Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 61.


__ADS_3

Malam hari, Arhan dan yang lainnya turun dari pesawat. Di depan bandara sana, Leona dan Airlangga sudah standby menunggu kedatangan mereka. Kebetulan mereka membawa 2 mobil sekaligus.


Leona melambaikan tangannya saat melihat Aksa di gendongan Hendru, kedua orang tua itu nampak antusias menyambut kepulangan cucu kesayangan mereka.


"Aksa sayang, cucu ganteng Oma." Leona berlari kecil, kemudian mengambil Aksa dari tangan Hendru.


Leona menciumi Aksa bertubi-tubi. Kurang lebih 4 hari tak bertemu membuatnya begitu merindukan sang cucu, begitupun dengan Airlangga. Dia pun tak mau kalah dengan istrinya, dia ikut menciumi Aksa dengan penuh kasih sayang.


Setelah semua orang masuk ke dalam mobil, Airlangga mulai melajukan mobil yang dikendarainya. Di sana ada Leona yang tengah memangku Aksa, ada Arhan dan Aina juga bersama mereka.


Sementara di mobil belakang, ada Pak Anang yang bertugas menyetir mobil. Di belakangnya ada Hendru dan Nayla yang duduk berdampingan.


Sekitar 30 menit menempuh perjalanan, tibalah mereka semua di depan kediaman Airlangga. Satu persatu dari mereka mulai turun, Hendru pun membantu Pak Anang menurunkan koper mereka.


Di dalam rumah, semua orang duduk di ruang keluarga. Mereka semua asik bercengkrama menceritakan perjalanan yang cukup melelahkan itu.


"Bagaimana liburannya?" tanya Airlangga membuka percakapan.


"Menyenangkan," jawab Arhan sembari memeluk pinggang Aina yang duduk di sampingnya.


"Tentu saja menyenangkan, setiap hari kerjaannya bikin ulah mulu." tambah Hendru dengan tatapan sedikit tajam.


"Bikin ulah bagaimana?" tanya Airlangga penasaran, kemudian menatap Hendru dan Arhan secara bergantian.


"Gak kok Pa, cuma iseng doang ngerjain mereka. Abisnya mereka tuh berantem mulu, kayaknya mereka berdua jodoh deh. Bagaimana menurut Papa?" ungkap Arhan tanpa ragu sedikitpun.


Mendengar itu, seulas senyum terukir indah di wajah Airlangga. Dia menoleh ke arah Leona, keduanya saling melempar pandang untuk sesaat.


"Om, Tante, Nayla izin ke kamar dulu ya!" Nayla mulai canggung mendengar pembahasan semua orang, karena merasa tak enak hati, dia pun berlalu meninggalkan ruangan itu dan memilih masuk ke kamarnya.


Melihat Nayla yang sudah menghilang, Hendru pun memutuskan untuk pamit dan kembali ke paviliun depan. Tubuhnya sangat lelah dan ingin beristirahat lebih awal.


"Kenapa mereka berdua malah pergi?" tanya Leona dengan kening sedikit mengkerut.


"Entahlah, mungkin mereka malu." jawab Arhan dengan santainya.


"Kenapa musti malu?" tanya Airlangga sembari menautkan alisnya.


"Papa ih, kayak gak pernah muda aja. Udah jelas ada sesuatu diantara mereka, masa' Papa gak ngerti sih?" ucap Arhan sembari tersenyum kecil.


Mendengar itu, Airlangga dan Leona kembali saling menatap, lalu tersenyum secara bersamaan.


"Arhan, apa mereka sudah...,?" Ucapan Leona tiba-tiba terhenti.


"Tidak Ma, tidak sejauh itu. Tapi yang pasti, mereka berdua saling menyukai." jelas Arhan memotong ucapan Leona.

__ADS_1


"Ya sudah, besok aja kita lanjutkan ngobrolnya! Arhan mau ke kamar dulu, kasihan Aina. Sepertinya masuk angin," ucap Arhan sembari mengacak rambut istrinya.


"Hah, apa Aina sakit?" tanya Leona dengan mata terbuka lebar.


"Gak Ma, cuma masuk angin doang. Mama tidak perlu khawatir!" jelas Aina.


"Kamu yakin cuma masuk angin?" tambah Airlangga.


"Iya Pa, udah dikerokin juga sama Abang. Aina cuma butuh istirahat, besok pasti sembuh." ucap Aina meyakinkan mertuanya.


"Kalau begitu pergilah ke kamar kalian, Aksa biar tidur sama Mama aja malam ini!" titah Leona.


"Loh, jangan Ma! Ntar Aksa malah ngerepotin Mama," sahut Aina merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, mana ada cucu sendiri ngerepotin Oma nya? Iya kan sayang? Aksa bobok sama Oma ya malam ini!"


"Ya," Aksa menganggukkan kepalanya, seakan jagoan kecil itu mengerti keadaan sang mama yang sedang tidak enak badan.


