
Karena Arhan begitu kekeh ingin masuk ke dalam, beberapa polisi yang sudah berada di TKP pun tak bisa lagi menahannya. Arhan tak peduli meski nyawanya sendiri yang jadi taruhannya. Yang penting istri dan anaknya bisa diselamatkan.
Arhan terbatuk-batuk sebab menghirup asap terlalu banyak, namun dia tak mau menyerah sedikitpun.
"Aina... Sayang...," teriak Arhan.
Seketika mata Arhan membulat saat menangkap keberadaan Aina yang sudah tak bergerak sama sekali. Tubuhnya berlumuran darah dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan api sudah menjalar memakan sebagian tiang tempat Aina diikat.
"Aina...,"
Dengan cepat Arhan memeluk tubuh ringkih istrinya yang sudah tak berdaya, lalu membuka ikatan tangan dan kaki Aina. Bekas ikatan yang sangat erat itu pun ikut mengeluarkan darah. Malang sekali nasib wanita itu, entah apa dosa yang sudah dia perbuat hingga berakhir seperti ini.
Tak ingin larut dalam kesedihannya, Arhan dengan cepat menggendong Aina hingga berhasil lolos dari amukan api tersebut.
Sesampainya di luar, Arhan tersungkur hingga tubuh Aina tergeletak di atas tanah.
"Apa yang kalian lihat? Cepat siapkan mobil!" teriak Arhan dengan lantang, tak peduli meski yang diteriaki nya itu petugas negara sekalipun. Persetan dengan itu semua, saat ini yang ada di otaknya hanyalah bagaimana cara menyelamatkan Aina dan anaknya.
Tidak lama, sebuah mobil polisi mendekat. Arhan kembali menggendong Aina dan duduk di bangku belakang sembari memangku istrinya. Tangisan Arhan akhirnya pecah melihat keadaan Aina yang sangat menyedihkan.
Tidak ada belas kasih sedikitpun, tidak ada rasa iba di hati mereka saat menyakiti wanita yang tengah berbadan dua itu. Bahkan anak yang tak berdosa harus menjadi korban atas kekejaman manusia biadab itu. Dari apakah hati mereka terbuat, terlahir dari manakah mereka hingga begitu tega melukai seorang wanita.
Sekitar pukul 10 malam, mobil yang ditumpangi Arhan tiba di rumah sakit. Dengan langkah kaki yang sudah sempoyongan, Arhan menguatkan diri menggendong Aina hingga ke dalam ruangan IGD.
"Dokter... Suster...," teriak Arhan lantang hingga menggema memenuhi seisi ruangan. Semua orang yang ada di dalam pun terlonjak dengan mata terbelalak.
Arhan membaringkan Aina di atas brankar dan terus saja berdiri di sampingnya. Pada saat dokter melakukan penanganan pun, Arhan sama sekali tak mau beranjak dari sisi Aina.
"Bisakah Anda menunggu di luar saja?" pinta dokter yang menangani Aina.
"Tidak, aku akan tetap di sini!" tolak Arhan yang tak mau meninggalkan Aina walau sedetik pun. Bahkan tatapan mata Arhan terlihat seperti mengancam.
__ADS_1
Sang dokter mengangguk lemah. Jika itu yang diinginkan Arhan, mau bagaimana lagi.
Satu persatu alat medis dipasangkan di tubuh Aina, mulai dari infus, oksigen, bahkan alat pendeteksi jantung. Setelah itu dokter pun membersihkan luka yang bertebaran di wajah Aina. Sungguh miris, wajah cantik Aina nyaris tak terlihat.
Usai mengobati semua luka yang ada di tubuh Aina, dokter pun menempelkan plester di setiap titik, bahkan ada yang dibalut dengan perban.
Dokter itu menghela nafas berat, bingung menentukan langkah yang harus dia ambil mengingat kandungan Aina yang sudah tak bergerak. Kemungkinan terburuk, hanya salah satu saja yang bisa diselamatkan.
"Sus, tolong hubungi Dokter Kemal!" titah Dokter Roni.
"Baik Dok," jawab suster itu.
Setelah suster keluar dari ruangan, Dokter Roni menghampiri Arhan yang tengah tersandar lemah di dinding.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arhan segera.
"Mohon maaf, saya tidak berani mengambil tindakan. Untuk luka pasien sudah saya tangani, tapi untuk kandungannya saya tidak berani. Sebaiknya kita tunggu saja Dokter Kemal sebentar, dia lebih ahli!"
