Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 101.


__ADS_3

Siang tadi Tasya nyaris berhasil meloloskan diri dari kejaran anak buah Baron. Dia sempat mengganti mobil agar tak terlacak keberadaannya, sayangnya Baron tak sebodoh itu. Anak buahnya bertebaran dimana-mana, tidak sulit baginya menangkap iblis betina itu.


Saat Tasya menghentikan sebuah taksi yang tengah melaju di jalanan, saat itu pula lah hidupnya berakhir. Bukannya membawa Tasya ke bandara, sang sopir malah membawanya ke gudang. Dan kini, semua sudah berakhir.


Tasya tergeletak tak sadarkan diri, tubuhnya remuk, tulang belulangnya serasa bercerai dari sendinya. Begitulah kejamnya Baron jika sudah beraksi, maka dari itu tak ada seorang pun yang berani menentangnya.


Baron meneguk segelas minuman, kemudian meninggalkan ruangan dan naik ke atas sepeda motornya.


"Tobi, keluarkan tikus-tikus itu dari dalam sana!" perintah Baron saat hendak meninggalkan gudang.


"Ih, menjijikkan sekali." gumam Tobi dengan sebelah bibir terangkat naik.


"Hahaha... Kau juga bisa mencicipi ja*lang itu, jangan sungkan!" seloroh Baron, lalu menarik gas motornya hingga melaju kencang.


"Brengsek!" teriak Tobi sembari melemparkan batu ke arah Baron, sayangnya pria itu sudah menghilang secepat kilat.


Pukul 11 malam, motor yang dikendarai Baron sudah terparkir di garasi. Saat turun, pria itu tiba-tiba terhuyung dan hampir saja tersungkur.


"Ada apa ini? Kenapa kepalaku mendadak pusing?" batin Baron sembari membuka helmnya, lalu memijat dahinya perlahan.


Seketika Baron terlonjak saat ingatannya kembali mundur beberapa langkah. Dia ingat betul telah meneguk segelas minuman sebelum meninggalkan gudang.


"Ah, sial! Kenapa aku malah ikut meneguk minuman itu?" kesal Baron merutuki kebodohannya. Dia sendiri yang merencanakannya, dia juga yang kena batunya.


Segera Baron berlari memasuki paviliun, masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya yang mulai memanas.


"Akhh..." Imajinasi liar Baron mulai bermain di otaknya, tubuhnya semakin memanas tak menentu.


"Sadar Baron, sadar!" Sekuat tenaga Baron mencoba menepis pikiran kotornya, mengubahnya dengan pikiran positif agar keinginan itu tidak merajalela di otaknya.


Baron bergeming untuk sesaat, mendadak bayangan seorang wanita menari-nari di pelupuk matanya. Saat itu juga tangannya bermain di bawah sana.


Wanita itu mendekat dan berbisik di telinganya hingga bulu kuduk Baron meremang. Sementara sepasang buah dadanya menonjol indah di depan wajah Baron. Perlahan bibirnya mendekat dan mengecup bibir Baron, lalu melu*matnya dengan lembut.


Tanpa ragu, Baron menarik tengkuk wanita itu dan melu*mat bibirnya dengan rakus. Membelit lidah wanita itu hingga deru nafas keduanya kian memburu.


Tangan Baron mulai bergerak meremas kedua benda kenyal itu, lalu melahapnya tanpa ampun. Baron menghisap ujung dada wanita itu, menjilatinya dan menggigitnya hingga wanita itu mende*sah dengan manja.


"Aahh... Aahh...,"

__ADS_1


"Ngeoooow...,"


Baron terlonjak saat mendengar suara kucing yang tengah berkelahi.


"Sial! Dasar kucing gak ada akhlak, gangguin orang lagi berfantasi aja!" gerutu Baron. Tanpa dia sadari, ternyata lendir keramat itu sudah menyebar di dalam air.


Untung sudah keluar, jika tidak betapa tersiksanya pria itu menahan tanpa ada tempat untuk melepaskan. Dan untungnya lagi, Baron tidak terlalu banyak meneguk minuman tadi.


Segera Baron membersihkan diri dengan kaki yang masih bergetar. Usai mandi dia pun segera mengenakan pakaian, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


"Ah, senjata makan tuan." gumam Baron, perlahan matanya mulai terpejam dan masuk ke alam mimpinya.


