
Usai membersihkan diri di kamar mandi, Arhan keluar dan berbaring di samping Aina. Keduanya nampak begitu kelelahan, bahkan mata Aina sudah tak bisa dibuka lagi.
"Sayang, apa sebaiknya kita makan dulu? Abang sudah lapar banget nih," tanya Arhan sembari mengusap perutnya yang sudah keroncongan.
"Minta petugas mengantarkan makanan ke kamar aja Bang! Aina ngantuk banget nih," gumam Aina dengan mata yang sudah tertutup rapat.
"Lalu bagaimana dengan mereka? Mereka bertiga pasti juga lapar kan?" tanya Arhan lagi.
"Minta juga petugas mengantarkan makanan ke kamar Nayla! Aina tidur sebentar ya!"
Dalam hitungan detik, Aina sudah tak lagi bersuara. Dia masuk ke alam mimpinya dalam waktu yang cukup singkat, bahkan Arhan masih sempatnya bicara sendiri seperti orang gila.
"Astaga sayang, tega banget ninggalin Abang sendirian. Abang kan gak biasa makan tanpa Aina." Arhan memanyunkan bibirnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Hhhh, Hufftt," Arhan menghela nafas berat, lalu membuangnya kasar.
Mengingat perutnya yang sudah tak bisa dikondisikan, Arhan akhirnya keluar dari kamar. Sesuai saran Aina tadi, Arhan pun meminta petugas menyiapkan makan malam dan memintanya mengantar ke kamar mereka dan juga kamar Nayla.
Sekitar pukul 8 malam, 2 orang pelayan resort datang membawakan 2 buah nampan besar. Di atasnya ada beberapa makanan seafood lengkap dengan minumannya.
"Malam Tuan, maaf mengganggu istirahatnya. Kami datang membawakan pesanan Tuan," ucap seorang pelayan dari depan pintu.
"Masuk saja, tarok di atas meja ya!" sahut Arhan yang tengah duduk di atas ranjang.
"Oh ya, untuk kamar nomor 3 jangan lupa sekalian ya!" pinta Arhan.
"Baik Tuan, semua sudah diatur sesuai permintaan Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu!"
Setelah kedua pelayan itu menghilang dari pandangannya, Arhan bergegas membangunkan Aina. Dia tidak mau istrinya tidur dengan perut yang masih kosong.
"Sayang, ayo bangun! Makanannya sudah datang, temani Abang makan dulu ya!" pinta Arhan sembari menepuk pipi Aina pelan.
"Hmmm, Abang duluan aja! Nanti Aina menyusul," gumam Aina dengan mata yang masih terpejam.
"Loh, kok nyuruh Abang makan sendirian sih? Barengan aja!" ajak Arhan.
"Tapi Aina masih ngantuk Bang," sahut Aina dengan suara seraknya.
"Bangun dulu makanya, biar Abang suapin! Aina tega ya liat Abang makan sendirian, Aina gak sayang lagi sama Abang?" keluh Arhan dengan wajah cemberut nya.
Mendengar itu, Aina pun dengan cepat membuka matanya. Meskipun berat, namun dia berusaha keras menahan rasa kantuknya.
"Kok ngomongnya gitu sih Bang? Siapa bilang Aina gak sayang sama Abang?" sahut Aina sembari memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Nah gitu dong, itu baru namanya istri Abang. Sini, biar Abang gendong!"
Seulas senyum terukir indah di wajah Aina, dia pun merentangkan tangannya. Saat Arhan menggendongnya, Aina pun melingkarkan tangannya di leher Arhan.
Setelah keduanya duduk di sofa, Aina tak mau melepaskan tangannya yang masih melingkar di leher suaminya.
"Sayang, tangannya dilepas dulu dong! Kalau begini, gimana cara Abang nyuapin Aina?" pinta Arhan, dia mulai gemas melihat tingkah istrinya yang sangat manja.
"Tapi Aina masih pengen meluk Abang," sahut Aina dengan suaranya yang sangat menggoda.
"Kalau gitu peluknya di pinggang aja ya!" saran Arhan, agar dia bisa leluasa menggerakkan tangannya.
Aina mengangguk kecil, lalu menurunkan tangannya hingga pinggang suaminya. Arhan pun mengecup kening Aina dengan sayang, kemudian mulai menyuapi istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar lain, Hendru baru saja terbangun saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar. Dia bangkit dari kasur, lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Malam Tuan, maaf mengganggu waktu istirahatnya. Tuan Arhan meminta kami mengantarkan makanan ini untuk kalian." ucap seorang pelayan sembari memegang sebuah nampan di tangannya. Ada pelayan lain juga di sebelahnya.
