Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 58.


__ADS_3

Sekitar pukul 8 pagi, semua berkumpul di meja yang sudah disediakan di outdoor. Karena hari ini adalah hari terakhir mereka di tempat itu, Aina ingin menghabiskan sisa waktunya tanpa melewatkan satupun keindahan alam di sana.


Seperti biasa, Aina duduk bersebelahan dengan Arhan. Di depan mereka ada Nayla dan Hendru yang kini sedikit berbeda dari biasanya. Masih ada rasa canggung, namun sesekali keduanya nampak saling melempar senyum.


Karena sarapan sudah terhidang di atas meja, mereka semua mulai menikmatinya tanpa bersuara. Bahkan Aksa pun nampak lahap menikmati makanan spesial yang sudah disediakan untuknya.


Usai sarapan, Nayla membawa Aksa bermain di kamarnya. Hendru pun ikut menemani keduanya. Sementara Arhan dan Aina memilih berjalan-jalan menikmati pemandangan indah di sana.


Setelah puas menikmati suasana pagi di kawasan resort, Arhan dan Aina berencana mengelilingi pulau moyo dan memesan sebuah perahu kecil.


Namun sebelum itu, keduanya kembali ke kamar menemui Nayla dan Hendru. Barangkali mereka berdua ingin ikut bersama mereka.


Karena Nayla tak ingin kemana-mana, Hendru pun juga tak mau meninggalkannya sendirian di sana. Keduanya memilih tinggal karena Nayla sebenarnya takut naik kapal, apalagi menyusuri lautan.


Karena keduanya tak ada yang mau ikut, Arhan pun menitipkan Aksa kepada mereka. Arhan takut Aksa akan kelelahan karena perjalanan yang ingin dia dan istrinya tempuh cukup panjang.




Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Pantai Poto Jarum. Pantai ini berada di kawasan lindung sehingga terasa alami dan nyaman.


Karang berukuran besar di pinggir pantai menjadi keunikan tersendiri dari pantai ini.


Melihat air laut yang begitu jernih, Aina rasanya ingin melompat untuk menjelajahi kedalaman laut yang membentang luas.



Kemudian berlanjut ke Pantai Tanjung Pasir, di sini keduanya disuguhi pemandangan pasir putih yang terhampar luas. Bahkan air laut yang begitu jernih membuat Aina begitu terkesima, rasanya sangat enggan meninggalkan tempat itu secepat ini.




Dan yang terakhir adalah Takat Sagele. Tempat ini merupakan sebuah pulau dengan ukuran mini yang terbentuk dari gundukan pasir, koral, dan terumbu karang mati. Sangat unik dan sedap dipandang mata. Aina bahkan tidak lupa mengabadikan momen tersebut di dalam ponselnya.


Asik menjelajahi setiap sudut pulau yang begitu indah, hari pun mulai gelap. Setelah menikmati sunset dari tengah Takat Sagele, Arhan pun meminta sang pemandu mengantar mereka kembali ke Amanwana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di kamar sana, Nayla, Hendru dan Aksa tengah tertidur di atas ranjang yang sama. Seharian bermain membuat ketiganya begitu kelelahan. Apalagi seharian ini Aksa seperti sengaja mengerjai om dan aunty nya itu.


Tidak hanya menyulitkan Nayla dan Hendru di dalam kamar, Aksa juga mengajak keduanya bermain di tepi pantai seperti kemaren pagi. Nampaknya anak itu ketagihan berendam di dalam air laut dan juga bermain pasir.


Tepat pukul 7 malam, Arhan dan Aina sudah mendarat di Amanwana. Sebelum membersihkan diri di kamar, mereka berdua menyempatkan diri melihat Aksa terlebih dahulu. Takutnya jagoan mereka rewel hingga menyusahkan Nayla dan Hendru.


Saat membuka pintu kamar Nayla, Aina dan Arhan tertegun di tempatnya berdiri. Pemandangan yang sedikit aneh dan langka, namun membuat keduanya saling melempar senyum.


"Astaga Bang, mereka bertiga terkapar layaknya bala tentara yang habis perang." gumam Aina sembari tersenyum kecil.


"Sssttt, biarkan saja sayang! Pasti mereka bertiga kelelahan, Abang yakin Aksa telah merepotkan Nayla dan Hendru seharian ini. Kita ke kamar aja ya!" bisik Arhan, lalu menutup pintu kamar Nayla dan membawa Aina ke kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Aina menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan posisi tengkurap. Hembusan nafasnya terdengar berat, bahkan matanya hampir saja terpejam saking lelah dan ngantuknya.


"Sayang, kok malah tidur? Mandi dulu dong, bau tau!" ajak Arhan, kemudian membalikkan tubuh istrinya, lalu membopong Aina ke kamar mandi.


Bukannya menyalakan air, Aina justru memeluk Arhan dengan erat. Bahkan matanya masih terpejam saking beratnya.


