
Usai makan malam semua orang berkumpul di ruang keluarga, termasuk Baron dan Inda. Ada anak laki-laki mereka juga yang kini sudah berumur lima setengah tahun, dia bernama Bara.
Anak-anak duduk berjejeran di sofa membentuk sebuah tangga. Mulai dari Aksa, Avika, Inara, Aryan dan juga Bara. Mereka semua nampak kebingungan menyaksikan tatapan Arhan yang sangat serius, tidak dengan Aksa yang memang sudah tau apa yang ingin disampaikan oleh sang papa.
Tidak hanya anak-anak yang kebingungan melihat ekspresi Arhan, Aina dan Inda juga ikut kebingungan karena penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Arhan sebenarnya. Berbeda dengan Baron, Hendru dan juga Nayla yang terlihat lebih santai dari yang lainnya.
"Aksa, kemarilah!" seru Arhan sambil menggerakkan tangannya di udara, lalu bergeser memberi ruang agar Aksa duduk di sebelahnya.
Aksa mengangguk lemah. Dia langsung berdiri dan melangkah menghampiri, lalu duduk diantara Arhan dan Aina.
Setelah Aksa duduk, Arhan pun melingkarkan tangannya di pundak Aksa lalu mengusapnya pelan.
"Bicaralah! Apa yang ingin Aksa katakan sama Mama dan semuanya?" Arhan sengaja menyuruh Aksa bicara agar Aina tidak curiga kepadanya seolah-olah Aksa lah yang sudah mengambil keputusan.
Aksa menekuk wajahnya beberapa detik, kemudian mendongakkan kepalanya dan menatap Aina dengan intim. Lidahnya tiba-tiba kelu, sulit baginya untuk berkata saat mengamati manik mata sang mama yang meluluhkan hatinya.
"Ada apa sayang? Apa yang ingin Aksa katakan sama Mama?" tanya Aina sambil mengusap kepala Aksa dengan sayang. Suaranya terdengar sangat lembut.
"Ma..." gumam Aksa ragu-ragu.
"Iya sayang, bicaralah!" timpal Aina.
"Ma, Aksa mau pindah ke Korea. Aksa ingin melanjutkan sekolah Aksa di sana dan tinggal bersama Opa dan juga Oma." ucap Aksa yang langsung saja pada intinya.
"Deg!"
__ADS_1
Sontak saja Aina terperanjat mendengar penuturan Aksa itu. Sangat mengejutkan dan begitu tiba-tiba hingga membuatnya terpaku untuk beberapa saat.
"Apa yang Aksa bicarakan, sayang? Kenapa Aksa tiba-tiba ingin pindah ke sana? Apa sekolah di sini tidak bagus? Biar Mama suruh Papa mencarikan sekolah yang lebih bagus dan bertaraf internasional untuk Aksa!" ucap Aina.
"Bukan Ma, bukan itu masalahnya. Aksa hanya ingin merasakan suasana baru dan teman-teman baru di luar negeri sana. Kapan lagi Aksa bisa mencoba pengalaman baru? Bukankah nanti Aksa harus kembali untuk melanjutkan bisnis Papa? Sebelum waktu itu tiba, Aksa mau menikmati hidup Aksa dulu." ujarnya.
Aina menautkan alisnya dan beralih menatap Arhan penuh selidik a. "Bang, kenapa diam aja?"
Arhan mengerutkan keningnya. "Abang harus bilang apa, sayang? Ini semua kemauan Aksa, Abang gak bisa melarang keinginan Aksa. Bukankah bagus kalau Aksa sekolah di sana? Selain sekolah di sana bagus, Aksa juga bisa menjaga Opa dan Oma nya. Kasihan mereka gak ada temannya, sementara di sini masih ada empat kurcaci nakal itu."
"Tapi Bang-"
"Ma, Aksa sudah mengambil keputusan. Aksa harap Mama bisa mengerti dan mendukung apapun kemauan Aksa. Lagian setelah menyelesaikan sekolah Aksa, Aksa akan kembali kok Ma. Mama gak usah khawatir!" potong Aksa meyakinkan Aina agar tidak menentang keputusannya, lebih tepatnya keputusan sang papa.
