Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 110.


__ADS_3

Keesokan harinya, Arhan mampir ke rumah sakit sebelum berlanjut menuju kantor. Arhan yakin Hendru belum tau masalah ini, Arhan ingin meminta alamat Baron pada asistennya itu.


Tadi pagi Arhan sudah bertanya kepada semua anak buah Baron yang masih ada di rumahnya, sayangnya tidak ada seorang pun yang tau kemana Baron pergi. Mereka juga tidak tau dimana Baron tinggal saat ini.


"Pagi Hendru, Nayla, bagaimana keadaanmu?" sapa Arhan yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Udah baikan Bang, kata dokter siang ini udah boleh pulang. Masuk dulu Bang!" sahut Nayla mempersilahkan Arhan masuk.


"Syukurlah. Maaf Aina gak bisa ke sini, Baron menghilang dari rumah," ungkap Arhan hingga membuat Hendru terperanjat.


"Menghilang gimana maksudmu?" Hendru menghampiri Arhan dan berdiri saling berhadapan.


"Entahlah, semalam dia pergi tanpa pamit. Hanya pesan ini yang dia tinggalkan, sekarang nomornya gak aktif." Arhan memperlihatkan pesan yang dikirim Baron semalam kepada Hendru.


Hendru mengerutkan keningnya saat membaca isi pesan itu. "Ini maksudnya gimana sih?"


"Panjang ceritanya, nanti aja aku jelasin. Kau tau dimana Baron tinggal?" Arhan tidak mungkin menceritakan semuanya sekarang, tidak ada waktu karena dia harus segera ke kantor.


Hendru mengangkat bahunya dengan bibir mengerucut. "Aku gak tau tempat tinggalnya."


Arhan menghela nafas berat dan mengusap wajahnya berkali-kali. "Ya udah, nanti aja kita bahas. Aku pergi dulu,"


Sebelum meninggalkan ruangan, Arhan menghampiri putri bungsunya yang tengah terlelap di samping Nayla. Dengan seulas senyum Arhan mengangkat tubuh mungil itu dan mencium pipi merah sang putri dengan sayang. "Sampai jumpa di rumah ya Nak, nanti kita main sama Bang Aksa dan juga Kak Avika."

__ADS_1


Hendru dan Nayla hanya bisa tersenyum melihat Arhan yang ternyata sangat menyayangi putri mereka. Beruntung sekali mereka karena Arhan tidak membedakan bayi mereka dengan anak kandungnya sendiri.


Setelah meletakkan bayi mungil itu di samping Nayla, Arhan meninggalkan ruangan dan melanjutkan perjalanannya menuju kantor.


Di rumah, Aina tengah duduk bersama Inda di ruangan keluarga. Aina tentu masih penasaran dengan alasan yang membuat Baron pergi dari rumah. Semalam dia dan Arhan juga sempat ngobrol membahas itu.


"Inda, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Baron? Kenapa Baron memilih pergi dari rumah ini?" cerca Aina dengan pertanyaan.


Inda menekuk wajahnya, dia tidak tau harus bicara apa. Dia sendiri tidak mengerti kenapa Baron benar-benar pergi meninggalkan rumah itu.


Aina menghela nafas dalam-dalam. "Baron itu sebenarnya orang baik. Meski wajahnya terlihat garang, tapi dia itu aslinya penyayang dan lembut apalagi sama wanita." Aina menjeda ucapannya dan menatap Inda dengan intens.


Inda tidak berani menatap Aina, matanya sempat berkaca dengan tangan yang mulai dibasahi keringat dingin.


"Selama delapan bulan dia di rumah ini, apa kamu gak pernah punya perasaan sedikit pun padanya?" tanya Aina mencari tau. Aina merasa Inda menyembunyikan itu darinya.


Inda mendongak menatap manik mata Aina dengan intens. "Maaf Nyonya, bukannya aku gak suka sama Baron. Tapi wanita sepertiku gak pantas bersanding dengannya. Dia terlalu sempurna untukku, aku gak mungkin mengecewakan dia. Aku ini wanita kotor Nyonya," Akhirnya Inda membuka suara setelah cukup lama membeku bak patung.


