
Setelah membereskan kamar ketiga buah hatinya, Aina masuk ke kamarnya. Kali ini giliran mengurusi putra sulungnya yang masih tertidur dengan lelap.
Tapi yang satu ini tidak terlalu sulit membangunkannya, cukup dengan satu kecupan saja sudah membuatnya terbangun bahkan dengan juniornya sekalian.
"Ayo, cepat bangun! Udah siang," seru Aina setelah memberikan satu kecupan di bibir Arhan.
"Lagi dong sayang! Kurang berasa," gumam Arhan sembari tersenyum kecil.
"Udah cukup! Bau," sahut Aina sembari mencubit perut Arhan, lalu beranjak dan membuka gorden kamar hingga semburan cahaya matahari langsung masuk menggoda penglihatan Arhan.
Arhan mengucek matanya dan bangkit dari tidurnya, kemudian menghampiri Aina yang tengah mengikat tali gorden. Langsung saja Arhan melingkarkan tangannya di pinggang Aina dan menenggelamkan wajahnya di pundak istrinya itu.
"Sayang Abang belum mandi ya? Kok bau sih?" gumam Arhan sembari menyibakkan rambut Aina ke belakang, lalu mengecup tengkuk Aina dengan lembut.
"Boro-boro mau mandi, ngurusin anak Abang aja susahnya minta ampun, apalagi yang paling besar tuh. Udah bangunin nya susah, abis sarapan main pergi aja tanpa pamit. Dikiranya Aina ini apaan? Dari mana dia lahir?" omel Aina dengan bibir mengerucut.
"Mungkin karena yang satu itu lahirnya dari sini," Arhan menggerakkan tangannya hingga menyentuh permukaan inti Aina.
Aksa memang keluar melalui jalannya. Aina berhasil melahirkannya secara normal meski sangat sulit karena Aina sendiri waktu itu hanya sekali melakukan hubungan intim hingga membuat jalan lahirnya robek dan membutuhkan cukup banyak jahitan.
Berbeda dengan Avika yang lahir melalui operasi caesar sebab keadaan Aina yang waktu itu tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal pasca kejadian naas yang hampir saja merenggut nyawanya.
Sedangkan Aryan sendiri harus kembali dilahirkan secara caesar karena jarak usia lahir Avika dan Aryan yang tidak terlalu jauh.
"Apaan sih Bang? Gak ada hubungannya dengan itu," keluh Aina sembari memukul tangan Arhan yang masih bergerak di intinya.
"Hahahaha..."
__ADS_1
Arhan malah tertawa terbahak-bahak hingga membuat Aina menautkan alisnya bingung. Apanya yang lucu? Apa otak suaminya sudah eror?
"Dasar gila! Ketawa sampai segitunya," Aina menyikut dada Arhan dan berlalu memasuki kamar mandi.
Bukan Arhan namanya kalau tak bisa menaklukkan istrinya itu. Enak saja main pergi setelah membuat juniornya bangun dan ingin dimanja pagi-pagi begini.
Segera Arhan menahan pintu yang hendak ditutup oleh Aina dengan kakinya, lalu menyelinap masuk hingga Aina bergerak mundur.
"Abang mau ngapain?" tanya Aina mengerutkan keningnya.
"Ngapain lagi sayang? Tentu aja mau makan Aina, keadaan sudah kondusif kan? Hehe..." Arhan berbalik dan mengunci pintu dengan cepat lalu berbalik kembali dan menekan tubuh Aina hingga tersandar di dinding kaca.
Tanpa permisi Arhan langsung mengesap bibir Aina dan melu*matnya dalam. Aina sampai terperangah mendapatkan serangan Arhan yang membabi buta. Pagutan keduanya semakin panas hingga deru nafas keduanya saling memburu. Arhan menyelami rongga mulut Aina dan menghisap lidah istrinya itu penuh candu. Dalam hitungan detik pakaian yang dikenakan Aina sudah jatuh di dasar lantai.
Arhan berpindah ke leher Aina lalu mengecup setiap inci nya dengan lembut. Tak lupa pula Arhan meninggalkan jejak kepemilikannya yang membentuk bercak merah kehitaman.
