Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 92.


__ADS_3

Hari berganti hari, keadaan Nayla mulai membaik dan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Sementara Aina masih harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.


Meski sudah sadar, Aina tidak dibolehkan bergerak mengingat fisiknya belum pulih seutuhnya. Masih harus menjalani perawatan karena ada keretakan di bagian tulang pelipis.


Sementara putri kecil Aina masih harus menjalani perawatan intensif. Detak jantungnya memang sudah normal, berhubung bobot tubuhnya yang kecil, dia harus dirawat secara berkala.


Berbeda dengan Aksa, jagoan kecil itu sering murung setelah melihat keadaan Aina. Meski baru berusia 2 tahun, dia seperti mengerti kesakitan yang tengah ditanggung oleh sang mama. Dia pun tak mau pulang dan bersikeras untuk tetap menemani Aina di rumah sakit.


Sejak kejadian itu, Arhan meminta Baron membantunya menjaga semua anggota keluarga. Baron pun mengerahkan beberapa anak buahnya untuk berjaga di rumah, tak terkecuali di rumah sakit. Baron juga mengutus anak buahnya mencari penjahat serta dalang dari kejadian itu dan meminta salinan CCTV dari kepolisian.


Sementara Baron sendiri di minta jadi pengawal pribadi Aina. Arhan tentunya sudah mempertimbangkannya dengan sangat matang, Arhan yakin penjahat itu masih mengintai istrinya setelah mengetahui bahwa Aina masih hidup dan selamat dari kebakaran itu.


Pagi hari, Aina terbangun saat merasakan ngilu di dadanya. Sejak putrinya dilahirkan, belum sekali pun Aina menyusuinya. Bahkan melihat wajah putrinya saja Aina belum sempat.


Pertama kali Aina siuman, dia langsung berteriak histeris saat mengetahui perutnya yang sudah rata. Pikiran buruk hinggap di otaknya seketika itu juga. Dia bahkan sampai pingsan berkali-kali saking syok nya mengetahui kenyataan pahit ini. Hingga pada saat Arhan mengatakan bahwa putrinya masih ada, disitulah Aina mulai merasa tenang.


"Bang, tolong bawa Aina bertemu putri kita! Aina ingin menyusui dia Bang, dada Aina nyeri banget." rintih Aina sembari memegangi dadanya, memohon agar Arhan mau membawanya kepada sang putri.


Aina sama sekali belum tau bagaimana keadaan putrinya yang sebenarnya. Arhan tidak berani mengatakan kenyataan itu, takut Aina malah syok lagi mendengarnya.


Arhan yang baru saja keluar dari kamar mandi segera menghampiri Aina dan duduk di sisi ranjang. Hancur hatinya melihat Aina seperti ini, namun dia harus kuat. Siapa lagi yang bisa menenangkan Aina selain dirinya.


"Sayang, Aina yang sabar ya! Putri kita masih dalam penanganan dokter." bujuk Arhan, lalu memeluk Aina penuh iba. Betapa kejamnya dunia ini sehingga begitu tega menyakiti dua nyawa sekaligus.


Aina hanya bisa menangis di pelukan Arhan. "Putri kita baik-baik aja kan Bang? Kenapa Aina tidak boleh menemuinya? Kasihan dia Bang, dia pasti haus." isak Aina.


Apa yang bisa Arhan katakan? Pertanyaan itu semakin membuatnya hancur berkeping-keping. Air matanya pun tumpah begitu saja.


"Aina dengar Abang ya, tidak boleh sedih apalagi menangis! Jika Aina seperti ini, putri kita pasti ikut-ikutan sedih. Kalau dia sedih, dia gak bisa ketemu Aina. Apa Aina mau menunggu lebih lama lagi?" bujuk Arhan.


Aina menggelengkan kepalanya, lalu menyeka wajahnya dengan segera.


"Nah, gitu dong. Aina harus kuat demi kedua buah hati kita, kasihan Aksa juga. Sejak tau Aina seperti ini, Aksa jadi murung terus." jelas Arhan.


Aina menjauhkan diri dari Arhan, beralih memandangi Aksa yang masih terlelap di sampingnya. Kembali air matanya tumpah melihat wajah polos jagoan kecil itu.

__ADS_1


"Maafin Mama ya Nak," lirih Aina sembari mengusap kepala Aksa penuh sayang. Larut dalam keinginan untuk bertemu dengan sang putri membuatnya terlupa bahwa masih ada sang putra yang membutuhkan perhatiannya juga.


"Gak apa-apa, Abang tau bagaimana perasaan Aina saat ini. Jangan sedih lagi ya!" Arhan pun mengusap kepala Aina dengan lembut, takut mengenai luka yang ada di dahi istrinya. "Dada Aina masih nyeri gak?" imbuh Arhan.