Mata Aina membulat dengan mulut sedikit menganga. "Apa yang kamu katakan?"


Inda mengusap cairan yang mengalir di sudut matanya, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Aku dan beberapa orang gadis lain pernah dijanjikan pekerjaan. Katanya kami akan dikirim ke Jakarta untuk bekerja. Tapi kenyataannya kami dijual oleh bajingan-bajingan itu." Inda menjeda ucapannya dan menyeka air matanya yang terus mengalir.

__ADS_1


"Malam itu aku dikurung di dalam sebuah kamar, tidak lama seorang pria tua bangka masuk ke kamar itu. Aku tidak tau apa yang terjadi malam itu, paginya aku sudah dikelilingi beberapa orang polisi." lirih Inda berderai air mata.


Sebagai seorang wanita, Aina tentu saja terluka mendengar itu. Dia sendiri juga kehilangan kesuciannya sebelum menikah, tapi beruntung pria yang merenggut mahkotanya itu menikahinya hingga detik ini.


Aina memeluk Inda dengan mata berkaca, Aina tau bagaimana sakitnya saat melepaskan sesuatu yang seharusnya mereka jaga sebelum waktunya.


"Tapi kamu gak tau kan apa yang terjadi malam itu, bisa aja pria itu belum melakukan apa-apa padamu." ucap Aina.


"Aku memang gak tau dan aku gak ingat sama sekali. Tapi tetap saja aku ini wanita kotor, mereka menjual ku. Aku jijik dengan tubuh ini, pria mana yang mau menerima wanita sepertiku." isak Inda pecah seketika itu juga.


"Sssttt... Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Kamu itu korban bukan pelaku. Percayalah! Jika Baron benar-benar mencintaimu, dia pasti bisa menerimamu dengan segala kekuranganmu. Tidak semua pria itu menuntut kita untuk sempurna." jelas Aina.


"Tapi aku malu Nyonya, mana mungkin pria yang masih suci seperti Baron mau menerimaku. Dia berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." lirih Inda.


"Itu hanya pikiranmu saja, kamu belum tau bagaimana kekuatan cinta yang sebenarnya. Cinta itu tidak menuntut kita untuk sempurna, cinta itu datangnya dari hati. Jika hati sudah memilih, tidak akan ada yang bisa menghentikannya." Aina berusaha meyakinkan Inda.


Setelah Inda cukup tenang, Aina melepaskan pelukannya. Aina sendiri yakin bahwa Baron memiliki hati yang luas, Baron pasti bisa menerima Inda dengan segala kekurangannya.


"Ya udah, sekarang kamu tenangkan diri dulu ya. Masuklah ke kamar, bersihkan wajahmu! Masalah ini nanti kita bicarakan lagi!" Aina tersenyum kecil sembari mengacak rambut Inda.


Setelah Inda menghilang dari pandangannya, Aina meraih ponsel yang ada di atas meja. Siapa yang ingin Aina hubungi? Tentu saja Baron, siapa tau pria itu mau mengangkat telepon darinya.


Kali ini telepon Aina tersambung, namun tidak diangkat oleh Baron. Baron sengaja tidak mengangkat telepon dari siapapun yang berasal dari rumah itu. Untuk sementara waktu Baron ingin menenangkan diri dan menjauh untuk menghilangkan kegundahan hatinya.

__ADS_1


Baron merebahkan dirinya di atas sofa sambil menatap layar ponselnya yang terus berdering, bahkan banyak sekali notifikasi pesan masuk yang terpajang di layar ponselnya. Baron hanya tersenyum menikmati kesendiriannya yang tak tau entah sampai kapan.


Baron berpikir mungkin dirinya sudah ditakdirkan untuk hidup sendiri seperti sebelumnya. Tidak ada cinta, tidak ada pendamping. Mungkin setelah ini dia akan kembali fokus dengan pekerjaannya sebagai penjahat bayaran. Sudah cukup dia terlena dengan yang namanya cinta. Cinta yang akhirnya membuat hatinya luluh lantah seperti saat ini.


__ADS_2