
Pagi ini hanya ada Nayla dan Lola saja di dapur, keduanya nampak sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang.
Setelah semua makanan terhidang di atas meja, Nayla kembali ke kamar untuk bersih-bersih sekaligus membangunkan Inara dan memandikannya.
Nayla keluar dari kamarnya, langkahnya terhenti saat matanya menangkap keberadaan Aina dan Arhan yang tengah berjalan memasuki lift bersama Aksa dan Avika.
Nayla mendengus kesal. Hatinya mendongkol melihat suami istri yang terlihat adem ayem itu, bahkan rambut keduanya masih basah.
Apa yang terjadi semalam? Kalau mereka bisa tidur di kamar yang sama, lalu kemana suaminya? Dia pikir Arhan dan Hendru masih harus menjalani hukuman dari mereka, tapi kenapa justru suaminya saja yang tidak ada.
Nayla menggembungkan pipinya dengan bibir mengerucut. Awas saja kalau Aina berani bermain curang padanya, dia tidak akan memaafkannya begitu saja.
Arhan sudah duduk di kursinya, begitu juga dengan Aina dan kedua buah hati mereka. Tidak lama, Nayla menyusul dan duduk memangku putrinya.
"Dasar tukang bohong! Katanya kedua pria itu harus dihukum, baru satu malam aja rambut kalian udah basah." gerutu Nayla dengan air mukanya yang masam.
Aina terperanjat mendengar omelan Nayla yang nampak begitu kesal padanya. Dia menjadi tidak enak hati, padahal dia juga tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini.
"Nayla, aku gak bohong. Aku emang menghukum suamiku sesuai kesepakatan kita kemarin, entah kenapa pagi ini dia bisa muncul di kamar?" jelas Aina.
"Alasan aja, kalau gak kuat tidur sendirian jangan sok-sokan mau menghukum suami! Satu bulan apanya, satu malam aja udah gak tahan." omel Nayla dengan mulut yang dipenuhi makanan.
Arhan yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak, perutnya sampai sakit saking tak kuat menahan geli yang menggelitik.
"Abang jangan ketawa, gak ada yang lucu!" ketus Nayla dengan tatapan mematikan.
"Apanya yang gak lucu? Suamimu aja yang bodoh, diusir istri malah pergi beneran. Aku mah ogah," Arhan terus saja tertawa tanpa henti.
__ADS_1
"Abang, jangan gitu ih! Ayo hubungi Hendru, suruh dia pulang sekarang! Lagian Abang juga sih, udah benar nginap di apartemen masih aja pulang ke rumah." gerutu Aina yang merasa tidak enak hati pada Nayla.
"Kalian berdua sama aja, gak bisa dipercaya. Awas aja kalau suamiku sampai merajuk, kalian lah yang harus bertanggung jawab!"
Nayla meninggalkan meja makan dan duduk di gazebo depan rumah. Tidak lama, sebuah mobil sedan masuk ke dalam gerbang. Nayla segera berdiri dan menyusul suaminya yang baru saja turun dari mobil.
Hendru sengaja tidak mempedulikan istrinya, tatapannya mengarah pada Inara yang berada di gendongan Nayla. Hendru pun mengambil alih putrinya dan berjalan memasuki rumah. Biar saja Nayla merasa tidak diacuhkan, biar tau rasa pikir Hendru.
"Brengsek kau Arhan. Kenapa meninggalkan aku di apartemen sendirian?" geram Hendru dengan tatapan penuh kemarahan.
"Salah sendiri, yang menyuruhmu tidur siapa? Aku mana bisa tidur tanpa istriku, makanya aku pulang." jawab Arhan dengan enteng.
Hendru menarik kursi dan duduk sembari memangku Inara. Kemarahannya semakin menjadi hingga melampiaskannya pada makanan yang masih terhidang di atas meja.
Nayla menyusul masuk dan duduk di samping Hendru, kemudian mengambil Inara agar suaminya lebih leluasa menyantap makanannya.
