimana kau? Sejak kapan otakmu memikirkan pernikahan?" imbuh Arhan sembari tertawa terbahak-bahak. Dia sama sekali tak percaya karena setahunya Baron tidak berminat sama sekali dengan perempuan.
"Namanya juga manusia, boleh dong pikiranku berubah? Semalam aku tak sengaja meneguk minuman sialan itu, hal itu membuat pikiranku jadi kacau. Otakku jadi kotor dan selalu membayangkan berhubungan dengan seorang wanita. Aku takut kelepasan, bantu aku dong!" pinta Baron.
Baron sebenarnya bukan tipe pria yang suka menyakiti wanita, dia sangat menghormati almarhumah ibunya sehingga dia pun sangat menghormati wanita. Tapi tidak berlaku untuk Tasya yang begitu kejam menyiksa wanita lain. Baron lebih menghormati ja*lang daripada wanita itu.
__ADS_1
"Siapa targetmu? Apa kau punya pacar?" tanya Arhan dengan wajah seriusnya.
Baron menggeleng, boro-boro pacar, teman dekat saja dia tidak punya.
"Aku menyukai seorang gadis, lamar kan dia untukku ya!" pinta Baron.
"Lamar? Sejak kapan aku jadi orang tuamu?" Arhan mengerutkan keningnya.
"Sejak hari ini, ayolah bantu aku! Jangan sampai aku memper*kosa dia karena kau tidak mau membantuku! Sehari ini saja sudah tiga kali aku berfantasi dengannya, tolonglah!" desak Baron dengan wajah memelas.
Arhan terdiam menelaah kata-kata Baron barusan. Mungkin akan lebih baik jika Arhan menurutinya, dia juga tidak ingin Baron melakukan kesalahan yang bisa mencoreng nama baiknya. Apalagi sekarang Baron sudah masuk ke dalam keluarganya.
"Baiklah, siapa wanita itu?" tanya Arhan penasaran.
"Inda," tegas Baron.
"Hah?" Arhan membulatkan matanya dengan sempurna, lama dia menganga menatap wajah Baron.
"Woi, kau kenapa?" Baron mengibaskan tangannya di depan wajah Arhan.
Arhan terperanjat dan mengusap wajahnya berkali-kali. "Apa kau yakin? Kalian bahkan belum saling mengenal satu sama lain."
"Aku tau, bukankah yang penting niatnya. Aku serius dan aku siap bertanggung jawab atas dirinya."
"Baiklah, akan ku coba bicara padanya. Tapi aku punya syarat yang harus kau setujui!"
"Syarat apa?"
"Pertama, Inda tidak akan kemana-mana setelah dia menikah. Ingat, Inda itu pelayan kesayangan putraku! Jadi dia akan tetap tinggal di rumah ini meski sudah menikah sekalipun!"
"Tidak masalah, kami bisa tinggal di paviliun ini."
"Kedua, Inda itu sudah seperti adikku sendiri. Jadi, jangan pernah sekalipun menyakitinya!"
"Tidak akan,"
"Ya sudah, aku masuk dulu!" Arhan berbalik dan segera meninggalkan paviliun. Jika memang mereka berjodoh, apa salahnya? Arhan juga tak bisa melarangnya, tapi tentu saja semua ini dia kembalikan kepada Inda.
__ADS_1