Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 55.


__ADS_3

Kini Arhan dan Aina sudah bergabung bersama Nayla dan Hendru. Kebetulan sekali ikan yang ada di atas panggangan sudah matang. Mereka berempat duduk di bangku masing-masing. Rintik hujan pun mulai berjatuhan menemani kebersamaan mereka.


Arhan sengaja memanasi kedua insan itu, dia menciptakan kehangatan bersama istrinya. Tidak hanya saling suap-suapan, Arhan bahkan membawa Aina duduk di pangkuannya. Seakan Nayla dan Hendru tak ada diantara mereka.


"Sayang, suapin Abang dong!" pinta Arhan sembari memeluk pinggang Aina dengan erat.


"Bang, jangan begini dong! Abang gak malu sama Nayla dan Hendru?" ucap Aina dengan pipinya yang merona.


"Untuk apa malu sayang? Kita kan suami istri, halal mau ngapain aja kan?" jawab Arhan dengan santainya, kemudian mengecup lengan Aina dengan lembut.


"Hahahaha, iya juga ya. Kenapa musti malu? Kalau begitu buka mulut Abang!" ucap Aina, lalu menyuapkan makanan ke mulut Arhan.


Arhan semakin mengencangkan pelukannya, satu piring makanan dia habiskan melalui suapan tangan Aina. Dia bahkan tak malu mengesap bibir Aina di hadapan kedua insan manusia itu.


"Astaga, manusia macam apa ini? Tak punya perasaan sedikitpun. Apa dia tak malu melakukan ini di depan jomblo sepertiku?" batin Hendru menggerutu, dia benar-benar kesal melihat kehangatan yang diciptakan Arhan bersama Aina.


"Aina, apa suamimu sudah gila? Aku malu melihatnya," batin Nayla sembari memalingkan wajahnya, dia tak sanggup melihat itu.


Setelah makanan di piring mereka ludes tak bersisa, Nayla bergegas bangkit dari duduknya, kemudian membereskan piring kotor. Hendru pun tak sungkan membantunya.


Sementara itu, Arhan dan Aina tak beranjak dari duduknya. Keduanya masih saling memeluk karena cuaca pun seakan mendukung mereka untuk saling berbagi kehangatan.


"Sayang, masuk yuk! Cuaca di sini dingin sekali, tubuh Abang mulai menggigil nih. Sepertinya Abang menginginkan kehangatan dari Aina." ucap Arhan dengan suara begitu lantang, dia sengaja agar kedua insan itu mendengarnya.


"Deg Deg"


Seketika tatapan Nayla dan Hendru saling bertemu, keduanya nampak canggung mendengar ucapan Arhan barusan.


"Dasar cabul! Benar-benar tak tau malu," batin Hendru dengan wajah memerah, seketika pikirannya melayang entah kemana.


"Dasar gila! Kenapa harus mengatakan hal seperti itu di sini?" batin Nayla, dia mulai kelimpungan setelah mendengar itu.


Melihat Nayla dan Hendru yang begitu, Arhan pun mengencangkan pelukannya. Dia bangkit dan membopong tubuh Aina menuju pintu.


"Hendru, Nayla, malam ini jangan ganggu kami ya! Cuaca sepertinya sangat mendukung, kalian kembalilah ke kamar!" ucap Arhan dengan senyuman liciknya, kemudian mendorong pintu dan menghilang dari pandangan kedua insan itu.


Hendru menghela nafas berat, begitupun dengan Nayla. Keduanya tidak hanya kesal, namun hati mereka benar-benar panas melihat kelakuan Arhan yang tak tau tempat seperti tadi.


"Nayla, tinggalkan saja semua ini! Nanti ada petugas yang datang membereskan semuanya." ucap Hendru dengan tatapan tak biasa.


"Ok, baiklah." jawab Nayla.

__ADS_1


"Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar!" ajak Hendru sembari mengulurkan sebelah tangannya.


Melihat itu, Nayla tiba-tiba terpaku. Mana berani dia memegang tangan Hendru, apalagi mengingat kejadian sebelumnya yang membuat keduanya selalu saja salah paham.


"Ayo, kenapa bengong?" Suara Hendru tiba-tiba membuyarkan lamunan Nayla.


"I, iya, jalan saja! Aku menyusul di belakang." sahut Nayla terbata, kemudian melangkahkan kakinya.


Sadar akan kegelisahan di wajah Nayla, Hendru pun menarik tangannya kembali. Keduanya berjalan beringin tanpa bicara sepatah katapun.


Sesampainya di pintu kamar Nayla, keduanya saling menatap untuk sesaat. Bibir mereka sama-sama kelu, bahkan untuk berucap satu kata saja rasanya begitu sulit.


"A, aku...," Tiba-tiba ucapan keduanya bertabrakan.


"Duluan saja!" pinta Hendru dengan wajah sedikit pucat.


"A, aku masuk dulu! Makasih ya," ucap Nayla dengan sekilas senyum.


