
Sebelum kembali ke kamar, Arhan dan Aina ikut bergabung bersama Aksa dan Nayla yang sudah basah kuyup. Bahkan baju keduanya sudah dipenuhi dengan pasir.
Aina menikmati sekali kebersamaannya yang begitu langka. Sejak menikah, baru kali ini Arhan sempat mengajaknya berlibur mengingat usia Aksa yang masih terlalu kecil.
Namun kini kebahagiannya lengkap sudah, dia tak ingin menyia-nyiakan waktu berlibur yang hanya beberapa hari saja. Momen kali ini menjadi momen paling romantis di hidupnya.
Dikarenakan sinar matahari mulai terik dan menusuk kulit, Aina memutuskan untuk kembali ke kamar membersihkan diri. Aksa pun sudah menggigil kedinginan sebab terlalu lama berendam di air laut, begitupun dengan Nayla.
Setibanya di kamar, Arhan langsung membawa Aksa ke kamar mandi. Sementara Aina menyusulnya dari belakang. Mereka bertiga mandi bersama dan berendam di dalam bathtub menggunakan air hangat.
Tidak berhenti di sana, di dalam bathtub pun Aina dan Arhan masih menciptakan momen romantisnya meski ada Aksa bersama mereka. Aksa menepuk-nepuk permukaan air sembari berteriak dengan suara lembutnya.
"Ma ma, Pa pa, yeay,"
Mendengar dan melihat tingkah lucu putra mereka, Aina dan Arhan pun saling melempar senyum, kemudian mencium pipi Aksa bersamaan saking gemasnya.
Sementara di kamar lain, Nayla mengalami kesulitan saat sedang membilas tubuhnya yang masih dipenuhi busa sabun dan shampoo. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba kran air di kamar mandinya mampet. Dia bahkan tidak bisa melihat karena matanya terasa perih.
Nayla berteriak histeris, suaranya menggelegar hingga sampai ke telinga Hendru yang tengah duduk di dekat jendela kamarnya.
Menyadari ada yang salah dengan Nayla, Hendru pun segera bangkit dari duduknya. Dia berlari meninggalkan kamar dan dengan cepat menyusul Nayla ke kamarnya.
Setibanya di kamar Nayla, wajah Hendru nampak sedikit memerah, dia sangat gugup karena baru pertama kali memasuki kamar seorang gadis seperti ini.
Dengan langkah sedikit goyah, Hendru berjalan menuju kamar mandi.
"Tok Tok Tok"
Hendru mengetuk pintu dengan pelan, tangannya sampai bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
"Nayla, apa yang terjadi?" tanya Hendru dari balik pintu, suaranya terdengar berat.
"Siapa di luar?" teriak Nayla yang sudah kelimpungan meraba handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Ini aku, Hendru. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Hendru memastikan.
__ADS_1
"Tunggu, jangan masuk dulu!" teriak Nayla ketakutan.
Setelah berhasil meraih handuk, Nayla bergegas menutupi tubuhnya, kemudian menepi dan meraba dinding untuk menumpukan punggungnya.
"Masuklah Hendru, tolong aku! Airnya mampet, aku tidak bisa melihat apa-apa." teriak Nayla, mau tidak mau dia harus meminta tolong kepada pria itu.
Karena sudah mendapatkan izin dari Nayla, Hendru pun memberanikan diri mendorong pintu.
"Deg Deg"
Hendru membuka matanya lebar, jantungnya berdegup kencang sekencang petir menyambar. Seketika, dia bergeming menatap tubuh Nayla yang hanya dibaluti handuk berwarna putih.
Kaki jenjang Nayla terurai indah di depan matanya, bahkan belahan dada gadis itu nampak jelas tersusun indah. Hendru tergugu sembari menelan ludahnya dengan kasar.
"Astaga, apa ini?" batin Hendru dengan tatapan yang sulit diartikan. Dadanya tiba-tiba berdenyut ngilu, bulu kuduknya meremang, bahkan sekujur tubuhnya sampai bergetar melihat pemandangan indah yang terpampang di hadapannya.
"Apa gadis ini ingin menggodaku?" batin Hendru, otaknya menjadi tidak waras hingga pikiran jorok pun melintas begitu saja.
"SREEET"
"Akhh, jangan bangun sekarang bro! Ini belum waktunya," batin Hendru sembari menatap bagian selangkangannya yang sudah menonjol.
Hendru berusaha keras menahan gairahnya. Seumur-umur baru kali ini mas bro miliknya memberontak, kecuali saat mengalami mimpi basahnya. Dia pun menyelipkan tangannya ke dalam celananya, lalu mengatur posisi benda itu agar tidak menyakitinya.
"Hendru, apa kau di sini? Kenapa diam saja?" tanya Nayla dengan mata tertutup rapat.
