
Semua anggota keluarga sudah duduk di meja makan, termasuk Baron yang baru saja dicerca habis-habisan oleh Aina. Baron sendiri merasa bersalah terhadap istrinya, namun kesalahan tak sepenuhnya harus dilimpahkan pada dirinya. Ada orang lain juga yang terlibat dalam masalah ini.
Aina menatap Arhan dengan penuh amarah. Setelah mendengar pengakuan Baron tadi, emosi Aina semakin meledak mengingat perangai suaminya yang tidak tau diri itu.
"Sayang, kenapa ngeliatin Abang seperti itu?" tanya Arhan yang belum tau apa yang terjadi sebenarnya.
Aina beralih menatap Hendru hingga membuat Nayla ikut berpikir. Ada apa dengan Aina? Kenapa menatap suaminya dengan tatapan horor seperti itu?
"Aina, ada apa? Kenapa tatapan mu jadi aneh begini pada suamiku?" tanya Nayla yang juga belum tau apa yang terjadi sebenarnya.
Aina mengalihkan pandangannya ke arah Nayla yang duduk tepat di hadapannya. "Suami tercintaku dan suami tersayang mu itu tidak sebaik yang kita pikir, keduanya harus dihukum!" ketus Aina sembari tersenyum licik.
"Deg!"
Nayla menautkan alisnya bingung, sementara Arhan dan Hendru terperanjat dengan jantung berdegup kencang. Mata keduanya membulat dengan sempurna menatap Aina dengan penuh tanda tanya.
"Sayang, kenapa Abang harus dihukum? Abang gak ngerasa ngelakuin kesalahan," ucap Arhan dengan entengnya.
"Iya nih, apa-apaan kamu Aina. Kenapa aku juga dibawa-bawa?" keluh Hendru dengan santainya.
"Ngelak aja terus, kalian pikir kelakuan kalian itu udah benar. Gara-gara kalian Inda jadi sedih, kalian tau gimana terhinanya seorang istri saat diabaikan oleh suaminya sendiri di malam pertama mereka?" bentak Aina dengan mata menyala tajam.
"Deg!"
Arhan dan Hendru kembali terperanjat, keduanya saling menatap sembari mengingat kejadian semalam saat menahan Baron untuk tetap duduk bersama mereka.
"Nayla, kamu sebagai seorang wanita pasti tau gimana rasanya jadi Inda kan?" tanya Aina dengan tatapan horor.
__ADS_1
"Iya, aku tau. Kalau aku dibuat begitu, jangan harap aku akan memaafkan suamiku!" jawab Nayla yang mulai mengerti maksud percakapan Aina.
"Bagus, kalau begitu kedua pria ini akan mendapatkan hukuman dari kita. Mulai malam ini, gak ada yang boleh tidur di kamar. Biarkan mereka tidur di luar berduaan. Ingat Nayla, bukan malam ini aja tapi satu bulan ke depan!" tegas Aina penuh penekanan.
"Ok, aku setuju." angguk Nayla.
Tatapan Arhan dan Hendru kembali saling bertemu untuk sejenak, sedetik kemudian keduanya beralih memandangi istri masing-masing.
"Sayang, jangan gitu dong! Maaf kalau Abang salah, Abang janji gak akan ngelakuin itu lagi." Arhan menatap Aina dengan air muka memelas.
"Nayla, Mas juga minta maaf ya. Jangan hukum Mas seberat itu! Mas udah nahan seminggu ini, masa' harus nahan lagi sih?" Hendru menatap Nayla dengan air muka sendu.
"Jangan terperdaya Nayla! Biar mereka tau rasa karena udah ngerjain Baron di malam pertamanya." Aina tersenyum licik penuh kemenangan.
"Baron, liat istrimu di kamarnya! Awas kalau kamu menyakitinya, aku pastikan kamu akan jadi duda sebelum berhasil menyentuhnya!" imbuh Aina mengancam Baron.
Arhan dan Hendru terperangah sembari mengusap wajah mereka berkali-kali. Jika saja yang mereka hadapi adalah Baron, tentu saja tidak akan sulit bagi keduanya untuk melawan. Tapi kali ini nyali mereka langsung ciut saat berhadapan dengan ibu negara masing-masing. Siapa yang sanggup membantah kedua wanita itu.
Baron mengatur nafas sebelum masuk ke kamar Inda. Apapun yang akan terjadi nanti, dia sudah pasrah menerima kemarahan istrinya. Bahkan dia juga siap dipukuli asalkan Inda mau memaafkan dirinya.
