Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 72.


__ADS_3

Pagi hari, pengaruh obat yang disuntikkan Dokter Kemal agaknya sudah hilang. Aina mulai siuman dan membuka matanya perlahan.


Meski penglihatannya masih berkunang-kunang, dia bisa merasakan hembusan nafas Arhan menerpa wajahnya. Bahkan tangan Arhan masih melingkar erat di pinggangnya.


Aina tersenyum kecil sembari menyentuh pipi Arhan yang berbulu tipis. Hal itu membuat Arhan tersentak dari tidurnya.


"Sayang, Aina sudah bangun?" tanya Arhan dengan mata separuh terbuka. Seulas senyum terukir jelas di wajahnya, lalu mempererat pelukannya.


"Bang, kenapa Aina bisa di sini? Aksa mana Bang?" tanya Aina dengan wajah sendu, pikirannya tertuju pada jagoan kecilnya.


Arhan merenggangkan pelukannya, kemudian mengangkat sebagian tubuhnya dan menumpukan sikunya pada permukaan kasur.


"Aksa di rumah sayang, Aina gak perlu mikirin itu! Aksa baik-baik aja kok, kan ada Mama sama Papa, ada Nayla juga." jawab Arhan meyakinkan istrinya, lalu melabuhkan kecupan sayang di kening Aina.


Aina menghela nafas panjang, setidaknya jawaban Arhan barusan membuatnya sedikit lega.


"Bang, kenapa Aina dirawat di sini? Aina baik-baik aja kok Bang, kita pulang aja yuk!" ajak Aina yang tidak merasakan kendala apa-apa di tubuhnya.


"Aina sabar dulu ya, kita pasti pulang!" bujuk Arhan sembari mengusap pucuk kepala Aina dengan sayang.


"Emangnya Aina kenapa Bang? Aina sakit apa?" tanya Aina penasaran, tatapannya nampak tajam menuntut penjelasan.


"Aina gak sakit kok sayang. Sudah ya, Aina gak boleh banyak pikiran, istirahat aja!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 8 pagi, seorang suster masuk membawakan sarapan untuk Aina. Setelah menaruh stroller tersebut di samping ranjang, suster itupun memeriksa keadaan Aina untuk sementara.


"Sus, saya sakit apa? Kenapa harus dirawat?" tanya Aina dengan kening sedikit mengkerut, dia masih penasaran karena Arhan tak memberikan jawaban apa-apa padanya.


Suster cantik itu tersenyum. "Ibu Aina gak sakit, Ibu hanya butuh istirahat. Oh ya, Ibu gak boleh banyak pikiran dulu ya! Kasihan calon baby nya,"


"Deg"


Seketika, jantung Aina bergemuruh bak petir yang datang di siang bolong. Kaget, sedih, bahagia, haru, semua membaur menjadi satu.


"Saya permisi dulu ya, jam 10 nanti Dokter Kemal akan datang melakukan pemeriksaan ulang. Ibu makan yang banyak ya, biar baby nya sehat!"


Setelah mengatakan itu, sang suster berlalu meninggalkan ruangan.


Aina masih terpaku dengan punggung tersandar pada tampuk ranjang, dia masih belum percaya dengan kata-kata suster barusan.

__ADS_1


Beberapa menit berselang, Arhan keluar dari kamar mandi. Tubuhnya nampak lebih segar usai membersihkan diri, namun masih tetap dengan pakaian yang sama.


"Makanannya udah datang?" ucap Arhan dengan mata yang tertuju pada stroller.


Arhan melenggang menghampiri Aina dan duduk di sisi ranjang.


"Aina makan dulu ya, biar Abang suapin!"


Arhan mengambil piring yang ada di atas stroller. Saat hendak menyuapi Aina, dia tertegun mendapati mata Aina yang sudah basah. Satu persatu butiran bening itu nampak berjatuhan membasahi pipi Aina.


"Sayang, ada apa? Kenapa Aina nangis?" tanya Arhan penuh kekhawatiran.


Arhan kembali menaruh piring itu di atas stroller, kemudian membawa Aina ke dalam dekapan dadanya.


"Apa yang Aina pikirkan? Bukankah Abang udah bilang, Aina gak boleh mikir macam-macam!" Arhan menyeka pipi Aina, lalu mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang.


"Kenapa Abang nyembunyiin ini dari Aina? Kenapa gak jujur aja kalau Aina tengah mengandung?" lirih Aina sedikit kecewa.


"Seeer"


Arhan menghela nafas berat, kemudian mengusap wajahnya kasar.


"Abang gak ada maksud nyembunyiin ini dari Aina. Abang hanya khawatir, tubuh Aina masih lemah sayang. Abang takut Aina kepikiran dan stres, kata dokter Aina gak boleh banyak pikiran." jelas Arhan dengan mata berkaca-kaca.


