Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 112.


__ADS_3

Sekitar pukul 10 malam, mobil Arhan sudah terparkir di garasi rumah dan disusul motor gede Baron di belakangnya.


"Tunggu aja di paviliun! Aku akan menyuruh Inda ke sana, tapi jangan melakukan hal aneh padanya!" ucap Arhan mengingatkan Baron.


"Iya iya, kau seperti gak kenal aku aja. Kalau aku ingin melakukan hal aneh, sudah dari kemarin-kemarin aku lakukan." jawab Baron dengan entengnya.


Arhan menepuk-nepuk pundak Baron lalu melangkahkan kakinya memasuki rumah, Baron pun segera berjalan menuju paviliun.


Baron duduk di sofa menunggu kedatangan Inda. Sebenarnya dia merasa sedikit canggung karena sudah lama tidak melihat wajah gadis itu, ada rasa rindu yang teramat sangat membelenggu hatinya. Apa dia sanggup melihat mata gadis itu setelah mengetahui alasan Inda menolaknya?


Sementara di rumah besar, Arhan terus berjalan menuju belakang. Kebetulan dia melihat Inda yang baru saja mau masuk ke kamarnya.


"Inda, kau belum tidur?" sapa Arhan yang membuat Inda menghentikan langkahnya.


"Belum Tuan, ini mau ke kamar. Tuan butuh sesuatu?" jawab Inda.


"Iya, tolong ambilkan charger ku di paviliun ya! Tadi siang dibawa Aksa ke sana." pinta Arhan, dia sengaja berbohong agar Inda tidak curiga. Kalau dibilang ada Baron, takutnya Inda tidak mau menemuinya.


"Baik Tuan," angguk Inda, kemudian melangkahkan kakinya menuju paviliun.


Arhan mengukir senyum indah di bibirnya, kemudian melanjutkan langkahnya menuju lift. Sudah saatnya menemui istri tercinta yang baru saja bebas dari palang merah. Seminggu berpuasa membuat kepala Arhan berdenyut ngilu.


Derap langkah kaki yang terdengar pelan membuat Baron terperanjat, dia mencoba mengatur nafas untuk menenangkan diri. Kakinya mendadak lemah hingga membuatnya gemetaran.


"Dimana Aksa menaruh charger itu?" gumam Inda yang sudah berada di dalam paviliun. Dia melangkah mendekati stop kontak untuk menyalakan lampu.


"Tek!"


Lampu ruangan menyala hingga mata Inda mengerinyam karena silau. Baron langsung bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Inda.


"B-Baron?" Mata Inda membulat dengan sempurna, mendadak lidahnya kaku untuk berucap.


Tanpa permisi langsung saja Baron merentangkan tangannya dan membawa Inda ke dalam dekapan dadanya. Sebuah pelukan hangat yang membuat jantung Baron bergemuruh kencang tak menentu. Baron menahan tubuh mungil Inda seakan tak ingin melepaskannya lagi.


"Baron, apa-apaan ini? Cepat, lepaskan aku!" pinta Inda sembari menggerakkan tubuhnya, namun dia tak mampu melawan tenaga Baron.

__ADS_1


Baron mengecup tengkuk Inda yang menganga. "Aku sudah melepas mu sekali, sekarang aku tidak mau melepaskan mu lagi!"


Inda bergeming dalam pemikirannya sendiri. Apa maksud Baron tak ingin melepaskannya? Apa Baron sudah tau semuanya? Apa Baron menerimanya? Seketika cairan di sudut mata Inda mengalir begitu saja.


Baron merasakan ada yang menjalar di dadanya, segera Baron melepaskan tubuh mungil itu dan menyeka pipi Inda dengan jemarinya. "Hei, jangan nangis!"


"Hiks... Hiks...,"


"Sssttt... Cukup Inda, gak ada gunanya menangis. Semua sudah terjadi dan semua sudah takdir. Aku tidak pernah menuntut apa-apa darimu, aku mencintaimu dan aku akan menerimamu apa adanya. Aku juga bukan orang baik Inda, tanganku ini dipenuhi dengan darah. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini." lirih Baron dengan mata berkaca, berharap Inda mengerti dan mau memberinya kesempatan.


Isak Inda semakin menjadi-jadi mendengar penuturan Baron. "Aku kotor Baron, aku tidak pantas untukmu."


Hancur hati Baron mendengar Inda berkata seperti itu, kembali Baron menarik Inda dan memeluknya dengan erat.


