
Keesokan harinya, Aina sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dengan catatan tidak boleh banyak bergerak dan harus rajin kontrol ke rumah sakit minimal satu kali dalam seminggu. Kondisinya belum bisa dikatakan stabil sepenuhnya, masih ada beberapa luka dalam yang belum sembuh total.
Setelah membayar tagihan rumah sakit dan menebus obat, Arhan kembali ke ruangan dan membereskan barang-barang. Arhan pun mendudukkan Aina di kursi roda, lalu meletakkan putri kecil mereka di pangkuan Aina. Sementara Aksa sendiri tengah bergelayut manja di gendongan Baron.
Sejak Aksa ikut tinggal di rumah sakit, bocah itu lebih sering menghabiskan waktunya bersama Baron. Apalagi Baron memang suka sekali sama anak kecil, tidak sulit baginya mendekati Aksa. Sayangnya perjaka tua itu tidak bersedia dipanggil om, dia pun meminta Aksa memanggilnya Kakak. Lucu memang mengingat umurnya yang sudah tua, tidak jauh berbeda dengan Arhan.
Dulu mereka berdua berkenalan di bar, saat itu kondisi Arhan sedang tidak baik sejak mengetahui kelakuan mantan istrinya. Sementara Baron sendiri saat itu baru saja kehilangan ibu tercintanya. Dari situlah mereka saling mengenal dan saling melengkapi. Berbagi sedikit kesedihan dan akhirnya berteman baik. Arhan juga sering membantu keuangan Baron, maka dari itulah Baron tidak bisa menolak tawaran Arhan untuk menjaga keluarganya, terutama Aina.
Pukul 1 siang, mobil yang dikendarai Pak Anang sudah tiba di halaman kediaman mewah Airlangga, pria yang kini memilih menetap di Korea. Saat mendapat kabar buruk tentang Aina, Airlangga dan Leona ingin sekali kembali ke ibukota. Namun Arhan melarang karena tidak ingin mengganggu pekerjaan papanya.
Semua orang yang ada di rumah menyambut kedatangan Aina dengan sangat antusias, tak terkecuali dengan Inda. Wanita itu menangis melihat wajah Aina yang masih menyisakan bekas luka. Begitupun dengan Nayla, hatinya mengharu biru melihat keadaan sahabatnya saat itu.
"Inda, kenapa nangis? Cengeng ih, aku tidak apa-apa!" ucap Aina yang ikut berkaca-kaca.
"Aku sedih Nyonya, jahat banget orang itu. Apa dia gak punya hati? Tega-teganya nyakitin wanita hamil," gerutu Inda, pelayan yang sering menjaga Aksa sedari bayi.
"Udah, yang penting aku udah pulang! Semoga aja wanita itu mendapat balasan yang setimpal, dia tidak akan pernah bahagia!" sahut Aina.
"Deg!"
Arhan tersentak kaget dan segera menoleh ke arah Baron, keningnya mengkerut dengan bibir maju mundur memberi isyarat. Baron pun mengedipkan matanya perlahan, bermaksud menyuruh Arhan tenang.
"Baron, tunggu aku di paviliun ya! Aku ingin bicara sebentar," pinta Arhan.
Baron mengangguk kecil, kemudian memberikan Aksa pada Inda. "Hai cantik, titip Aksa ya!" ucap Baron sembari mengedipkan sebelah matanya.
Inda melototkan matanya. "Cantik, cantik, sopan dikit napa?" geram Inda.
"Hahaha..., jangan marah-marah! Ntar cantiknya hilang," seloroh Baron sembari tertawa terbahak-bahak.
"Tuan Arhan ketemu dimana peliharaan seperti ini? Menjengkelkan!" Inda berbalik dan memilih pergi dari sana.
"Loh, kenapa dia marah? Pakai ngatain peliharaan lagi," Baron menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Bodoh! Tentu aja dia marah, kenal gak main ngerayu aja." ketus Arhan.
"Siapa yang ngerayu? Emang kenyataannya dia cantik kok, salah aku dimana?" Baron semakin kebingungan sembari menautkan alisnya.
__ADS_1
"Makanya jadi orang tuh jangan terlalu serius!"
Arhan memukul perut Baron, kemudian mendorong kursi roda Aina menuju ruang keluarga. Nayla pun mengikuti dari belakang.
"Aina mau Abang antar ke kamar sekarang, apa di bawah dulu?" tanya Arhan sembari berjongkok di hadapan Aina.
"Di sini aja Bang, Aina mau ngobrol dulu sama Nayla dan juga Inda. Kangen soalnya," jawab Aina.
"Kangen kok sama mereka? Sama Abang gak?" seloroh Arhan sembari menarik hidung Aina.
"Hust, bikin malu aja. Udah tau istrinya lagi sakit," geram Aina sembari menarik telinga Arhan.
"Aduh, sakit sayang. Apa sejak kejadian itu otak Aina jadi bergeser dari tempatnya? Kalau gak nyubit malah jewer." keluh Arhan sembari menggosok telinganya.