"I, iya, aku di sini. Apa yang bisa aku bantu?" sahut Hendru dengan pertanyaan pula, dia bergegas mengeluarkan tangannya dari dalam sana, takut Nayla melihatnya dan berpikir buruk terhadap dirinya.
"Kran nya mati, tolong ya!" pinta Nayla dengan suara begitu lembut, membuat Hendru terperdaya karena selama ini dia hanya mendengar suara Nayla yang keras.
"I, iya. Kamu tunggu di sana dulu, aku periksa sebentar!"
Tidak lama setelah Hendru memeriksa saluran air, tiba-tiba kran itu kembali menyala. Hendru menautkan alisnya, dia bingung karena belum melakukan apa-apa.
"Airnya sudah menyala, kamu mandilah! Aku keluar dulu," ucap Hendru, dia kembali menatap tubuh Nayla dari ujung rambut hingga ujung kaki. Karena takut kehilangan kendali, Hendru segera meninggalkan Nayla dan menutup pintu itu kembali.
Setibanya di luar, Hendru menghela nafas berat dan membuangnya perlahan. Dia pun mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Suara besar Arhan tiba-tiba membuat Hendru terperanjat kaget. Dia mendongakkan kepalanya lalu menatap lekat wajah Arhan yang sudah berdiri di hadapannya.
"Ti, tidak ada. Tuan sendiri ngapain di sini?" Hendru malah balik bertanya.
"Aku mencari mu ke kamarmu, ternyata kau di sini. Apa yang kau lakukan di dalam? Jangan bilang...,"
"Apaan sih? Jangan salah sangka dulu! Aku hanya membantunya memperbaiki kran air, tidak lebih." ketus Hendru memotong ucapan Arhan.
"Kran air? Kran air yang mana?" tanya Arhan sembari menatap Hendru dari ujung kaki hingga ujung rambut. Seketika, mata Arhan tertuju pada bagian ************ Hendru yang masih menonjol jelas.
Menyadari pandangan Arhan tengah fokus pada bagian bawah pusarnya, Hendru pun dengan cepat menutupinya dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan berpikir aneh dulu, ini tidak seperti yang kau bayangkan! Tadi dia tidak sengaja bangun, abisnya gadis itu hanya mengenakan handuk. Mana aku tau benda ini akan bereaksi seperti ini?" jelas Hendru dengan pipi memerah, apa lagi yang bisa dia katakan.
"Hahaha, itu tandanya dia menginginkan Nayla. Apa lagi yang kau tunggu, sikat saja! Resmikan dia jadi istrimu, setelah itu kau akan bebas menuruti keinginan junior mu itu." tegas Arhan memanasi Hendru agar lebih jantan jadi seorang pria.
"Ah, sudahlah. Jangan menceramahi ku dalam keadaan seperti ini! Aku ke kamar dulu," Hendru melangkahkan kakinya meninggalkan Arhan.
"Pikirkan lagi ucapan ku barusan! Tidak enak loh melakukan pelepasan sendiri," teriak Arhan, kemudian terkekeh dengan sendirinya.
"Diam lah, jangan sampai aku menghajar mu dengan bogem mentah ku ini!" sahut Hendru sembari berbalik, dia mengacungkan tinjunya ke arah Arhan dengan tatapan mematikan.
"Hahaha, coba saja kalau kau berani!" teriak Arhan sembari menekan perutnya, dia tak kuasa menahan tawanya melihat wajah Hendru yang sangat membagongkan.
Setelah Hendru menghilang dari pandangannya, Arhan pun berlalu meninggalkan tempat itu. Dia menghampiri Aina yang sudah duduk di meja makan. Tawanya kembali pecah saat duduk di samping istrinya.
"Ada apa Bang? Kenapa tertawa seperti ini?" tanya Aina sembari menautkan alisnya, dia penasaran karena tak biasanya Arhan terlalu over melepaskan gelak tawanya.
"Entahlah sayang, nanti saja Abang ceritakan! Perut Abang sakit nih gara-gara melihat Hendru barusan." ucap Arhan sembari memegangi perutnya. Susah baginya menahan geli yang menggelitik di perutnya.
"Abang ada-ada aja ih, bikin Aina penasaran aja." keluh Aina dengan bibir sedikit manyun.
"Jangan cemberut gitu dong sayang! Nanti cantiknya hilang." goda Arhan, kemudian mengusap kepala Aina dengan sayang.
Setelah Hendru dan Nayla bergabung bersama mereka, semuanya mulai menyantap sarapan yang sudah terhidang di atas meja. Kali ini suasana di meja makan itu terasa hening, tak ada satupun yang bersuara. Mereka semua hanya fokus dengan makanan yang ada di piring masing-masing.
__ADS_1