"Sayang, ayo buka matanya! Mandi dulu, abis ini baru tidur biar segar!" ucap Arhan sembari menepuk pipi Aina pelan.


"Mmm, Aina ngantuk banget Bang. Biarkan Aina tidur sebentar!" gumam Aina dengan suara yang terdengar hilang timbul sebab bibirnya sudah menempel di leher Arhan.


"Sayang, jangan menggoda Abang! Ayo buka matanya, jangan sampai Abang kehilangan kendali! Abang tau Aina lelah," tegas Arhan, kemudian menelan ludahnya kasar. Untung saja otaknya masih waras, jika tidak entah apa yang akan terjadi.


Mendengar itu, Aina bergegas melepaskan pelukannya, lalu membuka matanya lebar. Dia tau Arhan tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.


"Iya, iya, Aina mandi sekarang. Abang keluarlah!"


Aina mendorong lengan Arhan hingga bergeser sampai luar pintu, kemudian menguncinya dengan cepat. Dia benar-benar syok, takut Arhan akan mengukungnya lagi. Sisa semalam saja masih membuatnya V nya perih.


"Sayang, kenapa pintunya dikunci?" teriak Arhan sembari menekan kenop pintu berulang ulang.


"Tentu saja dikunci, Abang pikir Aina gak tau isi kepala Abang itu?" sahut Aina sembari mencopot satu persatu pakaian yang dia kenakan.


"Hahaha, kok jadi segitunya sih sayang? Abang kan cuma bercanda," balas Arhan sembari tertawa lepas, tak disangka Aina akan terpengaruh dengan ucapannya.


"Bodo amat, pergilah! Aina mandi sebentar, 5 menit doang kok!"


Aina menyalakan shower, dia memilih air hangat untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Apalagi cuaca di luar mulai terasa dingin.

__ADS_1


Sekitar 10 menit berlalu, Aina keluar dengan handuk yang melilit di sebagian tubuhnya. Dia berdiri di depan cermin sembari mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah.


Arhan yang melihat itu bergegas menghampiri Aina, lalu berdiri tepat di belakang istrinya.


"Abang bantu ya!" tawar Arhan sembari meraih handuk kecil yang ada di tangan Aina.


"Aina bisa sendiri kok Bang, Abang mandi aja, keburu malam!" tolak Aina yang tak mau merepotkan suaminya.


"Yakin?" ucap Arhan sembari mengulum senyumannya, dia berniat menggoda Aina.


"Yakin Abang, jangan mulai deh!" keluh Aina dengan tatapan tak biasa, dia bisa merasakan ada aura mesum dari cara bicara suaminya.


"Benar yakin?" goda Arhan sembari mengedipkan sebelah matanya, dia sangat senang melihat ekspresi wajah Aina yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Oh, jadi Abang mau godain Aina. Kalau begitu kemarilah! Jangan kira Aina tidak sanggup melayani Abang!"


Aina melempar handuk kecil yang ada di tangannya ke sembarangan tempat, tatapannya nampak tajam bak silet yang siap mengupas kulit Arhan.


"Abang menginginkan Aina?" Suara Aina terdengar begitu lembut dan sangat menggoda. Dia menarik kaos yang dikenakan Arhan hingga tubuh keduanya saling menempel.


Tak berhenti di situ, Aina mulai meraba dada Arhan dan meremasnya perlahan. Tepat pada tahi lalat yang menempel di tengah sana, Aina pun mencubitnya gemas.


Arhan tak bisa berkutik melihat kelakuan nakal istrinya, tubuhnya merespon, bahkan dadanya terasa ngilu saking berhasilnya Aina memancing gairahnya.


"Ahh," lenguhan Arhan terdengar merdu hingga telinga Aina.


"Kenapa? Abang mau?" goda Aina sembari mengigit ujung bibir bawahnya, hal itu membuat jakun Arhan naik turun menelan ludahnya, Aina mampu mengobrak-abrik emosinya saat ini juga.


"Cukup sayang, jangan dilanjutkan! Abang hanya bercanda, Abang tau Aina lelah. Lagian besok kita akan pulang, takutnya Aina gak sanggup lagi berjalan!"


Arhan memilih menyerah sebelum berperang. Bukannya tidak sanggup, tapi Arhan sangat menghargai istrinya. Dia tidak mau Aina tersakiti hanya karena nafsu sesaat.


Arhan memeluk Aina untuk sekejap, setelah itu mengecup kening istrinya dengan sayang.


"Pakailah pakaian Aina! Abang mandi sebentar ya!"


Sebelum melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Arhan masih menyempatkan diri mengecup dan melu*mat bibir Aina.


Aina tersenyum sumringah, dia sangat tau tabiat dan kebiasaan suaminya sehingga hal seperti ini tidak asing lagi baginya.

__ADS_1


__ADS_2