Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 81.


__ADS_3

Di kamar yang berbeda, Nayla baru saja keluar dari kamar mandi. Membuka pintu perlahan agar Hendru tak menyadari kedatangan dirinya, berharap Hendru sudah terlelap hingga tak meracau lagi di hadapannya.


Benar saja, ternyata Hendru sudah terbaring di atas ranjang dengan sedikit dengkuran yang keluar dari mulutnya. Puff, Nayla menghela nafas lega sambil mengurut dada. Dia pikir malam ini akan terbebas dari Hendru, risih menggunakan baju haram tersebut.


"Baju sialan, lihatlah ini!Memperlihatkan semua bagian tubuhku yang selama ini ku tutupi dari semua orang. Aku akan menggantimu, jangan harap aku akan memakai mu lagi setelah ini!" batin Nayla yang kini masih dalam balutan pakaian haram yang dihadiahkan Aina untuknya. Beruntung Hendru sudah terlelap, jadi dia tak perlu memakainya sepanjang malam.


Nayla bergegas membuka pintu lemari dan mencari piyama berlengan panjang. Tanpa dia sadari, ternyata Hendru sudah berdiri di belakang menikmati pemandangan indah di depan matanya.


Kulit putih mulus dengan lekukan indah bak gitar Spanyol. Bokong yang lumayan berisi dengan tungkai kaki yang ramping. Ah, itu saja sudah membuat Hendru mati kepanasan. Bagaimana jika melihat bagian depan Nayla, entahlah. Seketika otaknya mendadak bergeser dari jalur yang ada.


Setelah mendapatkan piyama yang dia cari, Nayla menutup pintu lemari. Saat ingin mengganti pakaian dan berbalik,


"Aaaaaaaaa...," Teriakan Nayla menggelegar saking terkejutnya mendapati Hendru yang tengah memperhatikannya dengan tatapan mesum, bahkan piyama yang ada di tangannya terlepas begitu saja.


Seulas senyum terurai jelas di wajah Hendru. Kali ini dia berhasil mengelabui Nayla dan kini pun dia sudah berhasil menekan tubuh Nayla hingga tersandar di daun pintu.


"Hendru, apa yang kamu lakukan?" gumam Nayla gelagapan, rasanya ingin mati berdiri menatap bola mata Hendru yang tajam, namun tampak genit.


"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Hendru cengengesan.


"Bukan apa-apa, bisakah melepaskan aku sebentar saja? Aku ingin mengganti pakaian," pinta Nayla sembari menunjuk piyama yang tergeletak di dasar lantai.


"Kenapa harus diganti? Begini lebih baik, atau mau aku bilangin sama Aina kalau kamu tidak menghargai hadiah darinya?" gertak Hendru yang kini semakin mendekat. Hawa mulai terasa panas, gerah, dahaga pun menyiksa.


"Jangan Hendru! Kan udah aku pakai. Aku gak nyaman aja dengan pakaian ini, boleh aku ganti ya?" lirih Nayla sembari menekuk wajahnya. Gugup, takut, cemas, panas, dingin, semua membaur jadi satu.


"Tapi aku suka melihat pakaian ini melekat di tubuhmu, cantik dan seksi." goda Hendru sembari tersenyum kecil, malah kini bibirnya sudah semakin dekat dan siap melahap bibir ranum Nayla yang berwarna merah delima.


"Deg!"


Sungguh situasi yang sangat menyudutkan, tangan Nayla sampai berkeringat seiring detak jantung yang bergemuruh tak tentu arah. Bahkan mulutnya tak sanggup lagi untuk berkata-kata.


"Kenapa wajahnya jadi tegang begini? Apa kamu mendadak amnesia dan melupakan aku begitu saja? Aku ini suamimu Nayla, bukan orang asing." jelas Hendru mengingatkan Nayla.


"Maaf, tapi-"


Belum juga selesai bicara, Hendru sudah menarik tengkuk Nayla dan mengecup bibir ranum istrinya penuh kelembutan. Perlahan kecupan itu berubah jadi luma*tan, pelan tapi pasti. Hingga Hendru pun dengan leluasa membelit lidah Nayla.


"Aahh...," Satu de*sahan berhasil lolos dari mulut Nayla, membuat Hendru terpancing untuk segera menjelajahi tubuh istrinya yang sedari tadi sudah membuatnya tak karuan.


"Siapa aku?" tanya Hendru dengan deru nafas yang kian memburu.


"Hendru," sahut Nayla.

__ADS_1


"Hendru itu siapa?" tanya Hendru lagi.


"Suamiku," sahut Nayla.


"Suami siapa?" tanya Hendru lagi.


"Suami Nayla," sahut Nayla.


"Bagus! Jadi kesimpulannya apa?" tanya Hendru.


"Aku istrimu dan kamu suamiku," jawab Nayla.


"Pintar! Kesimpulannya adalah, kamu milikku dan-" Hendru sengaja menghentikan ucapannya agar Nayla meneruskannya.


"Aku milikmu," sambung Nayla.


Hendru tersenyum sumringah, kemudian mengesap bibir Nayla lagi dengan membabi buta. Tak ada celah sekecil apapun yang dia lewatkan.