Seketika de*sahan manja lolos dari mulut Aina, dia mencengkram lengan Arhan dan membusungkan dadanya dengan mata terpejam. Tentu saja hal itu membuat Arhan menggila dan semakin gencar memainkan pucuk kembar itu secara bergiliran.
"Aughhhh..."
Semakin suara itu terdengar di telinga Arhan semakin bersemangat pula Arhan dibuatnya.
Puas menjelajahi gundukan kenyal itu Arhan kemudian turun dan mengecup perut rata Aina yang kini sudah kembali mulus setelah melakukan perawatan laser untuk menghilangkan bekas luka caesar tempo hari.
Lalu Arhan berjongkok dan mengangkat sebelah kaki Aina. Arhan menumpukan kaki jenjang istrinya itu di atas bahunya, kemudian menempelkan wajahnya di tengah-tengah paha Aina.
Aroma semerbak yang unik itu mulai menyeruak menusuk penciuman Arhan, dia tak tahan lagi dan segera menjilatinya dan mengitari lidahnya diantara kelopak bunga yang merekah itu.
__ADS_1
"Aughhhh..."
Aina tak berdaya menahan permainan nakal suaminya itu, sekujur tubuhnya merinding saat merasakan sesuatu yang tak bisa diungkap dengan kata. Rasa nikmat yang entah seperti sengatan listrik yang membuatnya bergetar hingga menjerit kecil. Bahkan sesuatu yang hangat terasa mengalir dari dalam sana. Arhan yang menyadari itu langsung menyeringai dan menghisap inti istrinya penuh candu.
Arhan kembali berdiri dan melu*mat bibir Aina penuh kelembutan. "Gantian ya sayang, Abang juga mau."
Arhan melucuti pakaiannya dan berdiri tegak dengan kaki sedikit terbuka. Lalu Aina berjongkok dan memainkan benda yang sudah mengeras itu dengan tangannya. Aina mulai menjilati ujungnya seperti eskrim dan mengemut nya bak permen. Perlahan kepala Aina mulai bergerak maju mundur hingga benda keras itu menghilang di tenggorokannya.
"Akhhh... Aina... Lebih cepat sayang, enak banget. Akhhh..."
Arhan terus saja meracau menikmati gerakan mulut Aina yang menyedot tongkatnya, sementara tangannya berada di kepala Aina menahan rambut panjang istrinya agar tidak mengganggu.
"Cukup sayang!" gumam Arhan dengan suara seraknya.
Arhan membungkukkan punggungnya dan menarik lengan Aina hingga berdiri sejajar dengan dirinya. Langsung saja Arhan melu*mat bibir Aina penuh kelembutan.
Lalu Arhan duduk di atas kloset dan meminta Aina duduk di atasnya. Dalam hitungan detik, suasana kamar mandi itu menjadi gaduh dan bising karena suara desa*han keduanya yang sahut menyahut tanpa henti. Aina bahkan sampai menjerit saat semua tongkat itu masuk menembus perutnya.
Kemudian Aina berbalik dan memunggungi Arhan. Gerakan bokongnya yang begitu cepat membuat Arhan geram hingga berkali-kali menepuk bokong sintal istrinya itu sampai memerah.
"Aughhhh... Abang... Jangan dipukul terus!" racau Aina dengan nafas tersengal. Kakinya mulai bergetar karena tak kuat lagi mengayun pinggulnya yang mulai terasa pegal.
Arhan segera bangkit dan menekan punggung Aina hingga membungkuk, lalu menggempur pertahanan istrinya bertubi-tubi sampai Aina menjerit menikmati keberingasan Arhan yang seakan tak pernah lelah sedikitpun. Tenaganya benar-benar seperti kuda liar yang membuat Aina kewalahan dengan keringat jagung yang semakin mengucur deras membasahi tubuhnya.
Sampai pada akhirnya Arhan menyerah juga dan menekan inti Aina sedalam mungkin. Keduanya mengerang dahsyat hingga menggema memenuhi seisi kamar mandi.
Aina meluruskan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di dada Arhan. Tenaganya benar-benar terkuras habis sehingga tak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Arhan pun memeluknya erat dan mengecup tengkuk Aina dengan penuh kelembutan.