Dengan tangan bergetar, Baron memberanikan diri menekan kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Baron mengelus dada saat mendapati Inda yang tengah meringkuk di atas kasur. Segera Baron menutup pintu dan melangkah menghampiri istrinya.
Tanpa berpikir, Baron langsung saja naik ke kasur dan memeluk istrinya dengan erat. Baron mengusap pucuk kepala Inda dan mengecupnya dengan sayang.
"Ngapain di sini? Pergilah!" lirih Inda dengan mata sembab menangisi nasib pernikahannya yang begitu menyedihkan.
"Inda, maafin suamimu ini. Aku gak bermaksud meninggalkanmu sendirian. Aku tau aku salah, tapi ini semua bukan sepenuhnya salahku. Aku udah berusaha menghindari mereka, tapi mereka terus aja menahan ku." jelas Baron sembari mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Gak perlu mencari-cari alasan untuk membujukku. Jika kamu menyesal menikahi ku, maka akhiri saja sebelum terlambat. Aku emang gak pantas menjadi istrimu, wanita murahan sepertiku gak layak untukmu." isak Inda sesegukan.
"Hust... Ngomong apa kamu? Kamu bukan wanita murahan, kamu istriku. Aku mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istriku." geram Baron yang tak suka mendengar Inda menyebut dirinya sendiri sebagai wanita murahan.
"Bohong, di malam pertama kita aja kamu udah berani meninggalkanku. Kalau kondisiku membuatmu gak nyaman, kenapa menikahi ku? Kenapa menyakitiku seperti ini? Aku merasa terhina karena mu. Ceraikan aku sekarang juga, aku gak mau melanjutkan pernikahan ini!" Inda mendorong Baron dengan kasar dan berlari meninggalkan kamar.
Saat berjalan menuju dapur, langkah Inda terhenti ketika suara lembut Aina terdengar di telinganya.
"Inda, kemarilah! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." seru Aina.
Inda bergegas menyapu wajahnya dan menghampiri Aina yang tengah duduk di ruang tengah. Seberapa keras hatinya, tapi dia tidak bisa membantah jika sudah berhadapan dengan Aina yang selalu memperlakukan dirinya layaknya saudara sendiri.
"Ada apa Nyonya?" lirih Inda sembari menekuk wajahnya.
"Ayo sini, duduk dulu!" ajak Aina sembari menepuk sofa kosong yang ada di sebelahnya.
Inda duduk dengan air muka yang masih menyisakan butiran bening di wajahnya. Aina segera memeluknya, dia tau betapa terlukanya Inda saat ini.
"Maafin aku ya, seharusnya semalam aku gak membiarkan suamiku duduk bersama Baron. Semua ini bukan salah Baron, dia sudah berusaha untuk pergi dari dua orang pria tidak punya hati ini. Mereka yang menahan Baron hingga tak berdaya untuk melarikan diri. Jika kamu mau marah, maka marahlah pada dua pria yang ada di depanmu ini. Mereka lah biang kerok permasalahan ini." jelas Aina sembari menatap Arhan dan Hendru bergantian.
Aina menyapu wajah sembab Inda agar tak lagi bersedih. Inda mendongak dan menatap kedua pria yang merupakan majikannya itu dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Inda, maafkan aku ya. Aku yang salah, awalnya aku hanya ingin mengerjai Baron. Aku gak berpikir kalau kelakuanku itu ternyata berimbas padamu." ucap Arhan penuh penyesalan.
"Aku juga minta maaf Inda, aku juga salah. Gak seharusnya aku mengerjai Baron sejauh itu. Jangan marah lagi padanya, dia hanya korban ulah kejahilan kami!" timpal Hendru yang ikut mengakui kesalahannya.
Baron yang baru saja tiba di sana hanya bisa tersenyum sembari berdiri di belakang Inda. Berharap istrinya bisa mengerti dan mencabut kata-katanya kembali. Mana mungkin Baron mau menceraikan istri yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
Inda memutar lehernya beberapa derajat saat merasakan sentuhan tangan Baron yang bergerak di kepalanya. Air mata Inda kembali berguguran, dia segera bangkit dan berlari mengitari sofa lalu memeluk Baron dengan erat sembari menangis sesegukan. Dia pikir Baron tidak menginginkan dirinya, tapi setelah mengetahui kebenarannya Inda mulai mengerti dan terisak di dada suaminya itu.