"Inda, aku juga kotor. Bahkan lebih kotor darimu. Sudah berapa banyak darah yang mengalir di tanganku ini, tak terhitung Inda." Baron mempererat pelukannya dan mengecup tengkuk Inda dengan lembut.


"Aku tidak butuh wanita perawan, hal itu cuma sekali Inda. Untuk apa? Cukup berikan hatimu padaku, cintai aku! Itu saja, jangan pikirkan yang lain!"


"Tapi Baron-"


"Aku lelah Inda, aku benar-benar lelah. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan diriku. Kenapa aku begitu menginginkanmu? Setiap malam aku membayangkan dirimu, aku terjerat dalam ilusi yang tak bertepi. Rasa ini begitu menyiksa, kenapa aku tidak mati saja?"


"Baron, apa yang kamu bicarakan?"


"Aku kembali hanya untukmu, aku berharap kamu mau memberiku kesempatan. Aku pikir kau memiliki perasaan yang sama terhadapku. Kalau begini, untuk apa aku di sini?"


Baron mengusap wajahnya berkali-kali, kemudian bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Inda.


"Maaf sudah menyita waktumu, jaga dirimu baik-baik!" Baron mengusap pucuk kepala Inda dan melabuhkan kecupan sayang di sana, kemudian mengayunkan kakinya menuju pintu.


Inda berbalik saat Baron semakin menjauh darinya. Inda menumpahkan semua air matanya, apa kali ini Baron benar-benar akan pergi dari hidupnya?


Segera Inda berlari menyusul Baron yang sudah hampir tiba di dekat motornya. Langkah Baron terhenti saat Inda memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku lagi! Aku juga mencintaimu," isak Inda di punggung Baron.

__ADS_1


"Deg!"


Baron bergeming dengan jantung bergemuruh kencang. Pengakuan Inda barusan membuat dadanya berdenyut nyeri. Apa telinganya sedang bermasalah?


"Jangan pergi Baron, aku mohon!" lirih Inda sesegukan.


Baron melepaskan tangan Inda yang melingkar di perutnya, kemudian berbalik dan menatap manik mata Inda dengan intim.


"Aku juga mencintaimu, aku takut mengatakan ini. Aku takut masa laluku-"


"Mmm..."


Baron tak membiarkan Inda melanjutkan perkataannya. Sudah cukup Inda meracau hingga membuat emosinya terpancing.


Baron melu*mat bibir mungil Inda yang selama ini hanya bisa dia rasakan di dalam ilusinya. Kini semua itu menjadi nyata, Baron bisa mengecap betapa manisnya bibir merah delima yang selalu menggoda pandangannya.


"Makasih, apa itu artinya kamu mau menikah denganku?" tanya Baron setelah melepaskan tautan bibir mereka.


"Aku mau, tapi kamu harus janji tidak akan mempermasalahkan tentang kekuranganku. Kamu juga harus janji tidak akan menyesal menikahi ku. Aku tidak mau bercerai, aku ingin menikah hanya sekali seumur hidup. Itu pun kalau kamu sanggup,"


Baron tersenyum dan membawa Inda ke dalam dekapan dadanya. "Aku janji Inda, aku janji tidak akan mempermasalahkan apapun, aku janji akan menerimamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, aku janji akan mencintaimu selamanya, aku juga janji akan membahagiakanmu sampai kita tua nanti. Aku tidak akan pernah mengingkari janji ini. Percaya padaku!"


Inda menganggukkan kepalanya dan melingkarkan tangannya di perut Baron. Kini hatinya menjadi lega setelah mendengar penuturan Baron yang begitu meyakinkan. Inda berharap Baron tidak akan pernah mengingkari janji yang sudah dia buat.


"Udah malam, kamu tidur di paviliun aja ya sama calon suamimu ini." goda Baron sembari tersenyum lebar.


Inda mencubit perut Baron hingga pria itu melepaskan pelukannya. "Dasar cabul! Belum apa-apa udah ngeres aja pikirannya."


"Siapa yang ngeres? Aku kan bilangnya tidur di paviliun, aku gak bilang tidur bareng loh. Kamu tuh yang ngeres, dasar mesum!"


Seketika pipi Inda dibuat bersemu merah menahan malu, bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu di hadapan Baron.


"Ah sudahlah, aku ngantuk." Inda pun memutuskan pergi meninggalkan Baron yang masih tersenyum di tempatnya berdiri.


"Tumben kau tidak berulah hah? Apa kau senang karena sebentar lagi akan mendapatkan yang kau inginkan?" Baron mengajak adik kecilnya berbicara sembari terus melangkah memasuki paviliun.

__ADS_1


__ADS_2