"Oh iya, tarok saja di dalam! Apa Arhan sudah kembali?" tanya Hendru dengan wajah bantalnya.
"Sudah Tuan, Tuan Arhan dan istrinya sedang makan malam di kamar mereka." jawab pelayan itu.
Hendru kembali melangkah menuju ranjang, lalu mengusap kepala Nayla yang masih tertidur pulas.
"Nayla, ayo bangun! Sudah waktunya makan malam," ajak Hendru layaknya seorang suami.
Nayla yang merasakan sentuhan tangan Hendru segera membuka matanya, sesaat dia tergugu melihat Hendru yang sangat dekat dengan dirinya.
"He, Hendru, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Nayla dengan mata melotot tajam, dia bergegas bangkit dari pembaringannya.
"Loh, kok nanyanya begitu? Bukankah sejak siang tadi aku di sini?" jawab Hendru sembari menautkan alisnya.
"Hah, sejak siang tadi?" Nayla tertegun dengan bibir sedikit menganga.
"Wajahnya biasa aja Nayla! Kok kesannya jadi dramatis gini sih? Apa kamu gak suka liat aku di sini?" tanya Hendru dengan wajah cemberut nya.
"Ti, tidak, bukan begitu Hendru. Aku tidak enak aja kalau Aina melihat kita di dalam kamar seperti ini. Apa mereka sudah kembali?" tanya Nayla ingin tau.
"Sudah, sepertinya mereka juga sudah tau kalau aku ketiduran di sini. Arhan meminta pelayan mengirimkan makan malam untuk kita," sahut Hendru, kemudian memajukan bibirnya ke arah meja.
"Astaga Hendru, apa tadi kita tidur di ranjang yang sama?" tanya Nayla penasaran.
__ADS_1
"Iya, memangnya kenapa?" jawab Hendru dengan pertanyaan pula.
Mendengar itu, Nayla pun mengetok jidatnya sendiri dengan keras. Membuat Hendru bingung dan bergegas meraih tangan gadis itu.
"Hei, apa yang kamu lakukan Nayla? Sakit itu," ucap Hendru yang nampak semakin kebingungan, dia pun menggenggam tangan Nayla erat.
"Aku rasanya ingin mati aja Hendru, malu tau. Pasti mereka berdua memikirkan yang tidak-tidak tentang kita!" keluh Nayla dengan pipi merah merona.
"Hust, ngomong apaan sih? Mati, mati," Hendru merungut kesal.
"Tidak usah memikirkan itu, lebih baik kita makan, ayo bangunlah! Atau mau aku gendong?" goda Hendru.
"Ja, jangan, aku jalan sendiri aja!" Nayla bergegas bangkit dari kasur, lalu berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Sementara menunggu Nayla keluar dari kamar mandi, Hendru pun berbaring di samping Aksa yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Hei, ponakan Om udah bangun ya?" sapa Hendru sembari mencubit pipi gembul Aksa.
"Om, ndon." pinta Aksa yang bermaksud meminta gendong, kemudian merentangkan tangannya lebar.
Hendru menautkan alisnya. "Aksa mau gendong? Hahaha, ayo sini!"
Hendru terkekeh dengan sendirinya, agak sulit baginya menerjemahkan ucapan Aksa yang masih sepotong-sepotong.
Hendru merentangkan tangannya, kemudian mengangkat tubuh mungil Aksa dan membawanya duduk di sofa.
"Om, Ma ma, Pa pa?" ucap Aksa yang bermaksud menanyakan kedua orang tuanya.
"Mama sama Papa di kamar sebelah. Nanti Om antar ke sana, sekarang Aksa mamam dulu sama Om dan Aunty Nayla ya!" bujuk Hendru.
"Ya," Aksa menganggukkan kepalanya sembari menatap makanan yang sudah terhidang di atas meja.
"Au Om, ni." tunjuk Aksa pada ikan goreng yang ada di atas nampan.
"Aksa mau makan sama ikan?" tanya Hendru.
"Ya," jawab Aksa kegirangan.
"Ok baiklah, Aksa duduk sendirian dulu ya, biar Om ambilkan!"
Hendru menaruh Aksa di sebelahnya, kemudian mengambil nasi dan lauk yang ditunjuk Aksa tadi. Dia pun menyuapkan jagoan kecil itu dengan tangannya.
Tidak lama, Nayla keluar dari kamar mandi dan bergabung bersama mereka. Ketiganya nampak seperti satu keluarga yang utuh karena Aksa sendiri sudah seperti anak bagi Nayla dan Hendru.
__ADS_1