
Setelah membersihkan diri usai pertempuran sengit tadi, Arhan meninggalkan kamar dan melangkah menuju kamar Aksa yang ada di seberang kamarnya.
Baru saja membuka pintu, Arhan sudah dikejutkan dengan style putra sulungnya yang terlihat begitu keren. Sweater bermotif salur putih abu dan celana jogger hitam yang melekat di tubuh jagoannya itu membuat Aksa terlihat seperti aktor Korea, belum lagi style rambut faux hawk yang membuat ketampanannya kian memancar.
Arhan yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala, dia sama sekali tak menyangka akan melihat putranya tumbuh secepat ini. Sudah seperti ABG yang ingin pergi kencan buta dengan pasangannya saja.
"Kenapa Papa liatin Aksa seperti itu?" seru Aksa dengan santainya, sebelah tangannya berada di saku celana dan sebelahnya lagi asik menyisir rambutnya ke belakang.
Arhan mendengus kesal, kecil-kecil saja dinginnya sudah seperti kutub utara. Bagaimana kalau sudah dewasa? Adakah wanita yang mau dengan kulkas es batu itu?
Arhan yang tidak sedingin itu saja sangat kesulitan mencari pasangan. Eh, sekali dapat ketemunya wanita gila. Untung saja Tuhan menunjukkan kebusukan wanita itu dengan cepat, jika tidak mana mungkin dia bisa bertemu Aina dan memiliki tembok beton yang berdiri di depannya itu.
"Duduk dulu, Papa mau bicara sebentar!" ucap Arhan sembari melangkah menuju sofa.
Aksa yang sejatinya memang penurut segera mengikuti Arhan dan duduk di sebelahnya.
"Sini, duduk di pangkuan Papa!" pinta Arhan sembari menepuk pahanya.
"No, Papa pikir Aksa ini anak kecil yang suka duduk di pangkuan orang tuanya. Suruh Avika atau Aryan aja!" tolak Aksa dengan cool nya.
Arhan mengerutkan keningnya sembari menghela nafas berat. Anak itu memang aneh dan sangat berbeda dengan adik-adiknya yang begitu senang bila dipeluk maupun dipangku.
"Papa mau ngomong apa? Cepat katakan!" imbuh Aksa sembari melipat kakinya dan bersandar pada kepala sofa. Benar-benar seperti orang dewasa yang tengah duduk bersama rekan bisnisnya. Arhan saja tidak segitunya jika berhadapan dengan koleganya.
Lagi-lagi Arhan mendengus dan mengusap wajahnya dengan kasar, lalu memutar tubuhnya beberapa derajat hingga berhadapan dengan Aksa.
"Mama bilang Aksa nakal lagi. Kenapa gangguin Inara terus sih Nak? Dia itu adik Aksa juga loh." terang Arhan memulai obrolannya.
"Huh, itu lagi itu lagi. Apa gak ada obrolan lain selain dia?" jawab Aksa ketus.
__ADS_1
"Bukan gak ada, tapi kelakuan Aksa itu udah kelewatan. Ingat Aksa, Ayah Hendru dan Bunda Nayla itu memiliki jasa yang sangat besar di keluarga ini. Mereka juga ikut menjaga Aksa sejak kamu masih bayi. Aksa bahkan lebih dekat sama mereka, tidur aja lebih sering sama mereka dari pada sama Papa dan Mama. Saat Mama terbaring di rumah sakit dan Papa harus menemani Mama, siapa yang jaga Aksa di rumah? Ayah sama Bunda sayang, mereka menyayangi Aksa sebagai putra pertama mereka. Lalu kenapa Aksa selalu nakal sama Inara? Dia itu adik Aksa juga, sama seperti Avika dan Aryan." jelas Arhan panjang lebar.
Aksa melempar pandangannya ke arah lain. Sebenarnya penjelasan Inda di bawah tadi sudah masuk ke dalam lubuk hatinya. Hanya saja dia masih ragu menerimanya, lebih tepatnya gengsi memiliki adik perempuan yang gendut seperti Inara.
"Ya udah, lain kali Aksa gak akan ganggu dia lagi. Puas Papa," jawab Aksa cuek.
"Nah gitu dong, itu baru namanya jagoan Papa. Nakal tuh bukan sama keluarga sendiri, tapi di luar. Semua yang ada di rumah ini tuh keluarga Aksa semua, termasuk anaknya Om Baron sama Tante Inda yang belum lahir." Arhan menyunggingkan senyumannya setelah mendengar ucapan Aksa barusan.
