
Arhan sudah keluar dari kamar mandi, tubuh kekarnya terpampang nyata di hadapan Aina. Saat membuka pintu lemari, suara Aina mengalun indah di telinganya.
"Bang," panggil Aina.
"Iya sayang, kenapa?" sahut Arhan tanpa menoleh, dia nampak fokus memilih pakaian yang tersusun rapi di dalam lemari.
Aina mengerutkan keningnya, lalu memiringkan tubuhnya ke arah Arhan berdiri saat ini.
"Bang, kemarilah!" panggil Aina lagi, kali ini suaranya terdengar begitu manja.
"Tunggu sebentar ya, Abang pakai baju dulu!" sahut Arhan, lalu menutup pintu lemari setelah mendapatkan pakaiannya.
Aina mendengus kesal. "Bang, sini dulu!"
Suara Aina yang sedikit tinggi membuat Arhan terperanjat, seketika keningnya mengkerut menoleh ke arah Aina yang sudah separuh duduk.
"Ada apa sayang? Jangan marah-marah gitu dong!" Arhan menaruh pakaiannya di sofa, lalu menghampiri Aina yang menatapnya dengan wajah cemberut.
"Kenapa? Aina mau apa lagi?" tanya Arhan yang sudah duduk di sisi ranjang.
Aina mengulum senyumannya. "Aina mau Abang,"
"Deg"
Mata Arhan membulat sempurna, kaget mendengar permintaan Aina yang tak biasa. Sejak menikah, baru kali ini Aina berani mengatakan itu padanya.
"Sayang, jangan bercanda!" tutur Arhan seakan tak percaya, dia pun terdiam untuk sesaat memikirkan perubahan sikap Aina.
Aina meraih tangan Arhan, lalu menariknya hingga tubuh keduanya semakin merapat, lalu menyentuh permukaan dada bidang Arhan dan mengecupnya lembut.
Seketika, Arhan tergugu menikmati lembutnya sentuhan bibir Aina. Dadanya tiba-tiba berdenyut ngilu, dia sebenarnya juga ingin tapi kondisi Aina tidak memungkinkan untuk melakukan itu.
"Sayang, jangan sekarang ya! Aina masih lemah," tolak Arhan sembari mengusap kepala Aina yang masih menempel di dadanya.
__ADS_1
"Kenapa? Abang udah gak menginginkan Aina lagi ya? Apa Aina udah gak menarik lagi?" cecar Aina dengan berbagai macam pertanyaan yang menyudutkan Arhan.
"Bukan begitu sayang, mana ada Abang seperti itu? Abang juga menginginkan Aina, tapi kondisi Aina gak memungkinkan untuk melakukan itu." jelas Arhan dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Aina mendongakkan kepalanya, tanpa permisi bibirnya langsung berlabuh di bibir Arhan, membuat Arhan terpaku merasakan hangatnya bibir Aina yang begitu kenyal.
Tidak hanya mengecupnya, kini Aina mulai lincah melu*mat bibir suaminya, membuat dada Arhan seketika sesak dengan jantung yang tiba-tiba bergemuruh tak menentu.
Semakin lama, Aina semakin gencar mengusai bibir Arhan, lidahnya mulai menjulur menyusup di tengah-tengah bibir suaminya.
Arhan mulai merasa gerah, suhu tubuhnya seketika memanas. Dia tak bisa lagi menahan diri, gejolak hasrat di dirinya seketika memuncak lalu membalas lu*matan bibir Aina dengan rakus.
Arhan semakin tak kuasa mengendalikan diri, dia menggerayangi leher Yuna dengan kecupan bertubi-tubi lalu menggigitnya hingga Aina tak sanggup menahan suaranya. Desa*han yang keluar dari bibir Aina membuat Arhan kian menggila.
Arhan melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Aina, nafasnya kian sesak memandangi dada istrinya yang semakin bulat berisi.
Aina kembali mende*sah saat bibir Arhan melu*mat habis ujung dadanya, tubuhnya menggeliat geli seiring de*sahan yang keluar tanpa henti.
Sepertinya biasa, Arhan tak pernah jijik mengesap kelopak bunga berwarna pink yang menghias di inti istrinya, menjilatinya hingga tubuh Aina mengejang menikmati sensasi yang luar biasa.
