Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 42.


__ADS_3

Kini semuanya sudah duduk di meja makan menikmati sarapan yang sudah terhidang di atas meja. Semua masakan yang dibuat Aina ludes tak bersisa dan hanya menyisakan piring kotor saja.


Aina merasa senang karena masakannya disukai semua orang, termasuk suaminya yang sampai nambah dua kali. Entah karena perut Arhan lapar, atau memang masakan Aina yang sangat nikmat.


Usai sarapan, Aina membawa Aksa duduk di halaman menikmati udara pagi yang begitu sejuk. Sementara Arhan masih di dalam bersama Leona dan Airlangga. Berhubung hari ini libur, jadi Arhan ingin menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarga kecilnya.


Selang beberapa menit, Leona datang dan mengambil Aksa dari tangan Aina. Dia ingin bermain dengan cucunya dan juga suaminya yang hari ini tak memiliki kegiatan di luar sana.


Karena Aina hanya tinggal sendirian, dia pun memilih berjalan mengelilingi halaman rumah yang sangat luas. Menikmati pemandangan indah dan taman yang menghijau di depan pelupuk matanya.


Puas berkeliling, Aina duduk di sofa yang ada di dekat kolam. Rumah sebesar itu membuatnya bingung, tidak tau harus ngapain lagi karena dia sendiri tidak mempunyai kegiatan lain selain mengurus rumah tangganya.


Dalam diamnya itu, Arhan datang dan memeluknya dari belakang. Sontak saja Aina terlonjak kaget, Arhan selalu saja membuat jantungnya berolahraga.


"Hayo, ngapain istri Abang melamun sendirian di sini?" tanya Arhan, kemudian mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang.


"Abang ih, kenapa suka sekali membuat Aina jantungan?" ketus Aina sembari memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.


"Hahahaha, maaf sayang." Arhan berpindah ke hadapan Aina, lalu berbaring di atas sofa dan menjadikan paha Aina sebagai bantalannya.


"Kenapa Abang tidur di sini?" tanya Aina sembari menautkan alisnya.


"Kenapa? Memangnya ada larangan yang mengatakan Abang tidak boleh tidur di sini?" Arhan malah balik bertanya sembari tersenyum lebar.


Aina menghela nafas panjang, lalu membuangnya kasar. Susah memang bicara dengan suaminya. Ada saja jawaban dan alasan yang membuatnya geram.


"Abang tidak ke kantor?" tanya Aina sembari mengusap kepala Arhan dengan lembut.


"Siapa yang ke kantor hari Minggu seperti ini?" jawab Arhan dengan pertanyaan pula, lalu meraih tangan Aina dan meletakkannya di pipinya.


"Astaga, Aina bahkan tidak bisa lagi mengenal hari." Aina pun terkekeh dengan lepasnya.


Melihat tawa istrinya yang sangat lepas, garis senyum Arhan terukir jelas di wajahnya. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana bahagianya Arhan saat ini. Semuanya sudah dia miliki, tidak ada satupun yang kurang di hidupnya.


"Siang ini kita keluar ya!" ajak Arhan sembari menyentuh pipi semok istrinya.


"Kemana?" tanya Aina sembari menautkan alisnya.


"Terserah Aina, katakan saja Aina mau kemana!" ucap Arhan.

__ADS_1


"Tidak usah kemana-mana Bang, di rumah saja! Kasihan Aksa, kalau dia rewel gimana?" sahut Aina.


"Aksa tinggal di rumah saja! Kan ada Oma sama Opanya, Aina tidak perlu khawatir!" jelas Arhan.


"Tapi Aksa itu masih bayi Bang, jika dia haus bagaimana?" pikir Aina.


"Tidak perlu khawatir, Abang tau caranya! Tapi sebelum itu cium dulu dong!" pinta Arhan dengan manja.


"Abang ih, kok lama-lama Abang jadi lebay begini sih?" keluh Aina dengan tatapan tajamnya.


"Lebay dimana nya sayang? Kalau bukan Aina siapa lagi? Masa' Abang harus minta cium sama pelayan, kan gak mungkin." ucap Arhan, kemudian terkekeh dengan sendirinya.


"Minta saja kalau Abang mau!" sahut Aina, kemudian ikut terkekeh mengikuti tawa suaminya.


"Gak ih, Aina pikir Abang cowok apaan?" balas Arhan sembari mengangkat bahunya geli.


"Alah, jangan sok begitu! Dulu aja celup sana celup sini." ucap Aina mengingatkan kelakuan suaminya, hal itu membuat Arhan tertegun lesu.


Arhan menghela nafas berat, lalu mengusap wajahnya kasar. Ucapan Aina barusan membuat hatinya terluka.


Arhan sadar akan kesalahan dan dosa yang sudah dia perbuat di masa lalu, dia sendiri mengakui itu. Tapi bukankah setiap manusia mempunyai kesalahan, dan bukankah setiap mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri?