Aina menurunkan pandangannya, mau tidak mau dia terpaksa mengangguk meski sebenarnya dia sama sekali tidak rela melepaskan Aksa untuk pergi sejauh itu. Selama ini dia tidak pernah berpisah dengan putra sulungnya itu, tentu saja hal ini terasa berat baginya.
"Mama ngomong apa sih? Mana mungkin Aksa bisa melupakan Mama. Wanita yang paling Aksa cintai di dunia ini." terang Aksa sambil merebahkan kepalanya di lengan Aina.
"Oh, jadi hanya Mama aja yang Aksa cintai di dunia ini. Bunda gak?" Nayla menimpali dengan bibir mengerucut, dia bermaksud mencairkan suasana.
"Bunda juga kok, Aksa juga cinta sama Bunda." jawab Aksa sambil tersenyum kecil menatap Nayla yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri.
"Hmm... Tante gak masuk hitungan kayaknya nih," Inda ikut menimpali sambil menggembungkan pipinya.
"Tante juga kok, Aksa mencintai kalian semua." sahut Aksa yang membuat semua orang akhirnya tertawa terbahak-bahak. Sesaat suasana canggung itupun hilang dalam sekejap mata.
__ADS_1
Malam ini, semua orang menghabiskan sisa-sisa kebersamaan mereka hingga larut. Tak peduli meski tidak ada pembahasan sedikit pun, mereka masih setia berkumpul sampai mata setiap orang benar-benar mengantuk.
Pukul dua dini hari barulah satu persatu dari mereka meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Aksa membaringkan tubuhnya di atas kasur. Pandangannya nampak sendu menatap langit-langit kamar, banyak sekali pikiran aneh yang tiba-tiba melintas di benaknya hingga sulit sekali baginya untuk menutup mata.
Aksa merasa sangsi kejadian lampau terulang kembali, dia takut Aina terlepas dari pengawasan Baron mau pun Tobi. Aksa tidak ingin Aina di celakai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu lagi.
Tepat pukul tiga dini hari, Aksa meninggalkan kamar dan berjalan menuju kamar kedua orang tuanya. Setelah mengetuk pintu, pintu pun terbuka dan Arhan nampak berdiri tegak di hadapannya.
"Hmm... Ada apa Nak? Kok belum tidur juga?" tanya Arhan dengan tatapan nanar. Padahal dia baru saja terlelap tapi harus bangun lagi saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Pa, Aksa boleh tidur di sini ya malam ini. Aksa ingin tidur bersama kalian berdua sebelum Aksa berangkat," pinta Aksa dengan air muka memelas. Tiba-tiba saja dia ingin tidur bersama kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya.
Untuk sesaat sikap dingin Aksa selama ini mencair juga hingga tak ada rasa canggung sedikit pun saat mengatakan ingin tidur bersama Arhan dan Aina.
"Iya boleh, masuklah!" ucap Arhan sambil tersenyum kecil. Dia tau Aksa tidak ingin pergi meninggalkan mereka, tapi untuk saat ini pilihan harus diambil agar Aksa terbebas dari hukuman.
Setelah Aksa melangkah masuk, Arhan langsung menutup pintu dan berjalan menuju ranjang. Aksa kemudian berbaring di tengah-tengah Arhan dan Aina sebagai pembatas.
Awalnya Aksa memeluk Aina dengan erat, beberapa saat kemudian dia beralih memeluk Arhan. Pemandangan langka yang sudah lama sekali tidak terlihat diantara mereka.
"Pa, tolong jagain Mama selama Aksa gak ada ya! Jangan biarkan Mama terluka meski seujung kuku pun. Jika sampai itu terjadi, Aksa akan pulang saat itu juga dan gak akan pernah melanjutkan sekolah Aksa lagi!" pesan Aksa penuh penekanan.
"Iya, Aksa gak usah mikirin itu. Tanpa Aksa minta pun Papa pasti akan selalu menjaga Mama." jawab Arhan penuh keyakinan.
__ADS_1
Setelah mendapatkan jawaban, hati Aksa mulai sedikit tenang. Kini dia bisa tidur dengan nyenyak menunggu hari esok. Arhan sendiri yang akan mengantarkannya ke pelukan sang opa dan oma.