Saat Aina sudah tak berdaya, tongkat pamungkas Arhan mulai bergerak mencari jalan masuk. Seketika, jeritan kecil Aina membuat seisi kamar bergemuruh.
Arhan mengayun pinggulnya perlahan, kali ini dia sangat berhati-hati menekan pinggul Aina, tidak seperti biasa yang selalu beringas menusuk inti istrinya bertubi-tubi.
Meski pelan, Aina masih bisa merasakan nikmat yang diciptakan suaminya. Rasanya tak kalah seru dengan permainan Arhan sebelumnya.
Setengah jam sudah keduanya berpacu, keringat jagung nampak bercucuran di tubuh masing-masing. Aina bahkan sudah beberapa kali menikmati pelepasannya, kini Arhan pun ikut tumbang saat benih kentalnya menyembur deras di dalam sana.
Arhan mengesap bibir Aina penuh kelembutan lalu mengecup kening Aina dengan sayang. Tubuhnya terkulai lemas di samping Aina lalu memeluknya erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 5 sore, Arhan terbangun usai melepas penat di tubuhnya, semalam dia kurang tidur menjaga Aina sendirian. Hal itulah yang membuatnya tertidur setelah melakukan pergulatan tadi.
__ADS_1
"Sayang, bangun yuk! Ini udah sore," ucap Arhan sembari mengesap bibir Aina.
"Hmm," gumam Aina yang masih setia memejamkan matanya.
"Sayang, ayo bangun! Aksa nangis tuh, katanya kangen Aina." Arhan sengaja membuat alasan agar Aina bangun dari tidurnya.
Ucapan Arhan barusan membuat mata Aina terbuka dan membulat sempurna. "Dimana Aksa Bang?"
Bola coklat Aina berguling menatap seisi kamar, tapi tak menemukan Aksa di sana.
"Aksa di bawah sayang. Mandi dulu yuk, abis itu kita ke bawah! Aina kangen Aksa kan?"
Aina mengangguk pelan lalu melingkarkan tangannya di leher Arhan. Melihat Aina seperti ini, Arhan tersenyum dan mengecup kening Aina dengan sayang.
Arhan membopong tubuh ringkih Aina menuju kamar mandi, lalu memandikan istrinya seperti memandikan Aksa.
Setengah jam kemudian, Arhan kembali membopong Aina keluar, lalu membantu Aina mengenakan pakaian.
Usai merapikan diri di depan cermin, keduanya melenggang meninggalkan kamar. Hari ini terasa begitu melelahkan, sudah saatnya mereka menemui Aksa si pelipur hati.
Di ruang keluarga, Aksa tengah bermain bersama Nayla dan Inda. Jagoan kecil itu juga sudah rapi dan wangi, Nayla benar-benar mengurusnya seperti anak sendiri.
"Sore sayang Mama, Aksa lagi ngapain Nak?" Aina menekuk kakinya di atas karpet, tersenyum melihat mainan Aksa berserakan di mana-mana.
"Ma Ma," Aksa berlarian mengejar Aina, langkah kecilnya membuat Aina tak henti menebar senyum, begitupun dengan Arhan yang ikut duduk di samping istrinya.
Sebelum Aksa berhasil menindih perut Aina, Arhan dengan cepat menangkap buah hatinya, lalu mendudukkan Aksa di atas pangkuannya.
"Jangan lari-larian gitu sayang, nanti Aksa jatuh!" ucap Arhan, kemudian memeluk tubuh mungil putranya, menciumnya melepas kerinduan yang mendalam. Aina pun ikut memeluk kedua pria yang sangat dia cintai itu.
Seketika, rasa sakit dan lelah di tubuh Aina menghilang begitu saja. Melihat orang-orang yang dia sayangi seperti ini sudah membuat dunianya dipenuhi kebahagiaan yang berlimpah, ditambah jabang bayi yang kini tengah tumbuh di dalam rahimnya.
Arhan memeluk keduanya dengan erat, lalu mengecup pucuk kepala keduanya secara bergantian.
__ADS_1
Kini kebahagiaan hidupnya sudah lengkap. Memiliki istri cantik dan penyayang serta lembut, putra pertama yang sangat tampan dan periang. Dia berharap Aina akan melahirkan bayi cantik untuk penyempurna kebahagiannya. Dia tidak akan meminta apa-apa lagi setelah ini.