
Arhan membangunkan Aina yang tengah terlelap, pelan-pelan tangannya mengusap perut Aina yang masih datar lalu mengecupnya penuh cinta. Sulit menggambarkan bagaimana bahagianya dia saat ini.
Setelah Aina terbangun, Arhan menyuapinya makan. Baru beberapa sendok, Aina berlari menuju wastafel lalu memuntahkan makanan yang baru saja dia telan.
Arhan nampak panik sebab hal ini merupakan pengalaman pertama baginya menghadapi istri yang tengah hamil muda. Dia teringat kembali akan ucapan Dokter Kemal di rumah sakit. Mungkin Aina adalah salah satu wanita yang mengalami morning sickness.
Setelah menaruh piring di atas nakas, Arhan berlari menyusul Aina lalu mengusap punggungnya.
"Kenapa sayang?" Suara Arhan mengalun indah di telinga Aina.
"Gak papa Bang, mual banget rasanya." sahut Aina dengan mata berkaca-kaca.
Arhan kembali mengusap punggung Aina. Setelah merasa cukup lega, Aina menempelkan dahinya di dada Arhan.
"Bang," gumam Aina dengan suara lirih.
"Ya sayang," jawab Arhan sembari melingkarkan tangannya di pinggang Aina.
"Aina boleh minta sesuatu gak?" tanya Aina ragu-ragu.
"Aina mau apa sayang? Katakan aja!" sahut Arhan.
"Di belakang ada pohon mangga kan Bang? Bisakah Abang memetiknya untuk Aina?"
Arhan mengerutkan keningnya, bukan hal aneh jika Aina menginginkan buah mangga. Namun yang menjadi pertanyaannya, bukankah mangga di belakang sana baru saja berbuah? Seingatnya belum ada buah yang matang.
"Nanti Abang belikan ya, Aina makan dulu!" tutur Arhan.
"Gak mau, Aina maunya mangga yang di belakang." seru Aina sembari merengek layaknya anak kecil.
"Tapi mangga di belakang belum ada yang matang sayang," jelas Arhan sembari mengusap pucuk kepala Aina.
"Gak papa, Aina mau itu."
Tak ingin membuat Aina stress memikirkan buah mangga yang dia inginkan, Arhan akhirnya mengangguk.
"Baiklah, Abang akan meminta Mang Joko memetiknya. Aina tunggu di sini ya!"
"Gak mau, Aina mau ikut! Aina juga mau Abang sendiri yang memetiknya."
__ADS_1
Arhan lagi-lagi mengerutkan keningnya, begini kah rasanya memiliki istri yang tengah hamil muda. Permintaannya terasa aneh di telinga Arhan.
"Sayang, batangnya tinggi loh. Aina gak kasihan sama Abang, kalau Abang jatuh gimana?"
"Aina yakin Abang bisa memanjatnya, ayo cepat!"
Aina menarik tangan Arhan dan melangkah menuju pintu. Arhan hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah kecil istrinya.
Di belakang sana, Aina memilih duduk di sebuah bangku, matanya nampak bercahaya memandangi pohon mangga yang menjulang tinggi, buah mangga yang masih hijau bertebaran di ujung dahan. Seketika, Aina meneguk ludahnya kasar.
"Cepat Bang, ayo panjat!" seru Aina yang sudah tak sabar ingin mencicipi buah mangga tersebut.
"Aina yakin? Kalau Abang jatuh gimana? Lagian di atas sana pasti banyak semut nya, apa Aina gak kasihan sama Abang?"
Mendengar itu, wajah Aina seketika berubah lesu. Dia menekuk wajahnya dengan bibir nampak manyun, kecewa karena Arhan tak mengindahkan permintaannya.
Melihat wajah cemberut Aina yang begitu, Arhan akhirnya mengalah. Dia menghela nafas berat lalu membuangnya kasar.
"Iya, iya, Abang manjat sekarang."
Arhan menyingsingkan lengan bajunya, lalu melangkah mendekati pohon tersebut.
"Aina mau berapa?" seru Arhan yang sudah berada di atas pohon, kakinya mulai terasa geli saat para semut menjalar memasuki ujung celananya.
"3 aja Bang. Gak deh, 5 aja." teriak Aina sembari mengacungkan 5 jarinya.