Nayla hanya tertegun melihat semua orang meninggalkan meja makan. Bagaimana dengan dirinya yang saat ini masih didiamkan oleh suaminya. Nayla semakin mendongkol, tau begini dia tidak akan mau mengikuti permintaan Aina.
"Nayla, susul suamimu ke kamar! Inara biar sama aku aja," seru Aina yang tau persis bagaimana perasaan Nayla saat ini. Dia juga tidak ingin Nayla sedih hanya karena masalah sepele seperti ini.
"Gara-gara kamu nih, Hendru jadi marah sama aku." Nayla mendekati Aina dan memberikan putrinya pada sahabatnya itu.
"Tinggal rayu aja, beri servis yang memuaskan. Kelar deh urusan," ucap Aina sembari tertawa kecil.
"Ngomong sih gampang, dia kalau lagi marah nafsunya jadi meningkat sepuluh kali lipat. Mati aku dibanting sama dia," ketus Nayla kesal.
"Yang penting kan enak, hahaha..."
__ADS_1
Aina malah tertawa seakan tak berdosa sedikitpun. Nayla mendengus kesal dan berlalu meninggalkan mereka.
Arhan yang tadinya diam dan hanya mendengar, kini mulai bersuara. "Abang juga mau dong mendapatkan servis yang memuaskan,"
Aina menautkan alisnya dengan bibir mengerucut. "Apaan sih? Emang selama ini servis Aina gak memuaskan? Udah jungkir balik masih aja gak puas,"
"Puas sayang, siapa bilang gak puas? Maksudnya Abang mau lagi, hehe..." Arhan terkekeh melihat air muka Aina yang menggemaskan.
"Terus tiga tuyul ini mau dibuang kemana?" geram Aina dengan tatapan membunuhnya.
Arhan mendengus kesal, seketika air mukanya berubah gelap. Nasib punya anak banyak, pergerakannya jadi tidak bebas saat ingin berduaan dengan istrinya.
"Sayang, kita cari baby sister aja yuk! Aksa mah enak bisa main sendiri dan udah mau tidur di kamarnya, tapi Avika-"
"Gak mau, Aina mau ngurusin mereka dengan tangan Aina sendiri. Kesempatan ini gak datang dua kali loh Bang, nanti kalau mereka udah besar baru tau gimana rasanya berjauhan. Apalagi kalau mereka sudah menikah, pasti kita akan ditinggal." lirih Aina dengan mata berkaca.
Arhan langsung terdiam dan membawa Aina ke dalam dekapan dadanya. "Jangan sedih dong sayang! Abang kan cuma ngasih saran, kalau Aina gak mau juga gak papa. Abang hanya ingin memiliki waktu lebih banyak bersama Aina."
"Sekarang bukan Aina aja yang butuh Abang, mereka juga butuh. Apalagi Avika, ingat cinta pertama anak perempuan itu adalah Papanya."
Arhan kembali terdiam menelaah kata-kata Aina barusan. Dia juga tau tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan juga ayah dari kedua buah hatinya, bahkan sebentar lagi akan menjadi tiga dengan janin yang sedang tumbuh di rahim Aina.
Terkadang Arhan seperti sedang bermimpi ketika melihat tumbuh kembang Aksa dan Avika. Dia tak pernah menyangka hidupnya akan berubah seperti ini. Aina benar-benar menjadikan hidupnya lebih berarti.
Arhan yang pernah kecewa dan merusak hidupnya, kini terjebak ulah perbuatannya sendiri. Beruntung wanita itu adalah Aina, wanita yang mampu menyempurnakan hidupnya, memberinya kebahagiaan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya, menuntun dirinya menjadi pria yang lebih baik dan berguna untuk keluarganya.
Kini beban itu sudah ada di pundaknya. Dia tidak hanya menjadi kepala keluarga untuk istri dan anak-anaknya, tapi dia juga mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga di kediamannya.
__ADS_1