
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Bahkan tahun pun ikut berganti. Hari ini tepat 1 tahun pernikahan mereka.
Setahun terakhir hubungan keduanya semakin kuat dan erat, tidak ada yang namanya pertengkaran diantara mereka. Jika ada pun, hanya masalah sepele yang biasa dihadapi pasangan suami istri pada umumnya.
"Sayang, apa Aina sudah siap?" tanya Arhan sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Sebentar lagi Bang, tinggal pakaian Aksa aja kok. Tapi lepaskan dulu pelukan Abang ini, Aina tidak bisa bergerak kalau tangan Abang melingkar begini di perut Aina!" jawab Aina.
Mendengar itu, Arhan melepaskan pelukannya. Kemudian duduk di sisi ranjang mematut wajah Aina yang tengah sibuk memasukkan pakaian Aksa ke dalam koper.
Jauh-jauh hari, Arhan sudah mengatur rencana untuk membawa keluarga kecilnya pergi berlibur. Berhubung Aksa sudah bisa dibawa-bawa, Arhan pun merencanakan liburan kali ini ke kota NTB.
Sebenarnya Arhan ingin sekali memboyong semua keluarganya. Tapi karena Airlangga tidak bisa meninggalkan perusahaan, Arhan terpaksa mengurungkan niatnya.
Liburan kali ini, Arhan membawa Hendru dan Nayla bersama mereka. Beberapa bulan terakhir, Nayla tinggal di rumah Airlangga dan membantu Aina mengurus Aksa. Sementara Aina sendiri sering bolak balik kantor menemani suaminya.
"Huft, akhirnya kelar juga." ucap Aina sembari mematut 3 koper yang sudah berjejer rapi di dasar lantai.
"Aina duluan saja, biar Abang yang bawa kopernya turun!" ucap Arhan.
"Loh, mana bisa Abang bawa 3 koper sekaligus? Biar Aina bantuin 1 ya!" sahut Aina, lalu menarik koper Aksa yang tidak terlalu besar dan berjalan menuju pintu.
"Tunggu sebentar sayang!" tahan Arhan, membuat langkah Aina terhenti seketika.
"Apa lagi Bang? Tadi disuruh buru-buru," keluh Aina sembari berbalik, lalu menautkan alisnya mematut wajah Arhan yang tengah tersenyum dengan lebar.
Arhan menghampiri Aina yang tengah berdiri di depan pintu, lalu memeluk istrinya dengan erat. Kerutan di kening Aina pun semakin nampak jelas, dia bingung melihat tingkah Arhan yang tiba-tiba aneh.
"Apa yang terjadi Bang? Kenapa memeluk Aina seperti ini?" tanya Aina dengan suara lembutnya, lalu melepaskan genggamannya dari gagang koper dan membalas pelukan suaminya.
"Tidak apa-apa, Abang hanya ingin memeluk Aina sejenak. Rasanya begitu nyaman," sahut Arhan, dia menghela nafas dan mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Abang ih, bikin Aina kaget aja. Aina pikir ada apa?" ucap Aina, lalu mencubit punggung suaminya geram.
"Au, jangan dicubit sayang! Sakit tau," keluh Arhan, lalu terkekeh dengan sendirinya.
"Abang sih, kenapa suka sekali membuat Aina jantungan? Jika Aina terkena serangan jantung beneran bagaimana? Senang Abang? Biar Abang bebas di luar sana, lirik sana lirik sini, cel...,"
Belum selesai Aina mengoceh, Arhan sudah membekap mulut istrinya dengan bibirnya. Mengesap nya, lalu melu*matnya hingga dalam. Deru nafas keduanya terdengar jelas dari balik pintu.
Puas mencicipi bibir ranum istrinya, Arhan pun melepaskan pagutan nya. "Jangan ngomong begitu lagi, Abang tidak suka!"
"Kan Abang yang duluan?" jawab Aina sembari memanyunkan bibirnya.
"Iya, tapi gak sampai gitu juga ngomongnya. Bicara yang baik-baik emangnya gak bisa? Siapa juga yang ingin melihat istrinya terkena serangan jantung? Jangan bodoh gitu, udah emak-emak juga!" gerutu Arhan dengan wajah kesalnya, lalu mencubit pipi Aina.
"Iya, maaf kalau Aina salah." Aina menekuk wajahnya, kemudian mendorong dada Arhan. Dia berbalik dan kembali menggenggam gagang koper milik Aksa.
Melihat wajah istrinya yang begitu, Arhan kembali memeluk Aina dari belakang.
