Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 45.


__ADS_3

Mobil Arhan sudah terparkir di garasi, keduanya melenggang masuk ke dalam rumah sembari bergandengan tangan.


Setibanya di dalam, keduanya mendapati Leona dan Airlangga yang tengah duduk di meja makan. Sementara Aksa tengah bermain sendirian di dalam box bayinya.


"Malam Ma, Pa," sapa Aina dan Arhan bersamaan, lalu menghampiri Aksa.


"Malam sayang, makan dulu yuk!" ajak Leona.


"Mama sama Papa makan saja! Kami udah makan di luar barusan." jawab Arhan, kemudian menggendong Aksa ke dalam dekapannya.


"Iya Ma, kami udah makan tadi. Aina izin ke kamar dulu ya Ma, Pa, Aina mau nyusuin Aksa sebentar!" ucap Aina, lalu mengambil Aksa dari tangan Arhan. Kemudian berjalan menaiki anak tangga.


Sepeninggal Aina, Arhan duduk di samping Airlangga dengan seulas senyum yang terpahat di wajahnya. Hari ini dia benar-benar bahagia setelah menghabiskan waktunya bersama Aina.


"Kok senyum-senyum begitu sih? Ada apa?" tanya Airlangga sembari menautkan alisnya.


"Tidak apa-apa Pa, Arhan senang memiliki keluarga yang utuh seperti sekarang." jawab Arhan, lalu menghela nafas panjang.


"Bagus kalau begitu. Ingat, jangan pernah menyakiti istrimu! Sebaik-baik laki-laki adalah yang bisa menjaga hati dan perasaan wanitanya." Airlangga mengambil nafas sejenak.


"Jantung rumah tangga itu ada pada istrimu. Jika hatinya terluka, percayalah tidak akan ada kebahagiaan di dalam rumah tangga kalian!" jelas Airlangga yang selalu mengingatkan putranya untuk tidak melukai perasaan Aina.


"Papa tenang saja, kali ini Arhan bahagia dengan pilihan Arhan! Arhan sangat mencintai Aina, mana mungkin Arhan menyakitinya?" jawab Arhan penuh keyakinan.


"Baguslah, Mama juga berharapnya begitu! Awas saja jika kamu menyakiti Aina, Mama sendiri yang akan turun tangan!" tambah Leona dengan tatapan membunuhnya.


"Hahaha, hebat juga kalian berdua ini. Kok bisa kompakan gini sih? Seakan-akan Aina lah putri kalian yang sesungguhnya." celetuk Arhan sembari terkekeh.


"Karena kami merindukan seorang putri seperti Aina. Jika kami boleh memilih, maka kami akan memilih Aina sebagai anak kami, bukan kamu si pembuat masalah!" sambung Airlangga dengan tatapan tak kalah membunuhnya.


"Astaga Pa, Ma, segitu hina kah Arhan di mata kalian?" keluh Arhan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


"Memang hina, pria macam apa yang suka berganti pasangan tidak jelas seperti kamu? Untung saja cebong mu tumbuh di rahim Aina. Andai kata wanita lain, belum tentu wanita itu sebaik Aina. Jika lebih parah dari istri pertamamu bagaimana?" tambah Leona.

__ADS_1


"Iya Ma, Pa, Arhan mengaku salah. Arhan janji tidak akan mengulanginya lagi. Arhan tidak mau Aksa mengikuti jejak kelam Arhan, dia harus tumbuh menjadi pria yang baik seperti Opanya!" jawab Arhan memuji Airlangga.


"Syukurlah kalau otakmu masih berfungsi dengan baik. Pergilah ke kamarmu! Aroma di sini menjadi tidak sedap karena mu." ketus Airlangga.


Mendengar itu, Arhan mengangkat lengannya, lalu menghidu ketiaknya. "Loh, aroma apaan? Wangi begini kok, apanya yang tidak sedap?" keluh Arhan sembari menautkan alisnya.


"Hahahaha, dasar bodoh! Papamu hanya bercanda," Leona pun terkekeh melihat muka putranya yang berubah dalam sekejap.


"Ya sudah, lanjutkan makan kalian! Arhan mandi dulu,"


Arhan bangkit dari duduknya, kemudian melenggang meninggalkan meja makan.


Di atas sana, Aina baru saja selesai menyusui Aksa. Setelah putranya tertidur, Aina menaruhnya di dalam box bayi. Lalu masuk ke kamar mandi membersihkan diri.


Tak berselang lama, Arhan tiba di dalam kamar. Karena tak melihat Aina di mana-mana, dia pun melangkah menuju kamar mandi. Syukur-syukur Aina tak mengunci pintu hingga kesempatan emas pun berpihak padanya.


Saat menekan kenop pintu, benar saja apa yang dia pikirkan. Pintu itu seketika ternganga, Arhan pun melenggang masuk dan menutupnya kembali dengan pelan.


Aina yang dalam keadaan basah kuyup langsung terlonjak melihat kedatangan suaminya. Dia bergegas meraih handuk, namun Arhan dengan cepat menahan tangannya.


"Apa yang Abang lakukan di sini?" tanya Aina balik, wajahnya merona saking gugup dengan keadaannya yang masih polos, hanya ada segitiga berwarna pink yang menutupi bagian intinya.


