Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 37.


__ADS_3

Arhan menekan tubuh Aina hingga tak menyisakan ruang gerak sedikitpun. Aina membulatkan matanya saat merasakan sesuatu menekan pahanya.


Aina masih terengah setelah berlarian menghindari Arhan, dadanya naik turun mencuri nafas. Hembusan nafasnya yang hangat, membuat Arhan semakin tergoda.


Arhan menenggelamkan wajahnya di leher Aina, mengecupnya, menjilatinya, lalu menggigitnya hingga menyisakan banyaknya tanda kepemilikan di sana.


Aina memejamkan matanya menikmati lembutnya sentuhan bibir Arhan. Bulu kuduk nya meremang menahan geli yang menggelitik.


Arhan kembali mengangkat wajahnya, menatap Aina dengan tatapan menuntut. Deru nafas keduanya semakin memburu dan beradu.


"Abang menginginkan Aina, apa Aina menginginkan Abang juga?" tanya Arhan sebelum melanjutkan aksinya.


Aina mengangguk kecil, pertanda dia juga menginginkan suaminya. Tidak ada alasan baginya untuk menolak. Arhan berhak mendapatkan haknya, Aina harus melakukan kewajibannya. Begitupun sebaliknya.


Arhan memulainya dengan mengecup kening Aina, turun ke mata, hidung, pipi, dagu, lalu berakhir di bibir ranum istrinya.


Keduanya saling melu*mat, terbuai menikmati lembutnya penyatuan bibir mereka. Deru nafas keduanya membuat suasana semakin panas.


Arhan melahap habis bibir ranum istrinya, gairahnya semakin memuncak saat Aina membuka mulut. Arhan masuk semakin dalam hingga keduanya saling membelit lidah.


Arhan semakin menggila, dia tak kuasa lagi menahan has*rat yang semakin kuat menguasai dirinya.


Arhan melepas ikatan kimono yang Aina kenakan, seketika jantungnya berdegup kencang melihat isi di dalamnya. Benda kenyal itu terpampang indah di depan matanya. Besar montok, bersih mulus tanpa cacat sedikitpun.


Arhan menenggelamkan wajahnya di tengah sana, lalu mengecupnya lembut. Tangannya tak berhenti meremas benda itu, lalu menjilati dan menggigitnya dengan rakus.


Aina menggeliat menikmati permainan suaminya, bibirnya mengeluarkan desa*han yang membuat dada Arhan berdenyut ngilu. Has*ratnya semakin memuncak melihat Aina menggigit bibirnya sendiri.


Tubuh Arhan terasa semakin panas, batang rudalnya kian mengeras menyesakkan dada.


Arhan melucuti semua penghalang yang menempel di tubuh Aina. Aliran darahnya semakin kencang saat memandangi inti istrinya yang menonjol. Sangat montok, putih dan bersih.


Sembari meremas dada Aina, Arhan mulai menenggelamkan wajahnya di tengah paha istrinya. Menjilatinya, lalu memainkannya dengan lidahnya. Membuat Aina mende*sah menikmati rasa yang entah. Tubuh Aina menggeliat dan menegang seketika.


Aina menekan kepala Arhan saat merasakan sesuatu mengalir dari dalam sana. Kakinya bergetar hebat menikmati pelepasannya yang pertama.


Arhan bangkit dari bawah sana, kemudian melu*mat bibir Aina penuh kelembutan.

__ADS_1


"Bagaimana sayang? Aina suka?" tanya Arhan dengan suara serak nya.


Aina mengangguk kecil, wajahnya memerah menahan malu. Dia merasakan sensasi yang luar biasa. Berbeda saat pertama kali Arhan mengukungnya dengan kasar.


Pelan-pelan, batang rudal Arhan mulai bergerak di bawah sana. Aina mencengkram lengan Arhan kuat saat benda itu menerobos masuk. Sangat sakit hingga Aina menjerit kecil.


Arhan kembali melu*mat bibir Aina, pinggulnya mulai berayun dengan pelan. Rasa sakit itu berubah menjadi nikmat yang tiada tara.


Desa*han Aina semakin menjadi-jadi saat Arhan mempercepat tempo permainannya. Tubuh Aina bergetar hebat, menegang, lalu mengejang saat merasakan pelepasannya yang kedua.


Arhan benar-benar menggila melihat ekspresi istrinya yang menggoda. Mata Aina terpejam sembari menggigit bibir bawahnya. Dadanya sedikit terangkat menikmati kelihaian Arhan yang mampu memuaskan dirinya.


