Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 134.


__ADS_3

Usai makan siang, ketiga tikus kecil itu masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat. Ketiganya memang ditempatkan di kamar yang sama, namun sesekali Inara masih mengungsi ke kamar Nayla saat mood nya lagi tidak baik.


Sementara Aksa sendiri tidak mau satu kamar dengan adiknya. Dia tidak ingin privasinya di ganggu oleh adik-adiknya itu termasuk Inara yang masih saja tidak dia sukai hingga detik ini. Meski tak lagi mengganggu Inara, tetap saja dia malas melihat adiknya yang satu itu karena memiliki rupa yang jelek menurutnya.


Aina dan Nayla menyusul ke kamar tiga tikus kecil kesayangan mereka. Setelah memastikan ketiganya benar-benar sudah tidur, Aina dan Nayla pun berlalu meninggalkan kamar mereka.


Nayla melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya, sementara Aina berputar ke kamar Aksa.


Setelah mengetuk pintu, Aina pun membukanya dan berkata. "Boleh Mama masuk?"


"Iya Ma, masuklah!" jawab Aksa dengan mode cool nya yang tak pernah lepas dari dirinya.


Aina mengukir senyum di bibirnya dan melangkah menghampiri Aksa, kemudian duduk di sisi ranjang sembari menilik wajah tampan putranya yang sangat mirip dengan sang papa.


"Ada apa Ma?" tanya Aksa cuek.


"Gak ada Nak, Mama cuma pengen ngobrol sama Aksa. Rasanya udah lama banget kita gak duduk berdua seperti ini." jawab Aina sembari mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Aksa.


Aksa mendongak dan menggembungkan pipinya. "Jangan disentuh Ma, nanti rambut Aksa rusak!"


Aina terperanjat dan segera menarik tangannya. "Maaf sayang, Mama gak bermaksud merusak rambut Aksa. Nanti Mama bilang sama Papa untuk ngajakin Aksa ke barbershop ya."


Aksa menautkan alisnya. "Gak usah Ma, biar panjang dulu baru dibentuk lagi! Aksa pengen ganti gaya rambut." jawab Aksa dingin.


Aina menghela nafas berat dan membuangnya kasar. Bagaimana bisa di melahirkan seorang putra yang begitu dingin seperti ini. Bahkan untuk tersenyum pun Aksa sangat jarang.


"Ya udah, kalau gitu Aksa istirahat aja ya. Mama keluar dulu,"

__ADS_1


Aina ingin sekali memeluk Aksa namun dia sama sekali tak berdaya melakukannya. Saat menyentuh kepala putranya saja Aksa terlihat sangat enggan, mana mungkin dia berani memeluknya.


Aina bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu, namun seketika langkahnya terhenti saat Aksa memanggilnya.


"Ma,"


Segera Aina berbalik dan menatap Aksa dengan intim. "Iya sayang,"


"I love you," seru Aksa sembari menyilangkan telunjuk dan ibu jarinya di udara.


Aina tersentak dengan mata berkaca, rasanya seperti mimpi saat mendengar Aksa mengucapkan kalimat itu padanya.


"I love you to," sahut Aina sembari melakukan hal yang sama.


Tiba-tiba Aksa bangkit dari kasur dan berlari mengejar Aina lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang mama.


Aina yang sudah lama sekali menginginkan pelukan itu langsung menangis tersedu dan memeluk Aksa dengan erat.


Aina berusaha keras menghentikan tangisannya. "Gak kok sayang, Mama gak nangis. Mama hanya kaget, Mama pikir Aksa gak akan pernah meluk Mama lagi."


"Mama jangan mikir aneh-aneh! Mana mungkin Aksa gak sayang sama Mama? Mama itu ibu terhebat, makasih karena Mama sudah melahirkan Aksa ke dunia ini. Aksa janji akan melindungi Mama dari orang-orang jahat di luar sana."