Arhan nampak menggeliat sembari menepuk kakinya. Tidak hanya menjalar, barisan semut nakal itu sudah berani menggigitnya.
"Sabar Arhan, nikmati saja suka duka ini! Jangan mengeluh!" batin Arhan sembari meringis menahan panas sebab gigitan semut yang begitu leluasa menjamah tubuhnya.
Setelah berhasil memetik beberapa biji buah mangga tersebut, Arhan bergegas turun dengan kantong plastik yang melingkar di pergelangan tangannya.
Setibanya di bawah, Arhan melompat-lompat bak cacing kepanasan. Bahkan gigitan semut nakal itu sudah terasa hingga pangkal pahanya.
Karena tak kuasa menahan geli dan panas yang masih menjalar di kakinya, Arhan membuka celana yang dia kenakan, lalu mengibaskan nya. Untung saja dia masih memakai boxer di dalam sana, jika tidak... Entahlah,
Aina yang melihat itu seketika tertawa lepas, dia sampai terpingkal-pingkal menyaksikan raut wajah Arhan yang menurutnya sangat lucu.
"Hahahaha,"
__ADS_1
"Jangan tertawa Aina! Senang ya menyiksa Abang seperti ini?" gerutu Arhan dengan muka masam.
"Abang terlihat lucu dan menggemaskan," celetuk Aina sembari mengubah pandangannya, tatapannya seketika nampak begitu intim.
Aina bangkit dari duduknya, kemudian melingkarkan tangannya di lengan Arhan. "Masuk yuk!"
Arhan mengusap wajahnya kasar, hembusan nafasnya terdengar berat.
"Katanya mau makan mangga?" Arhan mengerutkan keningnya.
"Iya, kupas di dalam aja!" sahut Aina sembari tersenyum kecil.
Sebelum masuk, Arhan dengan cepat mengenakan celananya. Tidak mungkin dia masuk dengan boxer ketat seperti tadi, apa kata orang jika melihatnya seperti itu.
Di dapur, Arhan nampak bersemangat mencuci buah mangga yang baru saja dia petik, lalu mengupasnya dan mengirisnya kecil.
Aina yang sudah tidak sabar ingin mencicipi buah mangga tersebut bergegas mengambil garam halus, lalu mencocolnya dan melahapnya hingga tak bersisa.
Melihat Aina yang makan begitu lahap, mata Arhan mengerinyam hebat. Seketika air ludahnya terasa mengecut, Aina yang makan tapi lidahnya yang terasa asam.
"Astaga, jadi begini rasanya menghadapi istri yang tengah mengidam." batin Arhan sembari menelan ludahnya kasar, hatinya teriris tatkala mengingat perjuangan Aina saat mengandung Aksa. Apa waktu itu Aina juga mengidam seperti ini?
Usai menghabiskan mangga muda yang menurutnya sangat lezat, Aina kembali melingkarkan tangannya di lengan Arhan, lalu menariknya menuju anak tangga.
Aina tiba-tiba menghentikan langkahnya saat menyadari keadaan rumah yang sangat sepi. "Aksa mana Bang?"
"Aksa di kamar Mama, jagoannya kita lagi tidur sama Omanya." sahut Arhan.
"Oh,"
Tak ingin mengganggu istirahat putra dan mertuanya, Aina kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Arhan pun melingkarkan tangannya di pinggang Aina dan memeluknya erat.
Di kamar, Arhan membaringkan Aina di atas kasur lalu menutupi sebagian tubuh istrinya dengan selimut.
"Aina istirahat dulu ya, Abang mandi sebentar!" Arhan mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang, kemudian berlalu memasuki kamar mandi.
Aina menghela nafas panjang, seulas senyum terukir indah di wajah cantiknya mengingat sikap Arhan yang begitu perhatian terhadap dirinya.
Dulu saat mengandung Aksa, Aina memang tak merasakan ngidam seperti ini, dia bahkan jarang sekali merasakan mual. Mungkin Aksa tau kalau saat itu mamanya tengah berjuang sendirian.
__ADS_1
Hingga saat ini pun, Aksa tumbuh menjadi anak yang pintar dan penurut. Dia jarang sekali rewel dan bertingkah layaknya anak kecil pada umumnya. Meski umurnya baru satu tahun lebih, tapi Aksa sudah seperti anak berumur 5 tahun yang sudah bisa diberi pengertian.