Satu jam bergumul hingga bercucuran keringat, Arhan akhirnya menyerah. Tubuh kekarnya tersungkur lemas di atas tubuh Aina. Menanam benih baru di dalam sana.


Aina memeluk Arhan erat. Satu kali permainan, tiga kali dia menikmati pelepasannya. Membuat tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga.


...****************...


Setelah satu jam melepas kepenatan usai pertempuran panas itu, Arhan bangkit dan membopong tubuh Aina ke kamar mandi. Membantu istrinya membersihkan sisa-sisa pertempuran mereka.


Usai membersihkan diri, Arhan kembali membopong tubuh istrinya menuju ranjang. Arhan memungut pakaian yang berserakan di lantai, lalu membantu Aina mengenakannya.


Di satu sisi, Aina senang karena tugasnya sebagai seorang istri sudah dia penuhi. Namun di sisi lain, dia sangat takut. Takut Arhan meninggalkannya setelah ini.


Aina berusaha keras menelan tangisannya, sayangnya dia tidak sanggup menelan isak nya. Arhan terkejut mendengar itu.


Arhan mengangkat wajah Aina, dia terlonjak melihat wajah istrinya yang sudah basah dengan air mata.


"Kenapa menangis?" tanya Arhan, kemudian menyapu air mata Aina dengan jemarinya.


Aina menggeleng, kemudian memeluk Arhan dengan erat.


"Sudah sayang, jangan menangis! Abang di sini, Aina tidak boleh berpikir yang aneh-aneh!"


Arhan mengusap punggung Aina pelan, kemudian mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang. Dia sangat mengerti perasaan dan ketakutan istrinya.


"Tidurlah! Abang tidak akan pernah meninggalkan Aina, Abang janji!"

__ADS_1


...****************...


Pagi hari, Aina terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum melihat Arhan yang masih memeluknya dengan erat.


Aina menatap wajah lelap suaminya dengan intens. Wajah yang sudah membuatnya jatuh cinta sekali seumur hidup.


Aina menyentuh wajah Arhan dengan lembut, perasaannya semakin tak karuan. Ingin sekali dia menjamah tubuh Arhan dan merasakan kehangatan tubuh suaminya seperti tadi malam.


"Aina sayang Abang," Aina mengungkapkan rasa sayangnya, lalu mengecup pipi Arhan dengan lembut.


Arhan tiba-tiba tersenyum dan membuka matanya lebar. Membuat Aina terkejut dan bergegas menarik tangannya, lalu memalingkan wajahnya gugup.


"Nah, tertangkap basah lagi kan?" ucap Arhan, kemudian terkekeh.


"Tertangkap basah apanya?" jawab Aina pura-pura tidak mengerti.


"Mau alasan apa lagi? Nyamuk, lalat, atau kutu?" tanya Arhan menggoda istrinya.


"Kenapa Abang tertawa? Apa salah seorang istri menyentuh wajah suaminya sendiri?" Aina memanyunkan bibirnya.


"Tidak sayang, tidak ada yang salah! Hanya saja, tidak perlu diam-diam seperti tadi!"


Arhan meraih tangan Aina, lalu meletakkannya di setiap permukaan pipinya.


"Sentuh saja seperti ini! Abang senang jika Aina terbuka di depan Abang. Sekarang Abang milik Aina seutuhnya," ucap Arhan dengan senyumnya yang menawan.


"Iya, iya! Tentu saja Abang senang melihat Aina terbuka, itu mah maunya Abang kan?" Aina mengulum senyumannya.


"Kok Aina tau sih? Memangnya Aina tidak suka?" tanya Arhan dengan pandangan menggoda.


Aina menekuk wajahnya, menyembunyikan pipi merahnya dari hadapan suaminya.


Arhan mengangkat dagu Aina, dadanya berdenyut ngilu. "Cantik sekali, Abang suka melihat rona wajah Aina seperti ini. Membuat jantung Abang berdebar kencang, kenapa Aina begitu menggoda?"


"Apaan sih Bang, jangan menggoda Aina terus!" Aina mengulum senyumannya, kemudian membenamkan wajahnya di dada Arhan.


"Kenapa musti malu sih? Bukankah Abang ini suami Aina?" tanya Arhan, lalu mengecup pucuk kepala Aina penuh kelembutan.

__ADS_1


Aina terperangkap dalam bualan maut suaminya. Hatinya bergetar, jantungnya berdegup kencang. Baru kali ini dia merasakan hangatnya pelukan seorang pria, merasakan kasih sayang yang begitu tulus. Membuat rasa cintanya semakin tumbuh dan bersemi di hatinya.


__ADS_2