Aina mengangguk lemah sembari memutar lehernya beberapa derajat.


"Sini, biar Abang hisap!" Arhan pun membuka kancing piyama yang dikenakan Aina. Seperti biasa, dia lah yang akan menyedot ASI istrinya agar tidak membengkak.


Aina pun hanya pasrah membiarkan bayi tua itu menyusu, mau gimana lagi. Aksa sudah berhenti meminum ASI nya, sementara sang putri belum bisa menyusu dengan dirinya.


Seperti seorang bayi yang sudah telat diberi ASI, Arhan nampak begitu lahap menyedot ujung dada istrinya. Sementara tangannya mulai gatal ingin meremas bagian lainnya yang menganggur.


"Plak!"


Arhan terperanjat saat Aina memukuli tangannya. "Kok dipukul?" tanya Arhan setelah melepaskan hisapannya.


"Abisnya tangan Abang nakal sih," geram Aina dengan mata melotot tajam.


"Hehe, mau gimana lagi sayang. Udah lama puasa soalnya," seloroh Arhan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


"Gak masalah, kan bisa dengan cara lain." jawab Arhan dengan santainya, kemudian berpindah ke bagian dada Aina yang satunya.


"Dasar suami gila!" umpat Aina sembari mengulum senyumannya.


Arhan melepaskan hisapannya sejenak. "Biarin gila, yang penting ada yang sayang." Arhan pun melahapnya kembali.


Tak hentinya Aina tersenyum ulah kekonyolan suaminya itu. Kadang bikin kesal, kadang bikin ketawa, kadang juga bikin sedih. Entahlah, rasanya tuh seperti nano-nano saja.


Terdengar derap langkah dari arah luar, Aina segera mendorong kepala Arhan agar menjauh darinya, lalu menyatukan kancing piyama nya kembali.


"Kenapa di dorong sayang? Abang belum puas," keluh Arhan sembari mengerutkan keningnya.


"Sssttt... Ada orang-"


"Pagi Bu Aina, pagi Pak Arhan." sapa suster yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

__ADS_1


Aina meneguk ludahnya dengan susah payah, untung saja kegiatan dadakan itu sudah selesai. Jika tidak, bisa malu setengah mati Aina dibuatnya.


"Pa-pagi Sus," sahut Aina gelagapan sembari terus menautkan kancing piyama nya.


"Kenapa wajahnya pucat begitu? Ibu Aina demam?" tanya suster sembari melangkah menghampiri Aina.


"Ti-tidak Sus, tidak apa-apa." Aina mengedipkan matanya beberapa kali, memberi isyarat agar Arhan menjauh darinya. Arhan pun mengangguk lemah sembari turun dari ranjang Aina.


Suster itu tersenyum, kemudian memulai aktivitas paginya memeriksa keadaan Aina. Mengganti botol infus, memeriksa tensi Aina dan lain sebagainya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Sus?" tanya Arhan yang tengah duduk di sofa, namun tetap fokus memperhatikan gerak-gerik suster itu. Bagaimanapun Arhan harus tetap waspada, takutnya penjahat itu datang dengan cara yang lebih halus seperti di film-film.


"Sangat baik, semua normal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!" sahut suster itu.


"Lalu bagaimana dengan keretakan yang terjadi di tulang pelipis istri saya?" tanya Arhan lagi.


"Kalau itu, biar dokter saja yang menjelaskannya nanti! Saya tidak memiliki wewenang untuk itu." jelas suster.


"Hmm, baiklah."


Setelah suster itu meninggalkan ruangan, Arhan kembali menghampiri Aina. "Lanjutin yang tadi yuk!" ajak Arhan dengan tatapan yang tak biasa.


"Ogah," jawab Aina singkat.


"Kok ogah sih sayang? Nanggung banget tadi," lirih Arhan.


"Apanya yang nanggung? Dada Aina udah enakan, Abang aja yang pikirannya jorok sejak tadi." ketus Aina.


"Abisnya yang di bawah gak bisa, masa' yang di tengah juga gak bisa sih? Banyak banget ruginya Abang," keluh Arhan sembari memajukan bibirnya.


"Salah sendiri, ngapain bikin anak terus?" sindir Aina.


"Loh, kok malah nyalahin Abang? Bukannya Aina juga mau? Aina loh yang sering mancing Abang, pakai cara yang aneh pula lagi tuh. Siapa yang gak bakalan tergoda?" gerutu Arhan dengan wajah cemberut nya.


"Hahahaha..., kemaren-kemaren kan udah puas. Sekarang puasa dulu!" Aina malah menertawakan suaminya tanpa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2