"Kenapa membahas ini lagi? Apa kata-kata Abang sebelumnya tidak cukup meyakinkan Aina?" Emosi Arhan sedikit tersulut, untung saja dia masih bisa menahan diri.


"Abang tau Abang salah, Abang seorang pendosa besar. Tapi bukankah pendosa seperti Abang juga manusia, Abang juga memiliki hati seperti Aina."


"Abang sudah berusaha memperbaiki diri, jauh sebelum kita menikah. Jika Aina masih saja meragukan Abang, kenapa menerima Abang jadi suami Aina? Kenapa tidak mencampakkan Abang saja?" Mata Arhan berbinar memendam rasa sakit di hatinya.


"Abang bicara apa sih? Sudahlah, tidak usah membahas itu!" keluh Aina sembari menautkan alisnya.


Arhan menggertakkan giginya kuat. Setelah menyinggung perasaannya, Aina begitu mudahnya mengalihkan pembicaraan. Tak memikirkan bagaimana perasaannya saat ini.


Arhan bangkit dari duduknya, dia berjalan memasuki rumah dengan wajah memendam amarah dan kesedihan. Melihat suaminya begitu, Aina pun bergegas menyusulnya.


Setibanya di kamar, Arhan membanting pintu dengan kasar. Dia kecewa terhadap Aina yang selalu saja mengungkit kesalahan masa lalunya.


Arhan menghempaskan tubuhnya di atas kasur, tengkurap sembari menekan wajahnya di atas bantal. Sebenarnya tidak salah apa yang dikatakan Aina di bawah tadi, tapi tetap saja hatinya perih karena Aina seakan belum menerimanya sepenuh hati.


Aina menyusul masuk. Setelah menutup pintu dan menguncinya, dia melenggang menuju kasur dan menindih punggung suaminya sembari tersenyum kecil.

__ADS_1


"Abang marah?" tanya Aina sembari menyalipkan wajahnya di sisi telinga Arhan.


"Jangan ganggu Abang! Abang mau tidur," ketus Arhan, kemudian memutar kepalanya ke arah kanan.


"Kok tidur sih, katanya mau keluar?" tanya Aina, kemudian menyalipkan wajahnya lagi di sisi telinga Arhan yang berbeda.


"Tidak jadi! Bukankah tadi katanya di rumah saja?" kesal Arhan, lalu menutup telinganya dengan telapak tangannya.


"Kok gak jadi sih sayang? Padahal Aina pengen loh keluar sama Abang." bujuk Aina, lalu menempelkan wajahnya di punggung Arhan.


Mendengar satu kata yang terselip dari ucapan Aina, darah Arhan mengalir cepat. Baru kali ini Aina mengatakan itu padanya, membuat hatinya berbunga, rasa kesalnya lenyap seketika.


Arhan memutar tubuhnya hingga membuat tubuh Aina terguling di sampingnya. Arhan merangkak naik dan menekan tubuh Aina di bawah kungkungan nya.


"Bicara apa tadi? Abang ingin mendengarnya sekali lagi!" pinta Arhan dengan tatapan sangat tajam.


"Bicara apa? Aina tidak bicara apa-apa!" sahut Aina sembari mengulum senyumannya.


"Aina, tolong jangan menguji kesabaran Abang lagi! Jika tidak mau bicara, Abang akan membuat Aina merengek detik ini juga!" Ancam Arhan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Memangnya apa yang ingin Abang lakukan?" tanya Aina sembari menautkan alisnya, membuat Arhan benar-benar kesal dan mengeratkan rahangnya kuat.


"Baiklah, Aina lihat saja apa yang bisa Abang lakukan! Jangan panggil nama Abang Arhan kalau Abang tidak bisa membuat Aina menangis minta ampun."


Arhan mengangkat kaos yang dia kenakan hingga tubuhnya terpampang nyata di depan mata Aina. Dengan tatapan menuntut, Arhan menekan tubuh Aina dan menenggelamkan wajahnya di leher jenjang istrinya.


Aina membuka matanya lebar, dia tau Arhan tidak akan main-main dengan ucapannya.


"Jangan sekarang Bang, ini masih pagi!" tolak Aina dengan tubuh yang sudah gemetar, lalu mendorong wajah Arhan dari lehernya.


"Kenapa kalau pagi? Ada larangan lagi?" ketus Arhan dengan tatapan membunuhnya.


Melihat tatapan suaminya yang begitu, Aina pun terkekeh. Lalu memeluk Arhan dengan erat.


"Sudah sayang, jangan marah lagi! Jelek tau," bujuk Aina, lalu mengacak rambut suaminya hingga berantakan.


"Astaga sayang, bisa-bisanya Aina mempermainkan emosi Abang seperti ini." keluh Arhan, lalu menenggelamkan wajahnya di belahan dada Aina.


"Abang sih, dikit-dikit marah, dikit-dikit merajuk. Seperti anak kecil saja," ucap Aina, lalu mempererat pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2