"Iya sayang, itu benar. Kata dokter usia kandungan Aina sudah jalan 5 minggu." Arhan menjeda ucapannya.


"Makasih ya sayang, Abang bersyukur sekali memiliki Aina. Aina sudah memberikan kebahagiaan yang tak terhingga untuk Abang dan keluarga besar kita." Arhan mempererat pelukannya dan mengecup kening Aina bertubi-tubi.


Seketika, Aina merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Ternyata Tuhan masih memberinya kesempatan merasakan nikmat menjadi seorang ibu.


Aina memeluk Arhan erat, apalagi yang dia harapkan. Memiliki keluarga yang utuh, suami yang sangat mencintainya, mertua yang penyayang dan putra kecilnya yang lucu. Ditambah lagi calon baby yang tengah berkembang di dalam rahimnya.


"Sudah ya sayang, gak boleh nangis dan mikir macam-macam. Apa Aina gak kasihan dengan baby kita?" bujuk Arhan sambil menyeka pipi Aina.


Aina mengangguk kecil, kemudian berusaha keras menahan air matanya. Dia benar-benar terharu sehingga tangisan kebahagiaan itu bercucuran begitu saja.


Setelah tangisan Aina mereda, Arhan mengelap sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi Aina, kemudian mengecup bibir Aina penuh kelembutan.


"Sekarang Aina makan dulu ya!" Arhan kembali mengambil piring yang ada di atas stroller, kemudian menyuapi istrinya dengan penuh kesabaran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Pukul 9 pagi, keduanya dikejutkan dengan kedatangan Leona dan Airlangga. Ada Aksa, Nayla dan Hendru juga bersama mereka.


"Pagi sayang," sapa Leona dari balik pintu, lalu melenggang masuk disusul yang lainnya.


"Pagi Ma," sahut Aina dan Arhan bersamaan.


Semua keluarga berkumpul di dalam sana, Aina nampak terharu karena dikelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya.


Aina tersenyum melihat Aksa yang ada di gendongan Hendru. "Aksa, jagoan Mama juga datang ya? Sini Nak!" seru Aina sembari mengulurkan kedua tangannya.


Arhan mengambil Aksa dari gendongan Hendru. Setelah melepaskan rasa rindunya terhadap sang jagoan, Arhan mendudukkan nya di samping Aina.


Aina memeluk Aksa penuh sayang, kemudian menciumi pipi gembul putranya bertubi-tubi.


"Bagaimana keadaan kamu Nak? Apa ada yang sakit?" tanya Airlangga mencemaskan keadaan menantunya.


"Aina baik Pa, hanya lemas sedikit." sahut Aina sembari tersenyum kecil.


"Syukurlah sayang, kamu jangan banyak gerak dulu ya! Ingat, ada adiknya Aksa di dalam sana!" sambung Leona mengingatkan Aina.


"Iya Ma, Aina pasti mengingat itu."


Leona mengusap pucuk kepala Aina, lalu mengecupnya penuh kasih sayang.


"Aina, selamat ya. Aku ikut senang mendengar kabar bahagia ini." ucap Nayla.


"Makasih Nayla, jangan ngucapin selamat untukku terus! Setelah ini giliran kamu ya, iya kan Hendru?" celetuk Aina sembari tertawa lepas.


Semua orang ikut tertawa mendengar ocehan Aina. Sementara Nayla dan Hendru saling menatap dengan wajah merah padam.


"Nah, kalau itu Mama setuju. Setelah Aina membaik, Mama akan menyiapkan pernikahan untuk kalian berdua. Iya kan Pa?" sambung Leona.


"Gak masalah, yang penting Nayla dan Hendru sama-sama siap." sahut Airlangga.


Mendengar itu, wajah Nayla semakin memerah. Kaget bercampur malu, bagaimana mungkin mereka semua membahas pernikahan disaat seperti ini.


"Arhan setuju Ma, Pa. Kalau gak dipaksa begini, keduanya gak akan berani melangkah maju. Kasihan Hendru, apa dia akan jadi bujang lapuk selamanya?" sindir Arhan dengan santainya.


"Kau ini. Biarpun begini, masih banyak loh wanita yang tergila-gila padaku. Aku aja yang gak tertarik sama mereka." Hendru memukul lengan Arhan, kemudian melirik Nayla dengan tatapan mematikan.


"Jika banyak yang tergila-gila padamu, kenapa hingga detik ini kamu masih sendiri? Alasan aja," ketus Nayla dengan tatapan tak kalah mematikan.

__ADS_1


"Hahahaha,"


Suara gelak tawa bergemuruh di dalam ruangan Aina. Semuanya nampak bahagia melihat tingkah kekanak-kanakan Hendru dan Nayla.


__ADS_2