Sudah seminggu Hendru tersiksa menahan kerinduan yang begitu menyiksa, mana mungkin setelah mendapatkan lalu membiarkannya begitu saja. Bagaimanapun dia adalah pria normal yang butuh kehangatan dari istri yang baru saja dipersunting olehnya.


Tanpa bertanya, Hendru segera mengangkat tubuh Nayla. Membaringkannya di atas kasur yang masih di penuhi bunga mawar berwarna merah. Sinar redup dari cahaya lilin menjadikan suasana malam semakin romantis.


Perlahan, Hendru mulai naik menindih tubuh ramping istrinya. Nayla hanya diam sembari menatap mata Hendru tanpa kedip.


"Suamiku," jawab Nayla.


Hendru kembali tersenyum, seakan setiap pertanyaan yang dia lontarkan sudah menghipnotis Nayla hingga tak ada kata lain yang terucap dari mulut Nayla selain jawaban dari pertanyaan Hendru.


"Bolehkan aku memilikimu malam ini?" tanya Hendru meminta izin. Meski sebenarnya tidak perlu, namun Hendru sangat menghargai istrinya. Tidak ingin memaksa apalagi menyakiti, bagaimanapun Nayla adalah calon ibu untuk anaknya kelak.


Tak ada sahutan dari mulut Nayla, namun anggukan kepalanya membuat Hendru sudah tau jawabannya.


Dalam pikiran yang sudah campur aduk, Hendru mendekati bibir ranum Nayla, melu*matnya dengan rakus lalu melilitkan lidahnya. Masuk semakin dalam menyusuri rongga mulut Nayla hingga dada pun terasa sesak.


Tidak hanya Hendru, kini Nayla ikut melu*mat bibir suaminya. Tak ada canggung apalagi keraguan. Memang sudah selayaknya seperti ini kan? Berbagi kehangatan memulai bahtera rumah tangga impian, berharap hanya ada kebahagiaan yang menyelimuti kehidupan baru mereka.


Hendru semakin tak karuan saat merasakan ada pergerakan di tengah pahanya. Benda lunak itu mengeras begitu saja, membuat aliran darahnya berpacu keras dengan detak jantung yang berdegup semakin kencang.


Kini bibir Hendru sudah turun menjilati tengkuk Nayla, memberikan sedikit gigitan kecil hingga meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.


Semakin turun, semakin panas pula suhu udara di kamar itu. Bahkan dinginnya AC sudah tak lagi berharga.


Perlahan tangan Hendru bergerak menurunkan tali lingerie yang dikenakan Nayla, menatap dua gunung kembar yang masih tertutup separuhnya.

__ADS_1


Ah, perasaan macam apa ini?


Segera Hendru mengeluarkan benda kenyal itu dan melahapnya bergantian. Sementara lidahnya bermain di bagian satunya, yang lain tak luput dari penguasaan tangannya.


"Aahh...," Kembali de*sahan manja keluar dari mulut Nayla. Rasanya seperti melayang di udara.


Puas menguasai dada Nayla yang padat berisi, Hendru pun menarik lingerie itu ke bawah. Seketika matanya membulat menyaksikan gundukan tanah yang menonjol di bawah sana.


Ah, sungguh pemandangan indah yang tak pernah terlihat sebelumnya.


Dengan segera Hendru melucuti pakaiannya hingga tak bersisa, begitupun dengan Nayla yang sudah polos seperti bayi yang baru dilahirkan.


Hendru sudah tak tahan lagi, segera dia menjilati liang hangat milik istrinya. Memainkan dengan lidah, menggigit kecil dan menghisapnya tanpa ampun.


"Aahh... Hendru," Nayla menggeliat sembari menggigit bibirnya, meremas rambut Hendru lalu menekan kepala suaminya itu.


"Hendru... Aahh," Jeritan kecil yang membuat Hendru semakin menggila.


Tubuh Nayla mengejang, bergetar hingga sekujur raganya. Ada rasa yang entah saat menikmati pencapaiannya.


Melihat istrinya yang sudah basah, Hendru bangkit dan kembali mengesap bibir Nayla. Menggesekkan tiang surganya pada permukaan liang surga istrinya.


"Hendru..."


Ingin sekali Nayla meminta untuk segera menuntaskan olahraga ini secepatnya, namun bibir tak mampu berucap. Yang ada hanya rasa malu yang sudah hinggap di ubun-ubun.


"Kalau sakit bilang ya!" Hendru mengarahkan tiang berurat itu pada sarangnya.


"Ah... Pelan-pelan Hendru, sakit!" rintih Nayla dengan setetes air mata yang mengalir di sudut matanya.


Kembali Hendru mengesap bibir Nayla sambil terus menekan inti istrinya, terlalu sempit hingga mengalami sedikit kesulitan saat menerobos masuk ke dalamnya.


Hingga pada hentakan ketiga, Nayla menjerit dan menggigit bibir Hendru tanpa disengaja.


"Jleb!"


Penyatuan pun dimulai, de*sahan demi de*sahan menggema seiring ayunan yang dilayangkan Hendru tanpa henti.


"Aahh... Hendru," Rasa sakit sirna, berganti nikmat tiada tara.


"Aku mencintaimu Nayla," Hendru semakin gencar menekan inti Nayla tanpa ampun. Bahkan keringat jagung mengalir begitu saja.


Setengah jam berlalu, Hendru akhirnya tumbang di samping Nayla.

__ADS_1


__ADS_2