"Jangan marah dong sayang, Abang tidak bermaksud memarahi Aina. Abang hanya kesal mendengar ocehan Aina tadi, mana mungkin Abang sanggup kehilangan Aina. Aina tuh ibarat jantung bagi Abang. Kalau Aina tidak ada, Abang bisa mati." jelas Arhan dengan pelukannya yang kian erat.
"Jangan mati dulu, Aina masih ingin bersama Abang!" gumam Aina yang sangat takut kehilangan suaminya.
"Bodoh ih, siapa juga yang ingin mati sekarang? Jika Abang boleh meminta, Abang ingin hidup seribu tahun lagi bersama Aina." ucap Arhan, kemudian mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang.
"Mulai lagi deh gombalannya," keluh Aina, lalu terkekeh dengan sendirinya.
"Apa salahnya gombalin istri sendiri? Yang salah tuh gombalin istri orang, bisa dipancung kepala Abang sama suaminya." Arhan pun ikut terkekeh mengatakan itu.
"Bisa aja Abang ih, coba aja kalau Abang berani! Bukan suaminya, tapi Aina sendiri yang akan memotong kejantanan Abang sampai habis." ancam Aina dengan tatapan membunuhnya.
"Hahahaha, coba aja! Bukankah Aina sendiri yang akan rugi?" jawab Arhan sembari terkekeh.
__ADS_1
"Gak apa-apa rugi, asalkan Abang gak bisa lagi menikmati kepuasan duniawi. Kalau Aina mah gampang, tinggal cari yang baru. Hahahaha," Tawa Aina terdengar lepas, membuat dada Arhan memanas.
Arhan melepaskan pelukannya, tatapannya sangat tajam menilik wajah Aina yang masih terkekeh di hadapannya.
"Mau berdebat di sini terus atau jalan sekarang?" geram Arhan dengan mata elangnya. Jika dilanjutkan, perdebatan itu tidak akan ada habisnya.
"Jalan dong, berdebatnya dilanjutkan nanti saja setelah kita kembali!" Aina menepuk pipi Arhan pelan, seulas senyum terpahat indah di wajahnya. Dia berbalik dan melenggang meninggalkan Arhan yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Astaga Aina. Jika tidak memikirkan bahwa kita akan pergi, sudah Abang telan Aina hidup-hidup. Bikin emosi aja!" batin Arhan memendam kekesalannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di bawah sana, semua orang sudah menunggu di halaman depan. Koper Hendru dan Nayla pun sudah tersusun di bagasi mobil. Saat Arhan turun menarik 2 koper di tangannya, Hendru pun bergegas membantunya.
"Ma, kami pergi dulu ya. Mama hati-hati di rumah! Bersenang-senanglah karena kalian hanya tinggal berdua saja layaknya pengantin baru!" celetuk Arhan sembari memeluk Leona.
"Apaan sih Nak? Bikin malu aja tau," keluh Leona sembari mencubit pinggang Arhan saking geramnya.
"Hahahaha, sakit Ma. Arhan cuma bercanda kok. Diajakin gak mau," ucap Arhan.
"Bukannya gak mau, tapi mana mungkin Mama tega meninggalkan Papa sendirian? Kalian pergi aja, bersenang-senanglah di sana!" pungkas Leona.
"Ma, Aina pamit dulu ya." Aina memeluk Leona dengan erat, kemudian menyalami dan mencium punggung tangan mama mertuanya.
"Iya sayang, kamu hati-hati ya. Jaga suamimu dengan baik, Mama takut penyakit lamanya kambuh lagi." sindir Leona.
"Mama tenang aja! Selama ada Aina, jangan harap Abang bisa bergerak! Bila perlu Aina pasung biar gak bisa kemana-mana." canda Aina, kemudian terkekeh dan mencibir suaminya.
"Astaga, Mama sama Istri sama aja kelakuannya. Dasar kejam!" umpat Arhan penuh kekesalan.
Setelah semuanya berpamitan, mobil yang dikendarai sopir pribadi Leona itu pun mulai melaju dan menghilang dari pandangan Leona.
__ADS_1
Sebelumnya Hendru sudah memesan jet pribadi yang akan mengantar mereka ke kota NTB, tepatnya di Sumbawa. Target mereka kali ini adalah pulau moyo. Semuanya sudah diatur oleh Hendru sebaik mungkin.
Sesampainya di bandara, Pak Anang ikut turun dan membantu membawakan koper mereka. Setelah semuanya masuk ke dalam pesawat, Pak Anang melambaikan tangannya, lalu meninggalkan bandara dan kembali ke kediaman Airlangga.