Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 126.


__ADS_3

Aina ingin menjerit dan meraung sejadi-jadinya, tapi otaknya masih berfungsi mengingat ada dua buah hatinya yang tengah terlelap di atas kasur. Aina tidak mungkin membuat keduanya terbangun dan terkejut melihat keadaannya.


Aina berlari ke kamar mandi dan menumpahkan tangisannya di sana. Dia sama sekali tak menyangka bahwa Arhan begitu tega mengkhianatinya sampai seperti ini. Apa harus berkhianat untuk membalas hukuman yang dia berikan pada suaminya itu?


Semburan air yang jatuh dari shower membuat pakaian yang dikenakan Aina mulai basah, dia terduduk sembari memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di atas lutut.


"Aku benci kamu Arhan, aku benci." lirih Aina dengan suara tertahan. Arhan tidak hanya mengkhianatinya tapi juga menghancurkan harapan kedua buah hatinya, bertiga dengan janin yang sedang dikandungnya.


Dalam ketidakberdayaannya itu, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutnya. Aina terperanjat dan memutar kepalanya beberapa derajat. Tangisannya semakin pecah saat mendapati wajah Arhan yang begitu dekat dengannya.


"Huhuhuuu..."


Arhan ingin sekali tertawa tapi tak tega juga melihat istrinya yang sudah seperti itu. Dia mematikan shower dan duduk di lantai kamar mandi lalu mendudukkan Aina di atas pangkuannya. Arhan merapikan rambut Aina dan membawanya ke dalam pelukan dadanya.


"Pergi, jangan sentuh aku lagi! Aku jijik sama pendosa sepertimu,"


Aina mendorong dada Arhan dan berusaha menjauh, namun bukan Arhan namanya kalau tidak bisa menaklukkan istrinya itu. Arhan menariknya lagi dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa nangis? Kangen ya?" seloroh Arhan yang sudah tak sanggup lagi menahan tawanya.


"Huhuhuuu..."


"Lepasin aku! Aku gak mau disentuh sama tangan kotor mu itu,"


Aina terisak hingga sesegukan, dia rasanya ingin sekali mencekik leher Arhan hingga tak sanggup lagi bernafas. Tapi kalau Arhan mati, dia pasti dipenjara lalu buah hatinya sama siapa? Hal itu membuat Aina dilema dan meraung sejadi-jadinya.


"Hust... Apaan sih? Teriak-teriak mulu kayak orang gila,"


Arhan mengangkat dagu Aina dan melu*mat bibir basah istrinya itu dengan lembut. Rasanya begitu manis hingga Arhan mulai gesit menyelami rongga mulut istrinya itu. Aina yang masih berapi-api langsung mendorongnya hingga tautan bibir mereka terlepas.


"Bajingan! Setelah melepaskan hasrat mu pada wanita lain, kini kau masih berani mencium ku. Dimana perasaanmu? Aku gak sudi lagi disentuh olehmu," bentak Aina sambil memukuli dada Arhan bertubi-tubi.


"Apaan sih? Gak capek ngomel mulu dari tadi?" ucap Arhan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


"Makanya lepasin! Aku mau nelpon Papa biar aku dan anak-anak dibawa ke sana. Aku gak mau lagi tinggal sama pengkhianat sepertimu." ketus Aina sembari melempar pandangannya ke arah lain.


"Benarkah?" Arhan malah cengengesan hingga membuat Aina semakin naik pitam. "Mana sanggup Aina berpisah dari Abang, satu malam aja udah kelimpungan apalagi sejauh itu."


"Siapa bilang gak sanggup? Selamanya juga gak papa," tantang Aina sembari membusungkan dadanya.


Tanpa Aina sadari, dadanya yang besar semakin menekan kancing piyamanya. Arhan yang melihat itu langsung tergugu sambil meneguk liurnya dengan susah payah. Sudah hampir seminggu dia menahan diri, kali ini dia tak akan bisa menahannya lagi.


Arhan menarik tengkuk Aina dan kembali melu*mat bibir istrinya itu, sementara sebelah tangannya bergerak menarik kancing piyama Aina hingga terlepas. Tangan itu mulai masuk dan meremas dada Aina yang montok berisi karena selama tiga tahun ini ASI nya tidak pernah berhenti hingga benda kenyal itu semakin menantang bagi Arhan.


Arhan membenamkan wajahnya di tengah gundukan itu dan meremasnya hingga cairan putih itu keluar dari puncaknya. Aina mencoba meronta namun tenaganya tak cukup kuat melawan tenaga suaminya.


