Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 76.


__ADS_3

Hari demi hari berjalan dengan damai dan indah. Kini kehamilan Aina sudah memasuki usia 3 bulan. Melewati tri semester pertama, Aina nampak semakin cantik dan semok, berat badannya meningkat drastis karena nafsu makannya mulai bertambah.


Dia juga sudah jarang mengalami mual, hanya saja keinginannya terkadang membuat Arhan kebingungan. Untung saja Arhan bisa menyikapi perubahan sikap istrinya dengan sabar. Arhan tau mood Aina bisa berubah kapan saja.


Pagi ini bertepatan dengan hari libur, semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah membicarakan pernikahan Hendru dan Nayla yang tinggal beberapa hari lagi. Tidak dengan Nayla yang tengah berada di kamar bersama Aksa.


Layaknya calon pengantin pada umumnya, Nayla mulai dipingit. Leona tak membiarkannya keluar dari rumah, begitupun dengan Hendru yang tak diizinkan masuk ke rumah utama untuk sementara waktu.


"Ma, apa persiapan pernikahan Nayla sudah selesai?" tanya Aina penasaran, beberapa hari ini dia jarang turun dan berkumpul dengan yang lainnya. Arhan pun tak menjelaskan begitu detail padanya.


"Kamu tenang saja, sayang! Biarkan ini menjadi tugas Mama, kamu tinggal duduk manis menjaga cucu Mama!" jawab Leona, dia tidak ingin Aina ikut andil untuk hal satu ini. Kesehatan Aina dan calon cucu keduanya lebih penting untuk saat ini.


"Iya Ma, Aina hanya ingin tau perkembangannya." Aina tersenyum dengan tubuh yang tersandar di lengan Arhan, Arhan pun memeluk pinggang Aina.


"Tuh, Aina dengar kan apa kata Mama? Jadi, jangan kepo lagi!"


Arhan tertawa melihat sikap keingintahuan istrinya, yang lain ikut tertawa setelahnya. Keadaan rumah menjadi begitu damai dengan gelak tawa yang menggelegar memenuhi ruang tengah.


Persiapan pernikahan sudah berjalan sekitar 80 ℅, baju pengantin yang akan dikenakan Nayla di hari H nanti juga sudah selesai dirancang, tinggal menunggu desainer langganan Leona mengantarnya ke rumah.


Awalnya, Leona ingin merayakan hari bahagia itu dengan pesta besar nan meriah. Dia ingin Arhan dan Hendru merasakan hal yang sama karena Hendru merupakan putra kedua baginya.


Namun Nayla menolak keinginan Leona itu, dia merasa tak pantas diperlakukan begitu istimewa. Mendapat kasih sayang yang berlimpah dari keluarga Arhan saja sudah membuatnya begitu bahagia.


Kini dia bisa merasakan nikmatnya memiliki keluarga yang utuh, sama halnya dengan yang dirasakan Aina saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu.


Meski persahabatan kedua wanita cantik itu belum terlalu lama, tapi nasib membuat mereka saling menyayangi layaknya kakak dan adik. Kerja di tempat yang sama, berbagi keluh kesah bersama membuat ikatan keduanya semakin erat. Apalagi sekarang Nayla sudah menjadi bagian dari keluarga Airlangga.


Siang hari, Nayla keluar dengan Aksa yang berada di gendongannya. Jagoan kecil itu semakin aktif dan lincah. Saat mendapati mama dan papanya yang masih bercengkrama di ruang tengah, dia melompat turun dan berlari mengejarnya.

__ADS_1


"Mama Ina," seloroh Aksa begitu manja, sangat menggemaskan sehingga semua orang tertawa melihat tingkahnya.


Aksa bergelayut manja di tengah paha sang mama, melingkarkan tangannya di pinggang Aina. Sepertinya dia ingin sekali di gendong oleh Aina.


"Sayangnya Mama udah selesai main ya?" Aina menekuk punggungnya agak sedikit menunduk, memeluk Aksa penuh sayang dan mencium putranya berulang kali. Obat dari sakit dan lelah yang tak ada batasannya.


"Kok cuma Mama aja yang dipeluk? Papa cemburu nih, Aksa gak sayang lagi ya sama Papa?" celetuk Arhan menggoda putranya, dia sengaja memanyunkan bibir seolah tengah bersedih di depan Aksa.


"Papa Aan," Aksa melepaskan pelukannya dari pinggang Aina, kemudian memanjat Arhan layaknya sebuah pohon. Seketika, mata Arhan memerah saat kaki mungil Aksa menekan bagian sensitifnya.