"Itulah yang tengah mengganggu pikiran saya. Kandungan istri Anda sangat lemah, tidak ada gerakan sama sekali di dalam sana."
"Maksud Dokter anak saya sudah tidak ada?" Arhan meninggikan suaranya saking syok nya mendengar penjelasan dokter.
"Saya tidak bisa memastikan. Detak jantung pasien sangat lemah, sementara janin yang ada di dalam sudah tak bergerak. Jika nantinya dilakukan operasi, kemungkinan hanya salah satu saja yang bisa diselamatkan."
Bak diterpa ombak besar dan angin ****** beliung yang sangat dahsyat, tubuh Arhan berguncang hebat hingga tak ada kekuatan lagi untuk menopang tubuhnya. Sakit bak disayat sembilu, remuk bak ditimpa puing-puing bangunan. Rasanya seperti kapas yang berterbangan di udara.
Arhan terduduk lesu sembari memeluk lututnya, seketika air matanya mengalir begitu saja. Sedih, iya. Kecewa, tentu saja. Marah, apalagi. Kenapa orang-orang itu begitu tega menghancurkan kebahagiaannya? Apa kesalahan yang sudah dia perbuat? Terutama pada Aina, wanita yang tidak pernah menyakiti siapa pun, selalu lembut dalam bersikap. Kenapa masih ada saja yang tega menyakitinya?
Satu jam berlalu, Dokter Kemal tiba di ruangan. Dengan keahlian yang dia miliki di bidangnya, dia pun mulai memeriksa keadaan Aina dan kandungannya.
Sama dengan prediksi Dokter Roni tadi, Aina harus menjalani operasi secepatnya. Jika tidak, akan semakin membahayakan bagi keduanya.
__ADS_1
"Malam ini juga pasien harus dioperasi. Tapi Anda harus siap dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi! Janin tidak merespon, sementara detak jantung pasien sangat lemah. Sepertinya ada benturan keras yang menghantam perut istri Anda." jelas Dokter Kemal.
"Lakukan saja yang terbaik! Jika tidak memungkinkan untuk menyelamatkan keduanya, maka tolong selamatkan istri saya!" jawab Arhan penuh keyakinan.
Bukannya tidak sayang pada anaknya, bukan pula tidak menginginkannya. Tapi, itulah pilihan yang harus Arhan ambil saat ini. Arhan belum siap kehilangan istrinya, Arhan tidak akan siap hidup tanpa Aina. Wanita yang sudah mengubah hidupnya dari kegelapan menjadi terang dan bercahaya.
"Sus, tolong siapkan semuanya!" titah Dokter Kemal.
Arhan hanya bisa berdoa agar operasi ini berjalan dengan lancar. Meski sebenarnya dia masih penasaran hingga bertanya-tanya. Siapa otak dari penculikan ini? Siapa dalang yang menginginkan kematian Aina? Untuk apa mereka melakukan ini?
Namun Arhan berusaha keras menahan keingintahuannya, untuk saat ini keselamatan Aina lebih penting dari segala-galanya. Sementara, hal itu harus dia kesampingkan terlebih dahulu.
Aina sudah dibawa masuk ke ruang operasi, Arhan pun lagi-lagi tak mau meninggalkan istrinya berjuang sendirian. Arhan akan menemani sampai Aina bisa membuka matanya kembali.
Dengan mata yang mulai basah, Arhan terus saja menggenggam tangan Aina dengan erat. Sementara mulutnya terus saja komat kamit di telinga Aina. Melantunkan beberapa doa dan memberi semangat untuk istrinya. Arhan yakin Aina bisa mendengarnya.
Satu jam berlalu, seorang bayi kecil dikeluarkan dari perut Aina. Tak ada tangis, bahkan bergerak pun tidak. Bayi malang yang terpaksa keluar sebelum waktunya dan dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Hanya sebesar botol limun, sangat kecil hingga gampang saja diangkat dengan sebelah tangan.
...------------------------------------------------...
Gimana kak?
Komen dong!
Komentar kakak2 semua tentunya bisa menjadi inspirasi buat author.
Menjadi penyemangat untuk berusaha memberikan yang terbaik.
Maklum masih belajar, hehe...
Lope you taroroh untuk kakak2 semua...
__ADS_1