Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 91.


__ADS_3

Suasana pagi ini menjadi pengalaman berbeda bagi Hendru. Dia sendiri yang membantu mengelap tubuh istrinya, menggantikan pakaian dan juga menyuapkan makanan ke mulut Nayla.


"Udah Mas, Nayla udah kenyang!" tolak Nayla yang tak mau lagi membuka mulutnya.


"Nanggung sayang, ini tinggal beberapa suap lagi." ucap Hendru sembari menyodorkan sendok ke mulut Nayla.


"Gak mau, Nayla udah kenyang. Kalau dipaksain, Nayla bisa muntah lagi." sahut Nayla sembari membuang wajahnya.


"Ya udah, biar Mas aja yang ngabisin!" Hendru pun menghabiskan makanan itu dengan segera, mubazir jika dibuang.


"Mas, kita ke ruangan Aina yuk! Nayla ingin melihat keadaannya," ajak Nayla yang sedari tadi sudah tak sabar ingin bertemu Aina.


"Iya, tunggu sebentar ya!" Hendru menaruh piring kotor di atas meja, lalu mengambil kursi roda yang terletak di sudut ruangan.


Setelah memindahkan Nayla ke kursi roda, Hendru pun mendorongnya menuju ruangan Aina. Namun saat melewati ruangan bayi, mata Nayla tak sengaja menangkap keberadaan seorang bayi kecil dari balik jendela kaca.


Bayi yang sangat kecil dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Malang sekali, bayi sekecil itu harus menahan sakit untuk bisa bertahan hidup.


"Mas, berhenti sebentar!" seru Nayla.


"Kenapa sayang?" tanya Hendru menghentikan langkahnya.


"Liat itu! Apa itu bayinya Aina?" tanya Nayla sembari menunjuk inkubator yang ada di dalam ruangan.


Hendru mengarahkan pandangannya pada arah telunjuk Nayla, sejenak keduanya bergeming menatap bayi itu dengan rasa iba.


"Malang sekali, bayi yang gak berdosa harus menanggung kekejaman dunia. Apa orang-orang itu tidak punya hati?" ucap Nayla, seketika cairan bening mengalir di sudut matanya.


"Menyedihkan emang, semoga aja bayi Aina bisa bertahan. Kasihan Aina jika harus kehilangan anaknya." imbuh Hendru yang ikut terenyuh melihat kondisi bayi itu.


"Putri Mas, bayi itu perempuan. Nayla dan Aina sudah melihat wajahnya saat melakukan USG kemaren, sangat cantik." lirih Nayla yang masih tak menyangka dengan kejadian ini. Begitu mendadak hingga membuatnya sangat terpukul.


"Putri?" Hendru mengerutkan keningnya.


"Iya Mas, putri yang sangat cantik."

__ADS_1


Puas memandangi putri cantik itu, Hendru kembali melanjutkan langkahnya mendorong kursi roda yang diduduki Nayla. Hingga pada saat kakinya tiba di depan pintu ruangan Aina, Hendru kembali menghentikan langkahnya.


Mata Hendru mengarah pada seorang pria yang tengah melangkah ke arahnya. "Baron...???"


"Hai, Hendru?" sapa Baron, lalu menepuk pundak Hendru dengan kasar.


Seorang pria berperawakan tinggi besar dengan otot yang terlukis jelas dibalik kaos yang dia kenakan. Manik mata berwarna biru dengan rahang terpahat sempurna membuat tampilannya terlihat sangat sangar. Nayla pun mencengkram lengan Hendru dengan kuat saking takutnya melihat pria itu, mengingatkannya pada wajah penjahat yang menyerangnya kemaren.


"Mas, pergi yuk! Nayla takut," ajak Nayla dengan suara bergetar.


Hendru membungkukkan tubuhnya. "Jangan takut! Ini Baron, teman lama Mas dan juga Arhan. Dia orang baik, tapi bisa juga jahat sesuai situasi dan kondisi." jelas Hendru.


"Dia mirip dengan penjahat kemaren, dia pasti ingin mencelakai Aina." tuding Nayla, mungkin kejadian itu sudah membuatnya trauma.


Seketika, tawa Baron menggelegar setelah mendengar tuduhan Nayla barusan. Lucu saja baginya mendengar seseorang mencurigai dirinya di depan mata kepalanya sendiri.


"Hahahaha...,"


"Apa wanita ini istrimu?" tanya Baron setelah menghentikan tawanya.


"Hmm...," Baron menatap Nayla dengan intens. "Lumayan lah, tapi tetap saja Ibuku yang paling cantik." seloroh Baron sembari tertawa terbahak-bahak.