"Ya, masuk saja!" jawab Hendru, namun dia masih enggan beranjak dari tempatnya berdiri.


Nayla mendorong pintu. Saat hendak menutupnya kembali, Hendru tiba-tiba menahan pintu tersebut dengan kakinya. Hal itu membuat Nayla terkejut dengan mata melotot tajam.


"Ada apa Hendru?" tanya Nayla sembari menautkan alisnya.


Setelah Nayla menutup pintu, Hendru menghela nafas berat, kemudian mengayunkan kakinya meninggalkan tempat itu.


"Akhh...,"


Baru beberapa langkah berjalan, Hendru dikejutkan dengan teriakan Nayla. Dia berbalik dan bergegas menghampiri pintu.


"Nayla, apa yang terjadi?" teriak Hendru dari luar sana.


"Hendru, aku takut. Lampunya mati," teriak Nayla dari dalam sana, tubuhnya tiba-tiba berguncang hebat.


"Jangan takut Nayla! Berjalanlah perlahan, buka pintunya!" teriak Hendru menenangkan Nayla.


"Aku tidak bisa Hendru, ini gelap sekali. Kemana aku harus berjalan?" teriak Nayla, air matanya mulai mengalir saking takutnya.


"Kalau begitu tetaplah di sana, jangan bergerak! Aku akan mendobrak pintunya,"


Saking cemasnya memikirkan keadaan Nayla di dalam sana, Hendru pun terpaksa mengambil resiko. Tidak masalah jika pintunya rusak, tinggal bayar biaya perbaikan saja atau bayar biaya ganti rugi.

__ADS_1


"Braaak"


Dalam dobrakan ke 3, pintu itu akhirnya terbuka. Lewat pantulan cahaya dari luar sana, Nayla bisa melihat jelas tubuh kekar Hendru yang sudah berdiri di depan pintu.


Tanpa berpikir, Nayla pun berlari mendekati Hendru, lalu memeluknya erat.


"Hiks Hiks"


"Hendru, aku takut." isak Nayla dengan tubuh bergetar hebat, Hendru bahkan bisa merasakan guncangan menerpa tubuhnya.


"Tidak perlu takut, aku di sini!" Hendru membalas pelukan Nayla, kemudian mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya.


"Sreeeet"


Hendru melepaskan pelukannya saat mendengar suara pintu bergeser. Saat menoleh ke belakang, ruangan itu tiba-tiba menjadi gelap gulita. Pintu sudah tertutup rapat, sepertinya ada yang sengaja mengerjai mereka.


"Hendru, jangan pergi! Aku benar-benar takut," pinta Nayla, dia kembali memeluk Hendru tanpa ragu sedikitpun.


"Sssttt, aku di sini. Tidak ada yang perlu ditakutkan!"


Dalam keadaan saling berpelukan, Hendru berusaha melangkahkan kakinya menuju pintu. Benar saja apa yang ada di pikirannya, pintu itu tak bisa dibuka sama sekali. Ada yang sengaja mengunci mereka di dalam kegelapan seperti ini.


"Pintunya dikunci dari luar, pasti ini ulah si Arhan brengsek itu." umpat Hendru yang langsung saja mencurigai bos nya.


"Lalu bagaimana dengan kita?" gumam Nayla yang masih bergelayut di tubuh Hendru.


"Bagaimana lagi Nayla? Sepertinya aku akan bermalam di sini bersamamu, kamu tidak keberatan kan?" tanya Hendru.


Nayla mengangguk pelan. Meskipun Hendru tak bisa melihatnya, tapi dia bisa merasakan pergerakan Nayla di pundaknya.


Tanpa segan, Hendru mengangkat tubuh Nayla ke dalam gendongannya, lalu melangkah perlahan menuju ranjang. Saking gelapnya, Hendru sampai kesulitan mencari letak ranjang yang seakan berjarak 100 km dari sana.


"Hendru, apa yang kamu lakukan?" tanya Nayla sembari mengalungkan tangannya di leher Hendru.


"Diam saja Nayla, apa yang bisa aku lakukan di dalam kegelapan seperti ini?" keluh Hendru, mau marah tapi rasanya tidak mungkin. Hubungan keduanya baru saja membaik.


Setelah berhasil mencapai ranjang, Hendru menurunkan Nayla tepat di atas kasur.


"Tunggu di sini sebentar! Aku mau membuka tirai, siapa tau ada cahaya yang bisa masuk dari luar sana." ucap Hendru, lalu meraba-raba menuju jendela yang ada di setiap sisi.


Saat berhasil menyentuh jendela kaca, Hendru menghela nafas lega. Dia berusaha membuka tirai, sayangnya diluar sana juga gelap. Tak ada satupun cahaya yang membias di matanya.

__ADS_1


"Dia mengatur semua ini dengan baik, benar-benar brengsek!" gerutu Hendru memaki kelakuan Arhan yang sudah melampaui batas.


__ADS_2