"Hahaha...," Arhan tertawa terpingkal melihat kelakuan Aksa, lalu mengangkatnya dan mendudukkannya di atas kedua pahanya.


Arhan merengkuh tubuh Aksa hingga menghilang di dalam dekapannya, kecupan sayang berlabuh di pipi gembul jagoan tampan itu.


"Papa Aan, Asya au estim." seloroh Aksa mengungkapkan keinginannya.


"Kenapa liatin Nayla seperti itu Bang?" tanya Aina yang tak sengaja memperhatikan arah bola mata suaminya.


"Gak papa sayang, Abang curiga kalau ini hasutan dari Aunty Nayla. Benar kan, Nak?" Setelah menatap Nayla, Arhan kembali fokus menatap Aksa.


"Ya," Aksa mengangguk kecil, semua orang tertawa melihatnya.


"Maaf Bang, tadi Aksa gak mau keluar dari kamar. Aksa juga bilang gak mau makan, jadi terpaksa Nayla bujuk dengan eskrim." jelas Nayla dengan wajah tertunduk, dia merasa tidak enak hati melihat tatapan Arhan yang tak biasa.


"Ya sudah, nanti Opa belikan eskrim untuk Aksa. Tapi sebelum itu, Aksa makan dulu ya!" Airlangga menengahi suasana yang mulai sedikit tegang agar kembali mencair.


Arhan terdiam. Kalau sudah Airlangga yang berbicara, dia tak bisa menentang lagi. Kedua orang tuanya memang selalu memanjakan Aksa dan mengikuti kemauan cucu mereka, maklum cucu pertama.


"Baiklah, tapi Aksa gak boleh sering-sering ya minta eskrim. Nanti gigi Aksa rusak,"

__ADS_1


"Ya," Aksa kembali mengangguk dengan lucunya.


Dikarenakan jam makan siang sudah tiba, satu persatu dari mereka mulai bangkit dan berpindah ke meja makan. Kebetulan menu kali ini sudah terhidang di atas meja.


Usai makan siang berlangsung, Arhan kembali bersuara. Kali ini dia sendiri yang akan pergi ke supermarket, kebetulan susu ibu hamil untuk Aina juga sudah habis. Di pikiran Arhan, Aina dan calon anak keduanya harus sehat dan terpenuhi nutrisinya.


"Abang keluar sebentar ya," pamit Arhan kepada Aina, lalu mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang.


"Bang, Aina mau eskrim juga ya." pinta Aina memelas, entah kenapa lidahnya mulai terasa kecut. Dia juga ingin memakan eskrim seperti keinginan Aksa.


"Ok, Aina mau berapa?" tanya Arhan mengikuti kemauan istrinya.


"Satu aja cukup," sahut Aina.


"Ok, Aina tunggu di sini ya. Jangan ke mana-mana, apalagi naik tangga sendirian!" pesan Arhan mengingatkan Aina agar tidak banyak bergerak, Arhan tidak mau hal buruk terjadi pada kedua orang tersayangnya. Meskipun anak keduanya belum lahir, tapi Arhan sudah bisa merasakan kehadirannya.


Usai berpamitan, Arhan menggendong Aksa menuju halaman rumah dan masuk ke dalam mobil. Aksa duduk di sebelahnya dengan tubuh yang dikunci dengan sabuk pengaman.


"Aksa duduk yang bagus ya, jangan nakal!" seru Arhan sembari mengusap rambut Aksa.


"Ya," Aksa mengangguk kecil pertanda dia menuruti kata-kata sang papa.


Arhan memutar kunci mobil. Setelah mobil itu menyala, Arhan melajukan nya meninggalkan pekarangan rumah dan menyusuri jalan raya.


Tidak jauh, hanya beberapa menit saja mobil Arhan sudah terparkir di depan supermarket. Arhan turun dan menggendong Aksa di dadanya.


Setibanya di dalam, Arhan menarik stroller dan mendudukkan Aksa di dalamnya. Keduanya berputar-putar menyisir setiap rak yang tersusun dengan rapi.


Setelah stroller tersebut penuh, Arhan mendorongnya menuju box eskrim. Tidak hanya membeli satu atau dua eskrim saja, Arhan memborong nya dan memilih beberapa rasa. Kali ini suasana hatinya sedang sangat baik, jadi semua yang ada di rumah akan mendapatkan jatahnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2