Setelah mencium putra mereka, Arhan memapah Aina menuju lantai atas. Dia bahkan berniat menggendong Aina menuju kamar, namun Aina menolak sebab malu dilihat kedua mertuanya yang masih duduk menatap kepergian mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah membantu Aina membersihkan diri dan mengenakan pakaian tidurnya, Arhan membaringkan tubuh Aina di atas kasur, lalu ikut berbaring di sebelahnya.


"Gak ada Bang, sudah lebih baik dari sebelumnya." Aina membelit tubuh suaminya dengan tangan dan kakinya, lalu menempelkan pipinya di dada Arhan yang terbuka.


"Loh, tumben meluk Abang seperti ini? Ada apa?" tanya Arhan dengan kening sedikit mengkerut.


"Pengen aja, emangnya gak boleh ya?" Aina yang tadinya ceria, tiba-tiba cemberut setelah mendengar pertanyaan suaminya.


"Hehehe, jangan ngambek dong sayang! Abang kan nanya doang," bujuk Arhan sembari menatap lekat wajah Aina, hal itu membuat Aina memanyunkan bibirnya.


"Tuh kan, cantiknya ilang deh." Arhan mencubit pipi Aina gemas, lalu menggigit hidung istrinya hingga memerah.


"Abang..., sakit," rengek Aina begitu manja.


"Hahaha, abisnya Aina tuh gemesin banget, geram Abang liatnya." ungkap Arhan sembari terkekeh, Aina pun ikut terkekeh mendengar celetukan suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esok pagi, Aina terbangun saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar. Ada suara Aksa juga yang sayup-sayup terdengar sampai ke telinganya.


"Ma ma, Pa pa," panggil Aksa dari balik pintu.


"Bang, ayo bangun, tolong bukain pintunya! Sepertinya ada Aksa di luar," ucap Aina sembari melepaskan pelukannya, lalu memegang kepalanya yang masih terasa pusing.

__ADS_1


Mendengar itu, Arhan segera membuka matanya lebar, lalu menatap Aina dengan intim.


"Hmm, kenapa sayang? Apa kepalanya masih pusing?" tanya Arhan mengkhawatirkan Aina.


"Sedikit, tapi gak apa-apa kok Bang. Tolong bukain pintunya dulu ya, Aksa sepertinya rewel!" jelas Aina mengkhawatirkan putranya.


Tanpa menyahut, Arhan bergegas turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit saja.


"Pa pa," teriak Aksa sesaat setelah pintu itu terbuka, jagoan kecil itu merentangkan tangannya dan berusaha meraih pundak sang papa.


"Aksa, Papa kira siapa?" ucap Arhan sembari tersenyum kecil, lalu mengambil Aksa dari tangan Leona.


"Apa Aksa merepotkan Mama?" tanya Arhan ingin tau.


"Tidak, cucu Mama kan pintar. Mungkin Aksa sedang ingin bersama Aina, mau mimik kali," ucap Leona menerka.


"Oh ya, bagaimana keadaan Aina?" tanya Leona penasaran, dia sedikit khawatir dengan kesehatan menantunya itu.


"Tidak apa-apa Ma, cuma masih sedikit pusing katanya. Biar nanti Arhan kerokin lagi!" jelas Arhan.


"Suruh istirahat aja dulu, tidak usah banyak gerak! Nanti Mama buatin minuman herbal biar tubuh Aina kembali hangat." ucap Leona, kemudian berlalu meninggalkan Arhan.


Setelah Leona menghilang, Arhan menutup pintu kamarnya kembali, lalu membawa Aksa menemui Aina yang masih berbaring di atas tempat tidur.


"Ma ma," teriak Aksa sangat lantang.


"Sini Nak, peluk Mama dulu!" pinta Aina sembari merentangkan tangannya.


Setelah Arhan menurunkan Aksa di atas kasur, jagoan kecil itu berlari menghampiri Aina, kemudian menaiki tubuh sang Mama dan merebahkan kepalanya di dada Aina.


"Nen Ma," pinta Aksa sembari menyelipkan tangannya ke dalam piyama yang dikenakan Aina.


Melihat putranya yang begitu, Aina terkekeh dengan sendirinya, lalu mengecup kepala putranya dengan sayang.


Setelah mengeluarkan bola kenyal miliknya, Aksa segera menghisap ujung dada sang mama dengan lahap.


"Bikin iri aja kamu Nak, coba kalau Mama sedikit peka terhadap Papa."


"Masa' udah nemani semalaman gak dikasih apa-apa?" keluh Arhan sembari menelan ludahnya kasar.


"Hust, ngomong apaan sih Bang?" ketus Aina sembari membulatkan matanya.


"Pilih kasih," ucap Arhan sembari tersenyum lebar, lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Dasar gila!" Aina menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, kemudian menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arhan.

__ADS_1


__ADS_2