"Bukannya bergeser lagi, tapi udah pindah." ketus Aina dengan mata melotot tajam.
"Hahaha..., bisa aja sayang Abang nih. Makin gemes deh," goda Arhan sembari memajukan bibirnya.
"Apaan sih? Apa urat malu Abang udah putus? Liat tuh! Ada Nayla sama Inda yang liatin," ketus Aina.
"Ya Tuhan, apa salahku sehingga Engkau memberiku suami langka seperti ini?" Aina mendongak sembari memijat kepalanya.
Arhan hanya tersenyum mendengar keluhan Aina, lalu memindahkannya ke sofa. Arhan pun mengusap kepala Aina dan mencium kening istrinya dengan sayang.
"Inda, siapkan makanan ya! Saat aku kembali, kita akan makan siang bersama!" titah Arhan, kemudian berlalu meninggalkan ruangan.
Arhan segera mengarahkan langkahnya menuju paviliun. Tempat yang dulunya menjadi rumah kecil untuk Hendru, sekarang sudah diambil alih oleh Baron. Sebenarnya pria itu tak enak hati menerima tawaran Arhan, namun lagi-lagi dia tak bisa menolak. Mau tidak mau, harus mau.
Setibanya Arhan di sana, dia pun melempar Baron dengan bantal. Pria itu terperanjat dan segera bangkit dari pembaringannya.
"Kau ini mau cari lawan?" ketus Baron dengan tatapan tajam.
"Boleh kalau kau mau!" jawab Arhan dengan entengnya.
"Sombong, badan segitu aja udah sok nantangin." cibir Baron meremehkan kemampuan Arhan.
"Hehe, jangan liat dari ukurannya! Tapi liat tenaganya." tantang Arhan.
__ADS_1
"Iya, iya, aku tau. Tenagamu kuat, sangat kuat malah... Tapi di ranjang," Baron pun tertawa geli setelah mengatakan itu.
"Iya dong, itu sudah pasti. Hahahaha...," Arhan pun ikut tertawa.
Puas bergurau tidak jelas, wajah Arhan beralih serius. Dia menarik kursi dan duduk di hadapan Baron. Tatapan keduanya saling bertemu untuk sesaat. Beberapa detik kemudian, keduanya kembali beralih pandang.
"Kau dengar kan apa yang dikatakan istriku tadi?" tanya Arhan.
"Hmm, aku belum budeg." angguk Baron.
"Bagaimana pendapatmu?" tanya Arhan lagi.
"Seperti yang dikatakan istrimu tadi, berarti dalang penculikan itu adalah seorang wanita. Pikir aja sendiri! Siapa wanita yang pernah kau sakiti? Mungkin dia marah padamu, tapi melampiaskannya pada istrimu. Bisa juga dia tidak suka melihat kalian bahagia." tebak Baron.
"Siapa wanita yang aku sakiti? Tidak ada," Arhan pun mendongak sembari mengetuk pelipis dahinya.
"Apa ja*lang yang pernah aku tiduri? Tapi tidak mungkin, aku membayarnya dengan harga yang tinggi. Aku juga tidak pernah bermain kasar,"
"Kau ini, nanya sendiri jawab sendiri. Terus untuk apa aku mendengar ocehanmu?" geram Baron.
"Bukan begitu, ini di luar kendaliku. Aku tidak tau siapa orangnya," Arhan malah semakin bingung.
"Sebenarnya tidak sulit mencari dalang dibalik semua ini, hanya saja otakmu itu terlalu lemot. Gak bisa mengenali mana yang baik dan mana yang jahat. Mikir!" Baron menjitak kening Arhan dengan kasar.
"Sakit ah," ketus Arhan sembari menepis tangan Baron.
"Sekarang, coba kau ingat lagi! Siapa wanita yang selalu mendekatimu selama ini? Atau adakah wanita lain di hidupmu selain Aina?" tanya Baron.
"Ya gak lah, kau pikir aku ini suami apaan? Aku sangat mencintai Aina, mana mungkin aku tega menduakannya?" sanggah Arhan.
"Tapi tunggu!" imbuh Arhan.
"Apa mungkin ini ulah mantan istriku? Dia memang beberapa kali mencoba mendekatiku, dia juga pernah mengganggu Aina saat acara kantor. Mungkinkah dia?" Arhan mengerutkan keningnya.
"Nah, tuh otakmu mulai encer. Alasan yang sangat masuk akal. Wanita itu tidak suka melihatmu bahagia dengan istri keduamu, tanyakan aja pada istrimu langsung! Jika benar, serahkan semuanya padaku!"
"Kau benar, aku akan menanyakan itu nanti. Ayo ikut aku, kita makan dulu!" ajak Arhan, kemudian melenggang menuju pintu keluar. Baron pun melompat turun dari ranjang dan berlari menyusul Arhan.
__ADS_1