"Apa lagi yang bisa Abang lakukan jika sudah seperti ini?" Lirikan mata Arhan membuat Aina semakin gugup.


"Jangan macam-macam Bang, menyingkir lah." ketus Aina, lalu berusaha keras meraih handuk yang masih tergantung.


"Aina lupa di mobil tadi bilang apa sama Abang?" tanya Arhan dengan tatapan menuntut, dia bahkan tak memberi celah bagi istrinya untuk menghindar.


"Tapi kan bisa nanti Bang, jangan sekarang ya!" pinta Aina memelas.


"Tapi Abang maunya sekarang sayang, gimana dong?" goda Arhan, lalu semakin mendekat dan membenamkan wajahnya di leher Aina.


Arhan tak bisa lagi membendung keinginannya, tubuh Aina yang basah membuat li*bi*do nya meningkat drastis. Dia menghujani leher Aina dengan kecupan bertubi-tubi, menjilatinya, lalu menggigitnya geram hingga Aina tak berdaya lagi mengelak dari serangan suaminya.

__ADS_1


"Akhh," Desa*han Aina yang menggoda membuat Arhan semakin gencar menaklukkan tubuh istrinya.


Aina menggeliat geli, lalu mengalungkan tangannya di leher Arhan. Setelah melepaskan gigitannya yang membuat leher Aina penuh dengan cap merah, Arhan pun mengesap bibir Aina dengan rakus. Mereka saling melu*mat hingga deru nafas keduanya terasa hangat menerpa wajah masing-masing.


Tangan Arhan mulai merayap kemana-mana, tak satupun bagian sensitif istrinya lepas dari penguasaannya. Saat keduanya tengah asik membelit lidah, Arhan meremas dada istrinya dengan lembut, cairan ASI jatah Aksa pun nampak mengalir membasahi perut Aina.


Arhan mulai gerah, tubuhnya semakin memanas. Bahkan celananya terasa sempit saat batang rudalnya menegang di bawah sana. Satu persatu pakaian yang dia kenakan pun jatuh berserakan di atas lantai.


Saat tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benang pun, Arhan menenggelamkan wajahnya di belahan dada Aina. Mulutnya menganga lebar, lalu melahap habis bola kenyal milik Aina tanpa ampun. Saat mulutnya terasa penuh, dia pun membuang cairan ASI itu ke lantai. Dia sadar tak boleh menelan cairan itu.


Aina semakin tak berdaya di dalam kungkungan suaminya, tubuhnya bergetar hebat. Dia pun tersandar di dinding karena tak kuat menopang tubuh suaminya yang masih bergelayut di dadanya.


Sembari memainkan dada Aina dengan lidahnya, tangan Arhan tiba-tiba sudah menetap di inti istrinya. Hal itu membuat Aina menge*rang hebat, kakinya bergetar merasakan nikmat yang tak terhingga.


Melihat istrinya yang begitu, Arhan pun menekuk kakinya. Dia mengecup perut Aina lembut, turun ke pusar, lalu turun ke inti istrinya. Arhan menjilati kelopak mawar pink itu dengan lembut, kemudian memutarnya dengan lidahnya. Seketika Aina pun menjerit kecil menikmati pencapaiannya.


"Akhh," Erangan Aina menyatu dengan tubuhnya yang sudah bergetar hebat, rasanya seperti di sengat aliran listrik.


"Aina tidak kuat lagi Bang," gumam Aina dengan nafas kian memburu.


Arhan bangkit dari jongkok nya, dengan cepat dia memutar tubuh Aina hingga memunggungi dirinya.


Pelan-pelan, batang rudal Arhan menyelinap masuk dari belakang. Aina kembali menjerit kecil, erangan keduanya menyatu memenuhi seisi kamar mandi.


Arhan menekan inti Aina hingga keseluruhan batang rudalnya menghilang. Gerakannya yang keluar masuk membuat Aina mende*sah tiada henti. Bahkan saat Arhan mempercepat tempo permainannya, Aina berpegang erat pada kran air. Tubuhnya semakin mengejang dan bergetar tiada henti.


"Akhh," Desa*han Aina tak bisa dibendung lagi, mulutnya tak bisa diam meskipun sesaat.


Arhan meremas kedua bola kenyal Aina dengan deru nafas yang kian memburu, lalu menggempur inti istrinya tiada henti. Hingga pada akhirnya, Arhan menyerah dan memeluk tubuh Aina dengan erat.


"Akhh," erang Arhan dengan dahsyatnya, lumpur vanilla itu menyembur deras hingga menetes di permukaan lantai.


Setelah mencabut batang rudalnya, Arhan kembali membalikkan tubuh Aina. Dia mengesap bibir ranum Aina penuh kelembutan. Seulas senyum terukir jelas di wajah keduanya.

__ADS_1


"Maafkan Abang sayang," bisik Arhan sembari mengatur nafasnya.


"Untuk apa minta maaf? Aina tidak keberatan kok." Aina memeluk tubuh Arhan dengan erat, lalu menyalakan shower hingga mengguyur tubuh keduanya yang masih menempel erat.


__ADS_2