Mendengar itu, air mata Aina kembali berguguran. Bisa-bisanya anak sekecil itu berkata dengan yakinnya akan melindungi dirinya. Meskipun begitu Aina merasa senang mendengar penuturan Aksa itu, setidaknya hatinya merasa lega karena Aksa sama sekali tidak membencinya.


"Iya, Mama percaya sama Aksa. Maafin Mama ya Nak, selama ini Mama sering banget marahin Aksa."


"Gak papa Ma, Aksa tau Mama marahin Aksa karena Mama menyayangi Aksa. Aksa juga minta maaf ya Ma, Aksa terlalu nakal jadi anak. Aksa janji tidak akan nakal lagi."

__ADS_1


Aina menangkup tangannya di pipi Aksa dan menciumnya dengan penuh kasih sayang, lalu memeluk Aksa dengan erat.


"Udah ya Ma, pokoknya Mama gak boleh lagi mikir macam-macam. Selamanya Aksa akan tetap menyayangi Mama."


Setelah saling mengungkapkan isi hati masing-masing, Aina melepaskan pelukannya dan membiarkan Aksa kembali ke ranjang dan berbaring melepas penat.


Kali ini senyuman Aina terlihat begitu lepas, dia merasa lega karena putra sulungnya sudah mau berbicara padanya. Tidak seperti biasa yang hanya bicara sepatah dua patah kata lalu meninggalkannya begitu saja.


Aina berbalik dan menutup pintu kamar Aksa lalu berjalan ke kamarnya. Sementara Aksa sendiri nampak menangis dalam pembaringannya. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa mengungkapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam.


Aksa menyimpan dendam yang begitu besar terhadap orang-orang yang pernah menyakiti Aina. Sebab itulah dia tidak bisa mengungkapkan kemarahannya hingga mendarah daging di hatinya. Tapi setelah melihat air muka Aina tadi, dia tidak sanggup lagi bertahan dalam sikap dinginnya sehingga melepaskannya pada sang mama.


Di kantor, Arhan tengah bersiap-siap untuk pulang. Sembari menunggu Hendru yang masih berada di ruangannya, dia pun mengeluarkan ponsel dan menghubungi Aina untuk mengisi waktu kosongnya.


"Ada apa Bang? Kangen ya?" jawab Aina dari layar ponsel yang terhubung melalui video call.


"Hmm... Dari jauh aja berani mancing-mancing. Coba kalau di rumah, langsung ciut nyalinya." ejek Arhan sembari tersenyum kecil.


"Hahahaha... Tau aja, tumben video call, ada apa?" cerca Aina sambil tertawa terbahak-bahak.


"Beda banget suasana hatinya, abis menang lotre ya? Traktir dong!" seloroh Arhan yang merasa aneh dengan sikap Aina yang tiba-tiba lebih bersemangat dari biasanya.


"Boleh, nanti malam Aina traktir ya. Udah lama juga kita gak makan di luar, tapi Abang yang bayar ya." jawab Aina enteng.


"Loh, kalau Abang yang bayar sama aja bohong dong. Aina gimana sih?" keluh Arhan dengan kening mengkerut.


"Bohong di mananya? Uang Abang uang Aina juga kan, jadi sama aja. Itu pun kalau Abang mau, kalau gak mau juga gak papa kok. Aina perginya sama anak-anak aja. Udah ya, bye..."

__ADS_1


Setelah melambaikan tangannya, Aina langsung mematikan sambungan video call mereka tanpa menunggu jawaban dari Arhan. Biar saja suaminya itu kelimpungan sendiri. Siapa suruh begitu perhitungan sama istri? Begitulah pikiran Aina saat ini, padahal mana ada Arhan pelit padanya.


Selama ini Arhan selalu mencukupi kebutuhan Aina tanpa kurang satu apapun jua. Dia juga memberikan uang bulanan yang cukup fantastis hingga Aina tak pernah merasa kekurangan, belum lagi nafkah pribadi yang masuk ke rekening khusus Aina. Bahkan uang tersebut nyaris tak tersentuh oleh Aina, yang ada tiap bulannya kian bertambah dan menggunung.


__ADS_2