"Bang, jangan lakuin ini sama Aina! Aina gak mau disentuh lagi sama Abang, Abang udah bermain gila dengan wanita lain, Aina gak mau berbagi." lirih Aina bercucuran air mata.


Arhan mendongak dan tersenyum melihat air muka istrinya yang begitu menyedihkan. "Bodoh, siapa yang berbagi? Siapa yang main gila? Satu ini aja gak abis-abis,"


Aina memutar manik matanya dan menatap Arhan dengan intim. "Tadi itu-"


"Tadi itu suaranya Lola, Abang sengaja nyuruh dia ngangkat telepon Aina dan ngomong seperti tadi. Abang pengen liat reaksi Aina, eh ternyata seperti orang gila gini. Makanya, lain kali gak usah sok-sokan ngusir suami! Orang udah minta maaf masih aja di hukum, gak punya perasaan. Suami sendiri digituin, kalau Abang benar-benar pergi Aina mau?" omel Arhan dengan wajah cemberut nya.


"Aah... Aah..."


Karena Aina tak kunjung melepasnya, Arhan pun menggelitik pinggang Aina hingga istrinya itu menggeliat geli dan melepaskan gigitannya.


"Aduh, Aina ini kucing betina ya. Main gigit-gigit aja. Sakit tau, aah."


Arhan menjulurkan lidahnya dan melihat ada bercak darah yang keluar dari ujung lidahnya.


"Bukan kucing betina, tapi harimau betina yang siap menggigit Abang kapanpun Aina mau."


"Aukh..."


Aina melebarkan mulutnya dan mengangkat kedua tangannya seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.

__ADS_1


Saat Aina bangkit dari duduknya, Arhan dengan cepat menahan ujung celana Aina hingga melorot ke bawah. Aina membulatkan matanya penuh kemarahan, sementara Arhan langsung berdiri dan mendorongnya hingga tersandar di dinding.


"Jangan macam-macam Bang! Aina masih marah loh," ketus Aina membelalakkan matanya.


"Marah aja, emang Abang pikirin!"


Arhan menurunkan karet celananya hingga tongkat pusaka miliknya keluar dari sarangnya. Segera Arhan membalikkan tubuh Aina dan menekan punggungnya agar sedikit menunduk.


"Jleb!"


Hitungan detik, benda pusaka itu langsung menerobos masuk. Jeritan Aina menggema merasakan perih saat Arhan memasuki intinya yang masih kering tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu.


"Aaaaaaaa... Sakit Abang,"


Arhan tak peduli karena tubuhnya sudah tak kuat lagi menahan gejolak hasrat yang sudah seminggu dia tahan. Arhan mulai menggerakkan pinggulnya dengan posisi sedikit membungkuk. Kedua tangannya berpegang pada gundukan kenyal istrinya dan meremasnya.


Aina mulai mende*sah, sakitnya berganti dengan nikmat tiada tara. Semakin cepat Arhan menekannya semakin tersengal pula nafas Aina dibuatnya.


"Abang... Aughhhh... Aughhhh..."


De*sahan Aina membuat Arhan semakin menggila, gempurannya semakin kuat hingga Aina tak bisa berhenti mengeluarkan suaranya.


Puas dengan posisi itu, Arhan membalikkan tubuh Aina hingga keduanya saling berhadapan. Arhan mengangkat sebelah kaki Aina dan kembali menggempur inti istrinya itu.


"Aughhhh... Aughhhh..."


Aina mencengkram lengah Arhan dengan kuat, sementara sebelah tangannya berpegang pada sisi wastafel. Arhan benar-benar membuatnya lemah dengan kaki yang mulai bergetar hebat.


Bosan dengan posisi itu, Arhan kembali membawa Aina duduk. Arhan meluruskan kakinya dan bersandar pada permukaan dinding lalu menuntun Aina duduk di atasnya.


Aina mulai mengayunkan pinggulnya sembari mengalungkan tangannya di tengkuk Arhan. Bibir keduanya kembali menyatu dan saling melu*mat, Arhan sampai meringis menahan perih di ujung lidahnya saat lidah mereka saling membelit.


Hampir satu jam berjibaku, Arhan pun merebahkan Aina di lantai dengan perlahan, lalu menekuk kedua kaki Aina dan menggempur inti istrinya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Aughhhh... Ya... Abang... Aahhhh..."


Seiring de*sahan dan jeritan Aina yang sudah sampai pada puncaknya, Arhan pun mengerang dengan dahsyatnya. Suara keduanya menyatu memenuhi seisi kamar mandi.


__ADS_2