Di atas sana, Arhan masih penasaran menunggu penjelasan dari Baron. Sayangnya dia tak bisa melakukan apa-apa karena Aina tengah terlelap di dadanya. Dia pun akhirnya memilih tidur, mungkin besok pagi dia bisa menemukan jawabannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam telah menghilang, matahari pagi mulai muncul dari ufuk timur. Satu persatu insan manusia terbangun dari tidurnya. Begitupun dengan Arhan dan Aina.


"Pagi sayang," sapa Arhan dengan mata separuh terbuka.


"Pagi juga," sahut Aina sembari mengucek matanya.


"Mau kemana sayang?" tanya Arhan sembari meraih tangan Aina.


"Ke kamar mandi," sahut Aina dengan dingin.


"Sama Abang ya, biar Abang temanin!" tawar Arhan sembari bangkit dari tidurnya.


"Gak usah, Aina bisa sendiri kok. Biarkan Aina belajar mandiri tanpa bergantung pada orang lain! Jika suatu saat Aina harus pergi, Aina tidak akan canggung menjalani hidup ini."


Aina menarik tangannya dari genggaman Arhan dan melangkah menuju kamar mandi. Sementara Arhan masih terpaku menelaah kata-kata Aina barusan.


"Mandiri? Pergi?" Arhan mengerutkan keningnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


Apa Aina masih memikirkan persoalan kemaren? Bukankah Arhan sudah menjelaskan kalau dirinya hanya bercanda? Apa maksud Aina sebenarnya? Apa Aina masih marah padanya?


Segera Arhan menyusul masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati Aina yang sudah separuh telanjang di bawah guyuran shower.


Setelah melepaskan pakaiannya, Arhan ikut berdiri di depan Aina yang tengah duduk di kursi plastik.

__ADS_1


"Aina mau ninggalin Abang hah?" geram Arhan sembari membungkukkan punggungnya.


Aina tak menyahut, dia malah sibuk menggosok tubuhnya seakan tak ada siapa-siapa di sana.


"Mmm...,"


Tanpa permisi, langsung saja Arhan melahap habis bibir Aina tanpa sisa.


"Apaan sih?" Aina mendorong wajah Arhan hingga pagutannya terlepas.


"Jawab! Aina mau ninggalin Abang?" desak Arhan dengan tatapan membunuhnya.


"Gak ninggalin, tapi ditinggalin. Kalau udah ditinggalin, untuk apa lagi di sini?" jawab Aina dengan entengnya.


Arhan menggertakkan giginya, lalu menyentil dahi Aina saking jengkelnya.


"Au, sakit Arhan." keluh Aina dengan tatapan mematikan.


"Hmm, pintar sekarang ya. Arhan, Arhan, udah lupa cara ngehormatin suami?" gerutu Arhan, lalu mengeratkan rahangnya kuat. Ingin sekali dia mengunyah Aina saat ini juga.


"Hehehe, Arhan." Bukannya minta maaf, Aina justru mengulanginya lagi.


Arhan menghela nafas berat. "Baru dua kali ya. Jika sekali lagi ngomong begitu, Abang sumpal mulut Aina hingga sesak." ancam Arhan yang sepertinya tak main-main dengan ucapannya.


"Alah, sok ngancam. Bilang aja lagi pengen, iya kan?" goda Aina, lalu tertawa terbahak-bahak.


Arhan membulatkan matanya dengan sempurna. "Astaga sayang, Aina sebenarnya kenapa sih? Tadi lain, sekarang lain, nanti lain lagi. Jangan mancing emosi Abang terus dong! Abang udah susah payah nahan diri, kasihanilah suamimu ini!" lirih Arhan dengan wajah memelas.


"Yang nyuruh nahan siapa? Lepasin aja kalau Abang mau!" jawab Aina dengan entengnya.


"Mau dilepasin kemana sayang? Itu aja masih merah," keluh Arhan dengan wajah sendunya.


"Sini!" Aina menunjuk belahan dadanya.


Arhan mengerutkan keningnya sembari menatap dada Aina. "Aina yakin?"


"He'eh, ayo cepat! Nanti putri kita keburu bangun," desak Aina.


Pilihan paling tepat untuk saat ini, Aina juga kasihan melihat Arhan menahan terlalu lama. Takut khilaf dan lepas ke sarang lain. Namanya juga laki-laki, tak bisa ditebak.

__ADS_1


Setelah melakukan pemanasan yang cukup panjang, Arhan pun menggesekkan tongkat saktinya di belahan dada Aina. Setelah beberapa menit, Arhan mencapai puncaknya dan segera melu*mat bibir Aina dengan sangat rakus. Akhirnya cebong itu keluar meski bukan pada tempatnya.


__ADS_2