"Kau ini ya, apa hidupmu masih gitu-gitu aja? Sepertinya gak ada yang berubah," tebak Hendru.


"Siapa bilang? Hidupku bahkan sudah seperti seekor kadal. Sekarang berubah jadi satria baja hitam, besok berubah jadi jiban, besoknya lagi jadi power rangers." seloroh Baron, lalu tertawa terbahak-bahak dan diikuti oleh Hendru.


Meski wajahnya terlihat sangar, tapi hati Baron sangat lembut seperti hello kitty. Hanya orang-orang terdekat saja yang mengetahuinya, sementara orang-orang yang tidak mengenalnya akan menganggapnya seperti seekor macan liar yang sangat buas dan haus darah.


"Sudah, sudah! Pegal kakiku lama-lama berdiri di sini. Ayo, masuk!" ajak Hendru.


Hendru mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah itu membukanya dan mendorong kursi roda yang diduduki oleh Nayla.


"Pagi Bos, liat siapa yang datang!" seru Hendru sembari menghampiri ranjang yang ditiduri Aina.


Arhan memutar lehernya beberapa derajat, matanya membulat sempurna saat menangkap kedatangan tiga orang manusia yang sudah berada di hadapannya.

__ADS_1


"Baron???" gumam Arhan.


Tanpa berpikir, Arhan segera mendekat dan meninju dada Baron yang menonjolkan otot-ototnya. Kemudian merangkul Baron melepaskan kerinduannya.


"Cukup Arhan! Cepat lepaskan aku!"


Baron mendorong Arhan hingga pelukannya terlepas. Baron pun menggeliat geli setelahnya.


"Ih, apa-apaan kau ini. Kau sudah merusak kesucian ku!" seloroh Baron sembari mengelap bajunya seakan sisa-sisa dosa itu masih menempel di tubuhnya.


"Kesucian otakmu!" umpat Arhan, lalu melayangkan tinjunya di perut Baron.


"Hahahaha...,"


Tawa tiga orang pria itu menggelegar memenuhi seisi ruangan. Namun tidak dengan Nayla yang masih saja was-was dengan Baron, bahkan untuk melihat wajahnya saja Nayla tidak berani.


"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Baron, puas tertawa membuatnya cukup lelah. Kini wajahnya kembali terlihat serius.


"Seperti yang kau lihat. Dokter memberinya obat penenang agar bisa istirahat dengan nyaman. Tubuhnya masih lemah, detak jantungnya pun belum stabil. Butuh waktu beberapa hari untuk memulihkan keadaannya." jelas Arhan dengan setitik air mata yang mengalir di sudut matanya.


Sakit rasanya melihat Aina seperti ini. Wanita yang dia cintai setulus hati dan dia jaga dengan sepenuh jiwa, tak sekalipun dia berani menyakiti Aina. Jangankan menyentil, berbicara kasar saja dia tidak pernah. Kini malah orang lain yang begitu tega melukainya.


"Kau harus kuat demi istrimu! Jika kau lemah, siapa yang akan menyemangati dia?" ucap Baron sembari menepuk pundak Arhan.


"Makasih, kalau begitu duduklah dulu! Aku akan memesan minuman untuk kalian." Arhan mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah aplikasi.


"Wiski ya!" seloroh Baron sembari melenggang menuju sofa.


"Wiski kepalamu, kau tidak sadar berada di mana sekarang." ketus Arhan dengan tatapan mematikan.


"Bercanda, gitu aja marah. Nanti cepat tua," seloroh Baron lagi dengan senyuman pelitnya.


Sementara Baron dan Arhan sudah duduk di sofa, Hendru masih setia berdiri di belakang Nayla yang masih ingin duduk di samping Aina.


Nayla tak bisa berkata apa-apa saat menyaksikan tubuh ringkih Aina yang terbaring lemah tak berdaya. Bibirnya terasa kelu, bayangan kemaren kembali membuatnya takut. Kejadian yang terjadi hanya dalam sekejap mata, namun menyisakan trauma yang mendalam di hatinya. Cairan bening itu pun tumpah begitu saja, sementara tangannya masih setia menggenggam tangan Aina dengan erat.

__ADS_1


Aina yang selalu ada saat dia rapuh, Aina lah yang selalu menghibur dan menguatkan dirinya dikala sedih. Aina juga yang mengubah hidupnya hingga menemukan pria terbaik yang kini sudah menjadi suaminya. Suami yang sangat menyayanginya dan mampu memberikan secercah kebahagiaan dalam hidupnya.


__ADS_2