"Kak Baron Pa, bukan Om Baron." sela Aksa dengan cool nya.
"Terserah Aksa aja, pokoknya janji ya gak akan nakal lagi sama Inara." tegas Arhan memastikan, dia sendiri juga tidak enak hati pada Hendru dan Nayla.
"Iya, tapi kalau khilaf jangan salahi Aksa ya!" Aksa memilih berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana, kemudian melenggang meninggalkan kamar.
Arhan yang melihat kepergian Aksa seketika dibuat geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya dia punya anak seperti itu, ngidam apa Aina waktu itu hingga melahirkan bocah aneh seperti itu? Arhan kemudian memijat dahinya dan menyusul putranya ke luar.
Baru saja ingin turun ke lantai bawah, Arhan mendengar suara pintu dan mendapati Aina yang sudah rapi setelah membersihkan diri. Segera Arhan menghampirinya dan memeluk pinggang istrinya itu dengan erat.
"Untuk apa malu meluk istri sendiri?" jawab Arhan enteng, kemudian mengecup bibir ranum Aina penuh semangat.
"Mama, Papa," teriak Avika hingga membuat Aina terperanjat dan mendorong Arhan hingga pelukannya terlepas.
Avika melompati tubuh Arhan dan bergelayut di pinggang sang papa. Segera Arhan menggendongnya dan menumpukan bokong Avika di perutnya, Avika pun mengalungkan tangannya di tengkuk Arhan.
"Kok cuma Mama aja yang dicium? Avika juga mau," pinta si gembul itu dengan lugunya.
"Avika juga mau, sini biar Papa gigit sekalian!" Arhan mengecup pipi kiri dan kanan Avika secara bergantian, lalu mengecup keningnya dan menggigit hidung mancung putrinya itu hingga merah.
"Sarang hae," Avika menyilang kan ibu jari dan telunjuknya ke arah Arhan hingga membuat sang papa terpaku menahan nafas.
__ADS_1
Lain perangai Aksa lain pula perangai Avika, sepertinya bocah ingusan itu terkena demam drakor hingga membuatnya begitu mudah mempraktekkan apa yang dia lihat.
"Hahahaha..."
Aina yang melihat itu langsung tertawa menyaksikan tingkah Avika yang menggemaskan. Dari mana pula tikus kecil itu mempelajari simbol tersebut, padahal tontonan nya lebih sering ke film kartun sesuai usianya.
Arhan mengayunkan kakinya dan diikuti oleh Aina di sampingnya. Karena jam makan malam sudah tiba, keduanya langsung saja menuju ruang makan dan duduk di kursi masing-masing.
Satu persatu anggota keluarga mulai muncul di meja makan. Setelah semuanya berkumpul, makan malam pun dimulai.
"Udah, Aksa udah kenyang." Aksa meninggalkan meja makan lebih dulu. Dia memilih duduk di gazebo dekat kolam sembari memainkan ponselnya.
Entah apa yang anak itu lihat, sesekali garis bibirnya terangkat saat menggulir layar ponselnya.
Di dalam sana, semua anggota keluarga berpindah ke ruang keluarga. Seperti biasa di sanalah mereka berkumpul sembari bercengkrama dan menonton televisi.
"Inara, sini duduk di pangkuan Papa Aan!" panggil Arhan sembari mengangkat tangannya ke udara.
"Iya Pa," Inara langsung berlari ke pelukan Arhan. Avika dan Aryan juga tidak mau kalau. Ketiganya bergelayut di tubuh pria itu.
Arhan tertawa terbahak-bahak, bukan paha dan perutnya saja yang diinjak oleh mereka tapi tongkat keramatnya ikut terlindas ulah kaki kecil ketiganya yang berebutan memanjat tubuhnya.
"Hahahaha..."
Semua anggota keluarga yang duduk di sana ikut tertawa melihat perangai ketiga tikus kecil itu. Begitulah suasana di ruangan itu setiap harinya. Heboh dan gaduh, hanya Aksa saja yang tidak suka berkumpul seperti itu. Dia lebih suka menyendiri dengan kesibukannya sendiri.
"Udah sayang, duduk yang bagus!" seru Arhan, lalu ketiganya langsung mengambil posisi.
Aryan duduk diantara paha Arhan, sementara Avika dan Inara duduk di atas pahanya. Avika di sisi kanan dan Inara di sisi kiri. Arhan pun mengapit ketiganya dalam satu pelukan.
__ADS_1
"Anak pintar," ucap Arhan sembari tersenyum bahagia.